KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Terluka


__ADS_3

Subhanallah ....


Malam ini, benar-benar membuat Hasan salah tingkah dengan sikap Jamilah.


Meskipun demikian, asalkan prosesi lamaran dapat berjalan dengan lancar, dirinya sudah amat sangat bahagia.


Bahkan tanggal pernikahannya pun sudah ditentukan. 1 Minggu dari sekarang. Nggak perlu lama-lama. Bikin keluarga khawatir. Dan kata orang nanti 'kanginan' kalau lama-lama.


Ujian papa Hasan tak hanya sampai di sini saja. Saat pulang, Jamilah tak mau pulang. Dia ingin tinggal bersama bunda Zulfa, karena saat ini sedang sangat benci sama papa Hasan.


"Pak Dhe, aku tinggal di saja ya, sampai hari H. Setyawati lagi sebel sama Papa."


Kata-kata Jamilah bak sabda pandita ratu. Jadi semua harus tunduk padanya. Tak ada seorangpun yang bisa merubahnya. Baik papa maupun pak Dhe Bu Dhe-nya.


Dengan terpaksa Redha mendekati bunda Zulfa.


" Zulfa, aku titip keponakanku. Aku harap kamu sabar menghadapinya."


"Nggak apa-apa bunda Redha. Kalau Jamilah mau, saya malah senang." jawab Zulfa dan menerima dengan tangan terbuka.


Dan lagi-lagi, saat Hasan hendak berpamitan. Jamilah tak mengijinkan mendekati Zulfa. Akhirnya dia hanya bisa berucap salam sambil melangkah pergi.


"Maafkan putriku, Zulfa."


"Nggak apa-apa, Mas."


"Aku tinggal dulu. Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."


Meski ikut mengantar keluarganya keluar, tapi senyumnya tak pernah di tampakkan pada papanya. Sampai semua menghilang, Jamilah masih tetap berdiri di luar.


"Jamilah, Ayo masuk. Dingin di luar."


"Ya, Bunda."


Jamilah dengan patuh mengikuti langkah Zulfa ke dalam rumah.Bahkan memeluk pinggang Zulfa segala. Zulfa hanya mengusap kepalanya lembut.


"Bunda, aku nanti tidur di kamar bunda ya...?"


"Boleh."


Begini rasanya punya bunda. Jamilah makin erat memeluk Zulfa.


"Ada apa?"tanyanya lembut.


"Nggak, Bunda." Diapun melepaskan pelukannya, berjalan mendahului Zulfa menemui Tia dan Aldo, menggoda sejenak.


Untuk saat ini, Zulfa tak ingin mengusiknya dulu. Biarkan dia mengikuti apa yang menjadi kemauannya. Pada saatnya sudah siap, pasti dia akan mengatakan sendiri apa yang jadi persoalannya.


Hari memang sudah malam, Tia dan Aldo, anak yang terkecil diantara mereka juga sudah pada menguap.

__ADS_1


"Bunda, aku ngantuk."


"Tidurlah, jangan lupa gosok gigi, berwudhu dan berdoa."


"Ya, Bunda." Tia segera menuju ke kamarnya.Demikianlah juga Aldo.


Sedangkan Jamilah masih enggan. Dia baca-baca buku punya kak Irwan dan kak Lika-nya. Yang diambilnya filsafat pula.


"Jamilah kamu nggak ngantuk."


"Sebentar, Bunda. Kurang dikit bacanya." tanpa mengalihkan pandangannya pada buku.


"Ya sudah. Bunda mau beres-beres dulu. Kalau kamu capek, kamar bunda ada di bawah itu."


"Baik, Bunda."


Setelah beres-beres, Zulfa menuju kamarnya. Di sana telah berbaring Jamilah yang sedang memeluk guling.


Setelah ke kamar mandi sebentar, diapun merebahkan diri di samping Jamilah. Dia melihat ada sedikit sisa air mata di pipinya. Sebenarnya ada apa. Sampai-sampai kesal sekali dengan mas Hasan.


Telponnya berdering. Rupanya papa Hasan masih kepikiran anak gadisnya, yang tak ada di sampingnya.


"Assalamualaikum, Zulfa. Bagaimana Setyawati."


"Dia sedang tidur. Sebenarnya ada apa, Mas?"


"Nggak ada apa-apa."


"Bunda jangan terima telpon papa ya ... please."


Zulfa pun meletakkan telponnya di nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Lalu merebahkan tubuhnya kembali.


"Sudah tidurlah. Bunda akan menemanimu."


"Jamilah pingin dipeluk bunda."


"Baiklah."


