KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kepikiran


__ADS_3

Sepulang dari tempat Redha, ingin sekali Hasan menemui Zulfa. Tapi banyak hal yang harus dia selesaikan di hari ini, apalagi dengan masalah dari anak buahnya yang satu ini. Diapun kembali ke kantornya. Berkutat dengan urusan-urusan yang menumpuk.


Bahkan hari ini banyak laporan masyarakat yang perlu ditangani dan ditindaklanjuti. Sehingga dirinya sampai terlupa urusannya sendiri.


Ingat-ingat baru menjelang dirinya akan merebahkan badan di atas kasur.


"Astaghfirullah Al adzim, aku benar-benar lupa. Moga-moga belum tidur. Kalau ndadak kan nggak enak."


Akhirnya, Hasan membuka handphone-nya kembali, yang sesaat lalu sudah dimatikan.


💎


Sementara itu Zulfa


Astaghfirullah al adzim ....


Mengapa mata ini tak mau terpejam juga. Meski aku sudah berusaha tapi tak berhasil. Sepulang dari angkringan mas Herman, aku jadi kepikiran anak-anak. Sebentar lagi Maria keluar, apa Maria akan begitu saja mengambil mereka. Aku khawatir, mereka tak siap. Traumanya belum hilang. Ah sudahlah, semoga Yang Kuasa memberikan jalan yang terbaik, sehingga semua baik-baik saja.


Hati galau memikirkan Tia dan Aldo.


Akhirnya Zulfa turun dari ranjangnya, keluar kamar. Berjalan dalam sunyi menuju kamar Tia dan juga Aldo. Dia buka sebentar pintu kamar mereka. Mengamati dengan seksama keadaan mereka yang sedang tertidur pulas.


Mereka lucu kalau sedang tidur begini. Tergoda juga Zulfa untuk mendekati Tia. Membelai lembut kepalanya. Dia tampak nyenyak.


"Tak mau ... tak mau, aku maunya bunda Zuifa." bisiknya lirih. Rupanya dia mengigau. Sekali lagi Zulfa membelai kepalanya dan meniup ubun-ubunnya. Tak lama Tia pun tertidur kembali dengan tenang. Demikian juga dengan Aldo. Dia juga melakukan hal sama.


Giliran menuju kamar Irwan, Zulfa mendapati lampunya masih terang. Pelan-pelan dia membuka pintu kamar anak lelakinya itu.


"Irwan, belum tidur Nak."


"Belum, Bunda ... masih sore juga."


Kuliah sambil kerja, memang berat. Tapi semua dijalaninya dengan ikhlas. Jarang sekali putranya yang satu ini mengeluh.


"Boleh bunda temeni kamu?"


" Wah ... seneng banget, Bunda."


"Kamu mau dibikinkan apa?"


"Terserah Bunda."


Zulfa meninggalkan Irwan menuju dapur. Membuat kopi susu, kesukaan putranya itu dan yang pasti kesukaannya juga. Tak lupa pula mengambil makanan kecil untuk mereka.


Setelah selesai, Zulfa membawanya ke kamar anaknya. Meletakkan semua itu di nakas yang ada di sana.


"Makasih, Bunda."


"Ya sudah, Bunda mau tilawah Al Qur'an."

__ADS_1


"Ya." jawabnya singkat, karena dirinya serius dengan apa yang ada dalam laptop-nya.


Di tengah-tengah Zulfa membaca, handphone Zulfa berdering. Rupanya ada panggilan masuk. Siapa juga malam-malam begini telpon. Mungkin ada sesuatu yang urgen banget, sampai-sampai malam begini harus menghubunginya. Tertera nama mas Hasan ....


" Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, ada apa Mas ... tumben malem-malem telpon?"


"Ada yang ingin mas omongin ke kamu


... ini serius."


Zulfa agak terkejut duluan, ketika mendengar kata 'serius" dari mulut Hasan.


"Tentang Maria, mas Herman, Jamilah atau apa?"


"Sudah, jangan panik gitu ... bukan tentang mereka ... tapi kita."


"Mas ngomong langsung sajalah, kayak biasanya. Aku bingung kalau seperti ini."


"Oke ... aku pingin ngajak kamu jalan-jalan besok."


"Ya Allah, Mas. Kukira apa ... tapi nggak usah pakai telpon malem-malem gini."


"Ya biar kelihatan spesial gitu. Nggak ada orang yang dengar ... eh maaf-maaf bukan gitu maksudku, aku tadi sibuk banget ngurusi anak buahku. Akhirnya terlupa dengan sesuatu yang akan ingin aku sampaikan padamu."


