KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Babak-babak Terakhir 4


__ADS_3

Pembicaraan mereka berhenti, manakala melihat anak buah Pak Polisi sedang membawa beberapa wanita yang hilang kesadarannya.


“Na’udzubillahi min dzalik.”


“Janganlah berkata seperti itu, karena mereka korban dan tidak menghendaki dirinya dalam keadaan seperti itu juga.”


Hanum tidak begitu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Herman. Dia terus menatap wanita-wanita itu pergi dan juga datang melewati dirinya.


“Jangan-jangan ....” Seketika  terlintas bayangan yang tidak-tidak tentang keadaan adiknya. Hanum  bangkit. Dia berlari menuju ke  ruangan di mana wanita-wanita itu tadi disekap.


“Hai kamu kemana? Kamu belum selesai membalut lukaku.”


Sepertinya Hanum tidak mendengar panggilan Herman. Ia terus berlari meninggalkan Herman yang menahan rasa sakit dari luka yang dideritanya. Ah, sudahlah .... gumam Herman. Dia pasrah dengan menahan kain itu pada lukanya yang menyebabkan kehilangan banyak darah. Bahkan saat ini matanya tiba-tiba saja berkunang-kunang. Serasa mau pingsan.


Hanum yang telah sampai di tempat itu segera menerobos masuk. Ingin mengetahui keadaan adiknya bila itu ada.


“Pak, aku ingin melihat adikku.”


“Yang mana adikmu?” Hasan menyahutinya tanpa menoleh. Dia sibuk membantu anggotanya membawa wanita terakhir yang ada di ruangan itu.


Hanum segera menghampirinya dan melihat dengan jelas wanita terakhir itu. Ternyata bukan adiknya.


“Kamu nekat sekali, mendatangi sarang penjahat seorang diri.”


“Ada kakakku di sini. Tapi tak sangka dia juga bagian dari penjahat itu.”


“Maksudmu Heru?”


“Benar.”


“Nama adikmu siapa?”


“Zalfa.”


“Zalfa??” Hasan teringat dengan seorang gadis yang dibawa Heru padanya beberapa bulan yang lalu.


“Benar. Apa bapak mengenalnya?”

__ADS_1


“Dia sudah di tempat yang aman.”


“Maksud Bapak?”


“Ya. Dia di Panti Asuhan Kakakku.”


“Alhamdulillah ....”


Hanum mengikuti langkah Hasan dan juga anggota polisi itu keluar dari ruangan, melewati ruang di mana Herman tengah meringis kesakitan.


“Kamu tahu apa yang telah kamu perbuat?” Hasan mengingatkan Hanum untuk segera menolong Herman.


“Maafkan aku. Aku nggak tahu.” Hanum segera menghampiri Herman dan melanjutkan balutannya yang tadi sempat tertunda. dengan tertatih-tatih dia mencoba mengangkat tubuh Herman untuk dipapah menuju kendaraan yang sudah terparkir di depan, untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Agar segera mendapatkan pertolongan.


💎


Kini suasana tampak sunyi orang-orang yang terluka sudah dibawa semua ke kota. Yang tersisa hanya dirinya, Steve dan beberapa orang yang anggota kepolisian untuk mengamankan pelabuhan itu dan juga rumah  Bobby.


Hari masih gelap sekitar jam 3 malam, operasi itu selesai dilakukan. Untuk sementara pelabuhan dijaga oleh anggotanya. Dia dan Steve mengendarai mobil yang tadi dia bawa menuju rumah Bobby.


“Makasih Steve, kamu telah membantu kami menangkap penjahat kelas kakap macam Bobby.” Hasan berkata sambil merebahkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang tamu rumah Bobby. Maklumlah badan benar-benar lelah setelah semalaman melumpuhkan Bobby dan gerombolannya.


“Maksudmu?”


“Ya. Karena aku ditugasi oleh walikotaku untuk mencari wanita-wanita yang selama ini berlibur ke sini tapi hilang tak pulang-pulang. Aku curiga pada Bobby. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi aku mencium adanya keanehan dengan kematian Mama mertua aku pasti ini juga oleh Bobby. “


Wajah Hasan tampak berkerut mendengar penjelasan dari Steve. Dugaannya sama selama ini. Hanya saja dia belum mengetahui siapa di balik itu semua.


“Karena operasi ini kamu yang mimpin, kebetulan sekali, bisa masuk ke dalam operasi ini dan bisa bergerak dengan bebas. Sambil menyelam minum air, gitu lho. Aku juga bisa membalas dendamku karena kematian Mama mertuaku dan juga kesengsaraan Zulfa.”


