
Sementara itu,Herman yang malam itu pulang dari rumah Maria, tanpa hasil apa-apa, merasa putus asa. Tak dapat dipungkiri, kali ini dia hanya memikirkan keberadaan Mutia.
Bahkan saat mereka menikmati makan di sebuh restoran, dirinya menjadi enggan memesan sesuatu. Sekedar minuman hangat, untuk menemani Ayyas makan malam dengan lahap.
"Mas, nggak makan?"
"Sudah kenyang, Yas." jawab Herman malas.
Ayyas mungkin kurang peka, kalau Herman sedang banyak pikiran. Tentang Mutia yang sampai saat ini belum ada titik terang. Tentang Maria, tak tahu apa yang akan dia putuskan untuknya..
Akankah dia akan menceraikannya. Karena sudah cukup alasan untuk Herman mengambil tindakan demikian. Siapapun itu, pasti tak bisa mentolerir perbuatannya. Tapi bagaimana ....
Ada kekhawatiran sendiri dalam dirinya, bukankah Mutia ada ditangan Maria. Bisa-bisa itu akan mengancam keselamatan jiwanya. Tentu hal itu tidak dia inginkan. Selama Mutia belum di ketahui keberdaaanya, tak mungkin dia bertindak secara gegabah.
Mungkin ada baiknya, kalau dia melapor pada pihak yang berwenang. Dengan cara itu Mutia lebih cepat diketemukan.
"Yas, kita mampir ke kantor polisi, bagaimana?"
"Lho, sejak awal kan sudah lapor. Bersamaan dengan laporan penganiayaan Maria sama kamu dan mama"
"Iya ... ya."
"Tapi entah kenapa, sampai sekarang kok belum ditemukan,"guman Ayyas.
Kembali Ayyas melanjutkan makannya. Sedangkan Herman pikirannya mengembara kemana-mana. Bayangan masa lalu, ketika dirinya hampir mencapai puncak di Batam, kembali hadir.
Mengapa juga kamu hadir Maria ....
💎
flashback
Dari satu tempat pindah ke tempat lain, adalah caraku untuk menghindari orang-orangnya tuan Alfa. Sebenarnya itu bukan masalah, seandainya ... kalau saja Maria, wanita penuh ambisi dan pembunuh berdarah dingin itu , ikut campur di dalamnya.
Kebiasaan berjudi ini, yang membuatku terjerat dalam permainan tuan Alfa. Tak lain dan tak bukan seorang bandar judi yang kejam. Dia pandai menjerat rekat-rekannya untuk bermain judi hingga melarat. Entahlah, akupun larut di dalamnya ....
" Her, tak usah kau pikirkan. Main saja ... Pasti menang."
Membuatku bersemangat melanjutkan permainan. Tapi pada akhirnya kalah juga. Hingga harus pulang dengan tangan hampa, tanpa membawa uang sepersenpun. Padahal harapanku bisa membawa hasil, yang bisa mengembalikan hutangku kemarin. Bukannya berkurang, bahkan semakin bertambah.
Sungguh aku ingin berhenti, akhirnya langkah akhir adalah dengan menyerahkan mobil pick up yang ku punya. Mobil satu-satunya, alat tranportsi yang biasa kugunakan untuk berdagang. meski itu tak bisa menutupi semua hutang-hutangku.
"Herman, mobilmu itu tak cukup untuk menutupi hutang-hutangmu."
"Maaf, Pak. Hanya itu yang ku punya."
"Aku tahu kamu masih mempunyai rumah."
__ADS_1
"Tidak, Pak. Itu rumah orang tua saya."
"Sama saja bukan. Rumahmu atau rumah orang tuamu."
"Maaf, Pak. Saya tak bisa."
"Lalu?"
"Nanti akan saya bayar kalau sudah ada. Pasti itu, Pak."
"Hahaha ... ada saja kamu, Her. Sudah, tak gunanya ngomong, lebih baik bertindak."
Alfa dengan cepat berlalu dari hadapan Herman, menuju garasi rumahnya.
"Bapak mau kemana?"
"Ke rumahmu tahu!"
"Jangan, Pak." Herman tak sanggup membayangkan bagaimana nanti dengan keadaan mamanya. Bila tiba-tiba rumahnya didatangi orang, lalu mengusir dia secara tiba-tiba.
Untunglah, saat itu Maria keluar dari kamarnya.
"Papa, demi anakmu Pa. Janganlah papa ambil rumah mas Herman." ucapnya dengan nada mengiba.
Alfa menghentikan langkahnya, menatap putrinya dalam-dalam. Apa maksudnya ....
