
Untuk membelikan sepeda buat Jamilah terpaksa ditunda dulu. Karena Hasan tiba-tiba mendapat telpon dari kantor. Ada sesuatu yang harus segera ditangani.
"Gimana kalau beli on line saja?" usul Zulfa.
"Ide bagus. Tapi kadang tak sesuai dengan yang di gambar."
"Ya Sudah."
"Tenang saja. Nanti biar aku suruh anak buahku belikan sekalian ngantarkan."
Zulfa tersenyum tipis mendengar jawaban Hasan. Iya ... iya ... tinggal suruh anak buah, beres.
"Ada apa?" tanya Hasan yang sekilas melihat senyum tipis Zulfa. Tapi Hasan segera sadar.
"Jangan khawatir. Di luar jam kantor dan mereka lagi kosong."
Senyum Zulfa kini mengembang sempurna.
"Makasih, sudah ngingetin mas."
"Ya." jawabnya singkat.
Kemudian Zulfa mengambil sebuah buku bacaan dari dalam tasnya. Membacanya dengan tenang keasyikan.
Sudah menjadi kebiasaan, kalau bepergian tak pernah lupa untuk membawa buku. Bisa membantu di kala menunggu atau jenuh.
Kini Hasan fokus menyetir. Sesekali matanya melirik wanita yang duduk tenang di sebelahnya. Kadang tersenyum, kadang sedih. Membuat Hasan penasaran.
"Asyik amat."
"Lucu ..."
"Boleh dong, dibacakan ...."
"Ada saja."
Entahlah semakin ke sini, semakin senang melihatnya. Banyak senyum di bibirnya. Banyak keceriaan di wajahnya. Tak seperti saat kami pertama berjumpa.
Ingin menggodanya, tapi kendaraan ini sudah memasuki kota. Ah ... disimpan saja, nanti kalau sudah halal biar makin mesra.
Rupanya pikiran Hasan sudah rada-rada travelling ....
Ingat belum sah!!.
"Sudah siap?"
"Maksudnya?"
"Pernikahan kita sudah tinggal 5 hari, kan?"
"Nggak macam-macam juga. Jadi apa yang mau dipersiapkan."
"Seperti, baju pengantin d l l. Ngerti maksudku!"
"Baju yang mas belikan, sudah bagus. Dan yang putih tulang itu sudah pas banget untuk acara ijab qobul.
Aku nggak begitu tertarik untuk bikin baju pengantin khusus. Mengingat kita ya ...."
"Aku nggak nganggap kamu seperti itu ..."
__ADS_1
Belum selesai bicara, Zulfa sudah melihatnya dengan penuh perhatian. Bikin Hasan keki dech ...
"Karena kita sama. Kamu janda dan aku duda."
Tak tahulah, aku tadi mau ngomong apa. Habis pandangannya bikin otakku kosong.
"Untuk catering, Gimana kalau pesan ke Mas Herman."
"Lho kok?" Zulfa sedikit tersentak mendengar usul Hasan.
"Mas ... Yang lain aja dech."
"Kenapa memang?"
"Tak tahulah. Takut ngerepotin."
"Atau bunda masih menyimpan rasa."
Pertanyaannya benar-benar menjebak. Atau mungkin sedang mengujiku.
"Tidak, hanya nggak enak aja sama mas Herman."
"Kan dia sudah punya Maria. Tak masalahkan?"
"Tak tahulah."
"Aku percaya padamu." ucap Hasan menyakinkan hati Zulfa yang sering kali rapuh.
"Baiklah, kalau mas mintanya ke mas Herman, tak apa. Lagian masakannya rekomended."
"Ehem ... ehem ...."mas Hasan batuk tiba-tiba, dengan membuat bulatan tabung dari tangan di letakkan di depan mulutnya.
Tuch kan ... jebakan ...
"Hei ... hei ... aku lagi nyetir."
"Salahnya sendiri menggoda." jawab Zulfa lalu menundukkan kepalanya.
Entahlah, aku ingin melihat sisi lain dari dia. Calon makmumku. Seperti sifat manja atau yang lainnya. Pasti menggemaskan. Dan benar ....
Hehehe ....
"Mas, itu siapa. Seperti lihat ke dalam sekolah terus." tanya Zulfa saat mobil melewati sekolah Tia.
Hasan melihat dengan seksama perempuan yang memakai jilbab, berdiri di pagar sekolah Tia.
"Apa dia Maria?"
"Oh ya, benar-benar ... sekarang Maria sudah berubah, Mas."
"Syukurlah. Apa maunya dia mengintip segala."
"Mungkin kangen Mas."
