
"Baru saja berangkat, Yah."
"Ya sudah, Lika. Ayah berangkat dulu."
"Baik, Yah."
Herman memutar mobilnya, kembali melanjutkan perjalanan.
"Alhamdulillah Irwan sudah kirim lokasi. " guman Herman.
Meskipun tidak bersama, tidak sampai tersesat. Semoga ....
💎
Perjalanan yang sangat lama. Hampir 6 jam, baru tiba di tempat yang dituju.
Di sebuah rumah yang cukup asri, meski tidak megah-megah amat. Terlihat 2 anak kecil yang sedang bermain riang di depan rumah. Menikmati panasnya matahari dengan bermain air. Dengan saling mengarahkan slang ke tubuh masing-masing.
"Tia, kakak kan jadi basah." Rohman mencoba menghindar.
"Kakak duluan yang menyiram Tia." kata Tia tak mau kalah.
Sudah kalau gini, adanya akan membuat boros air. Redha sampai geleng-geleng kepala.
"Rohman, sudah. Kamu matikan krannya."
Segera Rohman mematikannya.
"Tia, Rohman. Kalau sudah, mandi sana!"
Keduanya berlari masuk rumah, meninggalkan Redha yang masih menyiangi anggrek dan bunga-bunga yang lain.
"Assalamu'alaikum, Bunda Redha ...." sapa Zulfa dari balik pagar. Secara sekilas, dia melihat anak perempuan masuk ke dalam rumah. Tapi belum bisa memastikan, apakah itu Mutia atau bukan.
"Wa alaikum salam ...." Redha segera menghampiri, lalu membukakan pintu gerbangnya lebar-l ebar. Agar mobil itu bisa masuk.
"Ayo dimasukkan saja. Biar nggak ngeganggu mobil yang mau lewat."
"Baik, Bu." jawab Irwan.
Sementara Irwan memasukkan, Redha mengajak Zulfa memasuki rumahnya.
Terus terang, Redha agak deg-degan juga. Untunglah, Tia belum melihat kedatangan Zulfa. Dia belum siap melepas Tia. Kalau bisa tinggal, itulah harapannya. Biarlah mereka yang memelihara dan mengasuhnya.
Tapi tanpa disangkanya, tiba-tiba Tia masuk ke ruang tamu, dengan pakaian yang belum rapi benar. Untuk beberapa lama, dia terkesima. Hanya bisa berdiri mematung, memandang orang yang sedang duduk di samping mama barunya.
__ADS_1
"Bunda." bisiknya lirih. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Saat itu Zulfa belum menyadarinya, sedang asyik cipika-cipiki dengan Redha. Kebisaan lama kalau sedang jumpa sahabat. Apalagi sahabat akrab, seperti sebuah keluarga. Tapi untuk menanyakan langsung tentang Mutia, masih ragu. Jadilah pembicaraan itu, berputar-putar.
Tak tahan untuk segera melepas rindu, Tia berlari dan berteriak ke arah Zulfa.
"Bunda Zulfa ...."
Zulfa segera menengok ke arah sumber suara. Dia benar-benar terkejut, siapa yang kini berlari ke arahnya.
"Mutia .... Bunda merindukanmu, Sayang." sambutnya,dengan memeluk tubuh Mutia erat. Serta mencium pipi dan dahi Mutia. Tak terasa air mata kebahagiaan menetes di pipi Zulfa maupun Mutia.
"Bunda Zulfa, jangan pernah tinggalkan Tia. Tia takut."
"Tidak, bunda tak kan tinggalkan kamu lagi. Jangan takut." Lama Mutia menatap Zulfa, seakan belum percaya, kalau dia akan bertemu dengannya lagi.
"Bunda Zulfa ... Kenapa aku punya Bunda yang jahat. Bunuh nenek, Ayah juga. Ayah sampai berdarah. Kak Aldo menangis, Tia takut, bunda tak perduli. Bahkan bunda membuang Tia ke sini. Tia tak bisa pulang, tak tahu jalannya untuk pulang. Untunglah umi abi sayang Tia ...." Mutia terus saja bercerita. Meski air mtanya tak bisa dicegah untuk keluar.
Apa yang selama ini dipendamnya. Dan masih menjadi rahasia dirinya seorang. Yang tak mampu dia ceritakan pada siapapun, baik pada umi dan abi Ridwan, orang tua asuhnya di panti. Kita lolos begitu saja. Entahlah, pada Zulfa dia mampu membuka suara.
