KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Melarikan Diri


__ADS_3

Herman tak menyangka kalau Maria mampu berbuat seperti itu. Diapun sangat marah. Tapi dia harus berhati-hati, karena Mutia dijadikan sandera.


Saat Maria yang sedang menghubungi seseorang. Dia pelan-pelan mendekati. Agar Maria tak menyadari kalau dia akan mengambil Mutia dari tangannya.


Belum juga dia berbuat apa-apa ....


"Ayah ..." teriak Mutia, membuat Maria sadar. Dengan cepat berbalik dan mengarahkan pisaunya pada Herman. Pisau itu tepat mengarah di perut Herman.


"Rasakan ini." teriak Maria.


Seketika Herman terhuyung dengan perut yang banyak mengeluarkan darah. Dengan satu tangan memegang perut, satu tangannya lagi mencoba untuk meraih Mutia kembali. Tapi Maria memberi hadiah sekali lagi dengan satu tendangan yang amat kuat. Sehingga Herman tak mampu lagi berdiri.


"Lepaskan Mutia." Itu kata-kata terakhir, sebelum jatuh tersungkur.


"Ayah ..." teriak Aldo dan Mutia bersamaan.


"Diam!" Maria membentak mereka, hingga mereka terdiam seketika.


"Jangan ada yang berani teriak, kalau kalian tak ingin seperti ayah kalian." Mutia dan Aldo ketakutan.


Entah setan apa yang merasuki Maria hingga dapat berbuat sedemikian sadis. Apalagi semua itu dilakukan di depan putra-putrinya. Dengan wajah ketakutan, Aldo mendekati ayahnya yang terkapar berlumuran darah.


"Ayah ... Nenek ... bangun. Aldo takut." isaknya. Dia menggoncang-goncangkan tubuh Herman. Namun tak juga bergerak. Diapun mendekati tubuh Halimah. Melakukan hal sama, namun juga tak mau bergerak, apalagi membuka mata. Dengan bersimpuh di dekat tubuh mereka, diapun terisak.


Sedangkan Mutia yang masih dalam gendongan Maria. Hanya bisa memandang kosong dengan kejadian di depannya. Tak ada isak tangis dari bibirnya.Tubuhny tegang, bergetar hebat dan mendingin seketika. Sesaat kemudian sudah tak sadarkan diri.


Tapi Maria tak peduli dengan semua itu. Dia sibuk dengan handpone-nya. Kesal, mengapa ojek on line dipesannya, belum datang-datang juga. Dia memandang tubuh Halimah dan Herman, dengan semakin marah.


Untungnya, tak lama kemudian datang sebuah motor. Abang ojol yang datang dibuat terkejut, dengan apa yang tengah terjadi di depannya. Ingin dia membelokkan motornya menjauh dari tempat itu. Tapi Maria telah menghadangnya.


"Turun!!" teriaknya keras, membuat abang itu ketakutan. Apalagi pisau yang berlumuran darah itu mengarah padanya. Berlahan-lahan dia turun dari motornya. Dan menyerahkan motor yang masih hidup pada Maria.


"Helm**!"


Tak ambil resiko, dengan cepat dia meleps helm itu dari kepalanya. Dan meletakkannya di spioan motornya.


"Menjauh!!" perintahnya pada abang ojol itu. Untuk sesaat, dia diam.


"Atau ...." belum selesai Maria berkata, abang ojol mundur beberapa langkah dari motornya.


"Jangan coba-coba mendekat, atau anak ini akan bernasib sama."


Dia tak tahu berbuat apa.


"Tolong ... tolong ...." teriaknya, siapa tahu ada orang yang datang. Lalu bersama-sama meringkus wanita sadis ini.

__ADS_1


"Diam! ... Atau .... " dia mengarahkan pisaunya sekali lagi ke Mutia yang pingsan dalam gendongannya. Membuatnya bergidik. Sungguh mahluk apa yang kini ada di hadapannya. Tak punya belas kasihan, mengarahkan pisau itu pada anak yang pingsan.


Abang ojol itupun menurut saja dengan apa yang dikatakan Maria. Sambil mencari celah, agar bisa menyelamatkan gadis kecil yang tampak lemah, dari tangan wanita sadis yang ada di hadapannya. Tapi rupanya kesempatan itu tak kunjung dia dapat.


Dengan satu tangan, Maria memakai helm dengan cepat. Mungkin saat ini waktu yang tepat. Dengan cepat, dia mendaratkan satu tendangan. Maksudnya ke arah Maria, tapi malah mengenai knalpot motornya sendiri.


"Panas ..." Segera dia menarik kakinya yang memerah.


