KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Adik Tia


__ADS_3

Surat yang baru saja dia terima, dari seseorang yang tak di ketahui namanya. Ini apa maksudnya .....


Halimah mencoba mencerna kalimat-kalimat yang tertulis dalam surat tersebut.


"Herman, sini dech, mama kok nggak ngerti masalah ini?"


"Apa, Ma...." dia mendekati, dan membaca isi surat tersebut. Dia senyum-senyum. Akhirnya benar, apa yang menjadi dugaannya.


"Mama nggak usah khawatir. Sudah Herman beresin. Bukankah kita disuruh mengosongkan rumah ini sebulan lagi. Masih ada waktu." kata Herman sambil bercanda.


"Maksudmu, mama suruh pergi dari rumah ini. Nggak bakalan, lebih baik mama mati kalau suruh meninggalkan tempat ini." kata Halimah bersungut-sungut.


"Lha, katamu sudah kamu urus. Kok ada surat kaya gini."


"Memang sudah jadi, tadi baru Herman ambil dari Ayyas" Herman bersemangat sekali menerangkannya pada Halimah.


"Ya ... anggap saja dari orang nggak waras." jawab Herman dengan santainya.


"Ya sudah. Mama jadi tenang." sambil mengibaskan tangannya.


"Sudah kamu masuk ke dalam sana. Aku mau tunggui Aldo sama Zulfa."


"Zulfa mau ke sini, Ma?" hati Herman jadi berbunga-bunga.


"Kalau kamu menghilng dari hadapan mama... Sana pergi, sebelum dia datang."


"Mama kok tega bener ngusir anaknya sendiri, demi mantan anak mantu."


"Suka-suka mama. Sekarang pergi atau Aldo nggak pernah pulang, biar ikut sama bunda Zulfanya."


"Ya dech, Herman ngalah. Dari pada nggak dapat dua-duanya." kata Herman kecewa. Meninggalkan Halimah yang sedang menikmati penantiannya dan juga kopi susunya.


Sedangkan Herman berlalu sambil membawa surat yang baru dia terima. Ini bisa dijadikan bukti, kalau-kalau Maria menginginkan hak asuh atas anaknya. Seingat Herman hak asuk untuk anak dibawah umur, berada di ibu kandungnya. Kalau itu terjadi, rasanya nggak mungkin dia akan rela menyerahkan mereka pada Maria, meskipun dia ibu kandungnya. Lebih baik di tangan Zulfa. Bukan mau membebani, tapi anak-anak lengket banget sama Zulfa. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Zulfa ....


Lagian juga dia sudah mengantongi laporannya ke kepolisian terntang penyerangan Maria pada ibu dan dirinya. Semoga itu bisa memperkuat hak asuh atas anaknya. Cuma, sampai sekarang kamu di mana, Nak .... Tuhan pertemukanlah diriku dengan Mutia dengan segera. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu, apabila surat cerai itu keluar.


Senin besok, aku tinggal tanda tangan. Tuhan, lindungilh putriku ....


Semoga ini yang terbaik ....


Tak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki halamannya. Tetdengar suara 2 orang wanita yang amat dirindukannya. Tapi dia ragu dan malu untuk menemuinya. Apalagi sudah ada warning darinya ' JANGAN PERNAH TEMUI AKU' . Tak berani Herman melanggarnya. Meski sangat ingin.


Tak lama, terlihat Aldo yang tergesa-gesa, masuk ke dalam kamarnya. Lalu seperti biasanya, keluar dengan tas yang penuh terisi.


"Kakak Aldo mau kemana. Nggak pamit dulu sama ayah."


"Itu, Yah. Bunda mau ajak Aldo jalan-jalan, sekalian nginap di rumah bunda." Aldo mendekati ayahnya, berpamitan sambil cium tangan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ayah."


"Wa alaikum salam. Baik-baik di sana ya ...."


"Beres, Yah." jawabnya sambil berlalu pergi.


Tak lama terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah mereka. Bersamaan dengan Halimah masuk, dengan membawa paper bag yang entah isinya apa. Mungkin oleh-oleh umroh Zulfa dan anak-anak.


💎


Di panti asuhan ....


Begitu tiba, Ridho segera berangkat ke panti asuhan bersama istrinya. Di sana mereka sudah disambut anak semata wayangnya, Rohmat. Tak terkira bahagianya Rohmat menyambut kedua orang tuanya, dia mengajak Tia untuk menemui juga.


"Siap untuk pulang?"


