
Beginilah kalau sudah berjanji pada anak-anak. Mereka akan selalu menagihnya, kapanpun dan dimanapun.
Begitu aku katakan, kalau kita akan ke Jakarta di hari ahad 4 hari lagi, Setiap harinya, mereka selalu bertanya.
"Bunda, kok lama sih?"
Itu yang Irwan.
Lain lagi dengan Lika. Tiap bangun pagi akan selalu beriak,
"Hore, kita akan ke Jakarta."
Akupun dibuatnya tertawa. Lalu dengan mata yang masih suram amat dia akan menatapku,
"Bunda, sekarang hari apa?"
"Hari ...."
"Ya, bukan hari ahad. Masih lama dong."
Rasa kecewa akan tampak di raut wajahnya yang manis.
"Sebentar lagi sayang, kurang ... hari lagi."
Sambil kukecup pipinya yang masih bau acem.
Ah ... namanya juga anak-anak, kalau ada sesuatu yang membuatnya senang atau bahagia, dia akan selalu membagi-bagikannya sesama teman-temannya.
Dia memberi tahu setiap temannya bahwa esok akan pergi. Bak pengumuman baginda raja pada rakyat seluruhnya. Lika ... Lika ....
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu mereka pun tiba. Sejak sebelum tidur mereka sudah mempersiapkan diri, Baik barang, makanan kecil untuk perjalanan atau mainan. Jadi ingat masa kanak-kanak ....
Sampai-sampai lupa dengan baju gantinya. Nach, kalau ini jadi pr bunda dech ....
Begitu kuberi tahu kalau, kita akan berangkat malam-malam, sekitar jam dua. Dengan manis mereka sudah menuju tempat tidur ketika masih sore.
"Bunda, bangunkan kami ya ...."
"Ya, jangan khawatir."
🔷
Tepat di jam 2, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Kulihat melalui cendela kamar yan memiliki cedela menghadap halaman, benarkah itu mobil yang dijanjikan.
Ketika kulihat Ayas, suami Indah keluar. Akupun mengerti kendaraan ini yang akan kami pakai selama perjalanan ini.
Akupun menuju pintu. Menyambut kedatangan Ayas.
"Assalamu'alaikum .... Kak."
"Wa'alaikum salam ..., ya Dik."
"Sudah siap tho, semuanya?"
"Ini." kataku sambil menunjuk beberapa tas yang ada di sisi meja.
"Ibu-ibu kalau pergi, banyak banget yang dibawa."
"Kepunyaan Lika sama Irwan."
Sambil memindahkan barang itu ke dalam mobil, dibantu juga oleh Ayas.
"Aku bangunkan anak-anak dulu ya ..."
"Ya, mbak."
__ADS_1
Mungkin karena suara mobil tadi. membuat mereka bangun dengan sendirinya. Tanpa aku bersusah payah membangunkannya.
"Lika, Irwan. Ayo, kita sudah di tunggu Om Ayas."
Tanpa banyak drama, mereka turun dari ranjang. Keluar dengan sendirinya.
Mama juga sudah terbangun menghampiri kami.
"Ma, kami pergi dulu."Sambil mencium tangannya, yang diikuti anak-anakku.
"Hati-hati. Semoga kalian bisa bertemu Herman."
"Do'anya, Ma."
"Nek, kami pergi dulu ya ...."kata Irwan dan Lika hampir bersamaan.
"Ya, jangan jauh dari bundamu ya ...."
"Ya, Nek."
"Kami pergi dulu, Ma."
Ayas berpamitan.
"Ya."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Mama mengantar kami hingga ke depan rumah. Lalu kembali ke rumah dan menutup pintunya, ketika mobil yang kami kendarai meninggalkan halaman.
"Indah, nggak jadi ikut tho?"
Tak lama kita sampai di depan rumah Indah. Dia telah menunggu kami beserta putranya, yang usianya lebih tua 3 tahun dari Irwan. Dan juga seorang pria.
"Sudah kalian tak usah turun."
"Anak-anak di belakang ya ..."
Bersegera Lika dan Irwan berpindah ke kursi belakang. Yang disusul Adam, putra Indah dan Ayas. Setelah semua beres, Indah duduk di sampingku. Sedangkan Ayas duduk di depan bersama sopir yang kami sewa, bang Udin.
Akhirnya, kami pun berangkat. Menembus gelapnya malam, yang masih diselimuti kabut embun yang dingin.
