
"Apakah dia yang ingin kak Ridho perkenalkan padaku. Ah ... kalau memang iya ... " bisik kalbu yang kini kembali merindu.
Sejak SMA Hasan menjadi pengagum rahasia Zulfa. Tapi Zulfa tak menyadarinya. Rasa itu tetap tersimpan sampai dia masuk di akademi kepolisian. Tak mau memikirkan pacaran, sampai dirinya lulus akademi kepolisian. Itu prinsipnya.
Setelah lulus, dicarinya orang yang selama ini dikagumi. Sayang terlambat sesaat, karena Herman telah meminangnya. Dan akhirnya menikah. Tinggallah kini dia gigit jari. Ya sudahlah ....
Sebenarnya bukan patah hati. Hanya saja, dirinya agak sulit membuka diri pada wanita semenjak itu. Apalagi, Hasan senantiasa sibuk dengan tugas dan tugas. Hingga terlupa untuk berumah tangga.
Sebagai kakak, Ridwan merasa kasihan juga lihat Hasan yang masih menjomblo, meski sudah berumur. Lalu dia perkenalkan dengan seorang gadis. Tak berapa lama, merekapun menikah. Hanya sayang, saat melahirkan putri pertama mereka, istrinya meninggal dunia.
Beruntung dia punya keluarga yang saling memperhatikan. Jamilah, itu nama anaknya, diasuh oleh Ridwan beserta istrinya. Jangan ditanya bagaimana manisnya dia tapi bandelnya juga bikin bibi dan pakde-nya ngelus dada. Tapi baik kok ....
Dan kini Jamilah sudah SMP, dia belum punya keinginan berumah tangga lagi. Entahlah, dia masih terkenang dengan istrinya. Apalagi kalau melihat putri satu-satunya. Yang dari ujung rambut sampai ujung kaki, mirip sekali dengan almarhumah istrinya.
Beberapa waktu yang lalu, kak Redha, kakak iparnya, ingin memperkenalkan dirinya pada seorang wanita yang bernama Zulfa. Dirinya berharap Zulfa yang selama ini, dia kagumi. Yaitu Zulfa yang kini ada di hadapannya.
Andaikan hal yang mustahil jadi mustajab. Tentu dia akan bahagia. Hasan senyum-senyum sendiri, membayangkan dirinya berada pada posisi itu.
Kenyataannya Zulfa sudah bersuami, imposible. Harapan, hanyalah harapan. Andai harapan itu nyata adanya.
Astaghfirullah ... mikirin yang bukan haknya. Bini orang, Hasan !!!
Dari tempatnya berdiri, dia mendapati Irwan yang selonjoran dengan tubuh disandarkan pada dinding masjid. Dia mendekatinya.
"Wan, Ngelamun ...." sapa Hasan dengan menepuk pundaknya. Lalu dengan santai duduk di samping Irwan.
"Enggak, Pak. Sedang nunggu bunda."
"Itu, ayahmu sudah balik. Senang bisa berkumpul keluarga lengkap."
Irwan hanya bisa diam menanggapi kalimat demi kalimat yang Hasan utarakan.
Mau senang gimana, ayah datang bawa bini baru. Dan karena bini barunya itu pula, keluarganya tak pernah sepi dirundung masalah.
"Kenapa diam."
"Nggak ada apa-apa, Pak."
"Kok sedih?"
Biar nggak ketahuan, Irwan segera memasang senyuman di wajahnya. Agar sedih yang dia rasakan tak sampai tampak oleh pak Hasan.
Lalu kembali wajahnya tersirat kabut. Karena lamunan Irwan yang melayang kemana-mana. Ingin membawa Bundanya jauh dari masalah. Hidup tenang, dengan membawa keluar dari rumah nenek Halimah. Tapi itu semua tak bisa menghalangi masalah itu datang.
"Irwan, apa benar Maria itu juga ibu kamu?"
Belum sempat menjawab, Herman datang. Selamat, nggak perlu jawab. Males banget menyebut nama satu itu.
"Maaf Pak, terima kasih atas bantuannya. Dengan adanya bapak, masalah jadi cepat selesai ...." kata Herman menyela obrolan antara Irwan dan juga Hasan.
"Sudah jadi tugas saya, Pak?"
Mereka melanjutkan obrolannya, sambil menunggu Zulfa yang menemani Mutia entah kemana. Mungkin ke toilet.
__ADS_1
"Kamu sekarang di mana, Irwan?"
Syukur ... pak Hasan lupa dengan pertanyaannya yang tadi.
"Atau kamu sudah menikah?"
Irwan tertawa kecil mendengar pertanyaan pak Hasan, pembimbing Komunitas Pecinta Alam semasa kuliah dulu.
