KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Papa dan Kakak


__ADS_3

Tiba di sebuah ruangan yang sudah ditentukan, mereka diterima oleh seorang penghulu dan beberapa orang yang sudah dipersiapkan. Sebelum melakukan ijab qobul, penghulu itu bertanya tentang data-data yang mereka terima. Untuk memastikan keabsahan data tersebut. Karena dalam data disebutkan Herman beragama Islam, sedangkan Maria beragama non Islam.


"Benarkah ini, mas Herman?"


"Benar." Herman menganggukkan kepala.


"Untuk mbak Maria. Benarkah demikian."


"Ya, Pak."


"Lalu pernikahan ini menurut yang mana?"


"Saya menurut apa yang dianut suami saya."


"Maksudnya calon suami."


"Begitulah Pak."


"Apakah sudah mbak Maria pikirkan baik-baik?"


"Saya siap, Pak."


Alfa mendengarkan secara seksama pembicaraan mereka. Ada terbesit amarah yang terlintas dalam hatinya. Jika bukan karena Maria putrinya, tak mungkin dia bisa sesabar ini.


"Kalau memang mbak Maria sudah siap. Bisa kita mulai derngan membaca syahadat."


"Iya, Pak."


"Sudah bisa?"


"Dikit-dikit."


"Apa perlu dituntun?"


"Ya, Pak. Bimbingan bapak saya harapkan."


"Baiklah, ikuti saya."


اشهد ان لااله الاالله و اشهد ان محمدا رسول الله


Maria mengikuti ucapan itu dengan baik dan benar.


"Mbak Maria sekarang sudah menjadi muslim. Semoga bisa memantapkan langkah mbak Maria selanjutnya."

__ADS_1


"Sekarang kita bisa mulai prosesi pernikahannya."


Alfa mendekati mereka, melakukan pembicaraan serius. Beberapa kali kepalanya manggut-manggut, tampak air matanya menetes meski hanya sebutir. Segera dia menghapus air matanya. Tapi dia tak bisa menghilangkan ketegangan pada wajahnya.


Keinginan untuk menikahkan putrinya, pupus sudah. Karena putrinya memutuskan untuk berpindah keyakinan. Tapi dia menghormati itu, karena putrinya sudah besar dan berhak menentukan keyakinannya. Dengan lesu dia mundur, duduk di samping Edzel dengan wajah murung.


"Ada apa, Pa?"


"Rasanya, tak ada artinya papa hadir di sini." Dia mengambil nafas berat. Memandang putrinya dengan tatapan kosong. Lalu beranjak pergi dengan langkah gontai. Edzel tak berani berkata ataupun bertanya. Diapun mengikuti langkah ayahnya meninggalkan ruangan itu, tanpa berpitan pada Maria, apalagi Herman.


Maria mengejarnya, "Papa, mengapa pergi. Tak maukah papa mendampingi Maria menikah?"


Alfa menghentikan langkahnya. Berbalik menatap putrinya dengan kasih sayang.


"Nak, tataplah mata papamu. Papa nggak pernah membencimu. Bahkan keinginan papa yang memiliki anak perempuan adalah menikahkan anaknya dengan pria yang dicintainya. Tapi kamu telah memilih jalanmu sendiri, hingga papa nggak bisa melakukan itu lagi."


"Maksud Papa?"


"Belajarlah dengan baik dengan keyakinan yang kamu pilih saat ini, kamu akan mengerti."


"Tapi, Pa?"


" Papa rela melepasmu dengan laki-laki yang kamu cintai. Tapi, mulai sekarang coba engkau hapus bahwa kamu putri Papa. Dan janganlah salahkan keluargamu bila tak lagi peduli padamu."


"Papa ..."


Melihat Maria menghampiri papanya, Herman berdiri, berjalan mendekati Maria dan calon mertuanya. Meski masih sangat ragu, apakah Alfa mau menerima dirinya atau tidak.


Melihat Herman berjalan ke arahnya, Alfa segera balik badan, ingin meninggalkan ruangan itu.


"Papa, jangan pergi dulu. Setidaknya ini permintaan terakhir Maria. Agar aku tenang, papa bisa di sampingku saat ini."


Alfa tertegun mendengar permintaan putrinya. Diapun menghentikan langkahnya."


"Kak Edzel, jangan pergi ya ...." pinta Maria mengiba.


Alfa dan Edzel saling berpandangan.


"Baiklah Maria. Papa akan menunggu sampa acara ini selesai."


Tak tega juga Alfa melihat putrinya bersedih di hari bahagianya.


