KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Alfa dan Maria


__ADS_3

"Ada apa, Pa."


Alfa tak memperdulikan pertanyaan Maria. Dia hanya memperhatikan apa yang tertulis dalam surat itu. Surat perceraian antara Herman dan putrinya. Dan hak asuh atas cucunya yang dua itu.


Kok bisa seperti ini, Alfa tak habis fikir. Edzel meninggalkannya tanpa kabar. Kini Maria kembali dengan kehancuran rumah tangganya. Apakah selama ini, dia telah salah mendidik mereka. Tak kurang-kurang dia memberikan kasih sayang pada keduanya. Mungkinkah bentuk kasih sayangnya yang salah.


Dimasa tuanya, tentu dia punya keinginan untuk ditemani anak-anak dan cucu-cucunya.  Sepertinya, itu hanya sebuah harapan yang sulit menjadi kenyataan.


"Ini surat perceraian dari Herman. Ada permintaan dari Herman, kalau anak-anak ikut dia."


"Btenarkah?" ucap Maria dengan wajah tertunduk. Dirinya tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Meski kesalahan itu pada dirinya, tapi tak bisa dipungkiri, kalau rasa sakit juga dia rasakan. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Karena bukan seperti ini, yang selama ini menjadi impiannya.


Mau tak mau, pernah bersama dengan sah, tentu telah mengukir banyak kenangan. Tidak semua pahit, ada pula kenangan-kenangan manis yang pernah terjalin di antara mereka.


Apalagi saat ini bayangan Mutia dan Aldo, sering mengusik angannya. Rasa berdosa dan bersalah selalu menghantuinya. Entahlah, sekarang keadaan mereka bagaimana. Apalagi dengan keadaan Mutia. Di mana dia sekarang, dan bagaimana keadaannya. Ini membuat mimpinya tak pernah indah ketika tidur.


"Kenapa kamu menangis, bukankah ini yang kamu inginkan?"


Maria tak bisa menjawab. Andai yang di depannya adalah bundnya. Ingin dia berlari dan menumpahkan apa yang di rasanya saat ini.


"Tidak, Papa. Tia dan Aldo adalah anakku."


"Berarti kamu menginginkannya, Bukan?:"


"Aku merindukannya."


"Berarti kamu menginginkannya."


Ada tetesan air mata di sudut matanya. Perkataan papa Alfa benar-benar menyentil hatinya. Seolah mempertanyakan kodratnya sebagai ibu. Yang selama ini terlupa ....


Alfa mengalihkan pandangannya, merenungi perjalanan hidupnya selama ini. Banyak harta, tapi tak mampu membuat dirinya bahagia. Bahkan kini hanya bisa menyaksikan putra-putrinya yang tak bahagia dengan hidupnya.


Alfa berharap, kedua anaknya tidak meniru dirinya. Cukuplah dirinya yang masuk dalam dunia hitam yang kejam. Dia mencoba menjadi orang tua tunggal bagi mereka, sejak istrinya meninggalkan. Dan gagal ....


"Papa, bisakah papa bantu aku." Maria memberanikan diri untuk ungkapan itu.


Alfa kembali menatapnya. Ada rasa bersalah terselip pada pandangannya. Menyesali dengan kemarahan yang dia tujukan pada Herman selama ini, yang berimbas pada putrinya juga.


"Untuk putriku dan cucu-cucuku, Papa akan bantu kamu."


Maria menatap Alfa seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dan sesaat kemudian dia berdiri, memeluk Alfa.


"Terima kasih Papa. Maria bahagia."


"Tapi ada syaratnya."


Tanpa berfikir panjang, Maria menganggukkan kepala, "Ya, Maria tak keberatan."


Alfa tertawa, melihat tingkah kekanakkan putrinya, "Bagaimanapun keadaanya,harus kamu laksanakan. Sanggup??"


"Maria akan coba."


"Nanti pada saatnya, papa akan katakan 3 syarat yang harus kamu lakukan."


"Dengan papa menerimaku kembali, itu sudah memberiku kebahagian sendiri. Maria pasti akan penuhi syarat papa."

__ADS_1


Alfa tersenyum tak lupa mengecup pucuk kepala putrinya.


💎


Tia kerasan sekali di rumah Irwan. Sudah hampir 3 minggu tak mau balik-balik ke rumah neneknya. Kemanapun  Zulfa pergi, Tia akan ikut. Ke pabrik, atau saat belanja. 


Irwan juga merasa senang dengan kehadiran Mutiara. Bikin rumah semakin berwarna, mana Tia tak bisa diam. Untuk Sementara  Aldo tak bisa menemui bunda Zulfa, tak ada yang menjemputnya. Lika sudah ke Surabaya. Sabar ya Aldo ....


