KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Mereka Pulang


__ADS_3

Lega rasanya kalau sudah melaksanakan sholat. Takut nanti di perjalanan terjadi apa-apa. Setidaknya satu kewajiban, sudah kelar.


Sambil menikmati perjalanan menuju rumah, Zulfa memejapkan mata, sekedar melepas lelah setelah menemani Lika dan Irwan. Hingga tak menyadari kalau telah sampai di depan rumah. Irwan tampak sungkan ketika akan membangunkannya.


Di depan rumah .... Bukankah itu mobil paman. Tumben mereka ke sini. Ada keperluan apa .... Sepertinya nenek sedang kedatangan tamu. Bukan saja bibi Indah dan paman Ayyas. Tapi ada yang lain. Siapa dia ....


Irwan sibuk dengan pertanyaan yan melintas di pikirannya, sehingga tak menyadari Zulfa telah bangun.


"Irwan, kenapa bunda nggak kamu bangunkan?"


"Maafkan Irwan, Bun. Nggak tega. Bunda pasti capek banget."


"Ya, sudah. Ayo!"


Meski belum sempurna kesadarannya, Zulfa segera membuka pintu mobil dan berdiri. Otomatis tanpa dapat dicegah kepalanya terantuk atap mobil."


"Inna lil llahi wa inna ilaihi rojiun." ucap Zulfa. Membuat Lika juga terbangun.


Rupanya ketika Zulfa tertidur, diapun menyusul pergi ke alam mimpi.


"Sudah sampai tho, Kak?"


"Sudah ...." Irwan asal jawab, ogah melihat Lika. Kerena isi kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.


Zulfa yang kesadarannya sudah mulai pulih, melihat sekelilingnya. Ada mobil Ayyas. Kapan mereka datang. Biasanya kalau mau datang, akan memberi kabar terlebih dahulu. Tumben langsung mampir kemari. Atau jangan-jangan ada kabar yang nggak mengenakkan ....


Langkahnya terhenti sejenak, manakala ada suara yang dia kenal. Suara yang tak ingin dia mendengarnya. Ada kecemasan menyelimuti perasaannya.


Benarkah itu dia ....


Dia yang melupakanku dan anak-anak. Dan juga .... itu cerita dia.


Bila itu benar .... Aku .... Astaghfirullah al adziiimm ....


Tuhan, kuatkan langkahku menghadapi semua ini ....

__ADS_1


Zulfa menggandeng tangan Lika. Meski ini sering dia lakukan, tapi kali ini dia benar-benar memerlukan sesuatu yang bisa untuk dijadikan pegangan.


Membayangkannya, membuatnya gemeteran. Tapi dikuatkan untuk melangkah memasuki ruang tamu. Di sana telah ada Halimah, Ayyas, Indah serta tamu yang lainnya ....


Diakah Maria .... Wanita muda, dengan rambut ikal sepunggung. Cukup manis bila tersenyum. Memangku gadis kecil, yang masih memegang dot. Dari umurannya, seharusnya sudah lepas. Tapi mungkin kebiasaan yang masih sulit hilang. wajahnya mirip Lika sewaktu seumuran dengannya.


Sedangkan seorang lagi, ada anak laki-laki yang mungkin berumur 7 tahun, asyik bermain mobil-mobilan, di samping Ayyas. Wajahnya juga mirip Irwan, ketika seumurannya.


"Assalamu'alaikum .... Semuanya." Setidaknya kata doa yang dia gunakan untuk menyapa, meskipun hatinya saat ini benar-benar hancur dan tersakiti. Melihat suaminya datang ke rumah bersama wanita lain.


(Ini bukan hanya sekedar bayangan, tapi sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi di depannya. Herman dan Maria ada di sana, disertai 2 anak kecil)


"Wa alaiku salam, mbak Zulfa." jawab Ayyas. Hanya dia yang menjawab salam Zulfa. Sedangkan yang lainnya sepertinya tegang dan bingung akan berkata ataupun berbuat apa.


Senyum Lika mengembang ketika pandangan tertuju pada sesosok pria yang selama ini dia tunggu-tunggu kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan ayah Herman. Dan kini ayahnya benar-benar berada di depannya.


"Ayah ...." setengah berlari Lika menghampiri Herman yang terlihat lemah dan lelah. Herman menyambutnya dengan gembira. Dan memeluk Lika dengan erat.


"Ayah .... Lika kangen."


Kangen ?! ...


Apa aku tak salah dengar, bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Tak pernah menanyakan Lika ataupun Irwan. Sekarang datang bilang kangen ....


Dada ini rasanya bergejolak, dengan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tapi mencoba untuk menyembunyikan dalam senyumnya. Biarlah lemahnya jiwa ini hanya terlihat oleh sang Maha Perkasa dan maha Tahu...


