
Kenapa juga diriku tak terlihat olehmu, Zulfa ....
Atau memang dirimu sudah tak mau melihatku lagi. Jangan lakukan itu padaku ....
Kerinduan Herman yang mampu mengantarkan Aldo untuk menemuinya Zulfa. Rasa yang selama ini menyiksanya, tapi tak mungkin diungkapkannya.
""Assalamualaikum ..., Herman." sambut Hasan sambil melambaikan tangan, yang melihat kedatangannya. Dan dia masih saja berdiri di balik pagar deruji.
Aldo yang memang sudah sangat rindu dengan bunda Zulfa segera berlari, meninggalkan Herman yang setengah ragu untuk melangkah.
"Wa Alaikum salam .... Kamu Hasan." jawabnya senang, atau pura-pura senang, hanya Herman yang tahu.
"Hai Pemuda. Mau kemana." tangan Hasan terbentang.
"Mau ketemu bunda sama adik." jawabnya tanpa menoleh. Membuat Hasan gemas. Segera saja, dirinya menangkap tubuh kecil itu, begitu dekat dengannya.
"Nach ... ketangkep kamu. Harus bilang dulu sama Om. Mau ketemu siapa." kata Hasan saat bisa meraih Aldo ke dalam pelukannya.
"Om, siapa sich. Aku mau ketemu Bunda nich."jawabnya marah sambil merajuk manja.
"Oke-oke ... tos dulu, baru om lepas."
Aldo tertawa senang mendengar permintaan Hasan. Segera dia melakukan yang Hasan minta.
Kedua tangan dia kepalkan. Bersiap meninju tangan Hasan. Dia pun menyiapkan tangannya pula. Menyambut kepalan tangan Aldo sambil tertawa. Sedangkan Herman hanya bisa menyaksikan moments hangat yang terjadi, dengan senang.
Tergelitik juga dirinya. Dia tak pernah melakukan itu dengan putra-putrinya, baik itu dengan Irwan kecil atau Aldo saat ini. Ada sesal, tapi untuk melakukannya, sepertinya masih bingung tangan ini digerakkan. Mungkin tak biasa.
Baru sadar kalau selama ini, kurang bisa menciptakan kehangatan pada keluarganya. Moment-moment yang terlihat sepele, tapi mampu menciptakan kebahagian tersendiri.
Kemana saja dirimu Herman selama ini, sampai terlupa moments-moments hangat seperti itu. Sibuk judi, mabuk, mikir wanita, mellow amat.
Setelah beberapa kali melakukan tos, Hasan melepaskan Aldo, dengan tertawa lepas.
"Sekarang silahkan temui bundamu ...."
Aldo segera meneruskan niatnya. berlari ke dalam.
"Assalamualaikum Bunda ...." ucapnya.
Tanpa menunggu jawaban, Aldo masuk saja sambil memanggil-panggil nama yang dirindukannya.
"Bunda Zulfa ... Bunda Zulfa ...." panggilnya. Sepi tak ada sahutan. Dia marangsek masuk saja, mengendap-endap. Dia melihat Mutia sedang asyik mewarnai. Ingin memberi kejutan. Tapi terburu bunda Zulfa datang dan melihatnya.
"Wa Alaikum salam ..., Aldo sama siapa ke sini?"
Ya ... bunda. nggak jadi dech mau ngagetin Tia.
Segera dia menghampiri Zulfa dan mencium tangannya dengan ta'dzim. Zulfa menghadiahi kecupan kecil di pucuk kepalanya.
"Sama ayah."
"Eh, kak Aldo." tengok Tia, karena mendengar keributan di sampingnya.
"Asyik kali, sampai nggak dengar salam kakak."
"Iya, Kak. Mewarnai kelinci nich."
Zulfa memanggil bibi yang baru ke ruangan tengah.
"Bi, buatkan dua. Ada tamu lagi."
__ADS_1
"Memang saya buat dua, Nyonya. Tapi yang satunya untuk nyonya. Kalau gitu biar saya buatkan lagi, Nyonya."
"Nggak usah. Cukup itu saja."
"Untuk nyonya?"
"Kopi susuku di meja masih ada, kan .... Aku temenin anak-anak di sini."
"Ya, Nyonya."
Aneh juga lihat nyonya, tamunya dibiarkan saja. Ah tak tahulah. Mungkin nyonya capek, ingin bersantai ria dengan anak-anak. Tak ingin diganggu. Dia pun berlalu, kembali ke dapur.
Sementara itu di teras rumah. Herman dan Hasan asyik mengobrol sambil menikmati kopi dan juga camilan yang disediakan bibi.
Kali ini Hasan benar-benar ingin menggoda mantan suami Zulfa itu.
"Masih belum rela?"
"Rela tak rela, sudah keputusan."
"Tak mencari ibu buat mereka?"
"Mereka hanya merindukan Zulfa. Bahkan mereka tak pernah bertanya tentang ibu kandungnya."
"Lalu?"
"Entahlah. Aku berharap suatu hari nanti، dia akan menerima ku kembali."
"Yakin?"
Hasan tersenyum getir. Memang selama ini Zulfa selalu mendekatkan putra-putrinya kepada dirinya.