"Semoga saja. Jangan sampai dia melakukan kebodohan. Sekarang masih tahanan kota. Belum sepenuhnya bebas."
"Sudah Mas. Kita husnudzon saja." ucap Zulfa dengan nada sedih.
"Aku melihat dia amat rindu dengan Tia dan Aldo. Tapi sampai saat ini anak-anak masih takut sama dia. Aku tak tahu harus bagaimana. Semoga dia bisa sabar."
__ADS_1
"Sudah jangan bunda pikirkan. Maria pernah melakukan kesalahan fatal di depan mereka. Jelas saja mereka menolak."
"Tapi dia bundanya."
"Bagi mereka hanya ada bunda Zulfa tak ada yang lain."
"Aku nggak ngerti, Mas."
"Kita samperin, yuk. Siapa tahu nanti Tia mau temui dia."
"Sudah siang, Bunda. Aku sudah agak telat ke kantor nich."
"Maaf, Mas. Aku hanya kasihan."
"Sudah nggak apa-apa. Aku antar bunda ke pabrik, Ya."
"Ya Mas. " Meski sedih, diikuti pula ajakan Hasan untuk membiarkan Maria di sana.
Sebenarnya dirinya khawatir, kalau mereka tiba-tiba dibawa Maria. Tapi biarlah, toh mereka putra-putrinya. Apa hak Zulfa. Untuk saat ini biarlah seperti ini. Sampai ada solusi yang terbaik bagi mereka.
Hasan menjalankan mobilnya tenang, hingga sampai di pabrik Zulfa. Berhenti sejenak. Memberikan kesempatan pada Zulfa turun.
Setelah Zulfa berlalu ke dalam kantornya, Hasan melanjutkan perjalanan ke kantor nya yang tak begitu jauh dari tempat Zulfa saat ini.
💎
Sedemikian rupa, Maria rindu dengan buah hati. Hingga tanpa bosan, dirinya selalu datang ke sekolah Tia Aldo, hampir setiap hari. Meski di sana, dia hanya mampu berdiri di balik gerbang. Dan hanya memandang mereka dari jauh saja.
"Papa, kurang 15 menit lagi mereka istirahat. Aku berangkat,"
"Ya ...." jawab Alfa dengan sendu. Bagaimana mungkin dirinya tak tersentuh melihat perjuangan putrinya untuk meraih kembali cinta putra-putrinya. Tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil.
Entahlah, sampai kapan mereka menyadari kerinduan bunda yang telah melahirkannya. Mungkin sudah seharusnya Maria melipatgandakan lagi kesabarannya agar putra-putrinya kembali dalam dekapannya.
Tak tega juga, Alfa melihat putrinya melewati kerinduannya seorang diri.
"Papa akan menemanimu, Maria."
"Papa, istirahatlah. Papa belum pulih benar." jawab Maria. Sudah beberapa hari Alfa memang kurang enak badan. Tapi dia hanya istirahat di rumah saja. Tentu setelah periksa di dokter spesialis yang biasa menangani dirinya.
"Tak apa-apa, Maria. Papa juga kangen."
Maria menghentikan langkahnya. Dirinya merasa mendapatkan tambahan daya untuk segera menjumpai mereka. Apalagi dibandingkan dirinya, papa Alfa lebih bisa diterima oleh mereka.
"Baiklah, Pa."
Maria menunggu hingga Alfa berjalan melewati dirinya. Baru kemudian dirinya mengikuti langkah Alfa menuju mobil mereka yang sudah terparkir di halaman rumah.
"Biarlah Maria yang nyetir, Pa." kata Maria sebelum mereka menaiki mobil.
"Baiklah."
Segera Alfa berputar, menuju pintu yang satunya lagi. Tanpa kemudi di depannya. Sedangkan Maria segera membuka pintu yang sesaat yang lalu akan dibuka Alfa. Maria duduk di belakang kemudi. Dirinya menghidupkan mesin mobil. Secara berlahan mobil yang dikendarainya berjalan meninggalkan halaman rumah menuju jalanan yang mengarah ke sekolah Tia dan Aldo.
Tapi sayangnya, pada saat sudah sampai, Alfa merasa agak kurang enak badan.
"Maria, papa nunggu di sini saja. Lemas rasanya."
"Tuch kan, Papa. Tadi apa bilang Maria. Jangan ikut, ya jangan ikut. Takutnya seperti ini."
__ADS_1
Alfa tersenyum mendengar perkataan putrinya. Dirinya bisa memakluminya kok ...
"Papa, tanggung sudah di sini. Nanti saja baliknya ya ... Maria kepingin ketemu mereka."