
Eerrghhhh ....
Terdengar suara rintihan dari dalam ruangan itu. Hasan mencoba membuka pintu itu yang ternyata terkunci. Dengan ilmu yang dia pelajari, Ia pun bisa membuka pintu itu tanpa membuat kerusakan sedikit pun.
Setelah pintu itu sudah terbuka, dia melihat seorang wanita yang terduduk dengan tangan terikat dan juga mulut yang terbukam oleh lakban hitam yang merekat kuat.
Dengan cepat Edzel membantu melepaskannya sedangkan Hasan. Meneliti ruangan tersebut, sepertinya terhubung dengan sebuah ruangan lain. Ini dia rasakan saat mengetuk-ngetuk tembok yang ada di ruangan itu. Tapi di mana letak pintunya?
Tanpa sengaja tangannya menyentuh sebuah panel kecil berbentuk boneka Barbie seperti mainan anak-anak. Seketika terbukalah tembok yang ada di sisi sebelah kanan tempatnya berdiri. Alangkah terkejutnya saat melihat tumpukan bubuk-bubuk putih yang tersusun rapi di salah satu tembok. Sedangkan di sisi tembok yang lain tampak berjajar berbagai senjata api.
Kini sudah tampak jelas, siapakah Bobby sebenarnya. Ini bisa dijadikan bukti untuk menangkapnya. Semua sudah lengkap. Hanya saja hubungan yang pasti dengan kematian Maria dan Halimah perlu diperjelas lagi.
Hasan pun kembali ke tempat semula. dan menutup ruangan itu.
“ Pak tolong teman-teman saya Pak!” ucap wanita itu penuh harap setelah lebaran yang ada di mulutnya terlepas.
“Di mana mereka?”
“Mereka kini sudah ada di kapal. Akan diberangkatkan ke luar negeri.”
Tanpa banyak bicara, Hasan pun melangkah pergi ingin meninggalkan tempat itu menuju pelabuhan seperti yang dikatakan wanita yang telah ditolongnya. Tapi langkahnya terhenti ketika sesosok bayangan tiba-tiba saja masuk, dan menutup pintu itu dengan rapat.
“Kapten!”
“Kamu kah itu?” Hasan melihat anak buahnya segar bugar menghampiri dirinya. Dua tepukan kecil dari telapak tangan Hasan mendarat ke bahu lelaki itu.
“Alhamdulillah, kamu selamat.”
Desingan peluru masih saja terdengar di luar dan semakin ramai. Hanya saja suaranya semakin menjauh.
“Sepertinya kita nggak banyak waktu,” ucap Hasan setengah berbisik.
Keluar dari tempat itu, mereka mendapati rumah itu dalam keadaan sunyi. Sepertinya semua pergi mengarah pada satu tempat, yaitu pelabuhan.
Meski demikian mereka tidak meninggalkan kewaspadaannya.
Dengan mengendap-endap mereka meninggalkan rumah itu menuju mobil yang terparkir di balik bukit, di bawah desingan peluru yang saling bersahut-sahutan. Mereka berjalan amat cepat dan hati-hati.
Sampai di sana, semua masuk ke an mobil yang dikemudikan oleh Edzel.
“Sebentar!” Dia menghentikan maksud Edzel yang ingin menghidupkan mobil. Karena tiba-tiba dia menerima informasi melalui handphone yang dia , bahwa pasukan yang dia minta sudah berangkat dan kini telah dekat dengan tempat mereka berada. Alhamdulillah kalau memang seperti itu.
__ADS_1
Hanya satu yang jadi pemikirannya saat ini, lalu pasukan yang dibawa oleh Herman itu siapa. Memang saat ini menguntungkan ,tapi kalau tidak ada koordinasi bisa kacau. Bisa-bisa sasaran yang utama yaitu menangkap Bobby dan jaringannya bisa gagal. Mungkin saja akan banyak jatuh korban.
“Herman!” Sebelum semua itu terjadi, tak ada salahnya kalau dirinya menghubungi Herman terlebih dahulu. Agar diperoleh informasi yang valid tentang siapakah pasukan kecil yang bersama Herman.
“Aku sekarang bersama dengan adik iparku dari Australia dan 15 temannya. Mereka sukarela membantu kita. Satu permintaan dari Steve adik iparku, bahwa ini jangan dipublikasikan. Dan tolong lindungi kami.”
“Hmmm ... baiklah. Oke aku mengerti.”