"Kak Irwan, Nich aku bawain susu  dari Bunda."


"Makasih, Tia."


Irwan mengambil gerlas itu dari Tia. Menyeruputnya sebentar, dan meletakkan di samping laptop-nya.


"Kakak, ngerjain apa sich, serius banget?"


 


"Tugas kuliah, banyak banget. Sudah sana jangan ganggu kakak. Biar kakak cepat lulus."


Tapi Tia tak mempedulikan kata-kata kakaknya. Dia duduk di tepi ranjang Irwan.


 


"Mau temenin Kakak.  Tuch, ada buku!" Mata Irwan melirik ke arah rak yang ada di pojokan kamarnya. Tia mengambil salah satu buku bacaan. Membacanya sambil rebahan di atas ranjang Irwan.  Sampai tertidur pulas.


 


Setelah lelah, Irwan menyudahi pekerjaan. Menutup laptop-nya dan membereskan buku-bukunya. Baru dia menyadari keberadaan Mutia yang sudah tertidur dengan buku di hadapannya.


 


 


Kembali dari kamar Tia, Irwan berpapasan dengan Zulfa yang keluar dari ruang kerja.


 


"Bunda, baru selesai?"


 


"Iya, Wan."


 


"Jangan terlalu  dipaksakan, Bun. Jaga kesehatan." Zulfa tersenyum.


 


"Kamu dari mana?"


 


"Ngantarkan tidur Tia. Tadi tidur di kamar Irwan."

__ADS_1


 


"Iya, bunda sampai lupa sama Tia." Zulfa pun berlalu dari hadapan Irwan menuju kamar Mutiara. Setelah mencium dahinya dengan doa, Zulfa menuju kamar sendiri. Mengistirahatkan tubuh yang seharian ini telah digunakannya hingga lelah.


💎


 


Hari ini Zulfa sangat sibuk. Dengan setia Tia mengikutinya dan  tidak rewel. Waktu bobok siang, tetap bobok siang. Meski harus bobok di sofa yang ada di ruangan Zulfa. Sebagai hadiah karena selalu manis, Zulfa mengajaknya belanja sebelum pulang ke rumah. Membeli es cream kesukaannya dan keperluan lainnya.


"Kita beli peralatan sekolah dulu. Besok Tia harus sekolah. Biar pintar, kayak Kak Irwan dan kak Lika."


"Bener, Bunda?" ucapnya senang dengan mata berbinar-binar.


"Tapi dijemput Bunda ya .... Tia masih takut."


Zulfa menggangguk sambil menyentuh hidung Mutia, yang di sambut senyum cengir kuda Mutia. Lalu keduanya menuju mobil Zulfa yang terparkir di pinggir jalan.


"Ayo, Sayang." ajak Zulfa. Putri kecil itupun patuh. Dengan senyum cerianya dia mengikuti perintah Zulfa, masuk ke dalam mobil.


Setelah Mutia tenang dan memasang sabuk pengamannya. Zulfa pun menghidupkan mesin mobil. Membawanya ke jalanan, melaju dengan tenang.


Tiba rumah , Zulfa dibuat terkejut dengan adanya mobil polisi yang terparkir di halaman. Juga mobil lain, yang menyertai. Entah itu milik siapa.  Sepertinya ada seseorang di dalamnya. Sepertinya dia mengenal orang itu. Tapi tak bisa memastikan, karena kaca mobil tertutup rapat.


 


 Setelah memasukkan mobil ke garasi, dengan menggandeng Mutiara, dia memasuki rumah. Di sana dia mendapati 2 orang polisi yang sedang berhadapan dengan bi Atun. Dan seorang pria yang sudah beruban.


"Ada apa, Bi?"


Bi Atun diam menunduk, lalu meninggalkan Zulfa dan tamunya.


 


"Benarkah, anda Zulfa?" tanya polisi yang berdiri di hadapannya.


"Ya benar, saya sendiri." jawab Zulfa bingung tapi masih bersikap tenang.


Polisi itu menyerahkan sebuah surat kepadanya. Dengan cepat Zulfa membacanya, tampak raut wajahnya kaget dan sedih. Bagaimana mungkin dia melakukan apa yang dituduhkan itu.


 


"Saya ingin membawa cucuku." kata lelaki yang ada samping polisi yang satunya. Dia mendekati Mutiara yang berpegang erat pada baju Zulfa.


 


Pada saat yang sama, Irwan juga tiba  ....


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2