
Agak bingung juga waktu Herman berpamitan tanpa Zulfa. Bukankah Zulfa isterinya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Hasan.
"Zulfa, kenapa kamu nggak barengan sama Herman." tanyanya tanpa ragu dan tanpa berfikir panjang.
Spontan membuat Zulfa terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tak mungkin dia akan menjawabnya, itu hal yang menyakitkan. Yang harus dia simpan dalam hati saja.
Untunglah Hasan cepat menyadari kesalahannya.
"Maafkan aku."
Zulfa tetap diam. Bahkan terlihat ingin menangis. Membuat Hasan tak enak hati.
"Ada apa sebenarnya. Jangan katakan kalau kalian berpisah." kata Hasan meyakinkan perkataannya sendiri.
"Ayah dan bunda sudah berpisah, semenjak ayah pulang bawa bini barunya di rumah kami." jawab Irwan dengan kesalnya.
"Irwan!!''
Perceraian dalam rumah tangga adalah aib bagi Zulfa. Tapi mempertahankan pun rasanya sakit. Apalagi anak-anak tak mendukung ketika harus bersama. Tapi untuk mengatakan hal itu di depan umum, rasanya malu.
Meskipun ditinggal sendiri, mencari penghidupan sediri, membesarkan anak sendiri, dia bisa kuat, tegar dan tabah.
Tapi untuk satu atap dengan madunya, sulit untuk diterimanya, apalagi melakukannya. Dia memilih berpisah.
Meskipun tak bisa dipungkiri kalau kadangkala hadir, kenangan-kenangan indah yang pernah terjadi diantara mereka.
"Maafkan aku, Bunda." sambil menunduk sedih. Sebenarnya Irwan sangat bahagia mempunyai bunda Zulfa. Yang tulus, setia, penyayang, dan sabar. Tapi melihatnya dikhianati, rasanya nggak terima. Meskipun Zulfa bisa sabar soal itu. Tidak dengan dirinya, dia tak bisa.
Hasan jadi merasa tak enak dengan keduanya. Disebabkan karena pertanyaan konyolnya, Zulfa dan Irwan jadi bertengkar.
"Maaf ... maaf. Karena aku kalian jadi bertengkar."
"Tidak, Hasan. Memang itu kenyataannya. Tapi aku nggak mau itu menjadi pembicaraan umum."
"Aku mengerti."
Zulfa, kamu masih seperti dulu, rapuh dan pemalu. Meski kamu sabar menghadapi cobaan-cobaan yang menimpamu.
Untuk sejenak mereka diam, hingga Tia berlari kecil ke arah mereka.
"Bunda, Tia laper." Tia merajuk di pangkuan Zulfa, setelah puas bermain air mancur yang ada di halaman masjid.
Mereka bersama-sama bangkit, meninggalkan tempat itu.
"Zulfa, Irwan aku traktir kalian makan. Anggap saja perayaan ketemu teman lama dan permintaan maaf atas kelakuan bawahan ku padamu, juga karena lain-lain. Gitu ya Zulfa ...."
"Ada saja kamu, Hasan. Baiklah."
Bersama-sama mereka menuju tempat parkir. memasuki mobil masing-masing.
"Kemana, Pak?"
"Ikuti aku." jawab Hasan dengan menyembulkan kepalanya di jendela mobil, sebelum membawanya keluar ke jalanan, yang sudah mulai indah dengan lampu kota.
Tak sampai sepuluh menit perjalanan, Hasan sudah menghentikan mobilnya di depan rumah makan yang cukup arstistik.
Bersama-sama, mereka memasuki tempat itu. Hasan memilih tempat lesehan yang ada di tengah kolam. Biar nyaman dan bisa menghibur semua, termasuk Zulfa dan Tia. Dengan mendengar gemericik air dan melihatnya, kadang kala akan membuat orang akan tenang.
"Ayo ...."
__ADS_1
"Sekarang, kalian pesan apa?" sambil menulis sesuatu di sebuah kertas, setelah membuka buku menu.
"Bunda, aku es jeruk." Tia urun rembuk.
"Ya, lauknya?"
"Ayam goreng."
"Oke, bunda tulis."
Seperti biasa, anak-anak selalu tak bisa diam. Begitu melihat air apalagi banyak ikan di sana. Langsung saja menuju tempat itu dan bermain-main di sana.
Biarkanlah bersenang-senang, masih anak-anak. Zulfa hanya memperhatikannya dari jauh.
Tampak Irwan matanya terpejap-pejap, menahan kantuk.
"Bun, aku ke belakang dulu." pamitnya. Tanpa menunggu jawaban, Irwan bangkit meninggalkan Zulfa dengan Hasan.
Perhatian Zulfa tertuju pada Mutia, tak begitu memperhatikan Hasan yang terus menatapnya dengan senyuman.
