KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Rasa Bersalah


__ADS_3

"Mas, mengapa pakai minuman seperti ini?" tanya Maria yang melihat aneh dengan beberapa botol wisky di atas meja.


"Biasalah ... untuk teman-teman." jawab Herman ringan.


Tak ingin berdebat lebih lanjut, dia meninggalkan Herman. Apalagi terdengar seseorang memanggil dari depan. Dia membuka pintu rumahnya, dan mendapati seseorang yang membawa masakan yang kemarin mereka pesan.


"Berapa, Bang."


"Itu jumlahnya sudah tertulis dalam nota, Nyonya ."


"Oh ya, tunggu sebentar." Maria meninggalkan laki-laki tersebut, mengambil uang di dalam kamarnya. Tak lama, dirinya sudah kembali. Dengan membawa sejumlah uang sesuai dengan harga yang tertera.


"Terima kasih, Bang."


"Sama-sama, Nyonya."


Maria kembali ke ruang tengah untuk menata semua masakan yang ada. Tanpa dia sadari Herman memperhatikannya dengan intens. Lalu memeluk dirinya dengan sangat erat. Tak lupa memberi satu ciuman kecil.


"Ternyata, istriku ini terampil juga."


"Muji ... pasti ada maunya."


"Tak bolehkah?"


"Kemarin-kemarin mas nggak mau."


"Hehehe ...." hanya tawa sebagai jawaban dan tatapan yang berbalut nafsu.


Sampai dengan larut malam, pesta kecil itupun belum usai. Sampai mereka menghabiskan wisky yang terrsedia. Baru mereka membubarkan diri satu persatu. Tinggallah kini Maria dan Herman yang sibuk membereskan semuanya.


"Mas, tadi ikutan minum?"


"Hanya dikit, Yang. Sekedar menghormati mereka."


"Tapi bukankah itu tak boleh dalam keyakinan mas."


"Tapi kalau tak gitu, mas pusing."


"Oh ...." meski heran, tapi Maria tak berani menyalahkan alasan Herman yang tak dia mengerti.


"Kamu capek, Yang."


"Nggak apa, Mas." seumur-umur baru kali ini dia mencuci peralatan dapur. Demi cinta, sabar ....


Hari-hari terasa indah bagi Herman maupun Maria. Tapi di tengah itu semua, dalam hati kecil Herman, ada rasa bersalah yang coba dia sembunyikan dari Maria. Seringkali secara sembunyi-sembunyi dia meminum minuman keras untuk menghikangkan rasa bersalahnya itu.


"Mas, minum lagi?"

__ADS_1


"Teman-teman habis menangin proyek. Pesta sedikit. Tak apalah."


"Aku tahu, mas merindukan mbak Zulfa, Kan."


Herman menghentikan jalannya. Berbalik menatap Maria.


"Aku suka, istriku cemburu." Dengan satu jarinya, dia mengusap air mata Maria yang mengalir di kedua pipinya. Lalu dengan lembut dia memberikan ciuman di dahi dan bibir Maria. Membuat Maria mematung seketika. Perasaannya melayang, lepas apakah Herman masih memikirkan Mbak Zulfa atau tidak. Yang pasti sekarang Herman bersamanya. Hingga tak ada penyesalan untuk melanjutkan hidup bersama Herman sampai saat ini.


Namun ketika di lain hari, mendapat Herman pulang dengan bau minuman yang menyengat, Maria bertambah sedih. Apalagi saat mereka tidur, tak jarang Herman mengigau dengan menyebut nama Zulfa. Membuatnya tersiksa.


Di usia pernikahan mereka yang hampir tujuh tahun, Maria mengandung. Perhatian yang diberikan Herman semakin berlebih dan Juga memanjakannya pula. Mungkin Herman sudah mulai melupakan mbk Zulfa, pikir Maria.


Tapi ternyata dia salah. Ketika mendapati di galeri handpone yang lama milik Herman, masih tersimpan foto mbak Zulfa dan juga putra-putrinya. Dia amat cemburu, tapi dia sadar. Dia yang memilih hadir sebagai orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Saat itu dia ingin mundur, tapi ....


"Yang, kenapa akhir-akhir ini kamu sering bersedih. Apa yang mengganggu pikiranmu ... atau kamu pingin sesuatu?"


"Tidak, Mas." Maria diam sejenak, melanjutkan makan malamnya yang masih tersisa.


"Nanti itu ngaruh sama baby yang ada di perutmu lho ...." sambil memberikan suapan kecil pada istrinya.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanyalah!"


"Mas, apakah waktu mbak Zulfa hamil, mas juga seperti ini?" Herman tersenyum tipis menanggapi pertanyaaan Maria.


