
Itu adalah telpon yang pertama dan terakhir bagiku, untuk dapat berbicara langsung derngan mbak Zulfa. Karena setelah itu, tak pernah lagi bisa kuhubungi, mungkin nomorku sudah diblokir olehnya.
Entah mengapa mas Herman tak melarang ataupun menyarankan agar aku bisa menghubungi mbak Zulfa kembali.
Tapi yang kutahu, semakin ke sini, mas Herman semakin mesra saja. Hanya saja yang sering membuatku bertanya-tanya, setiap selesai menyentuhku, dia selalu mengambil minuman keras. Pergi ke halaman depan atau belakang rumah.
Selama itu dilakukan tidak di luar rumah, dan pada saat anak-anak sedang tidur, tak ingin diriku mengusiknya.
Aku tak berani untuk bertanya apalagi lagi mencegahnya. Namun aku selalu berdoa, supaya kabut dalam rumah tanggaku, segera sirna. Meski aku tak tahu cara berdoa itu bagaimana. Dengan keyakinanku yang baru, aku belum tahu apa-apa.
Kini, putraku yang pertama sudah berumur tujuh tahun, sedangkan putriku yang kedua kini berusia hampir 5 tahun. Namun kebiasaan mas Herman tetap sama. Diriku sudah tak bisa marah lagi, tapi hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
Malam itu, setelah mas Herman menyentuhku.Dia diam duduk di tepi ranjang, seperti ada yang dipikirkan.
"Maria, aku takut. Dapatkah Zulfa dan anak-anak memaafkanku."
"Mas, jika mas seperti itu, apalagi aku."
"Apa mas salah, waktu mengambil keputusan menikahi kamu. Sebagai bentuk pertanggung jawaban mas."
"Mengapa mempertanyakan keputusan mas sendiri ?" jawabku tak peduli. Karena kata-kata itu, memberikan goresan pada hatiku yang mulai rapuh. Tapi sedapat mungkin kucegah air mata ini keluar.
Sebesar apapun cintaku yang tumbuh untuknya, tak mampu menggeser sebuah nama dalam hatinya. Haruskah aku mengalah .... Tidak ... aku tak bisa. Biarlah ini berjalan apa adanya. Hingga aku lelah ....
Malam ini telah mendekap kami dalam kebisuaan. Sampai dirinya meninggalkanku dalam selimut sesal.
Dan seperti biasa, mas Herman mengambil minuman itu lagi, untuk menenangkan dirinya. Apakah dalam keyakinannya begitu cara untuk menenangkan diri. Bukan berdoa ....
Aku sering dibuatnya bertanya tentang apa yang dianutnya. Tak seperti orang-orang yang selama ini kukenal dengan keyakinan yang sama.
Hari masih sangat gelap, ketika sebuah tangan menguncang tubuhku.
"Maria ...."
Segera ku terbangun dari tidurku yang tak nyenyak sepanjang malam.
"Ada apa, Mas."
"Entahlah, perutku sakit sekali." dengan terseok-seok, dia menuju kamar mandi, memuntahkan seluruh isi perutnya. Lalu dia jatuh terduduk beberapa langkah dari pintu kamar mandi.
"Aku tak kuat, Maria." Dia terkulai lemas. Memejamkan matanya seperti akan pingsan .
Dengan cepat, Maria memapah tubuhnya menuju tempat tidur. Mengambil air hangat, membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih. Lalu dia mengambilkan minuman hangat. Setelah meminum minuman itu, Herman pun tertidur.
Sementara dirinya sibuk membersihkan sisa-sisa muntahan yang ada. Sampai tak terasa matahari menampakkan wajah di ufuk cakrawala.
Maria melanjutkan aktifitas sebagai biasa. Menyiapkan sarapan untuk anak-anak,dan mengantarkan mereka ke sekolah. Dan juga menyiapkan bubur untuk Herman.
"Mas, sudah bangun." sapa Maria yang masuk ke kamarnya dengan membawa napan. Yang berisi bubur dan juga minuman hangat.
"Tak terasa kalau sudah pagi."
"Mas, kelihatan pucat. Hari ini nggak usah masuk saja."
"Aku sudah segar, Maria. Tak alasan nggak masuk. Apalagi hari ini mas harus observasi proyek yang mau dikerjakan."
__ADS_1
"Tapi Mas belum sehat."
"Jangan khawatir, mas baik-baik saja."
"Ya sudah. Mas sarapan dulu. Aku siapkan air hangat."