Tak sangka sekarang kita ketemu lagi. Kamu masih seperti dulu, meski Herman pernah memilikimu. Dan kamu terluka, karena cinta.
Herman .... Herman. Mengapa kamu sia-siakan dia. Jangan salahkan diriku, ingin memiliki apa yang sudah kau lepas.
Khayalnya melayang, hingga pramusaji datang menghampiri menu yang mereka pesan.
"Terima kasih ...." kata Zulfa.
"Sama-sama. Selamat menikmati Bapak Ibu."sapa pramusaji itu sebelum berlalu.
"Hai, kenapa kamu melamun?"
"Istrimu?"
"Bukan. Dia putriku."
"Berapa anakmu?"
"Satu."jawabnya sambil menikmati minuman jeruk hangat yang dipesannya. Terlihat wajahnya sedih.
"Dialah milikku satu-satu, semenjak ibunya meninggal saat melahirkannya ...." dia menghentikan ceritanya, tangannya sibuk mengaduk-aduk jeruk hangat yang ada di depannya.
"Maafkan aku. Aku nggak bermaksud membangkitkan kenangan lama. Semoga Allah memberikan kelapangan di kehidupannya selanjutnya."
"Aaamiiin. Terima kasih."
"Kenapa nggak menikah lagi?"
"Entahlah, aku belum bisa melupakan seutuhnya."
"Lalu dia bersama siapa, kalau kamu tinggal tugas."
"Di panti asuhan."
"Apa dia tak merasa kamu abaikan, kamu tinggal di panti asuhan."
"Sama kakak. Tia pasti kenal sama putriku. Kalau aku ke sana, selalu saja sedang goda kakak. Tia diajari juga."
"Aku nggak mbayangi, bagaimana kakakmu menghadapi." Zulfa senyum-senyum lalu meminum minuman nya.
__ADS_1
"Seru heboh pokoknya. Kapan-kapan aku kenalin."
"Bahkan pernah aku dipanggil kepala TK nya. Gara-gara apa ...."
"Apa?" Zulfa benar-benar menikmati cerita Hasan, sambil memperhatikan Mutia dan juga Irwan datang. Agar bisa makan malam bersama-sama.
"Sering ajak teman-temannya main drum band tanpa ijin dan pengawasan. Sampai terkumpul 3 drumnya yang bolong."
Zulfa sudah tak sanggup membayangkan, akhirnya tertawa lepas.
"Ada-ada saja putrimu itu."
"Itu kecilnya. Sekarang sudah SMP. Aku pondokkan saja. Kasihan kakak."
"Sudah-sudah, bikin aku tambah lapar ngebayangi putrimu."
"Ya sudah. Kita makan. Aku juga sudah laper nich."
"Tia, sini. Ayam goreng nya sudah datang."
"Sebentar.' jawabnya. Dia memercikkan air pada ikan-ikan yang datang sebelum memenuhi panggilan Zulfa.
Setelah puas, dia berlari riang ke tempat Zulfa dan Hasan. dan duduk tepat di depan piring yang berisikan nasi dan ayam goreng kesukaannya.
"Cuci tangan dulu. Dan pakai sabun."
"Baik, Bun." jawabnya, lalu bangkit menuju wastafel yang ada beberapa langkah dari tempatnya. Diiringi Zulfa di belakangnya.
Tak lama kemudian Hasan pun menyusulnya ke tempat yang sama.
"Aku menunggumu, Bu Zulfa." tegur Hasan sewaktu mendapati Zulfa berlama-lama mencuci tangan. Sepertinya sedang melamun.
"Kamu Hasan." Zulfa segera menyelesaikan cuci tangannya lalu kembali ke tempatnya semula. Yang diikuti Hasan dengan tergesa.
Dari jauh terlihat Irwan datang. Dia segera cuci tangan dan mengikuti mereka menikmati hidangan.
Sampai di tempatnya, terlihat Tia bermanja ....
Tak mau makan-makan.
"Bunda ...."
Zulfa segera mengambil nasi dan sesuwir ayam untuk disuapkan pada Tia.
"Hanya satu kali, habis ini makan sendiri."
Senyum manisnya sebagai jawaban. Dan menerima suapan itu dengan senang. Lalu makan sendiri dengan tangan.
Tak Mutia tak juga Irwan, sama saja kelakuannya. Tak tahu apa kalau ini tempat umum.
"Irwan ...."
"Nggak afdol kalau nggak bunda yang memulainya."
"Heemmmm ...."
Tapi Zulfa melakukannya juga. Dia suapi juga putranya yang sudah pantes kalau di pelaminan.
Hasan yang menyaksikan itu dibuatnya iri. Andaikan ...
__ADS_1