KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Ekstra Part


__ADS_3

Tuhan maafkan diriku yang masih  menyimpan satu rasa tersembunyi padanya


Bukan tanpa alasan, dia begitu istimewa, seakan tak pernah tergantikan


Hanya sayang aku tak menyadari sejak awal, hingga meninggalkannya begitu saja


Bahkan tak memperdulikannya, akan nuraninya yang menjerit, atau keluhnya dalam air mata yang senantiasa dihadirkan dalam riba Sang Pencipta


Biarkan  selamanya di sana tanpa ada seorang pun boleh mengusiknya


Penghias bayang-bayang impian,  dan selamanya menjadi impian.


Mengapa di saat dirinya akan melangkah, selalu saja rasa itu muncul. Move on ..... Herman. Move on ... Dia sudah ada yang punya.


Biarlah yang lalu dijadikan pelajaran untuk masa yang ingin dilaluinya kembali meski bukan dengan wanita yang sama.


Teringat dengan cerita dari seorang sahabat. Saat dia memasuki sebuah taman, dia menemukan mawar putih yang mekar sempurna. Indah memang, tapi saat itu dirinya tak begitu menginginkan. Ditinggalkannya mawar itu begitu saja sambil berharap menemukan mawar yang lebih cantik.


Seorang teman bertanya padanya,”Apakah sudah kau temukan?”


“Belum,” jawabnya tanpa ragu


Dia meneruskan langkahnya. Dia pun melihat mawar merah, menarik dan berbeda tapi tak memuaskan keinginannya juga. Dia tinggalkan pula mawar itu. Dia masih berharap menemukan yang lebih baik lagi.


Sampai di ujung jalan baru dirinya menyadari kalau  hanya mampu membandingkan semua  dengan mawar putih itu. Tak ada lagi yang lebih indah, cantik dan menarik dari mawar putih yang pertama kali ditemukan. Dia pun harus puas keluar dari taman tanpa menemukan apapun.


Mungkinkah cerita itu adalah dirinya?


Dengan ketertundukkan, malu terhadap diri atau sekedar melakukan perenungan, Herman berdiam sejenak sebelum mengucapkan sighot ijabnya di hadapan penghulu.


Dengan meluruskan niat dan mengucap basmalah, Herman mengucapkan ijab qobul, mempersunting Hanum, wanita yang baru dikenalnya untuk menjadi istrinya. Semoga dengan ini menyadarkan dirinya, tak lagi berbuat kesalahan yang sama.


Turut menyaksikan keluarganya  dan teman-teman dekatnya saja. Hadir pula Hasan yang ditemani Zulfa serta putra-putrinya lengkap, Irwan Lika, Aldo dan Tia. Semua menyaksikan dengan duduk di sekitar Bunda Zulfa.


“Semoga samawa, Ayah,” ucap Lika dan Irwan sebelum melangkah pergi.


“Bunda, apakah kamu ingin mengucapkan sesuatu?”


 Hasan mengucapkannya di depan pasangan yang baru menikah itu. Tak tahulah, tiba-tiba timbul sifat isengnya. Entah mau manas-manasi Herman atau sebaliknya. Yang jelas terlihat ada keraguan dalam diri Herman sebelum mengucapkan ijab qobul. Makanya hampir-hampir salah menyebutkan nama yang akan menjadi pasangannya.


“Cukup aku wakilkan pada Papa saja.” Jawaban yang bijak. Biar tak ada noda dalam hati masing-masing apalagi kecemburuan. Lalu Zulfa meninggalkan mereka berdua ngobrol. Sedangkan dirinya bercengkrama dengan Hanum


“Ojo mikir macem-macem. Zulfa itu istriku.”


“Sorry, aku nggak sengaja.”


“Untunglah aku tak melihat cinta di mata istriku untukmu sejak aku bertemu.”


“Maafkan aku.  aku ingin melupakannya.”


“Jangan lagi ada cerita mendua, kalau kamu nggak bisa adil. Apalagi tanpa ilmu.”


“Ya, Aku salah sejak awal telah menelantarkannya. Bahkan terhadap anak-anak ku juga. Sampai-sampai mereka tak ada yang ingin bersamaku, meski aku ayah kandungnya. Mereka memilih Zulfa, bahkan Aldo dan Tia juga.”