Zulfa pun tidur di samping Jamilah. Membelai rambutnya berlahan-lahan.


"Sebenarnya ada apa. Mengapa Jamilah marah sekali sama Papa."


Jamilah tak menjawab, hanya diam. Lalu berbalik membelakangi Zulfa. Zulfa tetap saja membelai rambut Jamilah. Terdengar isakan lirih dari mulutnya.


"Jamilah pingin tenang dulu."


"Bunda mengerti. Sudah Tidurlah. Bunda di sampingmu." Tak berapa lama, dia tertidur pulas.


Setelah yakin benar, kalau Jamilah sudah tertidur, Zulfa keluar dari kamarnya, menuju ruang keluarga. Agar dapat melanjutkan pembicaraan dengan Hasan yang sempat tertunda.


"Assalamualaikum, maaf tadi ditutup Jamilah.'

__ADS_1


"Wa alaikum salam, Nggak apa-apa. Bagaimana Setyawati-ku, Zulfa?"


"Sebenarnya ada apa?"


Untuk sekian lama, tak ada suara yang masuk, meski terdengar suara hembusan nafasnya.


"Ya, aku memang salah. Kemarin waktu aku jemput. Kebetulan dia tak ada. Aku tanya ke Bu Nyai-nya, tak tahu. Akhirnya aku cari sendiri. Ternyata dia ada di Sekolah ... sedang bertarung dengan seseorang. Aku tak tahu kalau itu latihan, karena besok akan bertanding. Karena selama ini tak pernah cerita apalagi ijin. Melihat putriku terdesak, aku turun tangan dan menjatuhkan orang itu, sebelum memarahinya, dan membawanya pulang."


"Itu mas lakukan di hadapan teman-temannya."


"Ya."


"Dia amat terluka, Mas."


"Baiklah, aku yang salah."


"Dia menangis sebelum tidur."


"Maafkan aku."


"Sudah ya.. assalamualaikum."


"wa alaikum salam."


Ternyata itu yang jadi pemicunya. Semoga besok Jamilah sudah bisa menerima dan memaafkan papanya.


Zulfa meneruskan aktifitasnya yang sempat tertunda. Merebahkan tubuhnya di samping Jamilah. Dan bersama-sama menuju alam mimpi.


💎


Sebenarnya, ada seorang lagi yang tak bisa menikmati malam itu dengan baik. Seorang yang berdiri di balik pagar rumah Irwan.


Lama tak jumpa dengan putra-putrinya, membuat dirinya didera rasa rindu yang sangat. Malam itu sengaja dia menutup angkringan agak sore. Karena ingin berkunjung ke rumah Zulfa. Menemui Putra-putrinya. Apalagi Tia dan Aldo. Tentu dengan harapan bisa berjumpa dengan Zulfa pula. Herman masih menyimpan harapan itu.


Setelah mempersiapkan segalanya, termasuk hadiah kecil untuk Tia dan Aldo. Herman berangkat dengan mengendarai motor metic-nya. Dirinya bersiul merdu untuk mengungkapkan kebahagiaan yang tersimpan di hatinya.


Dalam perjalanan, Herman mampir dulu di masjid untuk melaksanakan sholat isya. Setelah itu, melanjutkan perjalanan lagi.


Tiba di tempat Zulfa, Herman melihat ada 2 mobil yang memasuki pelataran rumah Zulfa. Dan yang paling belakang adalah mobil Hasan.


Langkahnya terhenti seketika, saat melihat melihat keluarga Hasan turun dari mobil dengan membawa hantaran.


Siapa yang mengadakan lamaran. Putrinya kah ataukah Zulfa. Mengapa mereka tak memberi tahunya. Bila Lika, pasti akan diberi tahu, sebab dia adalah putrinya. Kalau Zulfa, benarkah mereka serius, selama ini terlihat biasa-biasa saja. Hasan juga begitu.


Herman ingin mencari tahu. Dia mengangkat handphone-nya. Ingin bertanya pada Irwan, tapi diurungkan. Ada urusan apa ..


Pantaskah dirinya terlibat dalam kehidupan mantan istrinya itu, meskipun sampai saat ini dirinya masih berharap. Berharap dapat hidup bersama lagi. Dengan Zulfa dan juga Maria.


Seandainya boleh memilih, dirinya akan memilih Zulfa. Tapi keputusan ada di tangan Zulfa.


Sebelum mereka mengetahui, Herman menghidupkan motornya, kembali ke rumahnya. Dengan menyimpan rasa sesak yang kini menghimpitnya. Baru kali ini, dirinya merasa kehilangan yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2