KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Bayangan Peristiwa


__ADS_3

Tepat jam satu malam, Irwan tiba di rumahnya kembali. Wajahnya terlihat kusut, tubuhnya lemas tak ada gairah. Dengan malas keluar dari mobilnya. Dia melangkah menuju ke dalam rumah yang sudah gelap. Hanya lampu teras yang masih menyala.


Di ruang tengah, tampak papa Hasan sedang bobok sendiri di atas sofa. Sebenarnya keadaan itu membuatnya geli. Tapi hatinya sedang sedih, pikirannya ruwet. Abaikan saja. Paling -paling juga karena si Ayu Jamilah, adik tiriku yang fenomenal.


Tapi mana Mama. Mama tak mungkin membiarkan papa merana begitu.


"Irwan, kamu kah itu?"


Kulihat sosok wanita menekan saklar yang ada di dekat ruang makan. Dan kini tampak jelas siapa dia. Wanita yang masih sangat cantik meski sudah berumur. Dia yang membuat Papa Jamilah tergila-gila dan ingin menikahinya.


"Bunda belum tidur?"


"Belum. Bunda mau pergi sama Papa, Tapi kamu tak datang-datang. Papa sampai ketiduran, nungguin kamu."


"Maafkan Irwan, Bunda."


"Sudah, istirahatlah!" kata Zulfa. Dia merasa ada yang aneh dengan putranya ini. Saat berangkat, wajahnya ceria, tapi waktu pulang mengapa menjadi murung begini.


"Ada apa Wan. Suntuk banget?"


Ingin Irwan menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa Shaffa. Bukankah Shaffa juga pegawai mamanya.Tapi untuk bercerita, bukan waktu yang tepat. Bunda masih lelah. Dan sedang bahagia-bahagianya. Tak tega mengganggunya.


"Tak ada apa-apa, Bunda. Irwan hanya lelah dan mengantuk."


"Ya sudah, tidurlah!"


Sebenarnya Zulfa masih penasaran. Tapi tak mungkin dia ungkapkan. Apalagi menanyakan saat ini, kasihan. Biarkan istirahat dulu. Ku rasa besok bisa dibahas. Atau kalau sudah siap saja.


Atau ....


Apa lebih baik aku biarkan saja?


Toh sudah dewasa. Tak perlu lagi aku ikut campur, kecuali kalau ia ingin aku ikut campur.


"Apa Bunda masih mau pergi?" tanya Irwan mengalihkan perhatian. Agar Bunda Zulfa tak berfikir macam-macam.

__ADS_1


"Sepertinya tidak." Zulfa meliriknya pada sosok yang tidur di atas sofa. Terlihat pulas. Tak enak kalau membangunkannya.


"Atau Bunda mau kamar. Pakai saja kamar Irwan. Agar bunda bisa istirahat." goda Irwan. Ini anak nggak ada sopan-sopannya.


"Tidak, Wan. Bunda tidur di kamar bunda saja. bersama Jamilah."


"Ya sudah. Irwan ke kamar dulu, Bunda," kata Irwan. Dia pun berlalu dengan senyum-senyum. Kasihan Papa Mama baru gue. Ini gara-gara ulah si Ayu Jamilah. Papa Mama lagi rindu berat. Tapi dirimu tak peka. Hingga mereka harus rela untuk tidak bersama.


Irwan pun melangkah pergi, meninggalkan ke dua orang tuanya. Satunya bobok manis, satunya menunggu di kursi sampingnya. Macam seorang pesakitan. Hehehe ...


Baru juga dua langkah, terdengar papa Hasan menguap. Bertanda kembali bernyawa. Dan benar dugaannya. Papa Hasan telah bangun, duduk dengan tenang di tempat yang sama. Dia menatap Irwan. Ketika Irwan balik badan.


"Erghhhhhh ... Alhamdulillah. Kamu sudah balik, Wan?" Binar mata Hasan mulai cerah. Hilang sudah kantuknya. Senyum lepas menghias bibirnya. Dengan sedikit menggerakkan badan, ke kanan dan ke kiri. Kini segar kembali. Seakan siap beraktifitas.


"Iya, Pa."


"Kalau gitu, kita keluar sekarang, Ma." ucapnya langsung ke titik permasalahan. Tak peduli di samping mereka masih ada perjaka yang masih jomblo.


Meski acara sudah diobrak-abrik oleh anak semata wayangnya. Tapi masih ada jalan keluar. Bukankah ada pepatah 'Banyak jalan menuju Roma'. Hadech ....


