KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Babak-babak Terakhir 5


__ADS_3

Hasan tak menyahutinya. Sehingga membuat Zulfa yang di seberang sana berfikir yang bukan-bukan. Apa dia masih cemburu dengan Herman. Karena tak sengaja   mengucapkannya.


“Papa, Papa sekarang di mana? Keadaan papa bagaimana? Nggak terjadi apa-apa kan?” Kalau ini kata-kata yang pertama keluar wah senang sekali. Tapi tak apalah  setidaknya Zulfa mengingatku.


“Papa?”


“Alhamdulillah Papa nggak apa-apa, enggak usah khawatir. Ini Papa sedang di TKP. Insyaallah  yang menabrak Maria maupun Irwan, bahkan yang menyerang mama Halimah sudah tertangkap. Mereka adalah orang yang sama.


“Oh. Alhamdulillah ... Terima kasih Mas.”


“Makasih doang ....”


“Ya ... Gimana, saling berjauhan.”


“Nggak kangen?”


“Hmm .... Mas Hasan ini lucu banget, masak nanya-nanya gitu. Ya tentu kangen lah.”


“Aku juga kangen. Cuman lagi tugas. Oke ceritanya besok saja. Mas mau bobok. Capek banget. Assalamu’alaikum. Muuuach ... Muuuach. I love you.


“Wa alaikum salam, I love you too.”


Hehehe .... Mengulang masa muda, yang protes silahkan menikah.


Kini tak ada lagi alasan untuk tidak bisa memejamkan mata secara sempurna.  Hasan pun merebahkan diri di sofa dengan hati tenang.  Berselimut mimpi indah, hingga  menjelang waktu subuh. Baru sadar kembali ketika  aroma  kopi  mengusik Indra penciumannya.  Rupanya ada minuman itu di atas mejanya. Mengepul-ngepul mengundang selera ingin menyeruputnya.


Hasan menyangka sudah berada di rumahnya. Karena aroma seperti ini biasa dia cium saat bangun tidur. Dia pun segera membuka mata.


“Kapten, kopi.”


Hasan tersenyum, mentertawakan dirinya sendiri ketika menyadari bahwa dirinya masih berada di rumah Bobby. Aduh mimpi ... Kebayang-bayang deh.  Apa ini karena efek pengantin baru ya?


“Oh iya makasih.” Hasan segera menyeruput apa yang sudah disediakan oleh  salah satu anak buahnya. Agak beda sih, tapi cukup bisa untuk mengusir rasa kantuk.


Setelah matanya terbuka secara sempurna, baru dia menyadari kalau Steve sudah tidak ada bersamanya.


“Mana Steve?”


“Dia pergi kira-kira 30 menit yang lalu sebelum kapten bangun. Katanya sih untuk mengejar pesawat. Dan dia juga membawa wanita-wanita Australia yang kita selamatkan bersama.”


“Emmm .... Aku mengerti.” Hasan pun meninggalkan anak buahnya menuju kamar mandi untuk bersuci diri, bersiap-siap melaksanakan shalat subuh.


Tepat setelah shalat subuh yang mereka lakukan secara jamaah, datanglah kendaraan dari kepolisian yang akan mengangkut segala barang bukti yang ada di TKP untuk dibawa ke kantor kepolisian.


Setelah semuanya beres, dia kembali ke kota mengikuti rasa rindunya. Langsung datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Irwan dan juga Zulfa, tanpa mampir dulu ke kantor.


“Assalamualaikum, Bunda.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam.” Senyum merekah di bibir Zulfa. Tak menyangka suaminya sepagi ini sudah datang menjenguknya. Jadi teringat dengan kejadian tadi malam tanpa sengaja membuat suaminya cemburu.


Untuk itu demi mengobati rasa cemburunya, Zulfa segera mendekat dan memeluk suaminya. Meski badan Hasan masih berbau dan juga kumuh, maklumlah belum ganti baju sejak kemarin.


Disambut seperti ini rasanya hati berbunga-bunga banget. Hilang  sudah ingatan tentang kejadian semalam, bahkan tak berbekas.


Irwan yang menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya hanya bisa senyum-senyum. Ye ile ... Pengantin baru.


“Bagaimana Wan, lukamu?”


“Kurasa sudah lebih baik, Pa. Bahkan kita semua hari ini sudah diizinkan untuk pulang.”


“Benarkah? Alhamdulillah. Akhirnya pernikahanmu bisa terselenggara di rumah tanpa perlu di rumah sakit. Papa nggak bisa bayangkan kalau itu terjadi. Pasti bikin heboh seisi rumah sakit dah.”


“Ada saja Papa ini. Kita bawa semua keluarga Shaffa ke rumah kita ya Pa.”