Maria tertawa senang sebelum menaiki motor. Kebetulan motor itu dalam kondisi masih hidup. Dengan sekali hentakkan, motor itu sudah menghilang dari hadapannya. Meninggalkan dirinya yang bingung. Tak tahu apa yang akan dipebuatnya, dengan orang-orang yang sudah terkapar dan juga anak keci yang menangis pilu.


Naas benar nasibnya obang ojol malam ini. Seharian ini belum mendapatkan pelanggan. Sekali dapat, motornya raib. Segera dia menghubungi teman-temannya, untuk mengikuti kemana wanita itu membawa motornya.


Lalu dia mendekati tubuh Herman, rupanya masih ada napas, lalu mendekati tubuh Halimah, ternyata dia hanya pingsan. Segera dia berteriak memanggil-manggil.


"Tolong .... tolong." teriaknya, begitu Maria menghilang dengan membawa motornya.


Lalu dia menderkati Aldo yang masih menangis. Sesaat wajah Aldo tampak ketakutan. Tapi kemudian dia segera memeluk abang ojol itu.


" Mutia .... Mutia ..." rancaunya, dengan tangan mengarah pada tempat Maria yang sesaat lalu pergi.


Abang ojol itu pun bingung, mau jawab apa. Membuat Aldo ketakutan sangat. Dan diam lagi.


"Jangan takut, Dik ... abang nggak akan menyakitimu." Diapun memeluk Aldo derngan hangat.


Tak berapa lama, datang beberapa warga. Mereka semua kaget dengan apa yang menimpa keluarga Halimah.


"Ada apa ini?" tanya pak RT yang baru saja tiba. Tak lain dan tak bukan adalah Rizal, sahabat Herman. Yang beberapa saat yang lalu mereka jalan bersama, sepulang dari masjid.


"Astaghfirullah al adzim .... Siapa yang melakukan ini?"


Siapapun akan miris melihat semua itu.


"Tolong, hubungi Ayyas, Ambulance dan pihak kepolisian." perintahnya.


Salah seorang menghubungi anak-anak Halimah. Sedangkan seorang yang lain menghubungi ambulance.


Dia mendekati Aldo yang masih menangis di pangkuan abang ojol.


"Aldo, bundamu mana?" tanyanya pelan. Bukannya menjawab, Aldo bahkan semakin ketakutan. Rizal mengurungkan niatnya, untuk bertanya lagi. Tak tega ....


"Bu, tolong gendong Aldo. Ajak ke dalam. Tenangkan dia." Dia berkata pada istrinya, yang tadi datang bersamanya. Harni segera mengambil Aldo dari tangan abang ojol, mengajaknya ke dalam. Memeluknya dan memberikan minum, agar dia menjadi tenang.


Tak berapa lama, polisi datang beserta ambulance di belakangnya. Dua orang petugas medis keluar. Menghampiri tubuh Herman dan Halimah dan membawanya ke dalam ambulance.


"Ada keluarganya?"

__ADS_1


"Belum datang ..."


"Kenapa juga Rahmi sama Ayyas belum datang juga. Bukankah rumah mereka dekat." gerutu salah seorang di antara mereka.


"Siapa yang melihat saat kejadian?"


Segera abang ojol itu maju, menghampiri pak polisi. Dia memberikan keterangan secukupnya.


"Jadi, wanita itu yang melakukannya."


"Dia istrinya." sahut Rizal.


"Benarkah?" obang ojol itupun terperanjat. Tak sangka, wanita itu ternyata istri dari lelaki itu. Yang membuat pak polisi itu terkejut juga.


"Bisa ikut saya ke kantor?"


"Ya**." jawabnya singkat. Karena dia juga ingin melaporkan tentang motor yang dibawa lari Maria.


"Baik bapak-bapak, ibu-ibu, saya pergi dulu." kata pak polisi sebelum menghidupkan mobil yang dibawanya.


Sesaat, setelah mobil itu pergi, Ayyas datang bersama Rahmi istrinya.


"Ada apa ini. Kenapa semua berkumpul di sini?" tanyanya Herman


"Ayyas ... Ayyas .... Mertua mu sama Herman ..."


"Ada apa derngan mama?" tanya Rahmi panik.


"Sudah, jangan panik. Sekarang sedang di bawa ke rumah sakit."


Segera Ayyas dan Rahmi masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Sebentar ... sebentar ...." cegah seorang diantara mereka.


"Ada apa?" tanyanya


"Ponakanmu ..."


Kembali Rahmi turun.


"Di mana dia?"


"Di dalam."


Rahmi segera ke dalam ....

__ADS_1


__ADS_2