KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Putusan


__ADS_3

Tanpa berkata apapun, Zulfa mengambil koper yang berada di atas almari. Mengeluarkan pakaian yang dia punya, lalu memasukkannya ke dalam koper..


"Zulfa, ada apa denganmu?"


"Tidak apa-apa, Mas."


"Lalu baju-baju itu?"


"Iya, Mas.Sesuai dengan janjiku dulu."


"Kamu marah dengan perkataannya Mutia?"


"Perkataan yang mana?"


Herman diam seketika, tak bisa berkata apa-apa, apalagi Zulfa seperti tak memperdulikannya.


"Apakah kamu mau pergi?"


Zulfa menatap Herman, lalu duduk di atas kursi riasnya.


"Aku tahu mas, ini rumahmu. Apa hakku untuk tinggal di sini. Sebenarnya aku malu untuk tinggal di rumah ini. Semenjak engkau tinggalkan begitu saja diriku, tanpa nafkah sama sekali selama bertahun-tahun. Aku menjadi orang asing. Aku rela merawatmu bukan karena aku merasa sebagai istrimu, tetapi sebagai ungkapan bahwa hanya itu yang bisa aku lakukan padamu. Untuk tempat tinggalku selama ini."


"Tapi kita masih suami istri kan?"


"Ya, sampai sore tadi."


Zulfa segera mengerluarkan amplop coklat dari dalam laci mejanya.


"Maaf Mas, permohonan ceraiku diterima. Sore tadi di kirim."


Herman diam seketika, begitu menerima amplop coklat yang diberikan oleh Zulfa. Dan lebih terhenyak lagi, ketika Zulfa berlahan-lahan melepas kalung yang melingkar di lehenya.


"Dan ini harus aku kembalikan padamu, agar diriku bisa lepas sempurna."


Herman menjadi sangat tegang dengan kata-kata yang terucap dari bibir istrinya. Tak sangka Zulfa akan mempunyai keberanian sebesar ini terhadap dirinya.


"Apakah ini Zulfa ku yang dulu?"


Zulfa diam, enggan untuk menjawab. Ada rasa sakit yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernafas. Beberapa kali Zulfa mengambil nafas panjang, dan mengeluarkannya secara berlahan.


Bulir-bulir air mata keluar dari sudut matanya yang bening. Bukan karena dia menyesal. Bukan .... Sama sekali bukan. Tapi dengan cara itu, sesak yang dirasakan, berlahan berkurang.


Ingin dia berkata, Zullfa mu yang dulu telah tenggelam dalam rasa sakit yang kamu berikan.


"Selamanyakah? ... Tak dapatkah kita bersama lagi?" kata-kata Herman terdengar mengiba. Namun dirinya sadar kalau itu hampa dan sia-sia.


Beberapa saat Zulfa diam, tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Mas, aku harap dengan kita berpisah, kita lebih bisa saling menghargai. Tak ada lagi yang tersakiti. Masalah anak-anak, mereka sudah besar. Berhak menentukan pilihannya sendiri."


"Tak ada kesempatan untukku ... atau perlu aku ceraikan Maria?"


Mengapa mas Herman seperti terus merayu, padahal itu sudah final. Tak sadarkah dengan apa yang diucapkan. Ah sudahlah .... Aku tak berhak lagi ikut campur dengan hatinya. Beruntung Maria tak ada di sini ....


"Mas aku pergi dulu, " Zulfa menarik kopernya melintasi Herman yang masih berdiri termangu.


Begitu Zulfa sudah hampir mencapai pintu, Herman mengejarnya. Ingin memeluknya.


"Maaf Mas. Kita bukan suami istri lagi." kali ini Zulfa mengatakannya dengan tegas. Diapun meninggalkan kamar itu dengan tenang menuju kamar Lika.


"Lika, kamu sudah siap, Nak."


"Sudah dari tadi, Bun. Bunda lama kali. Ngomong apa saja sama ayah?"


"Bisa saja kamu. Ingin tahu urusan orang tua." jawab Zulfa, "Sana, pamit dulu sama ayahmu."


"Bunda selalu gitu dech ... aku pamit maupun tidak, itu sama sekali nggak ada artinya buat ayah."


"Malika Hapsari ...." ucap Zulfa sekali lagi. Beginilah Zulfa kalau menegur anak-anaknya, bila enggan melaksanakan perintahnya. Panggil Nama dengan pelan dan penuh penekanan


"Iya , iya ...Bun." jawabnya dongkol. Tapi diturutinya juga perintah Zulfa. Dia segera menuju kamar atas, menemui Herman.