Sengaja kami memilih perjalanan di waktu malam. Agar terhindar dari polusi dan juga kemacetan yang sering kali terjadi, kalau kami sudah keluar tol nanti.
"Sekarang kalian boleh meneruskan tidur. Nanti Bunda bangunkan kalau sudah sampai."
Memasuki waktu subuh, kami berhenti di restoran area. Untuk sholat subuh dan juga bersih siri sekaligus sarapan pagi dengan bekal yang kami bawa.
"Irwan, Lika, Adam, bangun." kataku.
"Sudah sampai tho, Bunda."ujar mereka sambil mengucek-ngucek matanya yang malas untuk terbuka.
"Sudah sampai tho, Bun?"
"Sholat subuh dulu."
"Ya, Bun."
Satu per satu dari mereka turun. Mengikuti Ayas dan juga bang Udin. Bersama-sama kita juga. Menuju masjid yang baru saja mengumandangkan azan.
Terlihat Lika, Adam maupun Irwan masih agak malas untuk melakukan kegiatan. Sambil menunggu Iqomah mereka merebahkan tubuhnya di samping Ayas.
Demikian juga Lika. Melakukan hal sama di sampingku.
__ADS_1
Tapi, alhamdulillah. Saat sholat mulai didirikan, mereka mengikutinya dengan sempurna. Serta mengikuti doa yang imam ucapkan.
Setelah itu, jangan ditanya. Tak dapat lagi dicegah, ketiganya sudah berhamburan keluar untuk bermain.
"Depan masjid saja, mainnya."teriakku.
"Ya, Bun." jawab mereka.
Lalu menghilang dari pandangan kami, yang masih membereskan peralatan sholat dan lainnya.
Ketika turun, kami dapati mereka sedang duduk-duduk sambil menikmati snack yang mereka bawa.
Lika berlari menghampiriku.
"Bunda, benarkah kita akan bertemu ayah."
"Semoga, Nak." Jawabku sambil mengecup keningnya.
"Kita sarapan dulu, atau mandi dulu."
"Sarapan dulu."Jawab mereka serempak dengan mata melirik pada kami beserta senyum lebarnya.
"Kalian?!"ujar Indah.
Kemudian Indah dan aku mengularkan perbekalan kami. Mengelarnya di atas tikar di samping mobil kami yang terparkir.
Begitu semua sudah kami siapkan, ternyata mereka tak datang-datang. Kemana mereka ....
Ternyata mereka sedang asyik menikmati pagi dengan jalan-jalan keliling rest area. Begitu Indah melambaikan tangan. Mereka segera datang dengan gembira.
"Asyik ...." kata Adam dan segera duduk manis di atas tikar.
"Cuci tangan dulu semua." kata Indah.
Tanpa banyak tanya, mereka pergi mencari kan untuk cuci tangan, meski dengan sedikit kecewa.
Tak lama sudah kembali. Siap menikmati masakan Zulfa yang sudah dipersiapkan dari rumah.
Sejenak mengistirahatkan perut, dengan menikmati sinar mentari yang mulai melukiskan warna pada alam dan. Segarnya udara yang berhembus berlahan, membawa kehangatan. Seperti membisikkan kata kerinduan pada kasih yang selama ini dinanti, namun tak kunjung berjumpa.
Satu persatu kami meninggalkan tempat untuk membersihkan diri. Agar nanti tampak cantik ketika berjumpa dengan orang yang hendak kita bagi akan kebahagiaan. Atau juga pada saudara yang sekian lama tak bersua.
Dengan keadaan segar kami melanjutkan perjalanan memasuki ibu kota yang terkenal macetnya.
"Alamatnya di mana, mas Ayas?" tanya bang Udin.
Segera Ayas memberikan alamat yang Herman kirim melalui wa.
"Ya ... ya .... Aku tahu daerah itu?"
Alhamdulillah, kami tak salah bawa orang. Karena kami tak pernah ke sini, tentu akan bingung. Bisa-bisa kami akan tersesat. Dan yang paling buruk, nggak bisa pulang. Na'udzubill ... he ... he ... he ....
Ternyata daerah yang kami datangi, benar-benar tersembunyi. Karena berada diantara gedung-gedung tinggi. Sungguh pemandangan yang sangat kontras. Itulah kesan pertama yang aku tangkap.
...
...
....
SELAMAT MEMBACA dengan bahagia
Jangan lupa like maupun votenya.
coment maupun saran juga boleh.
__ADS_1