
Saat tiba di rumah kakak iparnya, Hasan dibuatnya senyum-senyum sendiri. Itu mengapa ada anak buahnya berada di sana.
"Heru?"
"Ya, Kapten."
"Ada saja kamu. Ada angin apa kok bisa nyasar ke sini?"
"Angin surga."
Hasan tersenyum tipis mendengar perkataan anak buahnya. Meski bercanda tapi maksudnya apa.
Dia kenal betul bagaimana anak buahnya yang satu ini. Ada catatan hitam yang bikin dia jengah. Dan ingin memutasi dia saja saat ini.
"Bentar, aku mau temui kak Redha dulu." kata Hasan setelah bersalaman dengan Heru. Dia meninggalkan Heru yang sedang asyik kopi dan camilan sambil membaca koran. Layaknya juragan.
"Assalamualaikum ...Kakak." ucapnya sebelum masuk.
Hasan mendapatkan Redha sedang berbincang-bincang dengan seorang gadis yang masih berseragam SMA.
"Wa alaikum salam ... syukur kamu sudah datang."
"Ada apa, Kak. Kok aku disuruh pulang. Buru-buru lagi."
"Ini Hasan, aku mau perkenalkan kamu sama anaknya teman kakak."
Hem ... benar dugaan ku, Kakak ipar ini ada-ada saja.
Hasan segera mendekat pada mereka. Sepertinya ada yang tak beres di sini.
"Dia Zalfa yang ingin aku perkenalkan padamu."
"Oh ..."
Hasan mengambil tempat duduk di hadapan mereka yang terpisah sebuah meja oval. Dia hanya tertawa dalam hati menghadapi kelicikan-kelicikan anak buahnya.
"Adik, kelas berapa?"
"Kelas 3 SMA, akan lulus."
"Adiknya Heru?"
"Adik seayah."
Astaghfirullah Al adzim. Bagaimana ini bisa dilakukan anak buahku. Bukannya su'udhon. Bisa-bisa ini yang dikatakan gratifikasi, meski dengan alasan perjodohan.
Tak mau dirinya terjebak terlalu jauh. Hasan segera mengangkat handphone-nya.
"Assalamualaikum ...."
"Wa alaikum salam ... Ya Pak."
"Buatkan surat mutasi untuk ...."
"Pak!!" Zalfa tiba-tiba menghentikannya.
"Sebentar, nanti kita lanjutkan. Assalamualaikum ..." Hasan segera mengakhiri pembicaraan telpon nya.
"Baiklah, kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Maafkan kami, Pak."
__ADS_1
"Zalfa sebaiknya selesaikan sekolah dengan baik dulu. Pasti banyak yang bisa Zulfa raih dengan itu."
"Terima kasih, Pak."
Kakak ipar ku ini luar biasa, kalau mau jodoh-jodohkan aku. Sudah ada berapa gadis yang dia tawarkan padaku, tapi selalu habis ditangan Jamilah. Dan yang tak diketahui kakak ipar ku ini adalah kebanyakan yang datang, pasti ada maksud-maksud tertentu.
Nach, ini. Masih berseragam ... tega nian keluarganya.
Bukan maksudku aku tak mau berkeluarga lagi. Tapi aku hanya nggak bisa berpisah dengan Jamilah, putriku. Aku tak mau gara-gara aku menikah membuat diriku terpisah dari putriku.
"Wah kakak. Ku kira Zulfa teman SMA-ku itu. Yang kemarin ke sini. Kita juga sudah jadian lho ..."
Redha terlihat senang.
"Zalfa tunggu Tante di sini dulu ya, Tante mau ke dalam sama om Hasan."
"Baik, Tante."
Redha segera meninggalkan tempat itu, diikuti Hasan.
"Ada apa, Kak?"
"Kamu beneran jadian sama bunda Zulfa. Bukankah dia janda?"
"Ada apa kalau dia janda, Kak. Kak Redha ini ada-ada saja."
"Sebenarnya dulu itu aku mau jodohi sama kamu. Tapi takutnya kamunya nggak setuju. Aku urungkan. Mengingat teman kakak juga punya anak gadis, dia sudah meninggal. Dia hanya tinggal sendiri sama kakaknya itu. Sepertinya kakaknya kurang baik ke dia. Jadi apa salahnya kalau kamu bisa jaga dia."
"Tapi nggak begini juga caranya, Kak. Masa depan dia masih panjang. Dia berhak memperoleh kegembiraan sebagaimana teman-temannya."
"Terus gimana ...."