"Nggak apa-apa, Mas. Jalan-jalan ke mana?"


"Belanja peningset, bisa kamu temani Mas."


Ngomong enggak ya ... bingung juga otakku berfikir.


"Mas ...."sapa Zuifa setelah sekian lama tak ada suara yang masuk.


"Eh ya, gimana bisa nggak?"


Sudah besok saja aku jelaskan.


"Insya Allah bisa, habis jemput anak-anak sekolah. Gimana ... mas nggak keberatan, kan."


"Oke, tak masalah. Makasih, sudah mau angkat teleponku. Assalamualaikum ..."


"Wa alaikum salam wa rahmatullah ..."


Ku kira apa. Zulfa bergumam sendiri. Dan menutup handphone-nya untuk melanjutkan tilawah Al-Qur'an kembali.


Irwan yang memperlihatkan bundanya menerima telpon dari pak Hasan, senyum-senyum sendiri.


"Bahagianya hati bundaku ..."


"Wan, kamu jangan ngeledek bunda. Bunda ini lagi bingung tahu."

__ADS_1


"Sudahlah bunda. Irwan setuju-setuju saja, kalau bunda sama pak Hasan."


"Entahlah, Wan."


"Maaf, Bun. Sebagai anak kalian berdua, Irwan nggak mau kalian berpisah. Maunya, kalian selalu bersama. Tapi Irwan ngerti kok, Bun. Bagaimana itu sulitnya melakukan itu. Ayah sudah meninggalkan kita terlalu lama. Tapi bunda menunggu dengan sabar demi kita. Waktu kembali bunda juga mencoba menerim dengan ikhlas. Tapi dasar ayah yang terlalu egois, membebankan semua pada bunda. Irwan benar-benar nggak rela, bunda diperlakukan seperti itu. Benar, Bunda. Itu tak tak adil buat Bunda ...


Ku rasa sudah saatnya bunda bahagia. Irwan senang kok punya ayah Hasan, eee ... papa Hasan. Tirukan Jamilah kalau panggil. Dan asyik juga kalau punya adik yang bernama Jamilah itu .... Seru."


"Kamu ngomong apa sih, Wan."


"Bahasa Indonesia?!" ucapnya tanpa dosa.


"Bukan itu yang bunda pikiran. Ini masalah Tia dan Aldo."


"Kenapa dengan mereka. Jangan-jangan, bunda nggak bisa melepaskan mereka?*


"Ya, Bunda berat melepas mereka. Tapi bunda harus rela."


"Sudahlah, Bun. Jangan dipikirkan, mereka kalau mau di sini akan kita terima, balik ke Maria, kita akan berikan. Nggak usah dibuat pusing. Bahkan kalau mereka ikut dengan papa Hasan, Irwan setuju-setuju aja.


Itu malah bagus. Maria nggak akan macem-macem." jawab Irwan dengan tenangnya.


"Bentar, Wan. Omonganmu kok sedikit-sedikit ngelantur. Nggak ngerti Bunda."


"Hehehe ..."


"Sudah. Bunda mau ke kamar dulu. Adanya bunda di sini, malah kamu ngeledek Bunda terus. Pekerjaanmu nggak selesai-selesai."


"Ya ... Bunda."


"Bunda capek, mau tidur." kata Zulfa sambil beranjak dari ranjang Irwan. Melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


"Jangan lupa mimpikan papa Hasan ya Bun." goda Irwan saat Zulfa melintas di sampingnya.


Nich, anak. Kalau soal ginian, tak ada sopannya. Zulfa pun berlalu dengan pikiran bertambah. Kalau tadi hanya memikirkan Tia dan Aldo. Kini bertambah lagi, tentang ajakan mas Hasan untuk membeli peningset. Untuk siapa ....


Ah besok akan tahu sendiri.


Tiba di kamar, Zulfa segera merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Kembali mencoba untuk memejamkan mata. Tapi masih tetap sama. Angannya melayang, mengantarkan ke masa lalu. Hingga air matanya menetes ...


Kadang dirinya merasa lelah, butuh seseorang untuk tempat curhat. Dia hanya wanita biasa, yang menangis bila tersakiti. Meski itu tak pernah diperlihatkannya.


Ah, itu hanyalah masa lalu. Anak-anak kini sudah dewasa. Sudah bisa mengerti dan memahami semuanya. Aku tak akan meninggalkan kalian apapun yang terjadi.


Astaghfirullah al adzim...


...


...

__ADS_1


Akhirnya Zulfa mengucap doa untuk tidur, hingga matanya benar-benar tertidur.


__ADS_2