KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Menghindar


__ADS_3

"Benarkah, mas Herman tinggal di sini?"tanya Zulfa bingung.


"Menurut alamat yang dikirim ke aku, ini alamatnya."jawab Indah dengan bingung juga. Karena nggak nyangka kalau kakaknya terdampar di daerah seperti ini.


"Ya, sudah kita tanya orang sini." Ayas menengahi.


Bang Udin segera turun dan menghampiri seorang ibu yang sedang duduk santai di depan sebuah rumah yang sangat kecil.


Tak lama dia kembali ke mobil.


"Benar ini alamatnya. Herman tinggal di rumah kontrakan warna kuning gading, di depan sana." kata bang Udin kemudian.


"Ya sudah, kita ke sana. Benar tidaknya akan tahu. Daripada di sini, bingung saja." kata Ayas.


Bang Udin segera melajukan mobil dengan sangat pelan ke arah yang ditunjukkan ibu tadi.


Benar saja di depan kami ada sebuah rumah sangat mungil bercat kuning gading. Kami pun turun menuju rumah itu.


Terlihat rumah ini sangat sepi, kemana penghuninya. Bang Ayas dan bang Udin turun dari mobil dan menuju ke rumah itu terlebih dahulu. Lalu kami semua menyusulnya.


Dengan berlahan bang Ayas mengetuk pintu rumah itu. Namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Setelah beberapa kali tak ada respon , kami kembali ke mobil. Untuk menlanjutkan perjalanan.


Tapi belum sempat kami melangkah, ada seorang bapak yang mendekati kami.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...." jawab bang Ayas.


"Maaf, kalian mencari Herman?"


"Ya, apa di sini dia tinggal?"


"Benar, kebetulan dia sedang mengantarkan barang. Apa yang bisa saya bantu." kata bapak itu. Dia terlihat sopan.


"Oh, terima kasih. Kapan kira-kira dia pulang?"


"Mungkin 2 hari lagi."


"Benarkah?" tanya Indah heran. Karena dari wa yang dia terima bahwa dia menunggu di rumah. Mengapa dia tak ada.


"Saya RT di sini, sekaligus temannya. Sehingga kalau kemana-mana, dia selalu memberi tahu."


"Ah maaf. Sejak kapan perginya?"tanya Indah selanjutnya.


"Sudah dua hari lalu. Biasa, mengantarkan barang ke luar pulau."


"Oh ya, terima kasih."


"Mungkin ada yang bisa saya bantu."


"Bagaimana ya ...."Indah sepertinya bimbang.


"Begini, kemarin sebelum berangkat. Herman ada titip pesan sama saya. Jika ada seseorang yang mengantarkan ijazah-ijazahnya, untuk diterima dan disimpankan dulu."


Ayas maupun Zulfa manggut-manggut.


"Kalau ibu tak percaya, Silahkan hubungi Herman." lanjutnya.


"Maaf ya Pak." kata Indah yang kemudian mencoba menghubungi Herman.

__ADS_1


Alhamdulillah segera terangkat. Dan terlihat dia tampak gembira. Membuat Zulfa ingin bercakap-cakap pula dengan suaminya itu, yang lama tak dijumpainya.


"Indah, aku juga pingin ngobrol sama mas Herman juga." bisiknya lirih.


"Kak, Kak Zulfa pingin ngomong."


Namun belum sempat hp diberikan pada Zulfa,


"Ya, sudah kalau gitu." jawab Indah dengan sedih.


Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Zulfa yang masih menunggu telpon darinya.


"Maaf ya, Kak. paketan kak Herman habis. Jadi nggak bisa ngobrol dengan kakak. Insya Allah nanti kalu sudah sampai tujuan, dia akan menghubungi kakak."


"Ya sudah."


Terlihat kekecewaan di wajah Zulfa yang tak mampu dia tutupi. Membuat Indah merasa bersalah.


"Ya sudah, Pak. Ijazah-ijazah mas Herman, saya titipkan ke jenengan." kata Zulfa yang berusaha mengendalikan kekecewaannya.


Bagaimana dia tak sedih. Dia ke sini untuk bertemu dengan suaminya, tapi ternyata orangnya tak ada.


Dia menyerahkan berkas-berkas itu pada bapak yang ada di depannya.


"Ya, nanti saya sampaikan."


"Ya sudah, Pak. Kami pamit dulu. Terima kasih sebelumnya."