"Ayah, Lika pergi dulu." tak mau dia menghampiri Herman. Tanpa mau juga menunggu jawaban, langsung turun, meninggalkan Herman yang masih berdiri tanpa bisa berkata apa-apa.


"Sudah?"


Zulfa dan Lika berjalan beriringan meninggalkan rumah itu. Sedangkan di depan rumah, Irwan sudah menunggu. Tak lama mereka sudah menghilang dari pandangan Herman yang melihat dari cendela kamarnya.


💎


Beberapa saat yang lalu, saat Maria menyuapi anak-anaknya. Tanpa sengaja mendengar keributan kecil antara Herman dan Zulfa. Dia meninggalkan Tia...


"Kakak, adik. Makan sendiri ya ..., bunda ada urusan sebentar."


"Ya, Bun." jawab mereka patuh.


Maria segera mendekat, ingin tahu apa yang terjadi. Dia berdiri lama, bersandar pada dinding yang ada di balik pintu. Hampir semua yang Herman katakan dia dengar. Dia baru berhenti mendengarkan, ketika langkah kaki Zulfa terdengar ke arah pintu, cepat-cepat dia meninggalkan tempat itu, menuju ke kamarnya.


Dari balik pintu kamarnya, dia menyaksikan kepergian Lika dan Zulfa. Di satu sisi, dia bersorak senang, karena tak ada lagi yang mengganggu kehidupan cintanya lagi. Satu bulan Herman di rawat Zulfa, Herman jarang mau bertemu dengannya.


Tapi sisi yang lain, dia harus mengakui bahwa selama ini dia tak bisa menggeser kedudukan Zulfa di hati Herman. Ada kecemburuan yang besar membakar jiwanya. Apalagi saat mendengar Herman akan menceraikannya, demi mendapatkan kembali cinta Zulfa.


"Awas kau, Mas."


Diapun mengintip dari balik pintu, ketika Zulfa dan Lika meninggalkan rumah. Dia mengikuti langkah mereka dari kejauhan, sampai mereka masuk mobil. Dia benar-benar ingin bersorak, ketika mobil Irwan benar-benar membawa mereka pergi. Dari cendela ruang tamu, dia menyungging senyum puas.

__ADS_1


Sejak lama, dia sudah menyimpan cemburu yang sangat. Lama kelamaan mengarahkannya pada dendam kepada Zulfa atau Herman, suaminya.


"Aku bebas, sekarang." teriaknya kecil.


Dia berjalan ke kamar atas, akan menemui Herman.


" Mas ..."


Herman masih larut dalam kesedihan, hingga tak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.


Maria berjalan mendekati Herman yang masih berdiri di depan cendela kamarnya.


"Mas, sedih ya ...."


"Apa urusanmu?" kata Herman acuh. Diapun menuju ranjangnya, ingin beristirahat sejenak.


"Kenapa sich, Zulfa lagi .... Zulfa lagi."


"Sudah, aku mau istirahat. Ada urusan apa?"


"Bolehkah malam ini aku tidur di sini?"


"Anak-anak?"


"Anak-anak bisa tidur di kamar Lika dan Irwan."


"Jangan masuk ke kamar mereka."


"Bukankah mereka telah pergi."


"Mereka pasti kembali."


"Mas ... Tega kali sama kita. Kita disuruhnya tidur bertiga di kamar yang sempit. Mas enak-enakkan sama Zulfa di kamar besar ini."


"Aku tak pernah menggantikan kamarnya dengan orang lain."


"Aku, Mas."


"Maafkan Mas."


Kamupun tak bisa menggantikannya. Bahkan menggesernya sedikit saja, kamu tak bisa, gumam Herman dalam hati.


"Selalu gitu .... Kapan mas bisa ngenghargai aku?" Teriak Maria, dia benar-benar marah atas sikap Herman selama ini, selalu mengacuhkannya.


"Bisa kamu tinggalkan aku sendiri."


"Baiklah ...." tampak Maria mengalah.

__ADS_1


Diapun ingin meninggalkan ruang itu cepat-cepat. Tapi ketika penglihatannya terjatuh pada sesuatu yang berkilau di atas meja rias, dia urungkan niatnya. Dia menghampiri benda tersebut, yang ternyata sebuah kalung yang berhiaskan berlian.


"Mas, ini untuk saya ya ..."


__ADS_2