KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Belanja


__ADS_3

Kini mobil Hasan melaju tenang, menyibak jalanan kota yang ramai oleh kendaraan. Hendak menuju ke tempat apa yang menjadi permintaan dari wanita yang ingin dipersuntingnya.


Alhamdulillah di sana, Tia dan Aldo baru saja keluar. Hingga tak perlu mereka menunggu lama.


"Assalamualaikum ... Bunda." salam ke duanya, saat berjumpa. Tak lupa mencium tangannya.


"Wa alaikum salam ...Gimana sekolah kalian."


"Menyenangkan. temanku ... bla ... bla ... bla...."


Kalau ditanya soal begini, jawaban Tia pasti panjang kali lebar kali tinggi juga. Beda dengan kakaknya.


"Baik." jawab Aldo. Singkat dan padat.


Hasan ikut merasa bahagia ketika melihat senyum Zulfa bersama anak-anak. Dia jadi tergoda untuk menampakkan diri di hadapan mereka.


"Om Hasan jemput kami?"


"Memang dilarang."


"Tumben saja, kak Jamilah mana?"


"Masih sekolah, kan nggak libur ... Om hanya ingin ajak kalian makan."


Jangan ditanya dua kali. pasti jawabannya adalah teriakan ceria dari keduanya.


"Wah, bener om."


Hasan mengangguk.Dia membukakan pintu mobilnya lebar-lebar, agar mereka segera masuk.


"Asyiiiik ... makasih, Om."


"Ayo masuk."


Tawa ceria menghias bibir mereka ketika harus menunduk untuk melewati lengan Hasan yang masih memegang daun pintu mobilnya.


Setelah mereka sudah duduk manis di kursi belakang, Hasan menutup pintu mobilnya. Lalu dia menuju kemudi yang diiringi Zulfa dari pintu lainnya.


"Bagaimana sudah lapar." sambil melirik wanita di sampingnya.


"Sangat ..." jawab Zulfa.


"Oke."


Hasan membawa mereka ke rumah makan lesehan yang ada di tempat itu.


"Kalian pesan apa?" tanyanya pada krucil-krucil yang dibawanya.


"Biasalah. Ayam goreng." jawab Tia.


"Aldo?"


"Sama." begitulah jawabnya . selalu singkat.


Setelah memesan menu yang mereka inginkan. Mereka menunggu dengan sabar dan mengobrol ringan. Membiarkan Tia dan Aldo bermain-main.


Zulfa yang sejak malam penasaran dengan maksud di balik ini semua, ingin segera bertanya. Apalagi sejak bertemu, Hasan selalu senyum-senyum, terlihat sangat bahagia.


"Mas, kok bahagia banget, macam dapat Lailatul Qadar saja?"


"Apa tak boleh."


"Boleh banget, siapa tahu aku ketularan bahagianya."


Tapi yang ditanya masih pikir-pikir. Sepertinya masih lama untuk menjawab.


"Apakah ini soal calon mamanya Jamilah?"


"Tepat ...."


Aduh, kalau mau ngomong serius kok selalu kelu lidah ini.

__ADS_1


"Selamat ... kenapa nggak ngajak orangnya saja, justru ngajak aku."


Karena orangnya itu kamu.


Mau mengungkapkan tapi masih bingung mengawalinya. akhirnya dirinya hanya mampu berbisik dalam hati saja.


"Mas hanya mau kamu yang nemeni."


"Lha, nanti nggak cocok dengan seleranya."


"Aku jamin pasti cocok."


Entahlah, untuk mengucapkan 'karena dia adalah kamu' rasanya kok lidahku masih kelu.


Beruntung pramusaji datang. Sehingga tak perlu lagi berlama-lama memberikan penjelasan.


"Kita makan dulu, yuk."


"Iya, aku juga sudah laper."


Melihat makanan yang sudah tersaji, Mutia dan Aldo menghampiri mereka dan segera mencuci tangannya.


Mereka dengan manis, duduk bersama. Menikmati apa yang ada dalam piring mereka dengan lahap tanpa suara.


Tak lama kemudian mereka sudah menghabiskan apa yang ada, tanpa sisa.


"Alhamdulillahi lladzi ath amana wa saqona wa ja'alana minal muslimin."


"Alhamdulillah ..." jawab Hasan, melihat mereka berdoa dengan khusyuk, dibimbing Zulfa."


"Sudah?"


"Sudah, sudah kenyang." jawab mereka riang.


Sementara Hasan menyelesaikan pembayarannya, Zulfa menggiring mereka ke mobil yang ada di tempat parkir.


Tak lama kemudian, Hasan sudah menyusul.


"Ya, sudah. ayo." ajaknya.


"Nggak keberatan ... nemenin aku belanja."