"Tapi aku bawa adik Tia ya, Ma." kata Rahmat penuh harap.


"Adik Tia?"


Dia melirik ke arah Mutia yang sedang duduk, sambil kakinya bermain-main dengan kucing.


"Sebentar-sebentar, ini awal ceritanya gimana?"


"Rahmat sudah lama kesepian, di rumah sendirian terus." rengeknya. Bikin papa Ridho senyum-senyum penuh arti. Kalau gini usulan Rahmat mungkin lebih bisa dilaksanakan, batin mama Redha berbisik.


"Inikah yg bernama Tia?" tanya Redha pada putranya.


Rahmat mengangguk. Lalu dia menyenggol lengan Tia. Diapun mengerti. Lalu mendekati mama papanya Rahmat.


"Tia, tante." kata Tia sambil menyalami mama Redha dan papa Ridho.


"Kamu mau ikut kami, Nak?"


Dengan senyum lesung di pipinya, dia menjawab dengan tegas, " Mau tante, asalkan Tia dipertemukan dengan bunda Zulfa. "


"Hus, jangan panggil tante, panggil mama." Rahmat berbisik di telinga Tia. Bikin Redha maupun Ridho senyum saja.


"Iya, panggil papa mama saja, jangan tante. Ikuti saran kakakmu itu, Tia." sahut Ridho


"Bolehkah?" Ridho mengangguk.


"Alhamdulillah ... Sekarang Tia punya papa mama, kayak kak Rahmad." ucap Tia dengan gembira.


Sedangkan Redha masih sibuk berfikir, dengan perkataan Tia baru saja.


"Bunda Zulfa ...." Redha jadi ingan Zulfa, teman satu kamarnya waktu umroh. Tapi dia masih bingung. Apakah Zulfa itu yang dimaksud, atau Zulfa yang lainnya. Kalau Zulfa yang dimaksud adalah yang itu, tak mungkinlah. Dia kaya, mau apa meletakkan anaknya di panti asuhan. Dan lagian Zulfa hanya punya anak 2. Yang kemarin umroh juga. Tapi kalau melihat wajahnya, seperti Lika .... Tak tahulah.

__ADS_1


"Tia rumahnya di mana?"


Wajah Tia seketika tampak sedih, dan sepertinya ... nggak mau menjawab. Rahmat segera mendekatinya. Membisikkan sesuatu agar mamanya tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Sudah, jangan kau pikirkan pertanyaan mama. Ayok sekarang kita pulang, ke rumah mama. Mau kan?" Tia mengangguk senang.


Ridho segera tanggap, dia mendekati Ridwan. Untuk mencari tahu, bagaimana bisa Mutiara bisa sampai di panti asuhan ini.


"Begitulah, Bang." kata Ridwan mengakhiri ceritanya.


"Oh ... Ya sudah," kata Ridho mengangguk-angguk.


"Ridwan, aku bawa dulu Tia. Moga-moga kerasan di rumahku."


"Ya, Kak. Moga-moga orang tuanya juga lekas ketemu."


Sepanjang perjalanan Redha terus memikirkan Zulfa. Bahkan dia tidak sadar, ketika Ridho membelokkan mobil mereka ke toko pakaian.


"Ma, sudah sampai." kata Ridho, membuyarkan lamunan Redha. Tapi rupanya, Redha belum respon juga.


"Ma, katanya mau belikan Tia baju. Ayo kita turun."


"Eh ya, Pa." jawabnya gugup. Redha lalu turun. Yang diikuti pula Tia dan juga Rahmat. Mereka bersama-sama memasuki toko baju yng cukup megah itu.


Di tengah-tengah memilih baju, dia mencoba mengorek keterangan dari Tia, siapa Zulfa yang dimaksud.


"Tia, kemarin mama bertemu dengan bunda Zulfa, tapi mama masih ragu. Apakah Bunda Zulfa yang Tia maksud itu, temen tante itu atau bukan."


"Benarkah mama ketemu dengan bunda Zulfa?"


Redha mengeluarkan hp-nya. Dan memperlihatkan slide-slide foto mereka, bersama Lika juga.


Wajah Tia seketika gembira.


"Itu bunda Zulfa, Ma.....


....


.....


.....


____ _____ _____________________


terima kasih readers yang setia membaca tulisan author ini. semoga sehat dan bahagia selalu...


Jangan lupa votenya, author seneng banget kalau terkabul 💟💟💟💟🙎🙎🙎

__ADS_1


__ADS_2