“Sudahlah, mereka masih kanak-kanak.”


“Mungkin aku akan tinggal di Australia. Sayangnya mereka tak mau ikut.”


“Jangan khawatir, Aku sama Zulfa akan menjaga mereka.”


“Aku titip mereka. Sebentar ....” Herman melangkah pergi menuju salah satu ruangan. Tak lama kemudian telah kembali menemui Hasan. Dia menyerah dua buku kecil pada Hasan.


“Untuk Tia dan Aldo.”


Hasan hanya memandangnya buku itu, belum mau menyentuhnya apalagi menerimanya.

__ADS_1


“Jangan tersinggung. Aku tahu, kamu bisa menghidupi mereka, mendidik mereka dengan baik sampai sekolah yang mereka inginkan, tanpa adanya kiriman dariku. Tapi tolonglah ... aku nggak mau disebut Ayah yang menelantarkan putranya. Seperti yang kulakukan pada Malika dan Irwan saat kecil dulu.”


“Baiklah, Aku terima. Dan terima kasih juga kamu sudah mempercayakan perwalian putra-putrimu pada kami.”


“Aku yang seharusnya berterima kasih sama kalian. Sudah menerima putra putriku seperti putra-putri kalian sendiri.”


“Sudah malam, kami lelah. Dan juga ingin mempersiapkan  keperluan Tia dan Aldo.”


“Baiklah.” Keduanya pun bangkit menuju Hanum dan Zulfa yang sedang berbincang-bincang.


“Bunda, ngantuk ya?”


“Ya, habis nunggu Mas lama kali.” Terlihat mata Zulfa memerah. Dia pun bangkit, berdiri mengakhiri obrolannya dengan istri Herman.


“Maaf sudah malam, kami pulang dulu ... Nanti ganggu kalian.” Meski dengan kesadaran yang mulai berkurang, Zulfa masih saja bisa bercanda. Membuat senyum Hasan yang ada di sampingnya merekah. Demikian juga Herman dan Hanum.


“Juga untuk kalian,” jawab Herman tak mau kalah.


“Semoga samawa ... Kami pulang dulu,” ucap Zulfa yang diikuti Hasan.


“Assalamualaikum.”


“Wa alaikum salam.”


Rasa kantuk yang amat sangat menyebabkan Zulfa agak berat untuk menegakkan kepalanya. Dengan terpaksa Zulfa menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Tanpa peduli dengan Herman dan juga Hanum. Sepertinya mereka sengaja, memperlihatkan kemesraan di hadapan pasangan yang baru menikah.


💎


Keesokan paginya, mereka berdua sudah dapat hadir  sebagai pasangan yang sah. Untuk menyaksikan Irwan melepas masa lajangnya.


Begitu ijab qobul selesai diucapkan, Herman pun bangkit.


“Selamat, Nak. Semoga samawa. Jagalah istrimu baik-baik. Jangan tiru kebodohan Ayah.”


“Terima kasih, Ayah. Kami sudah memaafkan Ayah. Semoga ini adalah yang terakhir bagi ayah juga.”


Setelah tamu-tamu dari kerabatnya sudah mengundurkan diri, Herman pun mendekatinya.


“Oh ya, Irwan. Maafkan Ayah  nggak bisa menemani kamu  lama-lama. Jam sepuluh pesawat sudah berangkat. Tapi insyaallah Ayah akan datang saat resepsi nanti.”


“Irwan maklum, Yah. Selamat bulan madu.”


“Kamu itu ada saja, Wan.”


“Sebentar, Yah. Tunggu Kami ganti baju dulu. Kami juga ingin mengantar Ayah.”


“Lho kok.”


“Tak apa, Yah. Yang penting ijabannya sudah. Syukurannya baru nanti malam.”


 Karena waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul 9, Irwan mengajak istrinya untuk segera berganti baju. Tak berapa lama mereka pun telah siap. Keduanya menyusul rombongan yang sudah berada di halaman. Mereka akan mengantarkan Herman ke Bandara.


“Maaf Paman Steve.”