"Nggak masalah. Cuma aneh aja." jawab Zulfa santai.


Mungkin karena perut sudah kenyang, capek bermain dan belajar di sekolah, Tia dan Aldo tertidur dengan manis di bangku tengah. Ketika mobil sampai di depan sebuah toko perhiasan.


Zulfa mengekor saja kemana Hasan melangkah.


"Coba pilihlah yang sekiranya itu cocok dan kamu suka."


"Sebenarnya aku suka emas putih dari pada mas yang kuning. Tapi apa dia suka."


"Dia pasti suka." jawab Hasan.


"Bagaimana yang ini, Mas."


Cukup menarik juga apa yang dipilih Zulfa, dan elegan.


"Bagus. Sekalian kalung, anting dan gelangnya juga."


"Lha ini lamaran atau pernikahan, kok lengkap banget."


"Cincin untuk lamaran. Yang lainnya untuk mahar. Dari pada balik-balik beli."


"Baiklah. Pasti seneng dianya." gumam Zulfa.


"Aku harap begitu."


"Oh ya, aku lupa. Tolong pilihkan untuk Jamilah yang menurutmu cocok."


"Wah, mas takut Jamilah cemburu ya ..."

__ADS_1


"Cari amannya saja."


"Biasanya ada istilah Suami Takut Istri. Ini Suami Takut Anak, hehehe ..." ledek Zulfa.


"Terserahlah. Yang penting kita bahagia."


"Iya." kata Zulfa sambil memperhatikan perhiasan di hadapannya. Memilih sekiranya yang cocok untuk Jamilah.


"Cuma aku ragu. Apa Jamilah mau memakainya."


"Kalau kamu yang makaikan, dia pasti mau."


"Ya, mamanya lah ... masak harus aku."


"Ya bener, mamanya." kata Hasan menatap Zulfa lekat. Tapi Zulfa tak menyadarinya, sibuk memilih-milih perhiasan.


"Ku rasa yang ini cocok untuk putrimu."


"Bagus sekali pilihanmu." kata Hasan saat memperhatikan perhiasan yang dipilih Zulfa untuk putrinya.


"Ya sudah, ini semua mbak."


Dia menyerahkan semua perhiasan yang dipilih Zulfa pada mbak pelayan toko perhiasan itu.


Tak berapa lama menunggu, Perhiasan itu sudah mereka terima sekaligus dengan tempat yang menarik pula.


"Lalu, kita kemana lagi Mas."


"Kita cari baju untuknya dan juga peralatan sholat."


"Nanti nggak cocok ukurannya, kan percuma, nggak bisa dipakai."


"Dia sama dengan kamu bahkan persis sekali. Makanya kamu yang aku ajak."


"Oh gitu ... baiklah."


Zulfa mengiringi jalan Hasan yang menuju ke sebuah butik. Mereka masuk ke dalam dan melihat-lihat pakaian yang terpajang.


"Pilihlah tiga, dan cobalah. Aku ingin lihat."


"Mas! ... haruskah aku yang coba lalu bergaya di depan mas."


"Oh ya maaf. Bener itu ... aku nanti makin jatuh cinta padamu."


What's?


Mas Hasan ini ngomong apa, makin nggak ngerti aku.


Melihat Zulfa bingung dan gugup, Hasan segera berkata," Maksudku cobalah, nggak usah kau perlihatkan padaku. Justru kalau kamu tak mau coba, khawatir dia tak cocok."


Zulfa mengangguk, meski nggak ngerti-ngerti amat arah pembicaraan Hasan.


"Kira-kira yang ini dia suka?"


Zulfa menunjukkan baju dengan perpaduan warna pink dan silver. merah marun, putih tulang pada Hasan.


"Pasti. Dan kurasa cocok sekali dengan warna kulitnya."


Jawaban yang membuat Zulfa mengangkat alisnya. Sebegitu perhatian mas Hasan dengan calonnya, hingga warna kulit pun disebutkan di hadapanku.


Selesai memilih baju, kini menuju peralatan sholat.


"Mas kita beli yang sudah jadi aja ya.. biar nggak ribet bungkusnya nanti."


"Kalau sudah dibungkus, kamu nggak tahu kwalitasnya. Sudah pilih aja, nanti aku kirim ke jasa pembungkus hantaran."


"Baiklah. Oh ya mas. Untuk sepatu/sandal, peralatan rias."


"Benar juga. Aku nggak kepikiran soal itu. Dah deh ... apa yang belum, kamu ambil saja. Aku tinggal bayar."


Diberi kode seperti itu, Zulfa langsung faham. Di menuju peralatan wanita dan diberikan pada penjaga toko.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Kurasa sudah cukup."


"Makasih Zulfa. Aku ketolong dengan adanya kamu."


__ADS_2