"Anak-anak sudah berangkat?"
"Sudah. Aku yang antar."
"Kenapa nggak bangunin aku."
"Kelihatan mas masih belum baikkan, nggak berani."
Herman menlanjutkan sarapannya hingga tak tersisa. Lalu mandi dengan cepat. Memakai baju yang sudah disiapkan Maria.
Sementara Maria membereskan peralatan makan Herman. Membawanya ke dapur dan membersihkannya. Setelah semua beres, dia menuju ke depan, mengantakan Herman sampai pintu dan mendapatkan ciuman kecil di pucuk kepalanya.
"Jaga rumah, istriku yang manja."
"Mas juga, jaga kesehatan."
Berlahan mobil keluar dari garasi kecil mereka, menuju jalan yang ada di kompleks, sebelum menuju jalanan kota Batam yang tak pernah lenggang.
Untuk sementara Maria bisa terbebas sejenak, dari rutinitas yang kadang membuatnya lelah. Setelah membersihkan rumah sekedarnya, dia merebahkan diri. Untuk membayar hutang istirahatnya semalam.
Cukup lama juga, Maria tertidur. Dia baru terbangun manakala, menderngar bunyi telwpon dari HP-nya. Dengan cepat dia mengangkatnya.
"Mbak Maria?"
"Pak Herman, sekarang di rumah sakit." Hal yang dia khawatir terjadi juga.
"Terima kasih Pak, atas informasinya. Saya akan ke sana."
Dia segera menutup sambungan terleponnya. Lalu bergegas memanggil taxci on line menuju rumah sakit, tempat Herman di rawat.
Begitu sampai, dia segera menuju ke tempat suaminya di rawat. Dalam ruangan itu terlihat Herman sedang tertidur pulas dengan infus yang menempel di tangannya.
Tak beberapa lama datang seorang dokter yang disertai dengan beberapa perawat yang memberikat keterangan keadaan Herman tersebut, sebelum dia melakukan pemeriksaan.
"Anda istrinya?"
"Benar."
"Mengapa bisa separah ini?"
"Maksud dokter,apa?"
"Dia suka minuman keras."
"Benar."
"Dia menderita tungkak lambung yang cukup parah. Kalau tak menghentikan kebiasaannya itu. Bisa berakibat fatal."
"Apa itu, Dokter,"
__ADS_1
"Ya ... meninggal dunia."
Maria diam seketika. Tak terbayang sebelumnya, kebisaan Herman yang dia biarkan akan berakibat sangat fatal. Tapi sekarang suaminya sudah terbaring lemah, tak ada lagi waktu untuk menyesal. Dia hanya bisa merawatnya saja. Tapi dimana ....
Kalau di rumah sakit, bagaimana Mutia dan Aldo. Sedangkan di rumah tak ada siapa-siapa. Siapa yang akan menjaganya.
"Maria ...."
"Ya, Mas. Puji Tuhan, mas sudah sadar." dia mengucapkan apa yang dia bisa.
"Bagaimana Mutia dan Aldo?"
''Masih sekolah."
"Aku pulang saja, Maria."
"Kalau dokter mengijinkan."
"Bilanglah."
"Baiklah, nanti aku bilang"
"Sekarang, aku mau menjemput anak-anak."
"Ya. Aku juga rindu. Tadi aku belum jumpa sama sekali."
Maria meninggalkan Herman dalam kesunyiaan. Agar dapat beristirahat dengan tenang.
Saat tiba di sekolah, Mutia dan Aldo telah menunggu dengan wajah cemberut. Semua temannya sudah pulang, tak ada lagi orang. Hanya bu guru seorang yang dengan sabar menemani mereka.
"Terima kasih, Bu .... saya bawa mereka."
"Ya, silahkan."
Maria mengajak mereka masuk ke mobil. tapi wajah mereka masih juga cemberut.
"Kok cemberut?"
"Bunda telat"
"Maafkn bunda. Ayah sedang sakit."
"Sakit apa?"
"Sakit apa ya .... bunda nggak tahu , bunda bukan dokter."
"Bunda, kita ke mana?" tanya Aldo. ketika mengetahui bunda Maria membelokkan mobil bukan arah ke rumahnya.
"Kita jenguk ayah , Sayang "
"Ayah di mana?"
'Ayah di rumah sakit."
Tampak kesedihan di wajah mereka. Keinginan untuk meminta es krim pada bunda, mereka urungkan. Tak tega ....
__ADS_1
.