"Kalau mau nolongin dia, nggak begini juga caranya, Kak .... Udah nanti bilang ke kak Ridho untuk dibawa ke kak Ridwan, urus surat-suratnya. Biar dia bisa lanjutkan pendidikannya. Lalu masalah kakaknya, jadi urusanku."
"Kakak ini macam tak tahu saja. Kalau tahu Jamilah, dikerjain habis itu gadis."
"Hehehe .... anak itu cemburunya besar. Takut ayahnya ilang. Lah ... Bunda Zulfa kok lolos?"
"Lolos apanya. Dibuat pingsan iya ...."
"Tapi kamu bisa jadian?!"
"Ya, dia yang setuju duluan. Dah, nggak usah aku ceritakan ke kakak. Seru pokoknya, biarlah jadi cerita kami bersama. Hehehe ..."
"Ya, beginilah orang pertama kali jatuh cinta, pakai rahasia-rahasia segala."
"Ya iyalah. Aku itu sudah sejak SMA suka sama dia. Cuma ya...keduluan Herman." jawabnya sendu.
"Whaaalaaah .... gayamu. Kalau gitu, lusa kita mau lamar itu Zulfa untuk kamu."
"Lho ... lho ... Kak. kok secepat ini?" Tawaran yang membahagiakan, bikin jantung berdegup kencang. Tapi bingung juga ...
Belum beri tahu Zulfa. Dan belum persiapan untuk peningset juga. Duh ... kakak ipar ku tersayang .... kalau memutuskan sesuatu janganlah terburu-buru.
"Bagaimana ...."
"Kok terburu-buru sih, Kak."
"Bukan terburu-buru. Kamu itu sudah menduda terlalu lama, Kaka jadi khawatir sama kamu. Tadi juga kamu sudah bilang, sudah suka sejak lama. Orang kalau suka semakin lama dipendam makin merana. Makanya salah satu yang harus disegerakan itu selain sholat adalah menikahkan seseorang. Ya Kan?"
"Kak, aku bukan gadis dan ...."
__ADS_1
"Banyak dalil kamu. Salah sendiri kamu sudah terlanjur bilang suka."
"Ya, dech. Adikmu yang baik ini nurut saja."
Padahal seneng bukan main itu si Hasan. Pura-pura ....
Bikin Redha, kakak iparnya gemas. Lalu dia meninggalkan Hasan menemui gadis yang bernama Zulfa itu kembali.
Untung aku sudah bilang ke kak Ridwan. Untuk kak Ridho, jadi urusan kak Redha saja dech. Pusing aku. Aku harus segera balik, mempersiapkan segalanya.
Setelah mengambil minuman sekedarnya di meja makan. Hasan kembali ke depan, menemui mereka berdua.
"Kak, aku balik sekarang ya."
"Lha, nggak tunggu mas Ridho."
"Salam saja, nanti kakak yang ngomong. Aku mau persiapan."
"Okelah, ingat lusa aku ke sana."
"Ya. Kakak ipar ...."
Hasan tak melupakan Zalfa juga untuk berpesan.
"Zalfa, kamu nggak apa-apa nginap di sini dulu. Nanti semua kamu akan ditemani sama kak Redha ngambil barang-barang mu di rumah. Nggak apa kalau kamu tinggal di panti asuhan dulu. Kan?"
"Zalfa senang dan terima kasih sekali sama keluarga Om."
"Biar kamu bisa meneruskan sekolah."
"Terima kasih, Om Hasan."
"Aku pamit Kak. Assalamualaikum ...."
"Wa alaikum salam ... Ingat!!"
"Iya ... iya ... aku nggak kan lupa."
Di depan dia bertema dengan Heru dengan keadaan yang belum berubah.
"Heru, apa kamu nggak masuk?"
"Ada keperluan keluarga, Pak."
"Sekarang sudah selesai kan. Ayo ke kantor."
"Zalfa, Pak?"
"Kami terima dengan baik. Biar keluarga ku yang urus Zalfa."
"Terima kasih, Pak. Saya hanya melaksanakan amanah dari ibunya."
Amanah!
Yang benar saja, Heru ... Heru
Adanya kamu yang tak mau menjaga adikmu.
"Ya, kami mengerti."
Tunggu saja nanti, aku tempatkan kamu di pelosok nanti. Jaga keluarga saja modelnya seperti ini. Pakai diakal-akali segala.
__ADS_1
Setelah Hasan melangkah ke mobilnya, Heru juga segera berpamitan pada Redha dan juga Zalfa. Mengikuti Hasan menuju tempatnya tugas.