KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Perilaku Heru


__ADS_3

Suatu tempat yang benar-benar tidak nyaman, untuk sekedar berpacaran. Kalau itu dikatakan berpacaran.


"Mas, kenapa kita ke sini?"


"Sedikit senang-senang lah."jawabnya santai. Heru meninggalkan Syafa begitu saja. Dia turun menari, berbaur dengan yang lainnya. Dengan diiringi lagu yang hingar-bingar memekakkan telinga. Meninggalkan Shaffa duduk sendirian di pojok ruangan dengan pencahayaan remang-remang. Dia benar-benar bingung tak tahu harus berbuat apa.


"Hai," sapa seorang lelaki berperawakan tinggi besar, dengan pakaian ala boss. Dia duduk tenang di sampingnya. Dari cara memandangnya, terlihat ada maksud yang kurang baik. Dari seringainya membuat Shaffa takut.


"Sendirian."


Shoffa diam tak peduli. Pria itu semakin mendekat. Dengan seenaknya menyentuh pipi Shaffa.


"Astaghfirullah ...." Shaffa tersentak kaget lalu menjauh. Tapi pria itu semakin dekat dan berani, seakan menemukan barang antik dan menarik. Shaffa semakin jengah dengan tingkah laku pria itu. Ada rasa takut yang menyelimuti jiwanya. Kalau-kalau akan berbuat tidak-tidak padanya.


"Anda siapa?"


Dia tak menjawab, bahkan tersenyum nakal. Dan tangannya hendak menyentuh tubuh Shaffa yang terlindungi. Untung Shaffa melihatnya.


"Apa-apaan. Jaga sikap anda.-" ucap Shaffa dengan sedikit berteriak. Maksud hati, agar orang memperhatikannya. Dan menghentikan perbuatan pria. Tapi apa yang di dapat. Semua orang tak peduli padanya. Semua masih menari ... dan menari. Seiring lagu yang enggak jelas itu. Mau tak mau dia mengatasi sendiri. Matanya menatap tajam, mukanya memerah menahan amarah.


Tapi laki-laki itu malah tertawa mengejek.


"Nona-nonaaaa, sok alim." Entahlah laki-laki itu makin berani. Bahkan dia memanggil teman-temannya. Sontak membuat Shaffa semakin takut. Dia memandang ke sana ke mari mencari keberadaan Heru. Rupanya Heru masih menari dengan para wanita. Shaffa berjalan mendekatinya, meninggalkan para lelaki yang makin banyak mendekatinya.


"Mas, Ayo kita pulang." mungkinkah karena suaranya yang terlalu kecil, hilang ditelan oleh suara musik yang mengiringi mereka. Hingga ajakan Shaffa tak tak mendapatkan reaksi sedikitpun dari Heru.


"Sudah sana. Aku lagi asyik nich, atau memang kamu mau ngedance sama aku. Ayo!" Heru menarik Shaffa ke dalam pelukannya bahkan ....


Astaghfirullah al adzim, gumam Shaffa dalam hati. Spontan dia menepis tangan Heru. Ini benar-benar di luar perkiraannya. Heru mengajaknya ke tempat seperti saja, tak terbayangkan sebelumnya. Sekarang akan peluk-peluk segala.


Syafa segera pergi meninggalkannya. Dia berjalan keluar dengan hati yang sangat kesal dan sedih. Apalagi tiba-tiba lelaki itu muncul lagi di hadapannya. Dia merentang tangannya di depan pintu. Menghalang-halanginya untuk keluar.


"Pergilah! Aku ingin keluar."


"Jika kamu bisa, lewati tanganku. Lagian aku sudah membayar mahal untuk ini."


Shafa mengangkat alisnya saat mendengar pria itu berkata. Apa maksudnya semua ini.

__ADS_1


"Minggir." sekali lagi Shaffa berteriak. dia malah tertawa dengan sikap Shafa. Tapi dia memberi jalan juga sehingga bisa keluar.


'Terima kasih."


"Aku antar." ucapnya sopan sambil mengikuti langkah Shafa menuju mobil Heru tanpa ingin mengganggunya lagi.


"Masuklah!" Pria itu membukakan pintu ke Shaffa. Dan mempersilahkan Shaffa duduk di dalam mobil dengan nyaman, sebelum menutup pintunya kembali.


"Terima kasih. Ternyata kamu orang yang baik. Sekali lagi terima kasih ya."


"Ya. Maafkan aku. " ucapnya dengan senyum.


Agak heran juga Shaffa mendengar perkataan itu. Karena beberapa saat yang lalu, dia sangat tidak sopan padanya.