"Maria, ada apa denganmu, Nak?"
"Maafkan Maria, Pak. Maria tak tega." jawabnya pelan.
Alfa kembali lagi, dan mendudukkan tubuhnya di kursi tamu yang empuk. Lalu menatap tajam Herman.
"Keluar kamu."
Sebenarnya, aku masih penasaran dengan maksud Maria, meminta ayahnya untuk membebaskan diriku. Tapi karena tuan Alfa, sudah memintaku untuk keluar, tak ada jalan lain, kecuali menuruti perkataannya. Akupun melangkah keluar dengan lesu. Mengutuki diriku yang tak bisa lepas dari kebiasaan buruk. Hingga hampir saja rumah peninggalan ayah untuk mama, tergadai begitu saja.
Malu rasanya pulang, dengan keterpurukan seperti ini. Untuk menenangkan pikiran, seperti biasa, mampir ke warung dulu, minum-minum. Begitulah kebiasan kujalani selama ini.
Dan yang tak ku sangka, saat minum-minum itu, putri tuan Alfa, Maria datang menemuiku. Ada maksud apa, aku tak tahu. Pikiran ini melayang-layang kemana-mana, pengaruh alkohol yang aku minum. Entah apa yang dia katakan padaku, aku tak tahu.
Apakah Maria menyatakan perasaannya padaku. Entahlah ....
Aku tak mau menghianati istriku yang sangat kucintai. Tapi hasratku malam itu memuncak hingga ... Ach ....
Pada akhirnya, malam itu terjadi peristiwa yang tak kuinginkan. Maafkan aku Zulfa, telah mengkhianati pernikahan kita ....
Akupun meninggalkannya begitu saja ....
__ADS_1
Alangkah marahnya Alfa pada diriku. Dalam keadaan mabuk telah mengambil kesucian putri satu-satunya. Apalagi saat Alfa tahu, aku meninggalkan Maria begitu saja. Lari dari kenyataan dan tanggung jawab.
Dia tahu kalau putrinya sangat menginginkanku, meski dia sangat tidak menyukai diriku.
Ah ... Mengapa harus seperti ini. Aku ingin lepas dari semua. Maaf kalau aku sangat pengecut menghadapi masalah ini. Lari dan lari lagi .... dari orang yang kucintai.
Sampai kapan, diriku punya keberanian untuk menemuinya lagi.
Akhirnya terdamparlah diriku di pulau Batam, jauh dari tempat masalah, yang ingin ku kubur.
Di tempat baru, diriku sudah benar-benar berniat meninggalkan, apa itu yang namanya judi. Yang terbukti menyengsarakan orang-orang yang aku sayangi. Tapi untuk minuman keras, belum bisa kutinggalkan seutuhnya. Apalagi lingkunganku juga terbiasa menggunakan minuman keras itu, pada saat mengadakan pesta.
Saat perekonomianku sudah mulai mapan di tempat baru ini, timbul keinginan untuk menjemput Zulfa dan putra-putriku. Tapi niat itu terhalang. Rupanya Maria berhasil menemukanku lebih dahulu.
Ternyata, selama ini tak pernah melepaskanku. Dia berhasil menyusulku, meski diriku telah lari jauh darinya. Aku menyerah ....
Sekali lagi, maafkan aku Zulfa ...
Maria, putri gembong mafia. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Apalagi dirinya mengancam dengan keluargaku. Aku benar-benar dibuatnya, tak berdaya.
Hanya satu permintaannya, menikahinya.
Bahkan Maria mau meninggalkan keyakinannya, demi bersanding denganku.
Ah ... laki-laki kan boleh beristri lebih dari satu. Aku berdalil ....
Padahal aku nggak ngerti agama. Sholat no ... Mabuk yes .... Benar-benar nggak punya otak.
Sayang, niat baiknya harus terguncang karena aku tak mengerti agamaku sendiri. Hingga dia hampir-hampir tak beragama karena mengikuti diriku. Gimana mau beragama, kalau dirikupun masih kurang ....
Sebenarnya Maria itu baik, meski sangat manja dan boros. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kehidupan sebelumnya. Yang serba ada dan berkecukupan. Aku memakluminya ...
Meski agak temperamen.
Sudahlah, dia adalah istriku ....
Tapi, dibanding diriku yang dulu.Tentu dirinya lebih baik .
...
...
...
terima kasih readers yang setia membaca tulisan author ini. semoga sehat dan bahagia selalu...
Jangan lupa votenya, meski agak-agak nggak ikhlas...
__ADS_1
apalagi kalau ikhlas, author seneng banget 💟💟💟💟🙎🙎🙎