KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Halimah


__ADS_3

Selesai melaksanakan sholat, Rizal dan Herman jalan bareng.


"Lama sekali kamu menghilang, kemana saja kamu?"


"Ceritanya panjang."


Rizal tertawa mendengar jawaban Herman. Dasar ....


"Dan pulang-pulang bawa anak bini?"


"Entahlah, Zal. Tak ada kepikiran sejak dulu kalau aku akan punya bini dua."


"Enak dong ..."


Herman mengangkat bahunya. Seakan dia kurang setuju dengan pendapat Rizal.Tapi ternyata dirinya memilih jalan itu. Aneh bukan ....


"Tapi sekarang aku harus kehilangan Zulfa. Wanita yang begitu setia. Tapi aku menyia-nyiakannya."


"Terus terang aku turut sedih."


"Nasi sudah jadi bubur, tak mungkin kembali."


"Rencanamu selanjutnya?"


"Aku tak tahu. Tak ingin aku kehilangan lagi .... Apalagi kini ada mereka." kata Herman, sambil melirik ke arah Aldo dan juga Mutia yang asyik bermain dengan Harni.


Ringan kali kamu ngomong Herman. Kamu tahu berapa banyak orang terluka karena ulahmu, guman Rizal. Ingin aku ....


"Kamu ngomong apa?"


"Itu urusan rumah tanggamu. Aku senang, kamu mau sholat lagi."


Lama mererka terdiam hingga mereka berpisah di ujung jalan.


"Mampir, Man."


"Kapan-kapan. Assalamu'alaikum ..."


"Wa alaikum salam ...."


Herman meneruskannya jalannya bersama Aldo dan Mutia hingga sampai di rumah mereka. Dia mendapati Halimah duduk di teras dengan wajah sedih. Membuat Herman bertanya-tanya. Mungkinkah berhubungan dengan dirinya dan Zulfa ....


Tak biasanya, Halimah bersikap seperti itu. Sampai-sampai harus menunggu dirinya di depan rumah.


Aldo dan Mutia segera menghampiri, lalu mencium tangan Halimah.


"Assalamu'alaikum ..., Nek."


"Wa alaikum salam ...."


" Nenek ada sesuatu untuk kalian. Ini ...."


Tak terkira senangnya, kedua bocah itu. Dia segera meraih tas palstik yang Halimah berikan. Sepertinya bermacam-macam makanan kecil dan es cream.


" Terima kasih, Nek...."

__ADS_1


"Ya. Sana masuk dulu, Nenek mau ngomong sama ayah dulu." kata Halimah dengan tertawa lebar, menyaksikan cucu-cucunya gembira menerima pemberiannya.


Meskipun mereka sudah menghilang, namun Halimah tak kunjung berbicara pada Herman. Halimah seperti mengacuhnya. Membuat Herman semakin merasa bersalah. Tapi dia tak ingin beranjak dari tempat duduknya. Mengingat selama ini dialah yang selalu membuat masalah.


Apakah mama marah dengan kepergian Zulfa, kenapa juga semua orang menyalahkannya. Bukankah kepergiannya atas keinginannya sendiri. Aku sudah mencegahnya, tapi .....


Ah, sudahlah ....


🔸flassback


Sebenarnya, saat Zulfa dan anak-anaknya pergi dari rumah. Dia sedang mengunjungi putrinya, Rahmi. Yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya.


Meski demikian, Zulfa tetap mampir dan berpamitan.


"Kamu jadi pergi, Ndduk?" tanya Halimah dengan sedih. Dia selalu memanggil dengan sebutan 'ndduk' . Panggilan yang hangat untuk Zulfa, karena sudah menganggap Zulfa anaknya sendiri.


"Maafkan Zulfa, Ma." kata Zulfa sambil memeluk Halimah.


"Kamu nggak bersalah, Ndduk. Yang salah itu Herman, yang nggak bisa menghargai perasaan kamu."


"Aku sudah memaafkan, Ma .... Sekarang ijinkan kami pergi."


"Mama nggak bisa halangi niat kalian. Meski kamu bukan lagi mantu, tapi kamu sudah mama anggap sebagai anak sendiri. Sering-seringlah berkunjung, kalau ada waktu ... Mama pasti merindukanmu."


Zulfa diam. Tak mungkin dia meluluskan permintaan Halimah. Tapi tak mungkin juga di menolaknya, itu akan menyakitinya.


"Kami tak akan melupakan Mama. Karena mama, mamanya Zulfa juga. Meski sekarang Zufa bukan memantu mama.lagi."


Hanya kata itu yang bisa Zulfa ucapkan. Semoga Halimah bisa menerima, harapan kalbunya.


"Kami pergi dulu, Ma ..."


"Irwan Lika ...."


Tanpa diperintah dua kali, mereka sudah mengerti maksud bundanya. Mereka segera menghampiri Halimah dan mencium tangannya dengan ta'dzim.


"Nek, kami pergi dulu."