"Ya*." jawab Syafa.


"Oh iya, jangan buka pintu pada siapapun. Aku akan panggilkan Heru segera."


Tak lama kemudian tampak Heru keluar dari discotik itu. Terlihat dari raut wajahnya kalau dia sedang kesal.


"Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Dia marah." kata Heru dengan nada membentak. Membuat Syafa kaget.


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Kamu tuch, diajak kerjasama nggak mau."


"Maksudnya apa Mas."


"Jangan sok polos."


Mas aku nggak ngerti apa-apa Tapi sebaiknya kita pulang aja ya udah malam takut Bapak nanti khawatir


"Okelah." ucap Heru dengan wajah marah


Malam ini sungguh melelahkan bagi Safa sehingga begitu mobil dihidupkan dia tertidur. Dia tak menyadari bahwa mobil Heru telah memasuki persawahan dekat rumah mereka. Heru pun menghentikannya. Ada niat jahat yang sudah direncanakan sudah lama pada Syafa, semenjak melihat Syafa berjalan sendiri di tengah sawah sebelum dia melamarnya. Bahkan melamar Safa itupun hanya sebagai kedok belaka.

__ADS_1


Heru mendekati Syafa pelan-pelan. Entahlah apa yang dipikirkannya yang jelas dengan itu semua dia mendapatkan uang yang banyak. Inilah waktu yang tepat, untuk merusak hidup Syafa seutuhnya. Jangan kau pikir ada pernikahan diantara kita. kata Heru sambil mengusap wajah Syafa.


Merasa ada sesuatu yang menyentuhnya, Syafa pun terbangun. Alangkah terkejutnya saat mendapati wajah Heru sangat dekat dengannya. Kedua tangannya mencengkram kuat di bahunya.


"Mas Apa yang kamu lakukan!"tanya Syafa.


"Tidakkah kamu tahu aku menginginkanmu."


"Tunggulah sebentar lagi bukankah dua minggu lagi kita menikah."


"Tidak. aku sudah tidak bisa menahan lagi."


"Maaf Mas, aku nggak bisa."Syafa berusaha melepaskan cengkraman tangan Heru yang sudah mulai bertindak kasar padanya.


Krak ....


baju yang dipakainya pun terkoyak. sontak membuat siapa pun terkejut. dia segera mencari-cari gagan pintu mobil. begitu menemukan, dia langsung membukanya. Berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Heru, menuju rumahnya.


"Sialan!" umpatnya, saat melihat mangsanya berlari meninggalkannya. Segera Heru merapikan pakaiannya dan menghidupkan mobilnya. Dia dengan cepat mengejar Syafa yang telah lari terlebih dahulu. Tapi sayang dia sudah terlambat karena mendapati Syafa telah masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum, Bapak."


"Waalaikumsalam. Sebenarnya ada apa Nak Heru, kok Syafa pulang-pulang menangis."


"Begini Bapak. Saat di restoran, kami bertemu temannya Shafa mungkin pacarnya. Waktu saya ke toilet mereka sudah tidak ada. Mereka entah pergi kemana. Akhirnya saya cari Shafa dan saya temukan di tengah sawah dekat sini. Sepertinya mereka melakukan hal yang tidak senonoh. Saya memergokinya, Shafa lari. maafkan saya pak saya enggak bisa menjaga Shafa. tapi saya akan menerima Shafa apa adanya."


Mendengar hal itu Syafa terkejut, lalu berhenti menangis. Dia benar-benar heran dengan tingkah laku Heru. Tak menyangka dia akan membalikkan fakta yang sebenarnya. Bukannya minta maaf malah bercerita yang nggak-nggak.


Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba dia mendapatkan satu tamparan keras dari telapak tangan ayahnya.


"Bapak, bukan begitu ceritanya."


"Sudah, masuk sana!"


Tak mungkin lagi bagi Shafa untuk menerangkan kejadian yang menimpanya. Dia pun berlari masuk ke dalam kamar. Menangis sesegukan di atas bantal. Andaikan Bunda masih ada, tentu ada yang bisa membelanya. Dan membantu menjelaskan pada bapak yang sangat keras padanya.


Sejak ibunya meninggal Bapak sering kali bertindak kasar padanya. Mungkin Bapak terlalu bersedih. Shafa memakluminya. Tapi Syafa tetap percaya bahwa ia sangat sayang padanya.

__ADS_1


Dari dalam kamar Shafa mendengar Heru berpamitan. Dia menunggu sampai mobil itu meninggalkan rumahnya.


__ADS_2