
"Halo."Indah memanggil.
"Ya, Indah ."
"Sekarang kakak di mana?"
"Aku ... dimanapun aku berada. Aku akan baik-baik saja." kata Herman gugup.
"Tidak begitunya sih, Kak. Mengapa sampai sekarang kakak nggak pulang."
Mendengar pertanyaan seperti itu, Herman tertegun. Masihkah tersisa rindu itu untuknya. Yang selama ini, telah membuat susah keluarga. Dan juga menelantarkannya. Jika bersama selalu membuat masalah, dengan kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Ah ... rasa sesal ini mengapa harus datang belakangan.
"Ya Rahmi, kapan-kapan kakak akan pulang. Tapi tidak sekarang. Doakan bisa secepatnya." ujar Herman di ujung telpon.
"Keadaan rumah baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah, sehat semua. Mama sehat, kak Zulfa dan putra putri mas Herman juga sehat. Bahkan usaha kak Zulfa sekarang berkembang pesat. Sudah kirim ke luar pulau."
"Benarkah?" Herman tertegun. Setahu dia Zulfa, tak memiliki usaha, tapi kini kok bisa berkembang pesat.
"Memangnya kakak iparmu, bikin usaha apa?"
"Oh ya, kakak nggak tahu ya ... kalau kak Zulfa bikin usaha kue kering selama ini. Alhamdulillah, Kak."
"Kakak turut senang." Herman selama ini melarang Zulfa bekerja. Malu, masak istri disuruh kerja, apa fungsi dia sebagai suami kalau begitu. Tapi dalam keadaan seperti ini, ternyata keadaan itu sangat membantu sekali. Dia semakin malu terhadap diri sendiri, tak mau tahu tentang istrinya.
Hingga sekian lama, dia tak bisa melanjutkan perbincangan.
"Tumben, kakak telpon. Ada apa?"kata Indah yang menyadarkan lamunan Herman seketika.
"Itu ... bisa kakak minta tolong?"
"Minta tolong apa?"
"Itu, ijazah-ijazah kakak, dan surat-surat penting lainnya, bisa dikirim ke kakak."
"Untuk apa, Kak?"
"Cari kerja, lah."
"Oh ... Bisa-bisa Kak."
"Tolong ambilkan di rumah mama. Minta tolong sama kakak iparmu, untuk mencarikannya.
"Lalu dikirim kemana?"
"Nanti aku kasih alamatnya."
"Oke, Kak."
"Assalamu'alaikum wr.wb."
"Wa'alaikum salam wr wb. "
Indah berfikir sejenak, ini bisa jadi
kabar yang menggembirakan untuk kakak iparnya. Tapi kalau mereka mau meneriman, tapi kalau tak, apa boleh buat.
Dia pun melangkah menuju rumah mamanya. Meski agak jauh, tapi saat ini dia ingin menempuhnya dengan berjalan kaki. Sambil menikmati pemandangan pagi yang cerah.
Seperti biasa, Indah tiba di sana sudah melihat kesibukan kakak iparnya di dapur.
Melalui pintu samping, dia menghampiri Zulfa.
"Assalamu'alaikum, Kak."
"Wa'alaikum salam, e ... ada apa Indah?"
Tak biasanya, adik iparnya itu bertamu sepagi ini.
"Sudah, kakak lanjutkan masaknya." kata Rahmi sambil mencari posisi yang pas untuk duduk di kursi kecil yang ada di dapur itu.
__ADS_1
"Mana mama, Kak?''
"Jalan-jalan ke kebun. Sama Lika, Irwan."
"Enak dong, nggak ada yang ganggu. "
"Bisa saja kamu, Dik."
Setelah dirasa nyaman, diapun mengungkapkan tujuannya.
"Gini, Kak. Baru saja kak Herman telpon ...."
"Benarkah?" kata Zulfa kaget.
Baru kali ini suaminya menghubungi keluarganya. Namun ada kesedian yang dia sembunyikan. Mengapa bukan dirinya yang dihubungi ....
Tapi diterimanya juga berita itu dengan senyuman, dan segera menghentikan pekerjaannya.
Dia menghampiri Indah, duduk di sampingnya. Terlihat kalau kakak iparnya itu menyimpan kerinduan.
"Kapan, dia menghubungimu?"
"Barusan saja, langsung aku ke sini tadi."
"Keadaannya bagaimana?"
"Sepertinya baik."
"Alhamdulillah."
"Lalu, itu saja?"
"Bukan. Mas Herman memintaku untuk mengirim surat-surat pentingnya. Ijazah, dll."
Zulfa mendengarkan dengan seksama.
"Ya, nanti aku cari."
"Bisa secepatnya, Kak Zulfa?"
"Iya."
"Wah kalau mengirim memakai jasa pengiriman barang, kakak ragu. Masalahnya ini dokumen-dokumen penting."