“Kami sekarang sedang mengejar Bobby ke pelabuhan.”
“Pasukanku mau sampai. Bisakah kamu memberikan ciri-ciri teman-teman Steve?”
“Mereka memakai kaos tanpa lengan.”
“Oke.” Sambungan telepon pun terputus.
Terlalu riskan untuk membawa seorang wanita dalam misi ini. Lebih baik untuk mengamankan dia terlebih dahulu. Untunglah dia datang bersama dengan Edzel.
“Kamu balik aja dulu. Aku titip dia. Kita mau ke pelabuhan.” Edzel yang mendapatkan perintah seperti itu mengangguk-angguk sebentar lalu mengiyakannya.
“Tak bisakah aku ikut? Yang mereka bawa itu adikku.” wanita itu pun ikut keluar dari mobil.
“Tidak. Jangan khawatirkan aku aku bisa beladiri!”
Bisa sih Bisa, tapi kenapa tertangkap. Hasan hanya tertawa kecil dengan penolakan wanita itu. Tapi dia tak mau berdebat yang tak perlu, buang-buang waktu saja.
“Kembalilah ke mobil.”
Meskipun dengan wajah bersungut-sungut dia pun masuk ke dalam mobil. Edzel segera hidupkan mesin mobil itu dan berjalan menuruni bukit.
Sedangkan Hasan dan anak buahnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus kegelapan menuju pelabuhan.
Begitu sampai di sebuah jalan setapak sekitar 50 meter dari pelabuhan, bermunculan satu regu pasukan. Memang takbanyak hanya sekitar 15 orang menghampiri Hasan.
“Kapten!”
“Berkumpul!” Hasan memanggil semua anggota regu untuk berkumpul di di bawah pohon yang sangat rindang agar tidak diketahui keberadaan mereka, sekaligus mengamati situasi yang saat ini. Dimana desingan peluru masih saja terdengar meski tak seramai saat dirinya berada di rumah besar itu.
Setelah menyusun strategi, akhirnya mereka menuju sasaran. Yaitu kapal yang sedang bersandar, karena kini tampak terang. Jangan-jangan akan meninggalkan pelabuhan?
Bersamaan dengan itu handphone berbunyi, panggilan dari Herman.
__ADS_1
“Hasan kami terdesak.”
“Posisi?”
“Di kapal.”
“Ok.”
Memang benar apa Yang dilaporkan oleh Herman. Saat berlari menuju ke kapal, Hasan menemukan beberapa orang yang duduk ataupun bersandar di bawah pohon. Meskipun tidak ada rintihan dari mulut mereka, Hasan cukup paham kalau mereka sedang menahan sakit. Entah itu karena tembakan atau karena sabetan benda tajam.
Saat ini fokusnya hanya pada pengajaran an kapal yang akan berangkat. Adapun untuk orang-orang yang dibawa Steve sementara dia tugaskan 2 orang anak buahnya untuk menanganinya.
Alangkah terkejutnya Hasan, ketika mendapati Edzel dan wanita yang ditolongnya, kini sudah berada di tangan mereka. Bahkan wanita itu kini sedang diseret oleh mantan anak buahnya yaitu yang bernama Heru. Sedangkan Edzel tak bisa berbuat apa-apa, karena tangannya telah diikat dengan kuat. Dengan dikawal dua orang yang sangat kekar dan kasar. Rupanya mereka tertangkap saat melewati jalan yang melalui depan pelabuhan ini. Dengan mengendap-ngendap, Hasan mendekati mereka.
“Angkat tangan.” Suara keras Hasan menghentikan langkah mereka. Seketika mereka mengangkat kedua tangannya, tanpa menoleh ke belakang.
Namun beberapa detik kemudian, dengan cepat mereka berbalik badan dan menyerang Hasan beserta anak buahnya. Dengan tendangan yang amat keras tepat mengenai senjata yang mereka pegang. Terlempar jauh dari mereka.
Seketika terjadi duel di antara mereka dengan menggunakan tangan kosong.
Edzel yang melihat adanya kesempatan untuk melepaskan diri, segera dia tarik ikatan yang ada di tangannya. Kini dia bebas, leluasa untuk bergerak.
Hasan kuwalahan menghadapi kedua orang itu. Edzel yang sudah bebas datang membantunya. Kini keadaan menjadi seimbang. Satu lawan satu, Hasan melawan Heru, Edzel melawan melawan Bobby.
__ADS_1