KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Ajakan Kak Rohman


__ADS_3

Setelah minum, Mutia sedikit lebih tenang. Akhirnya dia pun berhenti menangis. Dia memandang sekelilingnya, masih tampak kesedihan di wajahnya. Membuat Umi , Abi dan Rohmat sedih juga.


Umi dan abi selama ini sudah berusaha untuk mencari keberadaan orangh tua Mutia. Tapi sampai sekarang belum menemukannya. Pernah berfikir untuk lapor ke kepolisian, tapi diurungkan.


Karena sudah pernah ada kejadian. Mereka menemukan anak yang terdiam lama di depan panti asuhannya. Mereka menerimanya.


Timbul kekhawatiran kalau-kalau orang tua anak tersebut mencarinya. Mereka lapor ke kepolisian. Tak berselang lama, datanglah orang yang mengaku sebagai orang tua anak tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian ... Mereka menemukan anak itu kembali di pinggir jalan sedang meminta-minta.


Syukur mereka menemukannya kembali. Kalau tak, tak tahu lagi apa yang menimpa anak itu. Jalanan begitu kejam, tak cocok untuk perkembangan bocah-bocah ini, yang masih butuh kasih sayang dan perlindungan.


Untuk menghindari hal itu terjadi lagi, kali ini mereka hanya melaporkan ke dinas sosial saja. Berharap suatu saat, mereka dapat menemukan orang tua Mutia.


"Sudah ya .... Umi dan abi menyayangimu. Nanti kita cari bunda Zulfa, nenek, ayah juga." kata Umi.


"Maafkan Tia, Umi ... Abi." kata Tia dengan wajah sendu.


"Nggak apa-apa, Sayang. Sekarang Istirahatlah."


Dia pun menurut. Untuk beberapa saat dirinya masih enggan bangun dari tidurnya.


"Maafkan Tia, Kak Rohman."


"Nggak ada yang perlu dimaafn, Tia. Justru kk yang seharusnya minta maaf ke kamu."


"Rohman, termenin Tia dulu ya, bibi mau lanjutin bimbing kakak-kakak memasak."


"Paman juga mau bersih-bersih kebun. Tadi belum selesai."


"Baik Paman, nanti kita nyusul. Gitu ya Tia ..." Tia pun mengangguk.


Sejak dia datang sampai sekarang dia tinggal di rumah umi dan abi Ridwan, yang sabar dan sayang padanya.


Tak mungkin Umi dan Abi meletakkan Tia, bersama dengan penghuni panti asuhan yang lain. Karena umur Tia yang benar-benar masih kecil. Dia baru seumuran anak-anak play grup. Sedangkan yang paling kecil ada di tempat itu, sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Yang rata-rata sudah bisa mengurus diri sendiri, meski masih dalam bimbingan.


Sekali-kali Rohman datang bersama orang tuanya ke panti itu, kadang dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Maklumlah, selain saudara abi Ridwan, orang tuanya juga donatur tetap panti asuhan.


Tapi tidak kali ini, sudah dua hari dia tak meninggalkan tempat bibinya.


"Kak, tumben nggak pulang?"


"Apa kamu nggak suka, kakak temenin?"


"Bukannya gitu, Tante sama Om Ridho apa nggak marah, kalau kakak di sini, nggak pulang-pulang."


Tampak wajah Rohman berkerut. Dia membulatkan mata menatap Mutia yang sudah mulai normal, tak sedih lagi.

__ADS_1


"Malah kakak disuruh di sini dulu, selama mama papa pergi umroh."


"Oh ..." jawab Mutia dengan mulut melongo. Membuat Rohman ingin tertawa.


"Apanya yang oh ...." tanyanya balik. Tia bingung mau mengatakan, baginya masih membingungkan. Rohman tak tahan untuk mengacak-ngacak rambut. Karena baginya, Tia benar-benar lucu, dengan mata bulatnya ketika bingung atau terkejut. Serta lesung pipitnya, ketika tersenyum. Bikin kangen saja ....


"Umroh itu apa, Kak?" tanyanya dengan penuh keseriusan. Rahman jadi senyum-senyum, menatapnya adik kecil yang baru dikenalnya ini.


"Pergi ke baitullah, rumah Allah yang ada di Mekkah." Meski nggak ngerti-ngerti amat, tapi dicobanya untuk menjawab pertanyaan Mutia.


"Memangnya, ada apa di sana, Kak?" lagi-lagi Mutia melontarkan pertanyaaan-pertanyaan yang unik. Tapi dia juga tidak tahu jawabannya apa. Belum pernah ke sana sich ....


