KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Cerita Edzel


__ADS_3

Herman ... Herman. Apa yang selama ini dalam otakmu sehingga kejadian demi kejadian yang menimpa keluargamu terabaikan begitu saja. Apakah karena pikiranmu berisi antara Zulfa dan Maria saja? Sehingga tak ada sedikit pun bagian yang tersisa untuk memikirkan keluargamu yang lain, orang-orang yang selama ini mencintaimu dengan tulus.


Sepanjang perjalanan Herman hanya merenung dan merenung. Memarahi dirinya yang abai. Dari sejak meninggalnya Halimah, disusul oleh kematian Maria, dan yang terakhir adalah kecelakaan yang menimpa putranya dan juga calon besannya. Bila itu tak cukup menyadarkan dirinya, lebih baik dia menghilang saja. Itulah yang paling pantas untuk dirinya saat ini.


Tak ada jalan lain, dia harus menghubungi seseorang. Seseorang yang besar kemungkinan akan membantu menemukan orang yang selam ini mengganggu keluarganya. Dia pun mengangkat telepon genggam, menghubungi Steve, adik iparnya, suami dari Ratna yang ada di Australia. Karena yang dia tahu bahwa Steve adalah  orang yang tahu seluk beluk lika-liku dunia hitam, yang itu mungkin berhubungan dengan Bobby. Orang yang diduga kuat mencelakai keluarganya.


“Hallo.” tak perlu menunggu lama pesawat telepon pun terhubung.


“Tumben Kakak menghubungiku, ada apa?”


“Aku ada masalah serius nih. Bisa tolong nggak.”


“Apa soal kematian Mama Halimah?”


“Kok kamu tahu?”


“Kak, sebenarnya aku sudah curiga sejak awal tentang kematian mama. Tapi sepertinya Kakak tenang-tenang aja. Jadi aku enggak berani untuk bertindak. Rasanya mau aku tembak saja mereka itu. Tapi karena itu di negara Kakak. Jadi aku diam saja."


“Ya, aku yang salah soal ini. Sekarang aku sadar, meski sudah terlambat. Kamu bisa tolong, kan?”


“Ok, aku bantu. Asalkan Kakak juga turut serta.”


“Memang sudah seharusnya kakak ikut. Apalagi saat ini Papanya Irwan juga bersama kita, ingin menyelesaikan masalah ini.”


“Hm ... Bagus itu. Jadi secara hukum aku tidak was-was.” Kembali pembicaraan mereka sunyi.


“Kapan kamu bisa datang ke Indonesia?”

__ADS_1


“Bagaimana ya... Nanti aja aku kabari.”


“Baiklah, aku tunggu.” Setidaknya dengan menghubungi Steve ada harapan bagi Herman untuk menyelesaikan masalah ini. Jika polisi tak mampu, tak salah bila menggunakan cara lain yang lebih mengenai sasaran dan cepat selesai, dari pada berlarut-larut seperti ini dengan segala prosedurnya yang berbelit-belit dan kadang memusingkan kepala.


Kini Herman dan Hasan telah sampai di rumahnya. Alfa menatap bingung dengan kedatangannya  bersama Hasan. Ada apa gerangan? Apakah orang yang menabrak Maria sudah ditemukan? Semoga saja ... Karena selama ini dia sangat berharap, orang yang mencelakai putrinya segera tertangkap.


“Bagaimana Pak Polisi, sudah ketangkap.”


“Entahlah Pak Alfa, sampai saat ini belum ada petunjuk lagi.” Hasan hanya menganggukkan-angguk kepala, menatap Alfa yang juga saat ini sedang berpikir. “Tapi mungkin Bapak bisa membantu mungkin Bapak mencurigai seseorang.”


Tanpa sadar jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja yang ada di depannya. Dan berkuman kecil, “ Sepertinya ....  Tak tahulah. Apa mungkin dia.”


“Maksud Pak Alfa?” tatapan Hasan yang penuh selidik membuat Alfa kembali berpikir keras. Apa benar ya si Bobby yang dulu datang ke rumahku bersama Maria. Sayang sekali saat itu dia belum bisa mengorek sama sekali tentang maksud Bobby, keburu dirinya marah dan mengusirnya. Yang jelas saat itu yang dia tahu bahwa putrinya lari dari suaminya itu saja. Kenapa dia bersama Bobby? Mungkinkah Bobby marah karena kejadian itu? Bisa jadi ....