Tapi tidak dengan dirinya. Bahkan kalau ada dirinya., dia akan memilih menghindar dari pada harus bertemu dengannya. Dia akan mau bertemu jika ada urusan yang mengharuskan bertemu. Selain itu ... no way ....
"Nyampaikan undangan kakakku."
"Untuk siapa?"
"Untuk Zulfa. Ada apa memang?"
"Tak ada apa-apa."
Herman masih memandang Hasan penuh selidik. Hasan tenang-tenang saja. Bahkan membalasnya dengan senyuman. Bodoh amat ....
Zulfa itu terlalu baik untuk kau sakiti, Herman. Dan kamu perlu tahu, sekali sakit tak akan pernah lagi akan kembali. Apa kamu sadar tentang itu, Herman!!
Kali ini Hasan benar-benar marah. Menyaksikan Herman yang begitu plin-plan. Kadang mengatakan cinta, tapi juga sangat perhatian sama Maria. Katanya rindu, tapi tak mau bertemu. Bahkan yang dijumpai Maria. Herman ... Herman ....
Bikin Hasan makin sebal saja.
Untunglah Zulfa sudah bisa mengambil sikap. Meski itu menyakitkan. Tapi itu mungkin lebih baik. Dari pada harus bersama, pasti ngenes banget itu hati.
Tak berapa lama, Irwan datang dengan mengendarai mobilnya. Dia agak terkejut sewaktu mendapati, ada 2 orang bapak-bapak yang asyik mengobrol, di emper rumahnya.
Sebelum masuk, tak lupa Irwan menyapa mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Ayah, pak Hasan ... kok di luar. Ayo masuk!" Irwan menghampiri ke duanya. Dan mencium tangan keduanya, secara bergantian.
Ajakan ini yang Herman nanti sejak tadi. Apalagi kalau itu diucapkan oleh Zulfa. Wah sesuatu banget. Baru juga Herman mau buka suara, Hasan sudah mendahuluinya.
"Makasih, Wan. Kami di sini hanya mampir saja kok. Begitu kan mas Herman?"
__ADS_1
Dengan terpaksa Herman pun mengangguk.
"Ya, Wan."jawab Herman menimpali. "Tapi bolehkah ayah ketemu Tia dan bundamu ...?"
"Lha, dari tadi ayah belum bertemu dengan bunda?"
"Belum. Mungkin bundamu capek, tak sempat keluar."
"Oh .... Ya, nanti aku sampaikan, Yah."
"Ya, Wan. Aku juga mau pamit."
"Ya, Pak."
Irwan masuk ke dalam rumah dan mendapati bundanya sedang asyik bermain dengan ke dua adiknya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Irwan menghampiri Zulfa. Melakukan ritual seperti biasa. Cium tangan ....
"Wa Alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."
Setelah meletakkan tas di meja kerjanya. Dia menuju meja makan. Menuangkan minuman dari sebuah teko porselin, ke dalam sebuah gelas kecil. Untuk menghilangkan dahaga yang kini dirasanya.
"Bun, ayah mau ketemu bunda dan Tia juga." lalu Irwan melanjutkan minumnya. Sejenak kemudian berkata lagi."Pak Hasan juga mau pulang."
"Oh ya ... ya ... Bunda lupa kalau ayahmu datang. Ya nanti bunda temui ...."
Ini bunda pura-pura lupa, atau memang tak mau menemui. Irwan senyum-senyum menatap bundanya. Dia tahu benar kalau bunda Zulfa sangat-sangat malas bertemu.
Zulfa bangkit dari duduknya, menuju ke depan.
"Wan, besok bunda ada undangan dari Bu Redha. Kamu tak ada acara? ... Kalau tak ada, bisa antar ibu?"
Irwan diam sejenak.
"Bunda, besok ada banyak hal yang harus Irwan selesaikan. Tapi akan aku usahakan, Bun."
"Ya sudah, nanti bunda ngomong kalau tak bisa hadir. Tapi Bu Redha sampai ngirim pak Hasan untuk mengundang bunda. Bunda jadi nggak enak hati."
"Biar Irwan saja yang ngomong sama pak Hasan."
"Ya sudah, ayo kita ke depan." ajak Zulfa.
"Aldo, Tia ... ayah mau pamitan tuch." ajak Irwan pada ke dua adiknya.
Dengan tergesa keduanya membereskan mainannya. Dan mengikuti langkah Irwan dan bunda Zulfa.
"Maaf Mas, Hasan. Asyik main dengan anak-anak, nggak sempat temui kalian." kata Zulfa.
Sepertinya hanya basa-basi doang. Bilang saja nggak mau temui Herman. Benar begitu kan Zulfa ... batin Zulfa bermonolog sendiri.
"Nggak apa-apa." jawab Hasan.
"Jangan lupa besok undangan dari kak Redha."
"E ... gimana ya ...." bingung juga Zulfa akan menjawab. Karena dia tak terbiasa untuk mengecewakan temannya.
Akhirnya Irwan yang angkat bicara.
"Maaf pak, Saya nggak bisa mengantarkan Bunda."
"Oh ... itu alasannya. Kalau kamu percaya sama bapak. Boleh bareng sama bapak. Besok juga waktunya jenguk putri bapak."
__ADS_1
"Bagaimana, Bu?" .....