KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Babak-babak Terakhir 3


__ADS_3

Pertarungan tangan kosong itu cukup menguras enargi keduanya. Karena Bobby dan Heru tak mudah ditaklukkan. Mereka benar-benar terlatih sehingga mampu menangkis semua serangan yang  dilancarkan.


Tanpa mereka sadari, wanita yang bersama Adzel secara sembunyi-sembunyi mengambil sebuah senjata yang tergeletak begitu saja, yang terlempar saat terkena tendangan Heru dan juga Bobby.


Maksud hati mengarahkan pistol itu pada Bobby yang telah menculik adiknya, tapi terlalu sulit untuk melakukannya. Karena pergerakan Bobby dan juga Steve yang sering kali berpindah posisi. Bahkan terkadang Heru dan Hasan yang menggantikan posisi tempat mereka bertarung.


Ini benar-benar membuat wanita tersebut semakin sulit untuk mengarahkan tembakannya. Di tengah kebingungan, dia menarik pelatuk itu dengan mata terpejam. Amarah yang kini menguasai nuraninya, tak bisa membuatnya berpikir jernih. Hanya bisikan dalam hatinya sebagai pedoman untuk mengarahkan tembakannya. Entar benar entah salah, tak tahulah.


Dor ... Sebuah tembakan berhasil dilepaskan.


“Ah!!”


Sebuah jeritan kecil terdengar. Segera dia membuka mata, melihat apa yang terjadi.


Alangkah terkejut dirinya, saat mengetahui siapa yang telah berhasil ditembaknya. Bukan Bobby, melainkan seseorang yang baru saja tiba. Lelaki yang tak dikenalnya, datang bersama seorang yang tegap dengan mata berwarna biru dan juga baju yang tak mempunyai lengan.


Sontak membuatnya ketakutan. Ternyata benar-benar salah sasaran. Tapi dia bersyukur, telah mampu menjatuhkan salah satu anak buah Bobby, dalam sangkaannya.


Adapun Hasan yang mendengar keributan itu sangat terkejut. Apalagi dengan tindakan wanita itu. Dia telah melukai bahu Herman yang datang bersama Steve.


“Apa yang kamu lakukan.” Hasan berkata sambil menangkis serangan Bobby yang kini berpindah melawan dia.


“Kamu salah tembak.”Konsentrasi Hasan dibuat terpecah dengan kecerobohan wanita itu. Apalagi saat melihat Herman  meringis, memegang bahu sebelah kiri yang tampak berdarah. 


Sambil menahan rasa sakit dan menyandarkan tubuhnya di dek, dia hendak mengarahkan pistol yang dibawanya ke wanita itu.


“Jangan tembak.” Herman mencoba memberi peringatan meski harus dengan melayani  tendangan Bobby yang hampir mengenai kepalanya. Beruntung dirinya mampu menghindar. Bahkan gerak refleknya mampu membuat Bobby harus menahan sakit oleh tangkisannya. Dan membuatnya hampir terjatuh.


Herman tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Hasan, tapi dia mematuhinya, dengan menurunkan pistolnya segera.

__ADS_1


Adapun wanita itu terlihat bingung dengan semua yang dikatakan Hasan. Dia menengok ke kanan dan ke kiri dengan senapan masih ditangannya.


Belum juga dirinya memahami apa yang telah dilakukannya, Steve dengan cepat menendang senapan yang dipegangnya.  Sehingga senapan itu jatuh, terlempar agak jauh. Sayang tepat berada di kaki Bobby.


Melihat senapan yang tergeletak yang tiba-tiba berada di kakinya, memberikan angin segar pada dirinya. Agar dapat segera menyelesaikan pertarungannya.  Agak kewalahan juga menghadapi Hasan dan Edzel meski sudah dibantu oleh Heru.


Tak membuang kesempatan. Dia pun mengambilnya. Kini senapan itu sudah ada ditangannya, siap digunakan. Tapi sayang Steve melihatnya.


Sebelum berhasil menarik pelatuk nya, Steve telah menembaknya terlebih dahulu pada jari-jarinya. Dan tepat sasaran sehingga membuat jari tangannya berdarah. Adapun senjata itu pun jatuh tak jauh dari kakinya. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang dideritanya, Bobby mengambil senjata itu kembali.