“ Papa, aku kok curiga sama Bobby. Pernah dulu Irwan bilang, kalau dia pernah  merencanakan sesuatu. Dulu ....”


“Edzel.” Kebetulan saat itu Edzel melintas. Segera saja Alfa memanggilnya. Karena dia tahu, Edzel sudah lama malang-melintang di dunia yang demikian. Tapi itu dulu, sebelum dia berumah tangga dengan Fatimah.


Edzel mengerutkan dahi memenuhi panggilan Alfa. Apalagi saat melihat di sana ada Herman dan juga temannya, yang  belum  dikenalnya. Dia mengurungkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar, demi memenuhi rasa penasarannya. Ada gerangan apa Papa tersayang memanggilnya? Dia menghempaskan tubuhnya  di kursi yang empuk, dekat Alfa.


“Ya, Pa. Ada apa?”


“Gini Edzel, Pak Hasan sedang menyelidiki kecelakaan yang menimpa adikmu. Mungkin kamu bisa bantu. Kamu kenal Bobby, kan?”


“Jangan sebut dia, Pa.” wajahnya menegang , tangannya juga mengepal, seakan menahan amarah yang dalam.


“Bukannya kamu dulu sering jalan bareng sama dia.” Alfa mencoba mengungkapkan itu dengan gumamnya. Tak berani suara keras, khawatir akan tersulut emosinya.

__ADS_1


“Itu hanya urusan bisnis, Pa.” Untuk sejenak Edzel diam berpikir, sambil juga mengatur detak jantungnya yang dikuasai amarah, agar teratur dan bisa memandang sesuatu dengan jernih.


“Baiklah, Pa. Aku akan bantu. Mungkin dengan ini aku bisa membalaskan sakit hati keluarga istriku. Dan merebut kembali kekayaan yang seharusnya jadi milik istriku.” Hasan tak mengira akan mendapatkan tambahan informasi yang bisa dianggap penting,  dari keterangan Excel. Ini merupakan suatu berita yang baru yang perlu ditindak lanjuti.


Herman yang mendengar keterangan Edzel, jadi teringat dengan kata-kata Irwan tentang Bobby dan Maria. Mereka berencana akan mengambil alih kepemilikan rumah dengan menguasai surat berharga rumah itu yang Maria serahkan padanya. Licik sekali dia ....


“Sepertinya yang menimpa keluarga istrimu sama dengan yang menimpa keluargaku, Edzel.”


Hasan yang mendengar perbincangan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Iya memandang bergantian antara Herman dan Adzel. Dalam dugaannya, kedua laki-laki tersebut berurusan dengan Bobby karena wanita-wanita yang ada di sekitar mereka. Maria yang menyerahkan surat berharga pada Bobby karena meminta perlindungan darinya. Itu sudah dia ketahui. Lalu kalau istrinya Edzel baru kali ini dia mendengarnya.


“Kalau boleh tahu sebenarnya ada urusan apa keluarga istrimu dengan Bobby.”


Edzel tidak langsung menjawab. Tampaknya dia malas untuk menceritakan sesuatu yang menimpa keluarga istrinya pada masa lalu. Tapi karena ini untuk penyelidikan, tak ada salahnya mengungkapkan itu.


“Baiklah. Keluarga istriku mempunyai hutang padanya, sebenarnya tidak seberapa hanya 3 jt saja. Tapi tak kunjung bisa melunasi. Akhirnya, dia meminta Fatimah untuk menjadi istrinya sebagai pelunasan hutang. Tentu saja syarat itu mereka terima. Tapi ternyata itu hanya sebagai kedok belaka. Sebelum hari H, dia membawa Fatimah dan akan memberikannya pada si hidung belang. Untunglah Fatimah dapat melarikan diri ....” Edzel tak lagi ingin menceritakan kejadian selanjutnya. Karena itu akan mengungkit rasa sakitnya pada Bobby, karena merasa dikhianati dan ditelikung oleh sahabatnya sendiri. Padahal Bobby tahu bahwa Fatimah adalah gadis pujaannya akan akan dijadikan pendamping hidup selamanya, meski saat itu mereka masih berbeda keyakinan. Alhamdulillah dirinya bersyukur, karena dengan kejadian itu, Allah berkenan memberikan petunjuk. Sehingga dia bisa meninggalkan jalan yang selama ini ditempuh. Menuju jalan yang membuatnya lebih tenang dan tentram, dan bisa bersama Fatimah sebagai keluarga.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2