"Ke hotel. Minimal ke rumah dinas papa, lah," jawab Hasan santai.


Ini orang gimana sich!!


Bapak ibu saudara sekalian. Diriku masih jomblo. Kalian dengan seenaknya memamerkan kemesraan, gerutu Irwan memandang gemes pada Papa Mama.


"Oke, tapi jalan-jalan dulu, gimana Pa?" Tak apa kan bermanja-manja sebentar. Menghilangkan stress.


"Boleh juga."


Hooo .... mulut Irwan mencucu lalu terkatup rapat dengan memain-mainkan ekor matanya. Dia melirik Bunda Zulfa yang tertunduk malu. Ah, urusan orang dewasa. Aku kan masih kecil, belum menikah. Menguping pembicaraan orang dewasa, tak sopan. Irwan balik badan lagi. Melangkah agak tergesa menuju kamarnya.


"Wan, kita mau pergi. Tolong kunci pintunya. Mungkin besok sore baru kembali. Dan titip adik-adikmu semua."


"Baik, Papa Mama. Selamat berbulan madu." jawab Irwan sekenanya, tak bisa menahan bibir itu untuk tersenyum.

__ADS_1


Dengan disaksikan sepasang bola mata putra yang kini sudah sangat dewasa, mereka melangkah ke luar.


Menuju mobil yang masih terparkir di halaman. Irwan tersenyum bahagia, saat mobil sudah meninggalkan pekarangan rumah.


Sambil bersiul lirih, ia mengunci pintu. Dan memastikan semua sudah aman terkendali. Termasuk juga mematikan lampu ruang tengah. Oke, beres.


Tubuh capek pingin segera istirahat. Irwan pun segera melangkah menuju kamarnya.


Ketika melewati kamar Bunda Zulfa, dia teringat sesuatu.


Astaghfirullah al adzim ....


Bisa kacau pagiku,


Irwan geleng-geleng kepala membayangkan sesuatu yang mungkin dikerjakan adik barunya.


Semoga kali ini tidak, ada Lika.


Begitu melewati kamar Lika. Alhamdulillah ada kamu. Semoga kamu mengerti. Cukup itu yang pertama dan terakhir, kita menjadi 'embeek'.


Bayangan keusilan adik barunya itu, masih kuat tertancap di dalam angannya. Saat dirinya harus memakan rerumputan di waktu sarapan. Jamilah ... Jamilah ...


Kali ini jangan lakukan ya ....


Ada kak Lika-mu. Di depan bunda bisa menahan diri, tak ada Bunda harap tanggung sendiri. Membayangkannya saja, Irwan jadi senyum-senyum sendiri macam orang gila. Subhanallah ....


Sebelum membuka pintu kamarnya, Irwan masih sempat menengok kamar Mutiara dan Aldo. Saudara seayah dari ibu yang kini tiada. Perasaannya terusik manakala mengingat kejadian demi kejadian yang harus dijalani keduanya. Takdir apalagi yang akan menyongsongnya. Itu masih menjadi rahasia dari Sang Maha Penentu. Semoga menjadi takdir yang membahagiakan.


Dirinya benar-benar melupakan bayangan-bayangan peristiwa yang mampir ke dalam angannya, manakala tangannya sudah menyentuh gangan pintu kamarnya. Setelah bersuci dan sholat, takut nanti malam tak bisa bangun, dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Nikmat kasur yang empuk, membuatnya terbuai mimpi dengan cepat hingga waktu subuh menjelang.


Suara tarhim yang terdengar dari jauh telah membangunkan kesadarannya untuk mendekat pada Yang Kuasa. Ada kesejukan tersendiri, manakala dapat mengawali hari dengan segera mengingatNya.


Apalagi saat ini, bayangan Shaffa telah mengusik angannya. Bukan lagi soal cinta. Tapi lebih dari itu. Rasa kemanusiaan yang selama ini sudah tumbuh oleh tangan Zulfa, benar-benar mempengaruhi sikapnya untuk menghargai sesama. Tapi tadi malam, dirinya mendengar sendiri, kekerasan itu terjadi di dekatnya, tapi tak berdaya.


Untuk sejenak Irwan larut dalam rintihan kalbu yang hendak disampaikan pada Yang Maha Mendengar. Dirinya tak rela bila Shaffa tersakiti, tapi bagaimana jalan keluarnya. Ini masih samar ....

__ADS_1


__ADS_2