Bukannya tak mau jawab. Tapi ... apakah Maria akan mampu menerimanya dengan kejujuran dirinya. Bahwa dia tak mampu menghapus nama Zulfa dari dalam jiwanya. Dan dia semakin merasa bersalah saat tahu Zulfa membesarkan putra-putrinya seorang diri. Sedangkan dirinya kini bersenang-senang wanita lain, meski istrinya.


"Mas, seandainya mas harus memilih antara mbak Zulfa dan aku, mas pilih yang mana." Herman segera meletakkan sendoknya, menatap Maria dengan tanda tanya.


"Kamu ini, ada saja." jawab Herman mencoba mengembalikan suasana.


"Ya. Kalau aku nggak ada, mas bisa ke mbak Zulfa lagi."


"Apa babyku lagi ngidam ketemu ibu tirinya, Ya." Kembali Herman menyuapi Maria, agar makan malam mereka bisa segera berakhir. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan malam ini. Agar boss puas dengan hasil pekerjaannya.


"Tidak, Mas." jawab Maria buru-buru. Bagaimanapun dia tak sanggup, apabila hal itu benar-benar terjadi.


"Tapi, kalau iya. Mas akan senang." jawab Herman sekenanya. Membuat dadanya semakin sesak dengan rasa bersalah.


Entahlah. Saat hamil seperti ini Maria semakin manja dan menampakkan kecemburuan yang tak beralasan. Untunglah Herman dengan sabar merawatnya. Bagaimanapun Maria itu istrinya, dan ada kehidupan di rahimnya yang perlu dia jaga.


Kembali mereka menikmati makan dengan diam. Sehingga tak berapa lama, selesai. Herman kembali ke meja kerjanya yang ada di ruang tengah. Meninggalkan Maria yang sedang membereskan meja makan.


Setelah menyelesaikan itu, dia menunggu Herman di kamar mereka. Kembali dia teringat dengan handpone lama yang Herman simpan di dalam almari pribadinya. Saat ini, ada rasa penyesalan yang tumbuh dalam dirinya. Ingin dia mengakhirinya dengan meminta maaf langsung pada Zulfa.


Lama Maria memandang nomor Zulfa di handpone tersebut. Menghubungi .... Apa tidak ya ....

__ADS_1


Dengan mengumpulkan semua keberanian, akhirnya dia menghubungi nomor itu. Tanpa dia sadari, Herman telah berdiri di belakangnya.


Semoga nomor mbak Zulfa belum ganti. Telpon terhubung, tapi lama banget diangkatnya. Sabar ....


Akhirnya diangkatnya juga.


"Assalamu'alaikum ....." sapanya yang membuatku bingung harus menjawab apa. Aku masih asing dengan kata-kata itu.


Akhirnya kucoba dengan membalasnya dengan kata, "Hallo ..."


Tak ada jawaban. Aku harus bersabar, agar rasa bersalah ini tidak semakin menyiksaku. Setelah sekian lama, akhirnya ada jawaban pula.


"Hallo juga, saya bicara dengan siapa ya?" sapanya, yang membuatku gugup seketika.


"Maafkan saya, ijinkan aku pertkenalkan diriku dahulu."


Kata-kata ini tiba-tiba tersekat seakan tak mau keluar. Apalagi saat mas Herman memwlukku dari belakang.


"Kamu telpon siapa, Yang."


"Kak Zulfa."


"Beraninya kamu."


"Sudah Mas sana gech .... Ini pembicaraan antar wanita. Jangan ganggu aku dulu."


Tapi mas Herman mendekapku derngan sangat erat, hingga aku sulit bernafas.


"Mas, jangan gitu dong. Aku sulit bernafas nich."


Setelah berhasil lepas dari dekapan mas Herman. Kulanjutkan apa yang jadi tujuanku.


"Maaf menunggu. Tapi benar saya bicara dengan mbak Zulfa?"


"Ya benar. Anda siapa?"


"Saya Maria, istrinya mas Herman."


Sepertinya dia kaget dengan yang aku katakan. Ah ... aku telah salah memulai perkenalan. Terdengar suara yang bergetar hebat dari wanita yang kupanggil mbak Zulfa.


"Lalu, kalau anda istri mas Herman, ada urusan apa menghubungiku."


Aku terdiam seketika mendengar suaranya yang menahan amarah.


"Aku ... aku ...." rasanya lidah ini menjadi kelu untuk mengatakan maaf padanya.


"Ku rasa tak ada lagi yang dibicarakan lagi." tiba-tiba dia menutupnya secara sepihak.

__ADS_1


Aku bingung harus berbuat apa. Apalagi mas Herman kembali mendekapku dengan sangat erat.


"Sudah puas telponnya, Sayang."


__ADS_2