“Itu kan rumahmu, Wan. Kenapa mesti izin ke Papa. Tapi papa sarankan untuk mengembalikan Shaffa dan Ayahnya ke rumahnya saja. Biar pernikahan itu diselenggarakan di rumahnya sesuai dengan apa yang direncanakan. Sudah enggak ada lagi yang perlu dicemaskan.”


“Maksud Papa? Apa Papa tak suka kalau mereka ada di rumah kita?”


“Bukan begitu, Wan. Bahkan kalau mereka kamu ajak ke rumah, itu hakmu. Karena itu rumahmu. Itu semata-mata karena Heru bukan lagi Ancaman bagi kalian. Mengertikan maksud Papa.”


Irwan pun menganggukkan kepala tanda kalau dia dapat memahami apa yang dikatakan oleh Hasan.


“Apa Papa akan meninggalkan rumah secepat ini?”


“Lega rasanya kalau Papa bilang seperti itu.”


Tak lama kemudian Malika datang beserta krucilnya yang sudah lengkap memakai baju seragam sekolah. Sesuai jadwal,  Malika yang akan menggantikan Bunda untuk menemani Irwan di rumah sakit. Dan sorenya mereka akan pulang bersama-sama.


“Rasanya Papa bau sekali. Papa mau pulang dulu ya.”


“Ya, Pa.”


“Aldo Tia, sekolah yuk. Bunda antar.”


“Kak Irwan cepet sembuh ya. Tia udah kangen.”


“Makasih Tia. Nanti sore Kak Irwan akan pulang. Sudah sana belajar yang rajin.”


Mereka meninggalkan tempat itu. Baru juga beberapa langkah meninggalkan tempat itu, Hasan menghentikan langkahnya.


“Maaf Bunda. Aku ada perlu sebentar. Tunggu saja di tempat parkir.”


“Baik, Pa.” Tia dan Aldo mengikuti langkah Zulfa. Sedangkan Hasan berbelok ke arah yang lain yaitu tempat perawatan Herman.


Di sana dia mendapati Herman sudah sangat lebih baik, bisa duduk di tepi ranjang ditemani oleh Steve dan juga Hanum. Di atas ranjang mereka, terdapat baju koko dan juga baju kebaya yang masih baru. Tentu itu menimbulkan suatu pertanyaan pada Hasan. Apa itu untuk Irwan atau untuk ....

__ADS_1


Tapi malu juga untuk bertanya.


“Steve, Aku kira kamu sudah balik ke Australia.”


“Belum. Aku dengar kabar Kalau keponakanku mau menikah. Jadi aku urungkan aja ingin menyaksikan kebahagiaan mereka.”


“Benar. Lusa di rumahnya.”


“Syukurlah aku pulang ke Indonesia ini mendapatkan banyak kebahagiaan. Tugasku selesai dengan baik, lalu menyaksikan kebahagiaan keponakanku dan  Ayahnya.”


“Maksudmu?”Timbul prasangka yang bukan-bukan dalam diri Hasan.  Apa maksudnya? Apa mereka akan menikahkan Irwan di keluarganya yang ada di kampung, tidak di rumahnya sendiri. Atau bagaimana? Dengan menyiapkan baju pengantinnya ....


“Jangan curiga dulu. Herman hari ini juga mau menikah sama Hanum biar ada yang merawat.”


“ Alhamdulillah ... Akhirnya kamu dapat pasangan juga Herman.”


“Dia harus bertanggung jawab karena melukaiku.”


“Pemaksaan.”


“Dianya mau kok”


Terlihat Hanum senyum-senyum dan menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


“Jam berapa. Biar anak-anak nanti aku bawa ke tempat kalian.”


“Ba’da Maghrib.”


“Ok.”


“Mereka akan Aku beri hadiah bulan madu ke Australia,” kata Steve.


“Wah, kalah aku sama kamu. Belum mengajak istriku bulan madu.”


“Ada-ada saja kamu. Oh ya, kalau boleh aku mau ngajak anak-anak ke Australia.”


“Nggak ganggu bulan madumu apa?”


“ Ada pengasuhnya di sana.” Matanya melirik kearah Steve.


“Beres. Sudah lama aku ingin ajak keponakanku berlibur ke sana seperti pada saat aku mengajak Irwan dan Malika ke sana waktu kecil dulu tan ... pa ... a ... yah ... nya.” Sengaja kata itu diperjelas agar Herman mengerti akan kesalahan masa lalunya bikin orang gemmeeees....


“Ya sudah kalau gitu aku mau balik sama istriku tercinta, ... Zul ...fa. Assalamualaikum.” Sengaja ngompori-ngompori. Agar agak panas hati gitu lho ...


“Wa Alaikum salam ...” Herman membuang nafas beratnya sambil tersenyum. Semua berhak bahagia, baik itu Zulfa atau dirinya. Kalau itu tak bisa membawa dirinya bahagia, jangan salahkan orang. Tapi salahkan diri yang tak bisa bersyukur.


END

__ADS_1


__ADS_2