
"Apa masih bersama Maria?"
"Itu yang buat bunda khawatir. Bunda takut dia kenapa-napa."
"Sama Bun. Apalagi kalau ingat cerita Aldo, habis hati Irwan. Tega benar anaknya dijadikan sandera. Benar-benar gila ...."
"Kemarin bunda kemimpi dia. Panggil-panggil kita, tapi wajahnya terlihat ceria."
"Semoga bertanda baik, Bunda."
"Amin ...."
Obrolan mereka berhenti, manakala mobil Irwan telah sampai di depan rumah. Zulfa sudah ingin sekali merebahkan tubuhnya yang lelah. Selama hampir seharian mengurus persiapan pemberangkatannya besok. Tapi tak mengapa, toh itu semua untuk suatu yang sudah di impikan sejak lama. Sudah daftar haji, tapi masih lama nunggu giliran berangkat. Tak ada salahnya kalau umroh dulu. Memang itu kesempatan yang ada. Apalagi pada saat ini, dirinya benar-benar ingin segera mendekat, pada pemilik dan pengatur jiwa raganya selama ini.Siapa lagi yang membuat hatinya tenang, selain penciptany sendiri.
Kalau hanya umroh memang tak seheboh kalau berangkat haji, tapi perlu persiapan juga.
Saat yang ditungu-tunggu tiba. Sejak subuh sudah ada taxi on line yang terparkir di depan rumah mereka. Guna mengantarkan mereka ke tempat berkumpul, tempat rombangan yang akan pergi umroh bersama. Perlengkapan insya Allah sudah beres. Karena sudah mereka kirim sebelumnya. Tinggal barang-barang kecil yang mungkin mereka perlukan. Cukup satu tas yang tak terlalu besar untuk membawanya.
Sore harinya mereka sudah menaiki pesawat dan siap brangkat menuju tanah suci, untuk menunaikan umroh.
💎
Tiba di tanah suci, Zulfa telah siap melaksankan, yang jadi niatan utamanya. Khusyu' mengharap keridhoan dari pemilik baitullah, tempat dia kini berada.
Saat di depan multazam, Zulfa tak dapat lagi menahan air mata, untuk ungkapkan rasa terpendam.
Di pintumu, Ya Robb ....
Dengan rasaku ingin mengetuk kasih sayangMu
Dalam rengkuhanMu, ingin ungkapan lemahnya jiwaku atas hadirMu
Di ribaMu diriku mencoba bercerita akan inginku
Entahlah, wahai Pembisik hatiku yang mulai rapuh
Mencoba tegak tapaki jalan yang Engkau gariskan
Dalam bayangan dan harapan
Senantiasa terukir lewat warna tinta yang telah Engkau tentukan
Bagaimana mungkin hamba akan tegak menatap
Sedangkan diri berbalut dosa dan kesalahan
Kadang dengan sadar karena suatu pilihan
Atau tak sengaja karena suatu kelalaian
Tapi kadang tak malu diri berharap dengan setengah memaksa
Aku tak tahu, siapa yang lebih kasih dan sayang pada yang lemah
__ADS_1
Yang ku tahu, padaMu lah kugantungkan dayaku melangkah
Berharap maghfirohmu agar kerinduan ini terwujud dalam cinta dan cita
Untuk ananda-anandaku semua
Aldo Tia Irwan Lika
Bunda kan meminta untukmu juga
Keridhoan dalam hidup utama
Sehat bahagia senantiasa
Dalam sejuk semilir angin padang pasir, ucapkan namaMu membahasi bibir, berharap rahmat kasih sayang senantiasa mengalir. Amiiiin ....
Akhirnya apa yang Zulfa inginkan dapat terwujud. Bahagianya, bisa melaksanakan secara sempurna. Berharap akan diterima ....
Kini semua sudah usai, saatnya kembali.
"Bu Reda, Kok beli banyak gelangnya?" tanya Zulfa pada bunda Reda, istri pak Ridho. Wanita yang selama ini satu kamar dengan dengannya dan juga Lika. Maklum di hotel, aturannya adalah kamar hanya dihuni parermpuan dengan perempuan. Laki-laki di tempat yang berbeda, meski suami istri, niat ibadah kan? Taati aturan dari pada kena denda ....
"Untuk anak asuh bapaknya anak-anak."
"Sebanyak ini?"
"Biar mereka senang."
"Hem ... Anak asuhnya banyak, Bun."
"Masya Allah. Saya iri sama Bunda. Bisa punya anak asuh sebanyak itu."
"Yang kelola dan yang jadi bapak ibu asuh, bukan saya. Adiknya bapak."
"Allahu Akbar, bapak ibu luar biasa. Bisa menyantuni mereka. Kapan-kapan boleh aku datang."