Setelah memastikan papa dan kakaknya tidak akan pergi, Maria berbalik ke arah Herman. Menuju tempat penghulu berada. Tak berapa lama prosesi ijab qobulpun dilaksanakan, yang disaksikan oleh beberapa pegawai dari KUA, sehingga pernikahan mereka sah adanya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, berlahan-lahan Alfa maupun Edzel meninggalkan acara, pada saat khutbah nikah berlangsung.


Maria baru menyadari saat acara sudah selesai. Dicarinya papa dan kakanya yang selama acara berlangsung, duduk di pojokan. Namun tak ditemukannya. Sampai salah seorang wanita, staf KUA menghampirinya. Menyerahkan sebuah kotak mungil dan juga amplop padanya.


"Ini ada titipan dari bapak dan laki-laki yang duduk di pojokkan tadi untuk Nona."


Maria meneteskan air mata, saat menerima barang tersebut. Kini dia mendari kalau keluarga sudah meninggalkannya.


"Mas .... Kamu tak akan meninggalkanku kan? ... aku tak punya keluarga lagi."


"Kamu sekarang istriku. Ayo kita pulang!"


Herman mengajak Maria memasuki mobil mereka. Berlahan meninggalkan pelataran kantor Catatan Sipil menuju jalanan yang sangat sibuk dengan segala aktifitasnya. Untuk beberapa saat mereka berputar-putar untuk sekedar menghibur hati Maria. Tak bisa mampir ke mana-mana. Karena Maria masih memakai baju pengantin dengan segala pernak-perniknya, malu.


"Apa kamu menyesal, sekarang bersamaku."


Maria terdiam lama. Kepergian papa dan kakaknya membuatnya terpukul. Maria benar-benar merasa kehilangan. Andai mamanya masih ada, tentu masih ada orang yang mau mendengar keluh kesahnya. Sejak lulus dari SD, mama Maria telah meninggal. Hidup dengan kakak dan papanya yang sangat memanjakannya, apalagi dalam segi materi. Tak pernah kakak dan papanya membuatnya terluka. Namun ini membuatnya sulit dewasa. Setelah kepergian mereka, Maria tak tahu harus berbuat apa. Apalagi papanya sudah mengatakan untuk melupakannya. Apa maksudnya?


Keputusan untuk berpindah keyakinan mengikuti orang dicintainya, membuat papa dan kakaknya meninggalknya. Ini yang tak pernah dipikirkannya sama sekali. Yang ada bayangannya saat itu, semua keputusan yang diambilnya, papa dan kakaknya pasti akan menyetujui. Bahkan terbayang saat itu, dirinya akan meminta pada papanya untuk diselenggarakan resepsi yang megah. Setelah pernikahan mereka sah. Keinginan kini hanya tinggal bayangan. Menyisakan kesedihan, yang tak pernah dia rasakan selama ini. Ditinggal orang-orang yang dicintainya sejak kecil.


"Papa, kakak meninggalkanku."


"Bukankah kamu telah meninggalkan mereka untuk bersamaku. Aku tak akan menyia-nyiakanmu."


"Terima kasih, Mas."


"Sekarang kita pulang."


Maria mengangguk lemah. Menyandarkan tubuhnya di kursi mobilnya. Sejenak memejamkan mata, sekedar menenangkan diri.


"Mas, aku merasa bersalah dengan mbak Zulfa." Maria berkata sambil memejamkan mata. Dia lama menunggu suara Herman, sebuah jawaban yang keluar dari lubuk hati atas pernyataan yang dia buat. Namun setelah sekian lama, tak juga Herman bersuara.


"Mengapa kamu ngomong seperti itu?"


"Aku merebut dirimu darinya."


"Tak ada yang merebut. Aku menerimamu, itu yang harus kamu yakinkan pada dirimu."


"Apa kata-kata seperti itu juga kamu sampaikan pada mbak Zulfa. Bahwa aku tak pernah merebutmu darinya." Herman mencoba menyembunyikan rasa yang kini masih tersimpan untuk Zulfa. Agar tak membuat Maria semakin sedih. Herman menyadari Maria gadis yang belum dewasa dan manja. Suka semaunya sendiri dalam mengambil keputusan, terkandang tanpa berfikir panjang. Begitulah yang dia kenal untuk sementara ini.


"Sementara ini jangan pikirkan apapun. Nikmati kebersamaan kita.."


"Apa mas sudah melupaakan mbak Zulfa? "

__ADS_1


Herman hanya mengembangkan bibirnya. Pertanyaaan konyol. Apapun jawabannya pasti akan membuatnya terluka.


"Kita pulang ke rumah kita saja. Kebetulan besok teman-teman kantor mas mau datang. Kita siapkan bersama yuk."


__ADS_2