KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Irwan(POV)


__ADS_3

Saat ini, diriku ingin sekali tertawa. Bagaimana mungkin niat ingin melamar Shaffa, bisa berbelok 180° untuk menolong menemukan calon suaminya. Tapi kalau dipikir-pikir, pantaskah melamar seorang wanita yang telah dilamar orang. Apalagi pernikahannya kurang 5 hari. Apakah lebih baik ku urungkan saja niat ini?


Tapi niatku ini seolah tak mau lepas dari inginku, masih berharap Shaffa akan menjadi tamu dalam kehidupanku.Tak tahu lah. Lebih baik ikuti saja skenario Tuhan. Sampai ada jalan terang dan jelas hubungan keduanya, sebelum aku masuk dalam kehidupan Shaffa.


Mungkin salahku juga. Kenapa tidak sejak dulu, menyatakan rasa yang terpendam dalam dada ini. Kini setelah akan menjadi milik orang, diriku merasa kehilangan dan ingin merebutnya kembali.


Shaffa ....


Sebuah nama yang ku alunkan dalam setiap doa. Hanya mampu ku bisikkan pada Yang Kuasa. Tanpa bisa ku nyatakan segera. Karena masih mengejar cita-cita S3. Bodoh bukan?!


Saat waktu itu kurasa tepat, ternyata diriku terlambat. Malam itu selesai pernikahan Bunda, adalah awal diriku ingin mengenal Shaffa dengan lebih dekat. Tapi dia sudah mau menikah. Subhanallah ....


Jelas-jelas ku saksikan Shaffa menolak pernikahan itu. Tapi ayahnya begitu kokoh untuk melanjutkan rencana pernikahannya. Ya, siapa yang tak ingin melihat putrinya bahagia bersanding dengan seorang polisi, Macam Bundaku.


Tapi kurasa ini beda. Bila Bunda berdasarkan benih-benih cinta yang telah ada. Tak demikian dengan Shaffa. Memang tak semua orang dilahirkan dalam keadaan sama meski sama-sama seorang polisi kurasa antara Heru dan Papa Hasan berbeda. Ini dapat kurasakan ketika butir-butir air mata Shaffa mengalir begitu saja pada saat diriku bertemu di tengah sawah. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, tentang persoalan yang terpendam dalam dadanya. Tapi air matanya sudah bercerita. Ingin memeluknya tentu saja aku tak bisa. Karena diriku menghormatinya.


Dan itu semakin nyata ketika dia secara jelas mengungkapkan, siapa Heru sebenarnya. Meski ayahnya tidak percaya sama sekali, apa yang dikatakannya.


Ku lihat langkahnya sangat berat saat harus mengikuti kami, untuk mencari tahu akan keberadaan calon suaminya. Sesekali kulihat ada air mata di bening matanya. Namun segera sirna saat bibirnya tersenyum. Mungkin saja dia berusaha tegar dengan apapun yang terjadi.


Mungkinkah saat ini, waktu yang tepat untuk mengatakan isi hatiku. Tapi tidak, aku khawatir ayahnya akan berpikir yang tidak-tidak.


Ah, Aku kepergok Papa Hasan dan Bunda Zulfa. Saat kami berjalan bersama, bertemu di warung lesehan. Papa tersenyum penuh arti padaku. Yang ku balas dengan senyum pula. Padahal hatinya was-was kalau Shaffa lepas.


Dia berbisik lirih padaku, "Cepatlah kamu nikahi dia,"


Papa Hasan tak tahu kalau Shaffa sudah akan menikah. Tapi Bunda tahu, namun tidak mengetahui persoalan yang sekarang dihadapi oleh Shaffa.


"Doakan kami jadian." jawabku.


Papa Hasan orangnya gercap. Begitu diriku bicara seperti itu, langsung main tembak saja.


"Nak Shaffa mau menikah?" Ingin tertawa gimana. Ingin mencegahnya sudah keluar juga. Akhirnya aku saksikan saja drama apa yang akan terjadi.


Yang tak ku sangka, dengan itu ternyata membuka tabir persoalan Shaffa dan maksud ayah Shaffa sebenarnya.Ya ... kejelasan tentang keberadaan calon anak mantunya.


"Itu urusan Papa. Sudah dekati saja dia."


Ups ...


Tapi kurasa ini patut disyukuri. Ku ucapkan saja hamdalah. Alhamdulillah ....

__ADS_1


Mungkinkah ini sesuatu bagiku untuk mendapatkan halalnya. Oke, tak apalah. Meski aneh jalannya. Berbelok, berputar dan berliku bahkan menanjak juga dalam waktu yang sekejap juga. Dan aku sangat senang Bunda mendukungku. Terlihat pada saat Shaffa menangis di pangkuannya. Bunda melirik padaku.