"Sangat boleh. Apalagi kalau bawa amplop atau buah tangan. Anak-anak pasti senang .... Bukan minta lho .... Tapi kalau dikabulkan. Sesuatu banget."
"Bisa saja, Bunda Redha ini. Doakan,Bun. Harapan ibu, harapan saya juga. Bisa menyantuni anak-anak yatim."
"Aku tunggu secepatnya. Bulan depan, kumpulan di rumah saya. Bunda Zulfa, aku undang. Harus datang, lho."
"Insya Allah, akan saya usahakan."
"Bunda, sama anak-anak saja?"
Duh, bunda Reda ini tanyanya .... Malu.
"Iya." jawab Zulfa sambil memilih sesuatu untuk Aldo dan juga Mutia. Siapa tahu habis ini Mutia ketemu.
"Singgle?"
Zulfa senyum-senyum, tapi akhirnya mengangguk meski dengan terpaksa. Redha melirik sambil senyum-senyum penuh arti.
__ADS_1
"Kita kembali ke hotel, yuk. Siap-siap."
"Lika, ayok." panggil Zulfa pada Lika yang sedang belanja tak jauh dari termpat itu. Sengaja nggak satu toko. Seleranya sama bunda, agak beda-beda dikit. Dan yang paling penting, nggak mengganggu urusan para bunda.
"Ya, Bun."
Bertiga mereka kembali ke hotel. Untuk mengemasi barang mereka yang masih tertinggal. Karena barang yang lainnya sudah mereka kemasi sebelumnya dan sudah dikirimkan.
Zulfa, Redha dan Lika, seperti tiga sekawan, kemana-mana selalu bersama. Meski kadang Lika merasa tersisih juga. Soalnya dia paling muda, dan masih gadis.
Dasar wanita, kalau sedang belanja sampai lupa waktu. Di depan pintu kamar mereka, Ridho dan juga Irwan sedang menunggu.
"Ku kira kalian nggak bisa pulang. Bis sudah mau berangkat, kalian baru datang." kata Ridho ke istrinya dengan agak-agak gimana ... gitu. Mau menggerutu, tapi gimana lagi. Sudah jadi kebiasaan, asal arahnya jelas, Ridfho tak akan mempersalahkan.
"Maaf, Pa. Keinget anak-anak." jawab istrinya santai.
"Ya sudah, cepat. Nanti ketinggalan rombongan."
Tak lebih dari sepuluh menit, mereka sudah keluar kamar, dengan tas kecil yang sudah penuh sesak. Sampai Ridho dan Irwan geleng-geleng kepala.
"Ibu-ibu." guman Ridho melihat itu semua.
"Bunda, mulai tertular virus ibu-ibu dech, tak apalah, sekali-kali." bisik Irwan yang tak mungkin terdengar bunda Zulfa.
Akhirnya ba'da isya, mereka beserta rombongan lainnya, meninggalkan bandara King Abdul Aziz menuju Indonesia.
💎
Pagi-pagi benar, mereka tiba di bandara Sukarno Hatta. Mereka turun dari pesawat dengan senang, dapat menikmati awal hari ini yang cerah dan penuh harapan. Seperti sapa mentari pada mayapada. Segar rasanya menghirup udara pagi yang belum banyak terkontaminasi dengan polusi yang ada.
Dua keluarga ini berjalan beriringan sambil berbincang-bincang, menuju bis yang akan mengantarkan ke hotel untuk bersih diri dan sarapan.
Secara tidak sengaja, Irwan menangkap bayangan seorang wanita, yang selama ini dicarinya. Meski sudah beda tampilan. Dari rambutnya yang lebig cepak, serta kaca mata hitam. Tapi Irwan tak mungkin salah mengenalnya.
"Lika, tolong bawa ini." kata Irwan, sambil menyerahkan tas yang dia tarik kepada Lika. Matanya tak berhenti mengikuti kemana wanita itu pergi.
"Kak Irwan mau kemana?"
"Sebentar saja." kata Irwan. Begitu tas itu sudah berpindah tangan, dia segera berjalan cepat ke arah wanita itu pergi.
Irwan segera menutup sebagian wajahnya dengan sorban yang melingkar di lehernya, agar tak dikenali oleh orang-orang yang kini dia ikuti. Meski demikian, dia masih menjaga jarak, agar tak mencurigakan.
(Bukan karena corona lho ... JAGA JARAK .... hehehe ....)
....
....
....
____________________ ______________
terima kasih readers yang setia membaca tulisan author ini. semoga sehat dan bahagia selalu...
__ADS_1
Jangan lupa votenya, author seneng banget kalau terkabul 💟💟💟💟🙎🙎🙎