
.."Kenapa memang ayahmu, Wan?" tanya Zulfa., dengan suara sedikit di tahan. Bagaimanapun getar-getar tautan yang pernah ada, kini masih tersisa. Namun mencoba untuk menyermbunyikannya jauh di dalam lubuk hatinya. Yang hanya diungkap saat bibir mengalunkan do'a.
"Ayah terluka parah, perlu banyak darah. Ini tadi Irwan transfusi. Paman Ayyas juga."
"Lalu sekarang?" membuat Zulfa semakin khawatir.
"Belum sadar." jawab Irwan, "Sudah. Janganlah dipikirkan lagi Bunda. Doakan saja semoga cepat sembuh."
"Aamiiin ..."
"Irwan boleh istirahat di sini Bun." sambil merebahkan tubuh di atas sofa yang ada di ruangan itu."
"Ya, istirahat lah." jawab Zulfa.
"Nek, Irwan istirahat dulu ya ... Bentar aja. Habis ini kita pulang."
"Ya, Wan."
Tak perlu waktu lama, Irwan sudah pergi ke alam mimpi. Hanya meninggalkan suara nafas yang beraturan.
Malam makin larut, ketika Ayyas mengajak Rahmi untuk pulang.
"Mbak Zulfa, kami pulang dulu. Assalamu'alaikum wr wb."
"Wa alaikum salam ..." jawab Zulfa dengan penuh keraguan. Kalau Ayyas pulang, lalu yang menjaga Herman siapa .... Tapi Zulfa tak berani mengatakan. Khawatir kalau Halimah akan terganggu tidurnya yang baru sesaat lalu bisa memejamkan mata. Maklumlah, Irwan yang ditunggunya tak juga bangun.
Sedangkan Lika sudah tertidur di tempat tidur kosong yang ada di rungan itu. Meninggalkan Zulfa yang masih sulit terpejam.
Zulfa keluar sejenak, untuk menunaikan apa yangh menjadi keinginannya, di musholla yang tak jauh dari kamar Halimah berada. Menghias malam sebagaimana biasanya.
Ketika melewati kamar Herman, dia berhenti sejenak. Lapat-lapat terdengar suara merintih dari dalam. Segera saja dia masuk.
"Mas ...." ucap Zulfa pelan.
"Zulfa kamukah itu?"
Zulfa segera mendekat, terlihat keringat membasahi dahinya.
"Maaf, aku bisa minta tolong ..."
"Ya, Mas."
"Ambilkan air, aku haus. Dan tolong ambilkan tissu. Rasanya panas sekali."
Tanpa berkata apa-apa, Zulfa mengambilkan air dan tissu untuknya.
"Terima kasih,"
Lalu kesunyian itupun menyelimuti mereka. Herman kembali mengatupkan mata, meski dirinya tak ingin tidur.
__ADS_1
"Aku pergi dulu."
"Zulfa, maafkan aku."
"Apa yang perlu dimaafkan. Aku sudah melupakannya. Kalau nggak ada apa-apa lagi, boleh aku pergi."
Sebenarnya siapa yang sanggup menghadapi semua ini. Hanya diriku mencoba mengikhaskan dengan apa yang terjadi.
Bertahun-tahun aku mencoba melupakanmu. Itu hampir bisa kulakukan. Tapi mengapa kamu datang. Terlepas dari keadaan dengan keadaan mu saat itu. Aku mencoba mengalah, mencoba menerima, mengikhlaskanmu. Aku akui itu masih terlalu sulit untukku.
Maafkan aku jika aku harus pergi .... Agar aku lebih mudah melupakanmu. Entahlah ....
Mendengar dirimu mendua, sulit bagiku untuk menerima. Maafkan aku ....
" Terlalu banyak dosa yang telah aku lakukan. Mungkin kata maaf saja tak cukup bagimu."
"Sudahlah, jangan membahas lagi yang nggak perlu. Itu akan menyakitkan. Ingat, sekarang mas sedang sakit. Jangan berfikir macam-macam. Cepatlah sembuh, Aldo dan Tia masih memerlukanmu."
Sering Zulfa merasa geram dengan Herman maupun Maria. Bukan karena cemburu, karena rasa cemburu itu telah hilang dalam penantinnya yang panjang.
Tetapi karena keduanya sering mengabaikan anak-anaknya. Jangan salahkan kalau suatu saat anak-anak akan melupakannya.
Dalam suasana seperti ini, Herman masih memikirkan rasa yang dia simpan. Bukan anak-anaknya.
"Di mana mereka?"
"Aldo dibawa Rahmi. Tia belum di temukan." jawab Zulfa singkat.
"Maaf, Mas. Aku pergi dulu."
"Sebegitu buruk diriku di matamu, hingga kamu menjauh dari ku?"