“Tak apa, Yuk.”


Rombongan itu pun akhirnya meninggalkan halaman rumah Shaffa menuju ke bandara.


Alhamdulillah sampai di bandara tidak telat-telat amat. Herman dan Steve menggandeng Aldo dan dia untuk segera mengikuti langkah mereka. Tapi rupanya perlu sedikit rayuan agar mereka mau berangkat.


“Mengapa Bunda nggak ikut?”


Ada-ada saja anak-anak ini. Hasan pun melirik pada Zulfa.


“Bunda dulu pernah ke sana bersama Kak Irwan dan Kak Lika. Sekarang giliran kalian. Di sana cukup Indah, pasti kamu suka deh ....”

__ADS_1


“Ya sudah. Ayah nanti aku balik lagi loh ke Indonesia. Aku mau tinggal sama Bunda,” ucap Tia dengan polosnya.


Ini nih yang bikin Herman merasa tak berarti di hadapan anak-anaknya.


“Ikhlaskan saja. Agar mereka juga tenang dimanapun mereka berada ... Sekarang nikmati perjalananmu bersama mereka.”


“Terima kasih, Hasan.”


“Sama-sama. Tuh ... Sudah ada panggilan.”


“Ya, Assalamualaikum.”


“Wa alaikum salam.”


“Tia Aldo, Ayo?”


Tak mau ketinggalan pesawat, Steve segera meraih Tia di tengkuknya. Dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Sedangkan Aldo dalam gandengan Herman dan Hanum, sedikit berlari mengejar Steve.


Tak lama berselang pesawat mereka berlahan-lahan memasuki landasan, bersiap-siap untuk take off.


Setelah memastikan pesawat itu tinggal landas, Irwan meninggalkan bandara bersama istrinya.


Kini hanya tersisa Hasan dan Zulfa, yang kelihatannya masih enggan meninggalkan bandara. Mereka duduk santai di sebuah restoran yang ada di lingkungan bandara.


“Bunda, aku kok jadi iri sama Herman yang bisa langsung bulan madu. Bagaimana kalau kita juga bulan madu.”


“Bunda sih seneng-seneng, Mas. Tapi apa nggak Ngeganggu pekerjaan.”


“Kebetulan aku belum ambil cuti untuk pernikahan kita. Ditambah pula karena peristiwa kemarin, aku dapat tambahan cuti. Kesempatan untuk bersenang-senang.”


“Ada-ada saja.”


“Tapi tak apa, kan. Kebetulan aku dapat undangan dari Tuan Ulya, teman Papa yang ada di Turki. Gimana kalau kita ke sana?”


“Boleh juga, aku belum pernah ke sana. Pingin lihat Hagya Sofia.”


“Oke, Kalau gitu kita siap-siap. Besok berangkatnya. Pakai pesawat pribadi.”


“Memangnya mas punya.”


“Semoga suatu saat ... Itu pesawat pribadi tuan Ulya.”


Zulfa hanya bisa tertawa, mendengar rencana yang mendadak ini. Lalu segera saja menghabiskan minumannya sambil menunggu suaminya yang sedang membayar tagihan.


“Sudah yok.”


“Ya.”


Hasan tanpa malu menggandeng tangan Zulfa dengan mesra meninggalkan tempat itu menuju mobilnya yang terparkir di depan restoran.


Setelah memasang sabuk pengaman. Hasan melajukan mobilnya menuju jalanan dengan hati yang berbunga-bunga.


SEMOGA SAMAWA SEMUA.


BENAR-BENAR END.


💗💗💗💗💗💗💗


Terima kasih pada readers yang telah berkenan membaca novel ini. Semoga bisa menghibur semuanya dalam mengisi waktu senggang.


Readers yang author sayangi dan selalu author rindukan. Silahkan tengok karya baru author yang berjudul" PELURU CINTA SANG JENDERAL HAFIDZ . Bercerita tentang Jamilah dan kisah cintanya


Silahkan membacanya dengan bahagia ....


__ADS_1


Kalau ingin mengetahui kisah Mr. Ulya secara keseluruhan, boleh tengok di Novel yang berjudul MAHABBAH RINDU.(End) 



__ADS_2