"Iya juga, sich." Terlihat Indah berfikir.
"Kakak ada ide?" ungkapnya.
"Kebetulan anak-anak sudah pada kangen sama ayahnya. Biar kakak antar saja dokumen-dokumen itu, gimana?"
Indah terlihat senang dengan ide kakak iparnya itu.
"Boleh juga."
Kata-katanya terhenti, saat ada telpon masuk. Ternyata dari Herman. Tapi sesaat, lalu tak menghubungi lagi. Khunudzan saja. Barangkali pulsanya habis.
Beruntung kemudian Herman mengirimkan wa. Sehingga bisa menjelaskan keperluannya.
Ternyata dia mengirimkan alamat.
"Ini Kak. Sekarang kak Herman ada di Jakarta."
"Oke, minggu depan kita ke sana, bagaimana menurutmu?"
"Kakak sama anak-anak?"
"Iya. Biar ngobati kangennya anak-anak juga."
"Emmm .... sepertinya aku kok pingin ikut juga, Kak."
"Ijin dulu sama suamimu."
"Pasti boleh. Nanti sekalian rekreasi ke TMII sama Monas sama-sama."
__ADS_1
"Ada saja kamu."
"Sudah Kak, aku pulang dulu. Aku tadi belum masak."
"Kamu ... Nich, kakak kasih masakanku." kata Zulfa sambil mengambil rantang dan mengisinya dengan masakan yang baru saja matang.
"Nach itu yang Rahmi tunggu." kata Indah tanpa malu-malu.
"Kak, aku juga mau beli keripik sukun dan pisangnya, 5 bungkus."
Setelah meletakkan rantang itu di meja. Diapun mengajak Indah ke ruang tengah yang penuh dengan kue-kue yang telah dibungkus ataupun sudah di pak.
"Bagaimana perkembangan di koperasi kantorku, Kak."
"Alhamdulillah, 2 hari sekali kirim."
"Ini Kak, uangnya."
Dia menyerahkan uang berwarna merah.
"Sebentar kembaliannya."
Zulfa ke kamar, mengambil kembalian. Meninggalkan Indah yang mencicipi keripik dan juga kue-kue yang lain. Yang selalu tersedia di dalam toples.
"Nich, kembaliannya."Indah menerima uang itu, tapi tak dimasukkan ke dalam dompetnya. Malah dia mengambil beberapa lembar uang merah lagi.
"Ini untuk mama, dan ini untuk Irwan dan Lika."
"Hem ... nggak usah Indah . Kakak sudah ada."
"Nggak boleh gitu, Kak. Aku memberikannya bukan karena apa-apa. Tapi Lika dan Irwan keponakanku. Pasti mereka seneng kalau dikasih tantenya. Kayak kakak nggak pernah kecil aja."
"Oke, nanti aku sampaikan ke mereka. Agar ditabung."
"Nach gitu dong, Kak. Biar aku ada semangat untuk berkegiatan."
"Ya. Terima kasih."
"Sudah, aku balik dulu. Mau nyiapin keperluan Mas dulu." kata Indah sambil menenteng masakan Zulfa dan juga keripik yang dia beli.
"Ya."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Zulfa menatapnya pergi dengan senyum bahagia atas berita yang dibawa Indah.
Sedangkan Indah pergi dengan gembira. Dengan dua rantang masakan dari Zulfa.
Lalu dia melanjutkan kegiatannya. Memasukkan masakan dalam mangkuk, untuk keluarga. Meletakkannya di atas meja makan.
Sedangkan yang lain, dibiarkan di atas wajan, untuk karyawannya nanti.
Tak lama, mama dan juga putra-putrinya datang dari acara Jalan-jalan nya. Wajah mereka terlihat gembira, dengan mentimun, cabe, kemangi dan sayur lainya, yang mereka petik dari kebun.
"Bunda, aku bawa ini."kata Lika sambil menunjukkan hasil kebun yang dia bawa.
"Wah, ini mau di masak apa?" tanya Zulfa.
"Nanti masak sayur bening ya, Bun." request mereka.
"Boleh. lauknya? "
"Begedel." usul Lika.
"Ikan gurami." Irwan menambahkan.
"Oke, nanti Bunda bikin semuanya. Tapi harus baik sikapnya dan rajin sekolahnya. Nggak boleh nakal."
"He ... he ... he, baik Bunda." jawab mereka hampir bersamaan.
"Bun, aku laper."
__ADS_1
"Ya, sudah. Sarapan dulu sana. Habis itu mandi cepetan. biar nggak telat sekolah."
"Asyik ...." teriak mereka. Bersegera mengambil piring setelah mencuci tangan dan kakinya, di pancuran dekat taman kecil, yang ada di pojokan halaman.