"Wah ... Kakak juga nggak tahu, di sana ada apanya. Kalau dalam buku-buku yang pernah kakak baca, di sana ada hijir ismail, gua hiro, gua tsuur, maqom Ibrohim, dan masih banyak lagi. Kakak nggak bisa sebutkan satu per satu." Terlihat Mutia belum puas dengan jawaban yang diberikannya. Tapi tak tahu lagi mau ngomong apa ....


"Kita sekarang ke kebun yuk. Habisin buah-buahan paman." ajaknya. Yang disambut gembira oleh Mutia. Dia pun mengangguk,


"Ya." Segera turun dari tempat tidurnya dengan dibantu Rohman. Lalu sambil tersenyum ceria keduanya keluar dari kamar Mutia.


"Tia, mau nggak tinggal di rumahku," tanya Rohman sambil menggandeng tangan Mutia.


Mutia pun berhenti sejenak, menatap Rohman dengan penuh tanda tanya. Lalu melanjutkan jalan mereka ke kebun panti asuhan yang penuh buah-buahan. Mangga, jambu, rambutan, kelengkeng, bahkan anggurpun ada.


"Memang boleh, Kak."


"Kamunya mau apa nggak .... Kalau mau, kakak akan ngomong sama papa mama dan bibi. Biar diijinin kamu tinggal di rumah papa mama ...."


"Tapi, kalau aku ikut kakak, kira-kira bisa nggak aku ketemu bunda Zulfa?" tanyanya penuh harap.


"Kita berdoa saja, semoga bisa cepat ketemu. Papa mama mau bantu kamu."


Rupanya Mutia berfikir lama, sampai-sampai Rohman selesai mengambil kelengkeng belum juga memberikan jawaban.


"Bagaimana ...?"


"Ya dech, Kak. Pokoknya aku pingin kali ketemu bunda Zulfa ku. Mau tinggal di sini atau di tempat om Ridho tak masalah."


"Yes," teriak Rohman gembira.


"Nich, makan dulu kelengkengnya." Rohman memberikan segerombol kelengkeng padanya. Lalu manjat lagi, untuk memetik lagi.


"Kak sudah banyak. Siapa yang habisin."


"Hehehe .... Jangan khawatir, nanti kakak yang habisin." jawab Rohman dari atas pohon.


💎

__ADS_1


Di tempat Irwan ....


Paginya, mereka mengurusi persiapan Umroh. Baik Zulfa maupun Lika. Ternyata Lika didaftarkan juga oleh Irwan untuk ikut umroh.


Alhamdulillah dalam sehari sudah beres semua. Visa, suntik vaksin minginitis, serta keperluan lainnya. Untungnya Zulfa sudah masuk kelompok pengajian yang sering mengadakan latihan menasik haji, tak ada kendala soal itu. Beres dech ....


Trevel yang dipakaipun ada hubungan kelompok pengajian yang diikuti. Punya keluarga pula yang tinggalnya di Mekkah. Syukur alhamdulillah, dimudahkan .....


"Bunda, bagaimana ...."


"Terima kasih, Wan. Sudah memberangkatkan bunda umroh."


"Doakan Irwan sukses selalu, Bun."


"Pasti, Wan."


"Oh ya, Bun. Nanti kita berangkatnya sama-sama dengan rombongan dari daerah Ngawi. Ketemu di bandara."


"Banyak ya, Wan."


"Banyak sich, Bun. 2 bis, satu dari sini, satu dari Ngawi."


"Pasrah aja dech, Wan. Urtusan kaya gitu. Bunda hanya punya niatan umroh, titik."


"Hanya sekedar informasi saja, Bun."


Kemudian Zulfa diam, tampak terrmenung di samping Irwan, yang sedang mengemudi. Sedangkan Lika sich sudah sejak mobil dihidupkan, sudah menutup matanya dengan kain, dan bersandar pada bantal yang dibawanya. Kelihatannya sangat tenang, mungkin sudah masuk ke alam mimpi.


"Bunda mikir apa?"


"Kepikiran Mutia. Bagimana keadaannya sekarang .... Sudah sebulan lebih, belum ada kabarnya."


"Irwan juga kepikiran, Bun."


....


....


....


_____ ______________________


terima kasih readers yang setia membaca tulisan author ini. semoga sehat dan bahagia selalu...


Jangan lupa votenya, meski agak-agak nggak ikhlas...

__ADS_1


apalagi kalau ikhlas, author seneng banget 💟💟💟💟🙎🙎🙎


__ADS_2