KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kedua Bocil


__ADS_3

Ayah Shaffa bingung, atas pengakuan putrinya. Benarkah apa yang dikatakan putrinya. Tapi tidak ...


Pernikahan ini harus tetap berlangsung. Semua persiapan sudah hampir beres. Heru adalah menantu yang dia idam-idamkan selama ini. Hanya saja saat ini keraguan menghantuinya. Sudah hampir seminggu tidak ada kabar dari Heru. akankah dia menunggu, sampai Hero menghubunginya.


Tapi saat melihat Shaffa yang terus menangis. Rasanya tak tega juga.


Akankah dirinya membatalkan pernikahan itu. Ataukah tidak lebih baik kalau dia mencari tahu sendiri keberadaan Heru. untuk melanjutkan atau membatalkan.


Setelah berdiam lama, dia pun bangkit.


"Sudahlah Nduk, jangan menangis. Bapak jadi sedih."


"Berarti Bapak mau kan membatalkannya."


Dengan berat bapaknya pun berkata," Maafkan Bapak, Nak. Selama ini memang Bapak tidak mengetahui siapakah calon suamimu itu. Tapi bapak tidak serta-merta bisa membatalkan pernikahan ini."


"Maksud Bapak, apa?"


"Hmmm ... kita ikuti idenya nak Irwan. Kita tanya kepada atasannya. Sebenarnya Heru itu siapa dan bagaimana sifatnya. Bapak juga tidak ingin kamu tidak akan bahagia dalam pernikahanmu."


"Terima kasih, Bapak." Shaffa memeluk ayahnya dengan erat, serta menumpahkan tangisnya yang tersisa.


"Sudah sekarang bersiap-siaplah!"


Shaffa melepaskan pelukannya. Ia pergi meninggalkan tempat itu untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Tanpa menyadari ada dua pasang mata yang sekarang kelihatannya agak sembab. Siapa lagi kalau bukan Tia dan Aldo. Meski tidak tahu dengan persoalan yang ada di hadapan mereka, tapi mereka ikut menangis juga.


"Mengapa kalian?" tanya Irwan.


"Lihat Kak Syafa menangis kami jadi sedih."


Ayah Shaffa tersenyum. Karena dia, anak yang lucu-lucu itu jadi ikut bersedih.


"Nak Heru, maafkan kami?"


"Nggak apa-apa Bapak, memang begitulah mereka."


Ayah Syafa baru menyadari, kalau belum mempersilahkan Irwan duduk. Dia masih berdiri 2 langkah dari pintu, dengan membawa sebuah parcel di tangannya.


"Eh iya maaf nak Irwan, silakan duduk dulu!"


Alhamdulillah, batin Irwan berbisik. Akhirnya bisa duduk juga. Dia menuju tempat duduk yang ditunjukkan Ayah Shaffa dan memberikan parcel itu.

__ADS_1


"Ini dari Nak Irwan atau Bundanya Nak Irwan?"


Ups ... ketahuan dech. Bapak ini bisa saja nebak. Pengalaman kali, hehehe ....


"Sebenarnya ada keperluan apa Nak Irwan datang ke sini?"sambil menerima parsel dari Irwan.


"Saya hanya ingin minta maaf atas keterlambatan kami mengantarkan Shaffa tadi malam dan ini oleh-oleh dari Bunda. Kami bertemu dik Shaffa di jalan, makanya kami sama-sama ke sini."


"Maafkan sekali lagi, Nak Irwan. Kami jadi merepotkan."


"Semoga ini menjadi jalan terang untuk Shaffa dan Bapak."


Tapi terlihat Ayah Syafa beberapa kali mengambil nafas panjang. seakan masih ada beban berat yang harus ditanggungnya.


"Nak Irwan, Aku tinggal dulu ya. Bapak mau siap-siap juga." Ayah Safa pun meninggalkan Irwan beserta Tia dan Aldo di ruang tamu itu sendiri.


Tia dan Aldo terlihat mengelus-elus perutnya. Wajah yang nampak cemberut dan memelas. Tia pun merengek.


"Kak aku lapar. Kapan kita pulang?"


Menghadapi adiknya yang imut itu Irwan hanya bisa tengok ke kanan dan ke kiri. Lha, ini masih di rumah orang.


Untunglah tak lama kemudian Shaffa muncul dengan membawa pisang dan ketela rebus.