"Bukan, hanya kita bukan lagi seperti dulu. Sebaiknya mas istirahat, supaya lekas sembuh. Dan saat ini, pikiranku ke anak-anak. Apalagi Tia, sampai saat ini belum ditemukan. Kuanggap masalah kita sudah selesai. Tak usah membicarakan tentang kita. Baiklah aku akan kasih kesempatan buat mas. Jika mas .... jika mas nggak ngecewain anak-anak mas lagi apalagi menelantarkannya. Mengerti maksudku Mas."
"Benarkah Zulfa .... Baiklah. Terima kasih."
Tak terkira bahagianya hati Herman, saat Zulfa menyebut adanya kesempatan kedua untuknya. Itu adalah sesuatu alasan dia mempunyai daya untuk hidup yang lebih berarti.
"Sekarang, Ijinkan aku pergi. Nanti kalau mas perlu apa-apa bisa panggil perawat." kata Zulfa sebelum berlalu.
"Nanti kalau Irwan bangun, biar aku suruh menemani Mas. Kalau dia mau."
"Makasih."
Zulfapun pergi dari ruang perawatan Herman. Meneruskan niatnya untuk sholat. Sejenak menyibukkan diri dengan rasa yang akan disampaikan pada yang maha tahu.
Tentang gundahnya, mengapa pada saat kejadian dirinya tidak berada di sana. Hingga Tia .... Aku tak tahu harus gaimana .... Semoga kami segera menemukanmu, Nak ....
Biasanya Zulfa akan menikmati sekali malam-malamnya. Tidak dengan malam ini. Rasanya tak bisa berlama-lama dirinya dalam tahajudnya. Khawatir dengan Halimah yang mungkin saja mencarinya.
__ADS_1
Dan benar saja, ketika dirinya kembali, Halimah terlihat duduk di tepi ranjang.
"Mama mencariku?"
"Rasanya aku ingin mencari Tia."
"Ayyas sudah minta tolong teman-temannya. Begitupun dengan bang ojek, juga ikut mencari. Mama tenang saja. Besok pagi kita juga akan cari."
"Masih lamakah subuh?"
"Sekarang masih jam setengah empat."
"Aku mau sholat."
" Sholat sambil duduk saja, Ma ...."
"Iya."
Halimah turun dari tempat tidur, lalu menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Lalu melaksankan sholat dengan duduk bersandar.
Entah kenapa, itu Irwan tidurnya nyenyak sekli. Lupa dengan janji yang diucapkan pada neneknya. Hingga menjelang subuh, dirinya belum juga bangun.
Mungkin karena banyak diurus dalam minggu ini. Termasuk pabrik baru untukku. Semua sudah diselesaikan bersama Lika, dan aku sudah memindahkan pegawai yang dulu bekerja di rumah ke tempat yang baru.
Dan sudah dua hari ini mereka bekerja di termpat yangh baru. Untuk pegawai selanjutnya, Lika akan mengurusnya. Hitung-hitung belajar, mumpung perkuliahan belum dimulai.
Baru setelah azan subuh berkumandang, Irwan maupun Lika menggeliat, bangun dari tidurnya. Untuk menunaikan kewajiban sebagaimana biasanya.
Selesai melaksanakan sholat subuh. Rahmi datang bersama dengan Aldo diantar oleh Ayyas. Membawakan sarapan pagi untuk mereka semua.
"Bunda Zulfa," sapa Aldo, begitu dia memasuki ruangan mama. Dia seperti minta dipeluk olehku.
"Aldo, sini sayang." Diapun berjalan ke arahku dan mencium tanganku. Segera kupeluk dirinya. Ada pancaran kesedihan yang sangat di bola matanya.
"Bunda Zulfa, kenapa pergi .... Bunda Maria jahat sama Aldo dan Tia. Sama nenek, ayah juga."
"Jahatnya gimana, Nak?"
Sejak semalam Zulfa memang masih meraba-raba kejadian sebenarnya. Tak ada salahnya kalau sekarang mendengar cerita Aldo secara lengkap.
Tanpa sungkan-sungkan, dia bercerita semua yang dilihatnya dan dialaminya semalam. Terus terang, Zulfa merasa agak ngeri mendengarnya, membuat menahan nafas untuk beberapa saat.
"Bunda jangan pergi, nggak ada yang ngajari Aldo mengaji." kata Aldo setelah menceritakan semuanya. Untuk sesaat Zulfa hanya bisa diam dan tersenyum.
"Nanti kita bahas ya ... kita fokus cari adik Mutia dulu." Dia mengangguk, tak banyak bertanya lagi.
Setelah selasi menyantap sarapan pagi, kami bersiap meninggalkan rumah sakit ....
....
__ADS_1
....
jangan lupa votenya....