KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Jamilah


__ADS_3

Sepertinya yang deg-degan untuk bertemu Jamilah justru Hasan sendiri. Takut Zulfa kenapa-napa, dengan keusilan Jamilah, putrinya.


Sampai di tujuan, Tia keluar terlebih dulu. Dia berlari menuju ke bangunan yang megah dan sangat asri, sambil menggandeng tangan Aldo, kakaknya. Meninggalkan Zulfa dan juga Hasan.


Sementara itu, Jamilah yang mendapatkan kabar dari umi Ridwan kalau papanya akan datang senangnya bukan main. Tapi sewaktu mendengar umi dan Abba Ridwan bisik-bisik, bahwa akan datang bersama seorang wanita sebelnya bukan main juga.


Dia segera menuju ke dapur, entah apa yang dilakukan. Nach itu dia ....


Dengan wajah ceria dan senyum penuh tipu daya, dia menghampiri masakan yang masih di atas kompor. Biasanya ini menu untuk tamu. Lele 'srapa' pasti.


Segera Jamilah mengambil seekor, diletakkan di atas piring. Dia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Lalu dimasukkan ke dalam kuah masakan itu.


Nach beres ....


Rasakan ....


Dia tertawa kecil memandang hasil karyanya. Belum puas membayangkan sesuatu yang akan terjadi, tiba-tiba ada suara yang amat keras menghampirinya .... Bikin kaget saja.


"Kak Ayu ...." panggil Tia. Nama Jamilah. Tapi nama panggilannya Indah Ayu Setyawati.


Benar-benar aneh itu bukan!.


Katanya iri dengan teman-temannya yang selalu punya nama panjang. Sedangkan dirinya hanya punya nama, satu kata saja. Jadilah namanya ... dikhayal sendiri, ditambah-tambah sendiri, dirangkai-rangkai sendiri. Akhirnya namanya berubah menjadi Indah Ayu Setyawati.


Masuk TK sudah 3 bahasa dikuasai plus bahasa ibu juga. Dia cari tahu apa itu arti 'jamilah'. Jamilah artinya indah, cantik atau ayu dalam bahasa ibu.


Kalau dia pakai nama Indah Ayu, nggak apa-apa tho ....


Bukankah artinya sama?!.


Sedangkan Setyawati adalah harapan yang dia titipkan untuk papanya. Agar senantiasa setia pada mamanya, meski sudah meninggal dunia.


Agar kalau dewasa bisa meniru. Setia dengan satu pasangan, tentu yang halal. Hingga maut menjemput. Bolehkan berharap .....


Akhirnya jadilah namanya kini Indah Ayu Setyawati.


Ayu untuk panggilan di panti,


Indah untuk panggilan teman-temannya di luar sana,


Setyawati untuk panggilan papa, bibi dan anggota keluarga lainnya.


Tanpa menyebut sesuai dengan apa yang diinginkannya, tak bakalan dia akan menoleh.


Itu terjadi sejak dia duduk di bangku TK.


Hehehe ....


Biar kereeeen ....


Seperti kurang kerjaan saja Jamilah ini ....

__ADS_1


"Kamu Tia." senyum merekah menyambut Tia yang memeluknya dengan erat.


"Kakak lagi ngapain."


"Biasalah Tia ...."


"Hayo kakak ...."


"Hus .... udah yuk kita ke kebun."


Tia sudah bisa menduga, kalau kakak tersayang, akan mengerjai seseorang. Dia hanya senyum-senyum saja. Karena dirinya tak tahu, kalau makanan itu akan diberikan pada siapa.


Bertiga mereka menuju kebun, melupakan papa sejenak. Ogah kalau bertemu. Sebel ... karena papa bawa wanita.


Sementara itu Zulfa dan Hasan berbincang-bincang, dengan umi dan aba Ridwan di ruang tamu. Membiarkan Tia dan Aldo bermain bebas. Mungkin menemui teman-temannya yang berada di panti asuhan.


Setelah berbasa-basi sejenak, umi Ridwan mengajak Zulfa menyusuri lingkungan panti. Mereka meninggalkan Hasan yang sedang berbincang-bincang serius dengan Ridwan.


Sewaktu berbelok ke arah kebun, Umi Ridwan melihat Jamilah dan adik-adiknya keluar dari dapur rumahnya. Sejenak dia tertegun. Gerangan apa yang dilakukan oleh Jamilah di dapur rumahnya.


Apa ini berhubungan dengan papanya. Yang pulang bersama Zulfa. Wah .... harus dikasih pelajaran ini anak. Agar jera untuk melakukannya lagi. Sudah terlalu banyak korban. Apalagi saat ini terlihat Hasan sangat menaruh harapan. Meskipun Zulfa terlihat tenang-tenang saja.


"Bu Zulfa, aku tinggal dulu ya ... sebentar ada yang mau saya selesaikan."


"Silahkan Umi."kata Zulfa tanpa curiga.


Umi Ridwan bergegas ke dapur. Dia melihat pemandangan yang tak biasanya. Masakannya sudah ada yang berpindah. Dari wajan ke dalam piring khusus. Hem ....


Jamilah ... Jamilah.