"Maaf lama menunggu. Ayo dimakan hanya ini yang Kakak punya. Kakak belum masak."


Dia hanya memandang makanan itu. Tak juga mengambilnya.


"Ah, nggak enak."ujarnya tanpa dapat dicegah. Bahkan dengan bibir cemberut pula. Rasanya mau diletakkan di mana muka ini. Irwan benar-benar salah tingkah.


Dia pun mengambil 1 buah pisang rebus dan dikupasnya, dimakan dengan pelan sambil berkata,"Enak kali pisang ini manis dan sedap." ungkapnya sambil menikmati pisang rebus itu.


"Ah, yang benar saja, Kak?"


"Coba saja." kata Irwan sambil menyodorkan pisang yang sudah dikupasnya.


Karena perutnya sudah benar-benar lapar, maka Tia pun memakan pisang itu pelan-pelan.


"Hm ... ternyata enak juga." dia memakan pisang itu hingga habis, lalu mengambilnya lagi. Hanya sayang pisang yang ada di piring telah habis dimakan oleh Aldo yang memang tidak menolak makanan apapun.


"Kak Aldo, kok dihabiskan Tia belum kenyang nih."

__ADS_1


Melihat keduanya bertengkar Shaffa lalu bangkit dari duduknya untuk mengambil sisa pisang rebus yang ada di dapur.


"Wah ... Aku mau, Kak." kata Tia begitu melihat Shaffa membawa sepiring pisang rebus lagi. Demikian juga dengan Aldo yang tak mau kalah.


"Maafkan adikku, Shaffa."


"Tak apa, hanya ini yang ada. Kebiasaan ayah tidak makan nasi kalau pagi demikian juga aku makanya nggak ada nasi di sini."


Tak berapa lama pisang rebus itu pun telah habis berpindah tempat ke perut mereka. kini senyum Tia dan Aldo pun kembali wajah mereka masih nampak suram karena belum mandi pagi. Hehehe ....


Kalau gini yang dimarahi yang anak-anak atau yang ngajak ya ...


Ayah Shaffa yang baru keluar dari kamarnya itu pun tersenyum menyaksikan tingkah laku Tia dan Aldo.


"Maaf Pak, pisang rebusnya sudah dihabiskan mereka," kata Irwan dengan malu-malu.


"Tidak apa-apa justru Bapak senang, mereka walaupun anak kota ternyata suka juga dengan pisang rebus ini. Hasil dari kebun Bapak." kata Ayah Shaffa sambil menemani mereka menghabiskan ketela rebus yang masih tersisa.


Setelah semuanya benar-benar habis, termasuk teh hangat yang sudah dihidangkan Shaffa, dia pun bangkit.


"Ayo Nak Irwan, kami sudah siap."


"Baik Pak. Monggo Bapak duluan."


Kini terlihat sedikit cahaya di mata Shaffa maupun Ayahnya. Semoga itu pertanda baik.


Dan seperti sebelumnya sebelumnya maka Tia dan Aldo pasti yang akan mendahului mereka untuk sampai di mobil dan segera masuk ke dalamnya. tapi pintu mobil belum dibuka oleh Irwan sehingga mereka menantinya di luar mobil dengan wajah cemberut.


Bukannya Irwan tidak tahu akan keinginan adiknya, tetapi saat ini dia ingin menggodanya. Supaya ada warna dalam wajah Syafa yang sejak tadi masih belum juga menampakkan keceriaan.


Baru setelah Ayah Syafa sampai di mobil, dia membuka kunci pintu mobil dengan remote controlnya. Tapi lagi-lagi Irwan menggoda kedua bocil itu.


"Tunggu bapak masuk dulu baru kalian. Dan kalian di belakang bersama Kak Shaffa."


"Oke Kak." kata mereka dengan senyum ceria dan sabar menanti Shaffa yang sedang mengunci pintu rumah.


Irwan membuka pintu untuk ayah Shaffa. dia Lalu menuju pintu yang satunya duduk dengan tenang di belakang kemudi. Sedangkan kedua bocil itu membuka pintunya sendiri di bangku belakang mereka.


"Ayo Kak Shaffa!" ajak Tia sambil membukakan pintu untuknya juga.


"Kita mampir ke rumah dulu nggih, Bapak."kata Irwan sambil menghidupkan mobilnya setelah semua sudah ada di dalam.

__ADS_1


__ADS_2