
"Kamu sudah siap, Maria?"
"Maksud Mas Herman?"
"Hubungan kita."
"Mas serius?"
"Aku sudah tak bisa lagi lari darimu. Baik , kita menikah."
"Benarkah."
"Kalau kamu setuju. Kalau tak, tak jadi masalah."
Mata Maria berbinar-binar senang, senyum ceria tersungging di bibirnya. Tak terkira bahagia hatinya, diapun spontan memeluk Herman dengan sangat erat. Herman terkesima, sampai lupa bernafas.
"Mau, Mas Herman." ucap Maria penuh keceriaan.
"Syukurlah, tapi lepaskan pelukanmu dulu. Mas tak bisa nafas."
Satu bulan, sudah cukup bagi Herman untuk mengenal Maria. Gadis yang ceria dan manja. Meski kurang terampil dalam urusan dapur. Tak jadi masalah .... Bisa beli ... he ... he ... he ....
Tanpa Herman sadari, dia juga mulai menaruh hati pada Maria. Apalagi saat ini, dia memerlukan seorang pendamping untuk menjalani hari-hari yang selalu diliputi kesunyian. Ya ... tujuh tahun semenjak dia meninggalkan rumah. Sejenak lupa dengan istri yang dirindukannya, Zulfa.
"Sekarang, beri tahu keluargamu."
"Untuk apa?"
"Menikah itu harus ada walinya. Tak maukah dirimu menikah secara resmi."
"Itu harapanku, Mas." dia berujar penuh kemanjaan, membuat jantung Herman berdetak lebih cepat.
"Baiklah, aku telpon sekarang." Sambil membuka hp-nya.
Belum sempat dia memencet nomor yang dia kehendaki, dia harus kembali berfikir dengan ucapan Herman selanjutnya.
"Tapi, aku menikahimu berdasarkan keyakinanku. Kamu keberatan?"
Maria diam sejenak, mencoba menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil. Tapi ... pada dasarnya sejak awal dia sudah terpesona. Tanpa sadar selalu mengikuti kemana Herman pergi. Dan kini Herman sudah menerimannya, sesuai dengan yang dia harapkan. Apa yang mesti ditunggunya lagi. Dengan penuh kebahagiaan, diapun mengangguk.
"Aku tak keberatan, Mas."
Satu sisi Herman sangat senang, Maria mau mengikuti keyakinannya. Di sisi yang lain, dia tak tahu apa yang akan dilakukannya. Kalau syahadat, dia bisa mengajarinya. Tapi yang lainnya, mana dia tahu. Sholatpun, sekarang hampir tak pernah dia jalankan. Puasa apalagi, bikin tak kuat kerja saja, itu pikirnya. Kewajiban-kewajiban yang lain, apa itu. Dia sama sekali tak tahu. Hanya satu yang dia tahu, mengucapkan syahadat. Perkara yang lain, tak penting lagi ....
(Astaghfirullah al adzim .... )
"Untuk awalnya, kamu belajar mengucapkan syahadat dulu, Maria ...."
"Mas, ajari ya ...."
"Baiklah ...."
"*** ha tu .... Sebentar ... mas kok lupa ya ...."
__ADS_1
Sayang disayang, rupanya Herman juga lupa. (Inna lillahi ....). Untung sekarang zaman serba mbah google. Tanya saja ... Mbah google akan menjawab. Demikian pula yang dilaukan Herman, tak bisa ... dia buka google untuk mencari bacaan syahadat, serta mengucapkannya dengan benar.
Berlahan-lahan mereka bersama-sama mengikuti arahan dari mbah google dan juga ingatan Herman tentang bacaan itu. Memang agak susah, tapi Maria dapat mengucapkannya, meski dengan terbata-bata.
Setelah Herman yakin dengan bacaan Maria, diapun mengungkapkan akan rencana pernikahan mereka selanjutnya. Tentang wali bagi Maria. Bukankah tak sah menikah tanpa wali .... Itu yang dia ingat.
"Sudah telpon?"
"Belum nyambung."
"Coba lagi ..."
Setelah menghubungi sebanyak tiga kali, akhirnya telepon Maria terangkat juga.
"Hallo, Kak Edzel."
"Maria ... Kamukah?"
"Ya Kak, ini aku, Maria ...."
"Kenapa kamu pergi. Nggak kasih kabar keluarga pula."
"Maafkan aku, Kak."
"Apa yang kau cari di luar sana?"
Maria mengerti dirinya salah. Dia diam sejenak.
"Bagaimana kabar papa mama?"
"Tak mungkin aku lupa, Kak."
"Kenapa nggak pulang?"