Tak mau ambil resiko lagi, Steve menembak betisnya. Dor ... dia terkejut lalu roboh, meski demikian  tidak ada kata menyerah dalam kamus Bobby. Dia tetap melakukan perlawanan. Hanya saja karena luka yang dideritanya di jari-jari dan juga betis maka pergerakannya agak terhambat. Sehingga memudahkan bagi Edzel untuk melumpuhkannya.


Heru yang melihat Bobby telah dilumpuhkan, khawatir bila dirinya bernasib sama. Apalagi kini dia sendirian. Tak mungkin bisa mengalahkan Hasan dan Edzel, apalagi ada juga Steve dan juga beberapa anggota kepolisian yang juga mulai berdatangan. Dia segera balik badan, berniat melarikan diri.


Dor ... dor ... 2 tembakan bersarang dalam tubuhnya. Satu dari seorang anggota kepolisian yang mengenai betisnya. Satu dari   Steve berhasil mengenai punggung, membuatnya tersungkur seketika. Rupanya peluru itu tepat menembus jantungnya, is death. Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun ....


Sementara anggotanya menyelesaikan dan membereskan akibat dari peristiwa yang baru saja terjadi, Hasan mengikuti Steve dan juga Edzel menyusuri setiap ruang yang ada di kabin kapal tersebut. Barangkali menemukan  petunjuk tentang keberadaan warga Australia yang selama ini  dinyatakan hilang.


Bbrruuaakkk ...


Sungguh dorongan yang sangat kuat dan keras. Membuat daun pintu terbuka dan engselnya hampir terlepas.


“Astaghfirullah al adzim ....” Kata pertama yang terucap dari bibir Hasan, saat menyaksikan beberapa wanita yang tergeletak tak berdaya. Seperti sengaja dibuat tak sadarkan diri, dalam pengaruh obat-obatan terlarang.


Ada beberapa wanita asing di sana, dan dalam keadaan yang sama pula, lemah tak berdaya. Membuat Hasan makin miris. Tak menyangka kalau ada hal seperti ini di wilayahnya.


Segera dirinya memanggil beberapa anak buahnya untuk membantu wanita-wanita lemah itu ke dalam kendaraannya. Dan dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diberi pertolongan.


Sedangkan wanita yang bersama mereka dan telah menembak Herman kini diam terpaku. Dia baru saja menyadari kesalahan fatal yang telah diperbuatnya, menembak seseorang yang menolongnya.

__ADS_1


Dengan penuh penyesalan, Dia menghampiri Herman.


“Boleh aku membantumu?”


“Tak usah.” Kali ini Herman merasakan sakit yang sangat, dan juga panas, karena martil yang bersarang di bahunya.


Tapi dia tetap ingin membantunya. Saat melihat luka Herman mulai mengeluarkan banyak darah. Dia berinisiatif untuk menghentikan pendarahan itu. Tanpa pikir panjang dia memegang ujung bajunya, seperti akan ....


“Jangan!” Herman mencegahnya sebelum aksi itu dilakukan. Membantu boleh, tapi jangan merobek baju. Wah, bisa berabe nantinya.


“Tapi lukamu perlu dibalut ....”


“Baik, tolong aku.” Herman segera melepas lengan kanannya yang tak terluka agar bisa melepas baju luarnya, tapi saat melakukannya untuk lengan kirinya, dirinya kesulitan, luka itu ada di sana.


“Baiklah.”Dengan sangat hati-hati, wanita itu membantu,  membalut luka itu dengan bajunya.


“Namamu siapa?” tanya Herman memecah kesunyian serta untuk mengusir rasa sakit yang makin terasa dan hampir membuatnya pingsan.


“Hanum.”


“ Kamu kok bisa di sini?”


“Aku mencari adikku.”


“Seorang diri?”


“Aku mengikuti kakak tiriku. Itu yang di sana." Sorot mata mengarah pada sesosok tubuh yang tergeletak bersimbah darah tak jauh dari mereka berada. "Tapi aku tak menyangka, kalau ternyata kakakku temannya penjahat kejam."


“Kakak tiri?”

__ADS_1


“Bunda menikah dengan ayahnya setengah tahun yang lalu, lalu meninggal dalam sebuah kecelakaan. “


__ADS_2