Kini semua sudah siap. Dia kembali mencari Zulfa dan ke dua anaknya untuk diajak makan bersama.


Tetapi niat itu diurungkan ketika melihat Zulfa, Aldo, Tia sedang menikmati kebersamaan bersama Jamilah. Tapi kenapa semua pada basah semua. Jangan katakan kalau mereka baru keluar dari empang.


Umi Ridwan meninggalkan mereka yang sedang menuju ke kamar mandi.


Sudah nanti saja aku samperin mereka, bisiknya. Lalu menuju ke ruang tamu dimana Hasan dan Ridwan sedang berbicara serius ....


💎


Beberapa saat setelah Umi Ridwan pergi. Zulfa meneruskan jalannya. Menapaki jalanan kecil ke arah kebun kelengkeng yang berbuah lebat.


Beberapa anak dewasa memetik dengan terampil. Hingga mendapatkan buah kelengkeng lebih dari 10 keranjang. Rupanya mereka sedang panen.


"Kak Ayu, lagi!" terdengar suara Tia dari kejauhan. Zulfa mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Yang berasal dari sebuah pohon kelengkeng yang paling besar. Terletak di dekat sungai.


Dari kejauhan dia melihat seorang gadis remaja yang sedang memetik kelengkeng. Terlihat sangat lincah, Bahkan dahan yang tepat di atas sungai, dia tak ragu. Dia melangkah pelan menggapai segerombolan buah kelengkeng besar-besar dari pada yang lainnya.


"Sudah belum?" ucapnya dari atas sungai.


"Cukup Kak." jawab Tia.

__ADS_1


Jamilah pun melangkah, maklum dahannya dalam posisi mendatar di atas sungai. Hanya sayang, baru dua langkah dahannya tak kuat menahan badannya. Akhirnya ...


Krak ... krak ... krak ... bruggk ....


Tubuh Jamilah jatuh ke sungai bersama dahan yang patah.


"Kak Ayu.' teriak Tia.


Zulfa secepatnya mendekat, menuju sungai. Terlihat kepala Jamilah yang agak memerah, gelagapan. Karena ada air yang masuk ke tubuhnya melalui hidung. Sehingga dia terbatuk-batuk. Dan pipinya seperti tergores.


"Nak, tenanglah." Zulfa segera terjun ke dalam sungai yang kedalamannya hampir 1,5 meter.


Sebenarnya Jamilah juga pandai berenang. Tapi karena jatuhnya tiba-tiba, apalagi dengan dahan yang menimpanya، tak memungkinkan bagi dirinya untuk segera berenang. Kali ini dia hanya mampu berdiri sambil berjinjit, agar tak terbawa arus. dan menyingkirkan dahan tersebut.


Zulfa mendekat dan membantu menyingkirkan dahan. Setelah dahan itu pergi, Zulfa berenang ke tepian.


"Terima kasih, Bunda." kata Jamilah. Seumur-umur baru kali ini dia panggil seseorang dengan sebutan bunda. Mungkin hanya mengikuti lidah Tia.


Bukannya mengikuti Zulfa, bahkan dia meneruskan berenangnya. Lalu menyiramkan air ke arah Tia dan Aldo yang sedang berdiri di tepian.


"Ayo turun!"ajaknya.


Tak perlu mengulang lagi perkataan, Tia dengan senang hati mengikutinya. Bukankah bunda ada di sana, kata hatinya senang. Begitu juga dengan Aldo. Mereka melepas sandalnya dan ....


Byuuuur ....


"Tia ...." belum selesai Zulfa berkata Meraka sudah terjun duluan.


Anak-anak .... Zulfa hanya bisa memandangi mereka yang tertawa senang. Tak sangka Tia pun pandai berenang. Sedangkan yang terlihat agak kesulitan justru Aldo. Zulfa segera membantunya. Tak lama diapun sudah bisa berenang dengan baik.


"Nak, pipimu luka," seru Zulfa.


"Tidak apa-apa, Bunda." sekali lagi kata Bunda meluncur dari bibirnya.


Tapi Zulfa tetap khawatir.


"Nak, ayo bunda obati. Biar cepat sembuh. Dan kamu ya bisa cantik lagi."


Jamilah tertawa senang. Baru kali ini ada yang memuji, yang sepertinya tulus.


"Baiklah." jawabnya, lalu berenang ke tepian.


Mereka semua naik, dengan baju basah semua. Segera mandi dan berganti baju. Tak lupa Zulfa mengobati luka Jamilah di ruang kesehatan panti tersebut, sambil berbincang-bincang ringan.


"Namamu siapa, Nak?"


"Jamilah, Bunda." jawabnya pasti.


"Bukan, Bunda. Dia kak Ayu." celetuk Tia.


"Suka-suka kakak lah. Kamu panggil Ayu, biar bunda panggil Jamilah. Oke ... tak boleh membantah." instruksinya.

__ADS_1


"Kak Ayu ini ada-ada saja. Nanti di depan Umi, sama Om Hasan, panggilannya lain lagi, Setyawati."


"Sudah-sudah, baik bunda akan panggil Jamilah, sesuai dengan permintaanmu."


__ADS_2