"Aku belum tenang kalau belum menemukan mas Herman."
"Ketemu?"
"Kita sudah bersama."
"Maria! ... Jangan lakukan itu lagi."
"Kami tak menginginkannya juga. Mas Herman ingin menikahiku secara resmi."
"Benarkah? ... Atau kalian sudh menikah, tak memberitahu keluargamu?"
"Kami belum menikah. Tapi akan menikah dalam waktu dekat. Mas Herman menginginkan perwalian untukku."
"Ya ... lebih baik kamu pulang dulu. Biarlah papa jadi walimu."
"Tak mau aku, Kak. Nanti mas Herman meninggalkanku lagi."
"Apa kamu ingin meninggalkan papa?"
__ADS_1
"Kakak jangan berkata begitu, aku selalu merindukannya."
"Lalu maumu apa?"
"Kakak bisa ke sini?"
"Dimana itu?"
"Di Batam."
"Sejauh itu, kamu mengejar si Hermanmu itu?"
"Bagaimana, bisakan Kak ... Dan bawa papa juga."
"Ku usahakan. "
"Makacih, Kak."
"Tadi kamu bilang bersama Herman. Dimana dia. Kakak mau ngomong."
"Iya. Ini di sampingku."
Maria menyerahkan handpone itu pada Herman yang mendengar dengan baik pembicaraan mereka.
"Hallo, kak Edzel."
Tanpa menjawab sapaan dari Herman, Edzel berkata, "Aku akan ke tempatmu dalam minggu. Kuharap kamu sudah siap dengan maharnya. Kalau ini bukan permintaan adikku, tak kan kuijinkan adikku menikah denganmu." ucapnya dengan penuh amarah.
Herman yang mendengar itu, tertegun sejenak. Tapi dia tak menghiraukannya.
"Maria akan senang sekali, seandainya ada keluarganya yang bisa datang di hari bahagianya. Dan aku berterima kasih sekali, kalau yang yang datang adalah kak Edzel sendiri."
"Kamu menang, Herman. Tapi jangan senang dulu ..."
"Kak, terimalah kami."
Lama tak ada jawaban. Hingga Herman merasa tak ada respon lagi, dia ingin menutup percakapan itu.
"Baiklah, aku terima."
"Terima kasih, Kak."
"Sudah, by. Jaga adikku baik-baik. Sebelum menikah jangan sentuh adikku, Herman. Cukup saat itu yang tercatat dalam ingatan kami. Satu lagi ... bila aku dengar adikku tersakiti. Aku tak segan menyakiti anak dan istrimu."
"Ya, Kak."
Hermanpun menutup handpone-nya setelah Edzel lebih dulu menutupnya. Untuk sesaat ada lintasan keraguan dalam hatinya. Karena di sana ... ada satu hati yang tak mungkin berhianat padanya. Dan kini dialah yang lebih dulu berkhianat. Entahlah ... rasa apa ini. Tiba-tiba hatinya menjadi sesak. Berulang kali dia akan menekan nomor itu. Tapi berulang kali pula niat itu terkubur dalam kemauan yang kini hendak dia wujudkan. Maafkan aku Zulfa ....
💎
Sekali sebulan, Zulfa selalu mengajak anak-anak picnik, sekedar melepaskan kepenatan yang telah menumpuk. Agar badan menjadi segar, dan kembali bersemangat dalam bekerja. Hari ini, Zulfa mengajak anak-anak sedang bersenang-senang menikmati keindahan pagi di taman, yang ada di tengah-tengah kota.
Lika dan Irwan berlari-lari, saling menggoda di antara mereka. Tak ada duka, yang ada hanya kebahagiaan saja. Tampak dari pancaran sinar senyuman yang selalu menghias wajah mereka. Zulfa menunggui mereka, duduk di bawah rindangnya pohon beringin yang rimbun, dengan keranjang yang berisi penuh perbekalan.
__ADS_1
Entah mengapa, hari minggu ini dia ingin menghabis waktu bersama anak-anak berkunjung ke taman itu. Taman yang sedikit banyak menyimpan kenangan manis dirinya dan juga Herman di awal-awal pernikahannya dulu. Berdua, tanpa gangguan.Tempat dia berpacaran dengan Herman setelah dihalalkannya ....
Dia senyum-senyum sendiri, mengingat kejadian itu. Sebuah kenangan yang sulit sekali dilupakan. Meski telah bertahun-tahun terlewat. Mengingat itu, seakan terbayang lagi wajah suaminya. Suami yang telah memberinya anak-anak yang lucu. Dan sekarang sudah mulai beranjak meninggalkan masa kanak-kanak.