"Wan."


"Baik, Bun." jawabku senang dengan isyarat yang diberikan.


"Hapus air matamu, Nak."


"Ibu, kita mau ke mana?"tanyanya. Ketika mobil berjalan berlainan arah dengan Papa Hasan.


"Gadis secantik dirimu tak pantas untuk menangis. Harusnya menjelang pernikahan, kamu bahagia." Bundaku memang nomor satu, menyimpan rencana kami dengan sangat rapi.


"Maksud ibu apa?"Kembali Shaffa bertanya, ketika Bunda mengajaknya ke sebuah butik.


"Kamu harus terlihat cantik di hari bahagiamu." Bunda menggandeng tangannya yang terlihat masih ragu untuk melangkah.


"Terima kasih Ibu. Biar aku coba menerima semua ini." Bibirnya tersenyum meski ku lihat matanya masih sembab. Kurasa begitulah Shaffa, Entah ini suatu kelemahan atau kelebihannya. Yang jelas dengan itu semua, dia nampak istimewa.


Aku hanya bisa menyaksikan dua wanita istimewa itu sedang asyik memilih-milih baju pengantin.


"Wan, apa ini bagus?" Sebuah gaun berwarna pink dengan bunga-bunga berwarna silver sungguh cantik memang. Apalagi kalau dipakai Shaffa.


"Nak Shaffa suka, cobalah." Mungkin karena Bunda adalah bosnya, dia menurut saja. Tak lama ku lihat foto di hp-ku. Cantik ....


Sebenarnya aku tak begitu tahu akan pernak-pernik pernikahan. Beruntung aku punya Bunda yang sangat tahu soal itu. Keluar dari butik Kami menuju ke toko perhiasan. Kembali Bunda mengajak memilih perhiasan lengkap untuk dirinya. Dia diam saja, sepertinya masih ragu.


"Mas aku nggak enak sama Ibu."


"Sudahlah, turuti saja. Bunda ingin melihatmu bahagia. Insyaallah Bunda rela kok. Bahkan akan marah kalau kamu menolaknya."


"Tapi, ini berlebihan Mas."


"Mungkin Bunda sekarang sedang bahagia makanya ngasih kamu banyak hadiah." Shaffa terdiam.


"Shaffa, sini. Kamu suka modelnya?" Bunda memanggil. Shaffa mengamati perhiasan yang berada di tangan Bunda. Matanya berbinar, meski tidak mengucapkan apa-apa.


"Sini Bunda pakaikan. Pas nggak ukurannya sama jari kamu."


"Ibu, apa ini untukku?"


"Benar. Ibu tak menerima penolakan. Oke."

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Wajahnya masih sendu, tapi mencoba tersenyum.


"Itu lebih baik."


Cukup memakan waktu juga berputar-putar mencari pernak-pernik pernikahan. Tapi alhamdulillah semuanya bisa selesai. Bertepatan dengan Papa Hasan datang bersama Ayah Shaffa.


Wajahnya terlihat sedih. Bahkan terlihat menahan tangis. Begitu melihat putrinya, segera memeluknya. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar.


"Bapak jangan sedih, Shaffa bersedia kok menikah." kata Shaffa. Dirinya hendak menghibur ayahnya, yang terlihat menangis.


"Bapak percaya padamu, Shaffa." Lalu melepaskan pelukannya.


"Tapi izinkan Safa menenangkan diri dulu."


"Iya, Pak. Biarlah Shaffa bersama kami. Nanti sehari sebelum hari H. Akan kami antar pulang," kata Papa yang masih berdiri di samping Ayah Shaffa.


"Kalau di tempat kalian, aku percaya."


"Bagaimana mana Shaffa?" tanya Bunda.


"Terima kasih, Bu."


"Ya sudah, Shaffa. Bapak balik dulu."


"Assalamualaikum," ucapnya dengan berlalu menuju jalanan. Seperti hendak menghentikan angkutan umum.


"Bapak, Irwan antar."


Alhamdulillah, dia menghentikan langkahnya.


"Bunda, aku titip Shaffa dulu."


"Beres, Wan," jawab Papa Hasan. Yang ku pamiti Bunda, yang jawab Papa. Ah sudahlah, yang penting sudah berpamitan.Toh, sama saja.


___________________________________


Readers yang author sayangi dan selalu author rindukan. Sambil nunggu up ... silahkan tengok karya baru author yang berjudul" PELURU CINTA SANG JENDERAL HAFIDZ . Bercerita tentang Jamilah dan kisah cintanya


Silahkan membacanya dengan bahagia ....


__ADS_1


__ADS_2