"Ya. Jaga bunda kalian."


"Baik, Nek. Tante Paman Assalamu'alaikum wr wb."


"Wa alaikum salam wr. wb. .." jawab mereka hampir bersamaan.


Halimah, Rahmi dan Ayyas mengantar mereka hingga menghilang dari pelataran mereka.


Ada rasa sesal yang menekan dada Rahmi dan Ayyas. Keputusan mereka untuk membawa Herman dan keluarga barunya kembali, membuat banyak hati yang terluka. Tapi hanya itu yang bisa dia lakukan, untuk menolong Herman yang saat itu, benar-benar memerlukan bantuannya.


Mungkin perlu waktu lama untuk menyembuhkannya. Semoga dengan berpisah, dapat mempercepat proses penyermbuhannya. Hanya doa itu yang bisa mereka bisikan saat Zulfa dan anak-anaknya meninggalkan mereka.


Tak berapa lama, adzan berkumandang. Mereka segera beranjak, untuk menunaikan sholat, di musholla yang dekat dengan rumah Ayyas.


Selesai sholat, Halimah minta diantarkan pulang. Meski Ayyas dan Rahmi mencegahnya.


"Ayyas, antar mama pulang."

__ADS_1


"Mama, tidur sini sajalah sekali-kali."


"Mama nggak bisa tidur kalau bukan di rumah mama sendiri."


Dan itu memang bukan alasan lagi. Demikianlah keadaannya, bisa-bisa Halimah akan panas badannya, bila dipaksakan untuk menginap.


Meski wajah Halimah saat ini menyimpan kesedihan yang sangat, tetap Ayyas harus mengantarkannya saat itu juga.


Dia segera mengeluarkan mobilnya dari garasi. Lalu menghidupkan mesinnya, sedangkan Halimah berjalan berlahan bersama Rahmi, menyusul dirinya.


"Mari Ma ... di depan saja." kata Ayyas. Rahmi pun membukakan pintu depan untuk mamanya. Halimah mengikuti saja apa kata Rahmi dan suaminya. Karena pikirannya kini benar-benar sedang melayang-layang tanpa tujuan.


Setelah yakin dengan Halimah, Ayyas menjalankan mobilnya. berlahan, meninggalkan rumahnya menuju ke rumah Halimah yang memakan waktu tak sampai 15 menit. Itupun sudah termasuk berputarnya mobil, mencari posisi yang pas untuk jalan.


Tiba di rumah Halimah, keadaan rumah tampak sepi. Meski pintu rumah terbuka. Yang menunjukkkan ada seseorang di dalam. Sudah dapat dipastikan, siapa lagi kalau bukan Maria. Karena Zulfa sudah tak ada. Hatinya makin sedih.


Meski demikian dia tetap turun. Karena ini adalah rumahnya yang penuh kenangan. Sejak semua masih kanak-kanak hingga kini semua dewasa dan berumah tangga. Bahkan sampai suaminya meninggal dunia.


"Ma, Ayyas langsung balik. Sebentar lagi ada undangan."


"Oh ya, Ayyas. Mama makasih banget, sudah kamu antar."


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa alaikum salam ...." jawabnya lirih. Lalu segera menyandarkan tubuhnya di kursi santai yang ada di beranda.


Enggan rasanya untuk masuk. Sejenak di menikmati suasana alam senja yang meremang dan akan menghilang sempurna. Dalam gelapnya malam yang datang dan tak pernah ingkar akan kewajibannya. Untuk memeluk semesta dalam peraduannya.


Hingga suara Herman membangunkan dari lamunannya.


🔸


"Mama, mengapa di luar?"


"Mama, menunggu penjelasan darimu?"


"Mama, sudah tahu semuanya, kan. Akupun tak ingin Zulfa pergi, Ma."


"Kamu keras terhadap Zulfa, tapi lemah terhadap Maria." Sesaat Halimah diam, pandangannya menerawang, ada buliran bening menetes dari ujung matanya.


"Mama malu sama Zulfa. Dia selalu memikirkan mama, bahkan menvukupi kebutuhan mama. Meski dia kamu campakkan begitu saja, pantas dia memilih untuk pergi darimu."


"Maafkan Herman, Ma."


"Seandainya mama boleh milih. Mama pingin ikut Zulfa. Sayang, anak mama itu kamu bukan Zulfa."


"Herman sudah belajar berubah Ma."


"Sepertinya semua sudah terlambat."


"Lalu, Herman harus bagaimana, Ma."


"Entahlah."


Kembali Halimah diam membisu, malas berbincang-bincang lagi. Tapi Herman masih setia menemani mama yang belum mau masuk rumah.

__ADS_1


"Baimanapun ini kenyataannya. Lambat laun Zulfa akan pergi. Dicegah pun percuma. Hati wanita mana yang tak teriris. Melihat suaminya membawa wanita ke rumah. Itu yang kamu lakukan. " kata Halimah dengan tertunduk sedih.


"Dulu, dia ....


__ADS_2