"Sudah Sayang, jangan menangis." Zulfa mengusap tetesan air mata Tia yang masih tersisa, dan membelai kepalanya dengan lembut.
Tak berapa lama, terdengar suara mobil lain masuk ke halaman rumah Ridho.
"Bunda Zulfa, benarkah itu suara ayah."
"Benar, Sayang. Itu suaranya ayah." jawab Zulfa dengan mata berbinar-binar.
Segera dia turun dari pangkuan Zulfa. Berlari menuju beranda depan. Menjumpai pemilik suara itu. Beberapa saat saat dia tertegun di pintu. Seakan tak percaya, orang yang dirindukannya, sekarang telah berada di depan mata.
"Mutiara, Sayang. Ke sinilah, Nak. Ayah merindukanmu." kata Herman lembut.
"Ayah ...." teriaknya sambil berlari ke arahnya. Yang disambut pelukan hangat Herman. Sungguh dirinya sangat rindu dengan putri kecilnya ini. Hingga tak habis-habisnya mencium pucuk kepala Mutiara.
"Benarkah ini ayah?" tanyanya dengan penuh kegembiraan.
"Benar, Nak. Ini ayah."
"Alhamdulillah .... Ayah selamat."
"Ya, Anakku. Ayah masih hidup dan selamat." Tak terasa air mata Herman menetes.
Oh, Putriku. Ternyata semua masih jelas dalam ingatanmu akan peristiwa itu.
Herman memeluknya tak ingin melepaskannya walau hanya sesaat. Hingga Ridho dan Halimah terharu menyaksikannya. Tak terkecuali Aldo yang masih memegang tangan Halimah.
__ADS_1
Halimah bahagia sekali. Ingin dirinya segera memeluk cucunya. Tapi rupanya Herman belum juga berniat melepaskan Tia dari pelukannya. Sampai mereka duduk di beranda. Dan Tia melihat neneknya yang meneteskan air mata.
"Nenek kenapa menangis." Dia turun dari pangkuan Herman, mendekati Halimah.
"Nenek, kenapa diam."
"Nenek bahagia Tia, ketemu kamu."
"Tia sayang nenek."segera Tia memeluk neneknya dengan manja.
"Nenek juga sayang Tia."
Ridho masih diam dan duduk membersamai mereka. Tak mau mengganggu keharuan sebuah keluarga yang sekian lama terpisah, sekarang bisa berjumpa kembali.
Setelah Herman selesai melepas kerinduannya dan Tia sudah tak ada bersama mereka, Ridho mencoba memberanikan diri bertanya.
" Adikku bilang, Tia diletakkan begitu saja di depan pintunya, dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan maaf, setiap kita bertanya, siapa yang mengantarmu ke sini. Tiba-tiba, Tia tak sadarkan diri. Sepertinya Tia trauma. Sebenarnya apa yang terjadi."
Herman secara singkat, menceritakan kejadian malam itu. Dan mungkin karena itu pula, Tia menjadi sangat trauma.
"Benarkah seperti itu. Na'udzubillahi min dzalik ... Benarkah ada seorang ibu yang memperlakukan putri kandungnya seperti itu." ucap Ridho spontan.
Herman tertunduk sedih. Bagaimanapun ini menunjuk bahwa dirinya lemah tak mampu mendidik istrinya dengan baik. Membuat Ridho merasa bersalah juga.
"Oh, maaf. Bukan maksudku seperti itu."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya lah yang bersalah, tak bisa melindungi Mutiara." Terlihat raut wajahnya menampakkan kesedihan. Bikin nggak enak hati Ridho.
"Silahkan diminum Pak, tehnya." Ajak Ridho agar kesedihan di hati Herman sedikit berkurang.
"Iya, terima kasih."
Diapun menyeruputnya dengan senang hati.
Sementara di dalam rumah, Redha sedang menyiapkan makan untuk Zulfa dan keluarganya. Keinginan untuk meminta Tia agar diperbolehkan tinggal di rumahnya, dia simpan dalam-dalam. Melihat Tia yang sangat lengket pada Zulfa. Tak ingin dirinya memisahkan anak dengan keluarganya. Cuma satu yang jadi masalah. Bagaimana dengan Rohman ...
Dengan wajah lesu, dia akan kembali ke kamarnya.
"Rohman," panggil Redha.
"Ya, Ma." jawabnya tanpa bersemangat. Tapi tetap menghampiri mamanya.
"Ada apa, kok sedih?"
"Adik Tia mau pergi ya, Ma."
__ADS_1