Lebih baik pura-pura tak tahu, dari pada menumpahkan amarah yang tak perlu. Zulfa tersenyum menatap semuanya. Lalu menghampiri Halimah, mencium tangannya dengan takdzim. Zulfa mengambil duduk senyaman mungkin di sampingnya.


"Lika, kamu sudah besar, Nak."


"Ya, Yah. Kemana saja ayah selama ini?" tanya Lika sambil melepas pelukan,. Dia mengambil tempat duduk diantara nenek dan ayahnya. Pandangannya tertuju pada wanita yang sedang sibuk dengan adik-adik kecil yang terlihat sangat menyedihkan.


Dipandanginya wajah satu per satu yang hadir di ruangan itu. Paman Ayyas, bibi Indah yang terlihat gelisah. Nenek berberapa kali terdengar mengambil nafas panjang. Bunda beberapa kali matanya terpejam, dan tangannya ... bergetar. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan ....


Lain Lika, lain pula Irwan. Dia duduk di samping bundanya dengan memandang tajam pada ayah dan juga wanita yang memangku gadis kecil yang sedang memegang dot berisi air gula. Setiap orang yang melihatnya pasti akan merasa kasihan. Tapi melihat bundanya yang seperti menyembunyikan sesuatu dibalik senyum itu, membuat Irwan menahan diri untuk merasa kasihan.

__ADS_1


Bahkan angannya kini melayang ke masa lalu. Saat Herman pergi meninggalkannya. Seumuran dengan makhluk kecil itu. yang kini sedang bermain mobil-mobilan di samping paman Ayyas. Ingin bertanya pada Zulfa, tapi tak berani. Khawatir bundanya tersakiti.


"Ayah, dia siapa?" tanya Lika memecah kesunyian.


Wajah Herman menegang, tak menyangka akan dapat pertanyaan dari putrinya yang masih menyimpan rindu untuknya. Ingin menjawab, tapi lidah itu seakan kelu.


"Maaf, sebenarnya ...." Maria mencoba bicara, menerangkan tentang dirinya, namun Herman segera menghentikan kata-katanya.


"Maafkan ayah, Lika." untuk sesaat dia diam. Mengatur nafas dan mencoba menumbuhkan keberanian pada dirinya. Tapi Herman tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi. Pengecutkah dirinya?! ..


"Maafkan ayah, Lika Irwan .... Dia Maria ... istri ayah, bunda kalian juga. Sama seperti bunda Zulfa."


Bak disambar petir di siang bolong. Lika terdiam seketika. Mulut dan tangannya bergetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ayah?!.." Lika berteriak sambil mengarahkan terlunjuknya pada Herman. Menunjukkan bahwa dia benar-benar marah. Ingin meluapkannya tapi tak mampu. Sehingga hanya mampu menyimpannya kesedihan dengan berlari menuju kamarnya ....


"Lika ...." panggil Zulfa dan Herman hampir bersamaan. Zulfa beranjak dari tempat duduknya. Ingin mengejar Lika. Bersamaan dengan Irwan berdiri dengan amarahnya, berjalan menghampiri Herman. Dengan kuat dia mengayunkan tangannya ke arah Herman. Semua tersentak ....


"Irwan ?!.." Teriak semua hampir bersamaan. Membuat ayunan tangannya terhenti sebelum menyentuh ayahnya.


"Irwan, anakku ..." Zulfa menghampirinya. Berlahan dia menurunkan tangan itu. Tampak air mata keluar dari matanya yang memerah menahan amarah.


"Mengapa bunda sembunyikan ini dari kami."


Zulfa diam, tak ingin berkata apapun. Diapun merasakan kesakitan yang sama.


"Aku tak sudi punya ayah seperti dia. Bagaimana mungkin bisa, seorang ayah meninggalkan kami begitu saja. Bunda bersusah payah membesarkan kami. Sedangkan dia enak-enakkan dengan istri barunya. Tidak ... Irwan tak sudi punya ayah kayak dia." Jari telunjuknya tak berhenti menunjuk muka Herman.


"Irwan, putra bunda ... Dia ayahmu." Zulfa berkata setengah berbisik di terlinga Irwan. Agar amarahnya reda.


"Tidak, dia bukan ayahku. Dan aku hanya punya satu bunda. Bunda Zulfa."


Dia mendorong Herman hingga terduduk. Andai tidak ada tembok yang menyanggah tempat duduk itu, mungkin dia akan jatuh.


Lalu dia keluar meninggalkan tempat itu, menghilang dari hadapan mereka semua. menuju mobil dan menghidupkannya dengan cepat. Ayyas segera menyusul, mengejar mobil Irwan yang kini sudah mulai memasuki keramaian kota.

__ADS_1


Semua yang hadir di ruangan itu, tak mampu berbuat apa-apa. Hanya menatap kepergian Irwan dengan rasa sesal yang menyesakkan.


__ADS_2