"Irwan masih melanjutkan S2, Pak."
"Hebat, lanjutkan."
"Terima kasih, Pak."
"Oh pak Herman. Besok berkas penuntutan sudah bisa ditanda tangani."
"Ya, Pak. Insya Allah besok saya akan datang."
Belum selesai mereka bicara, dari jauh terlihat Alfa berjalan dengan wajah sendu dan tertunduk, menghampiri mereka. Rupanya dia habis menjenguk Maria.
"Herman ...."
"Ada apa, Pa."
Alfa sedikit tersanjung sewaktu Herman memanggilnya papa.
"Bolehkah, papa mengajukkan satu permohonan."
"Permohonan apa, Pa."
"Maafkan, Maria ...."
Herman seperti berfikir keras, dan hanya bisa diam tanpa memberikan jawaban apa-apa. Sampai Zulfa datang. Dia menengok pada semua, meminta pertimbangan. Termasuk pada Zulfa.
"Pasal yang dituduhkan padanya adalah percobaan pembunuhan. Termasuk pasal yang berat. Kalau pak Herman memaafkan, hukumannya akan diperingan.Tapi tetap mendapatkan hukuman." kata Hasan
"Sebaiknya mas maafkan saja, kalau perlu jangan diproses. Kasihan Aldo dan Mutia. Meski saat ini mereka membencinya, lambat laun mereka akan merindukannya juga." kata Zulfa.
Bunda ....
Irwan agak kaget juga mendengar pendapat bundanya. Enak aja ...
"Maaf ya, Yah. Menurutku biarlah kita serahkan semua pada pengadilan. Setelah ada putusan, baru kita pikirkan maafkan atau tidaknya. Orang seperti itu berbahaya untuk orang lain. Kenapa dimaafkan. Kalau berbuat lagi gimana ...."kata Irwan.
"Mas, apakah mas nggak takut kalau Aldo atau Mutia menganggap Mas-lah yang menyebabkan ibunya dipenjara. Menjauhkan dari ibunya .... Lepas tahu atau tidaknya, alasannya apa."
Zulfa ... Zulfa .... kamu masih seperti dulu. Selalu mikirin orang lain, bisik hati Hasan.
Dia menatap Zulfa dengan senyum simpulnya.
Sepintas Herman melihatnya. Membuat hatinya terusik api cemburu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Moga-moga hati Zulfa tak berpaling. Meski saat ini kita berpisah, tapi masih ada harapan untuk bersama. Benarkan?!
"Semua terserah pak Herman," Hasan mencoba menengahi.
__ADS_1
Setelah berfikir sejenak ....
"Pa, ayo makan ke tempatku. Kita bicara di sana!" ajak Herman kemudian.
Alfa senyum-senyum. Rupanya Herman tak mau keputusannya di dengar anak istrinya saat ini.
"Baiklah. Papa senang sekali kalau kamu undang makan. Tapi moga-moga ini bukan pemerasan."
"Itu adalah papa." jawab Herman dengan entengnya.
"Tidak, Herman. Papa sudah lama tobat. Kamu juga sudah tobat, kan?"
"Dalam proses, Pa."
"Syukurlah. Ayo ke mobil papa. Kamu yang nyopir."
"Papa tahu aja."
"Ya tahulah. Itu mobil Ayyas, kan?"
Herman senyum cengir kuda, tak menolak pernyataan mantan mertuanya itu.
"Tia, ayah pulang dulu. Ayah rindu Tia, nunggu Tia kapan mau pulang."
"Tia nggak mau, Tia nggak Mau. Tia takut." teriaknya melepas pelukan ayahnya.
Segera Zulfa menarik dalam gendongannya.
"Tidak, Sayang. Ayah hanya bercanda." hiburnya.
"Maafkan ayah. Maksud ayah, rumah baru ayah."
Tia hanya memandangnya, tidak memberikan jawaban apa-apa. Hanya senyum simpul dan anggukan kepala.
"Kakek pergi dulu, Tia."
"Ya, Kek."
"Kamu kalah satu langkah, Wan."
Herman senyum saja, menanggapi pernyataan Alfa.
"Mengalah, Pa."
"Alasan!"
Mereka baru menghentikan perdebatan ketika berpamitan pada Hasan
"Mari, Pak. Assalamualaikum ....'' pamit Herman, Alfa dan Ayyas.
"Wa Alaikum salam ...." jawabnya dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Itu kenapa Zulfa ditinggalkan sama Herman. Dan kelihatannya enjoy-enjoy saja meninggalkan Zulfa. ....
Agak bingung juga waktu Herman berpamitan tanpa Zulfa. Bukankah Zulfa isterinya.
__ADS_1