Hasan menatap Steve, menunggu lebih lanjut apalagi yang hendak dikatakannya. Mengapa ada dia menyebut nama istrinya.


“Jangan curiga. Pada mulanya kami pernah bisnis bersama. Tapi Alhamdulillah aku sadar, bahwa berbisnis dengan Bobby hanyalah memberikan jalan padanya untuk menguasai kami bahkan menghancurkan kami. Aku mundur dari dunia itu.”


“Itu sudah lama sekali, semenjak aku menikah dengan Ratna, adiknya Herman dan hidup tenang di Australia.”


“Tapi saat melihat kebiasaan Herman yang suka judi, aku merasa terusik karena tempat dia berjudi adalah cabang usaha Bobby. Hanya sebagai kedok untuk mengambil secara paksa wanita maupun harta yang dimiliki Herman. Di sini termasuk Zulfa yang jadi incarannya. Kakakku itu memang bodoh, dan tak menyadari soal itu, atau tak mau menyadari. Judi membuat dirinya lupa dan hilang kewaspadaan untuk melindungi keluarganya. Beruntung saudara-saudara istriku di kampung sangat peduli, Zulfa selamat.”

__ADS_1


“Saat tahu Maria, wanita yang diincarnya menjadi istri Herman. Dia selalu cari cara untuk menghancurkannya baik secara halus maupun kasar, dengan mempengaruhi Maria, apalagi saat Herman terpuruk.”


“Dia berhasil mempengaruhi Maria, sampai-sampai Maria melakukan kebodohan dengan melukai orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Dan menyerahkan surat tanah dan juga bangunan yang dimiliki mama pada Bobby. Hampir saja mereka memilikinya. Untunglah Herman mengikuti saranku untuk segera mengurus surat itu dan menggantinya yang baru. Kegagalan yang kedua untuk Bobby. Bahkan kemudian Maria pun harus lepas darinya, Dia semakin marah dan dendam.”


“Rasanya aku merasa berdosa sekali tak bisa melindungi mama, dari aksi anak buah Bobby, hingga mama mertuaku meninggal.”


“Urusannya apa dia dengan Maria?”


“Tentu ingin menguasai harta Alfa. Untung dia yang sudah tahu sepak terjang Bobby.  Dia pun menggagalkannya.”


Meskipun mata tampak semakin merah. Sekali-kali terpejap-pejap, tanda rasa kantuk mulai menyerang, dia masih tampak serius mendengar cerita Steve.


“Cuma dia marah dengan Maria yang berhasil menipunya. Kamu tahu kan yang membunuh Maria?”


Hasan geleng kepala. Satu sentuhan jari telunjuk harus dia rasakan mendarat di dahinya yang licin. Ditambah tatapan tajam Steve harus diterimanya.


“Jadi polisi kereeen sedikit kenapa. Masak kalah sama penjahat.”


“Aku hanya menduga bahwasannya Halimah dan juga Maria dibunuh oleh orang yang sama. Bahkan yang mencelakai Irwan. Bukti yang ada  yaitu mobil yang digunakan itu sama-sama berwarna hitam. Itu saja petunjuk yang aku terima.”


“Ternyata nalurimu main juga.”


Hehehe .... Hasan tertawa kecil. Lalu menutup mulutnya, karena tak bisa menahan untuk tidak menguap. Meski demikian Hasan tetap mendengarkan dan menanggapi omongan yang terlontar dari Steve.


“Sorry, aku capek banget dan ngantuk.”


Akhirnya Steve pun tidak tega melanjutkan cerita mereka. Dia pun merebahkan diri di sofa yang ada di hadapan Hasan.


“Ya sudah, kita tidur,” ajaknya.


Baru saja mengucapkan kata, nyawanya pun sudah melayang menuju alam mimpi. Terdengar dengkuran kecil keluar dari tenggorokannya.


"Kamu ternyata meninggalkanku duluan," kata Hasan dengan mata memerah namun sulit untuk dipejamkan, kepikiran dengan Zulfa.


Pucuk dicita ulam pun tiba. Handphonenya-nya berdering. Hilang sudah kantuk yang dirasa.


"Assalamualaikum, Papa mengapa mas Herman terluka seperti itu?"

__ADS_1


Kalau begini sapanya, bikin kesal dach ... Masak nama orang lain yang disebutnya.


__ADS_2