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Setelah mobil mereka meninggalkan pelataran kontrakan Herman, dia memasuki rumahnya, akan menyerah surat-surat penting itu pada empunya.


"Kamu ini apa-apaan sich, Man. Jauh-jauh keluargamu datang, malah kamu tinggal sembunyi."


Herman hanya diam sambil membuka amplop coklat yang dia terima. Dan mengecek isinya.


"Malu aku, Ziz."


"Tapi tak sebegitunya kali. Kasihan itu keluargamu, terutama istrimu."


"Sudah, jangan dibahas." jawab Herman memotong.


Dia sebenarnya sedih tapi tak tahu harus berbuat apa. Rasa gengsi dan malu telah menyelimuti dirinya. Sehingga dia pendam rasa rindunya dalam-dalam.


"Ya sudah. Itu urusanmu. Aku tak mau ikut campur."


Herman tersenyum tipis.


"Sepertinya, kita akan berpisah nich. Kamu ditempatkan di Batam."


"Doakan. Semoga kita sama-sama sukses."


"Aamiin, aku juga ditempatkan di Lampung. Alhamdulillah dekat keluarga." kata Aziz sambil menikmati kopi pahit kesukaannya.


"Ziz, aku pinjam pick up-mu?"


"Mau ke mana?"

__ADS_1


"Sudahlah."


"Akhirnya, ketahuan juga kalau kamu ada rindu sama mereka."


Herman tak menyahut, hanya wajahnya yang terlihat sedih.


"Mana kuncinya?"


Antara bertanya dan membuat pernyataan dia ungkapkan itu. Tapi Aziz memaklumi sikap sahabatnya itu.


"Nich." jawabnya sambil menyerahkan kunci.


"Aku pergi dulu ya ...." kata Herman berpamitan. Dia berlalu cepat ke arah mobil pick up yang terparkir di halaman. Dan segera menghidupkan mesin. Sepertinya dia ingin menyusul keluarganya.


Dari kejauhan Herman mengikuti mobil keluarganya, kemanapun mereka pergi.


Ada kesedihan yang dia simpan. Ketika melihat putra-putrinya, yang terlihat riang bermain di wahana yang ada di Ancol. Lalu juga pada Zulfa , yang sedang santai menemani mereka.


Setelah puas, berlahan-lahan dia meninggalkan mereka. Hanya sayang dari jauh Ayas melihatnya. Antara yakin dan tidak, Ayas datang menghampiri Herman.


Namun baru beberapa langkah dia berjalan, rupanya Herman melihatnya. Herman segera melajukan mobil pick up itu dengan cepat. Sehingga Ayas tak bisa mengejarnya.


Sesaat Ayas diam terpaku, menatap kepergian Herman. Dia sulit mengerti dengan apa yang dilakukan kakak iparnya itu, barusan. Kalau rindu mengapa tak mau bertemu.


Akhirnya dia kembali lagi ke tempat keluarganya yang sedang asyik bermain.


"Dari mana, Mas?"tanya Indah.


"Ke situ sebentar." jawabnya singkat.


Tak mungkin dia menceritakan apa yang baru saja dia lihat. Takut akan melukai perasaan mereka. Apalagi Zulfa dan anak-anaknya.


"Sudah yok. Sekarang kita ke TMII."ajak Ayas.


"Ya, Mas."jawab Indah.


Indah menuju ke tempat Zulfa dan anak-anak. Tampak nafas mereka ngos-ngosan sambil tertawa.


"Gimana, mau main lagi?" tanya Zulfa.


Tak disangka, mereka kompak menjawab, "Mau ...."


"Lha, nafas sudah kayak gitu. Masih juga mau."


"Habis seru sich, Bunda." jawab Irwan.


"Iya, Bunda." Lika menimpali.


"Haaalllaaah, kamu mau nangis gitu." goda Adam.


"Hehehe..., habis agak takut sich. Tapi asyik dan seru." jawab Lika tak mau kalah.


"Adam, Lika, Irwan. Gimana kalau kita sekarang ke TMII?"Kata Indah.


"Dimana itu, Tante."tanya Irwan antusias.


"Ya, nanti bang Udin tunjukkan. Sekarang cuci tangan dan muka kalian di sana tuch!" kata Zulfa.


Tak perlu disuruh dua kali, mereka segera lomba lari untuk mencapai tempat itu. Lalu bergiliran membasuh muka dan tangan. Kembali dalam keadaan bersih.

__ADS_1


Zulfa memberikan handuk kecil agar tak ada tetesan air lagi.


__ADS_2