KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Masihkah Diriku Dalam Ingatannya


__ADS_3

Bagaimanapun Herman, tetap ayah dari anak-anakku. Kehadirannya amat diperlukan bagi perkembangan mereka. Tapi aku tak tahu takdir yang menyelimuti kita. Hingga sulit dirimu untuk berubah. Yang akhirnya kita harus berpisah.


Aku berharap, dengan ini dirimu bisa mengambil pelajaran. Anak-anak dan aku akan selalu menunggu. Kehadiranmu dalam kebersamaan rumah tangga yang baru setapak kita lewati.


Sejenak di awal kita merenguh dalam kebaikan. Yang itu sangat indah bagiku, dan aku sangat bahagia. Namun itu tak bisa mengembalikanmu dalam kebaikan selamanya.


Meski perjalanan ke depan, aku tak tak tahu arahnya ke mana. Tapi aku berbaik sangka, bahwa semua berjalan pada qodrat irodah yang Tuhan tetapkan untuk kita.


Aku berdo'a untukmu senantiasa. Agar engkau temukan jalan untuk pulang.


Hari demi hari, Zulfa menjalani kehidupannya seperti biasanya. Dia melanjutkan usahanya. Sambil merawat putra putrinya yang masih kecil yang memerlukan banyak perhatian.


Lambat laun usahanya berkembang. Meski belum besar, tetapi dia sudah bisa memperbantukan beberapa tetangga sekitarnya yang membutuhkan pekerjaan.


Ada sekitar 6 orang ibu-ibu yang kini membantunya dalam produksi. Dan juga pengepakan. Dan satu orang khusus dalam pencatatan sekaligus pemasaran.


Dikarenakan pesanan yang terus meningkat. Ruang yang dulu digunakan untuk fermentasi, kini telah diubah menjadi ruang produksi pembuatan kuenya.


Alhamdulillah, untuk penjualan lebih banyak yang mengambil sendiri ke rumahnya. Daripada minta untuk diantarkan. Ini memudahkan sekali dalam pemasaran.


Kadang kala ada pesanan dari luar kota, dia menggunakan jasa pengiriman barang.


Mama Halimah dan juga adik-adik Herman, amat bersyukur dengan kemandirian Zulfa dalam kesendiriannya.


"Mbak, ini ada dari luar pulau minta dikirim, apa bisa?"


"Minta nya berapa?"


"Masing-masing jenis kue 20 kilo."


"20 kilo?"


"Gimana, enaknya diterima apa nggak?"


"Diterima saja, Mbak Zulfa."


"Baiklah."


Demikian, hari demi hari perkembangan usahanya semakin meningkat. Kehidupan Zulfa lebih sejahtera dibanding pada saat Herman ada.


Dan sekarang Lika sudah bersekolah juga. Sedangkan Irwan sudah ke pendidikan sekolah dasar. Namun tak pernah sekalipun Herman datang atau berkirim kabar pada Zulfa.


Pada mulanya Irwan terlihat senang pada saat ayahnya pergi meninggalkannya. Demikian juga dengan Lika, dia juga tampak bahagia dengan keadaan itu. Meski dia belum tahu apa-apa.


Tapi lama kelamaan, ada rasa kangen juga dalam diri putra-putrinya, akan kehadiran ayahnya. Terutama Lika ....


"Bunda, ayah kok nggak pernah pulang." tanya Lika pada suatu hari.


Zulfa tertegun dan berdiam lama, menanggapi pertanyaan putrinya itu.


Lalu dia meraih putrinya dalam pangkuannya.


"Ayah sedang cari uang banyak, untuk belikan pesawat buat Lika."


"Benarkah Bunda?"tanyanya heran,"Tapi Lika nggak suka pesawat."


"Lalu apa dong."


"Lika sukanya boneka." jawabnya dengan sedikit merajuk.

__ADS_1


"Baik, nanti Bunda sampaikan. Tapi harus rajin sekolah dan sholat. Dan tak boleh nakal." kata Zulfa menghibur.


Irwan yang mendengar pembicaraan itu, menghampiri mereka.


"Dik, jangan ngomong gitu ya ... kasihan Bunda."


"Kenapa emangnya, Kak?"


"Nanti Bunda jadi sedih." sambil menggandeng tangan Lika, akan diajaknya pergi.


"Bunda tak apa, Sayang."


Justru kemudian Irwan yang memeluk bundanya dengan sedih. Sejenak Zulfa kaget dibuatnya. Lalu dia membelai kepala Irwan lembut.


"Ada apa Sayang?" tanya Zulfa.


"Sebenarnya ... sebenarnya Irwan juga kangen, Bunda."


Zulfa pun tersenyum, menatap Irwan.


"Sudah, kita do'a kan saja. Supaya ayah segera pulang."


"Baik, sekarang sana pergi mandi dulu. Nanti Bunda antar ke TPQ."


"Ya, Bunda."kata mereka serempak.


Mereka pun pergi dari hadapan Zulfa dengan semangat, untuk mandi.


Zulfa menatap kepergian mereka, dengan berbisik dalam hati.


Mas, lihatlah putra-putri kita, kini sudah semakin besar. Apakah dirimu tidak merindukannya.


🔷


"Hai, gimana kabarmu?" sapa seorang temannya.


"Tak tahulah, sepertinya aku mulai tak betah di sini."


"Siapa juga yang betah di sini, pasti orang bodoh."


"Hem ...."


"Kemarin ada temanku cari orang yang bisa nyopir, apa kamu mau?"


"Boleh juga."


"Oke. Buat lamaran .... aku tunggu."


"Wah, surat-surat penting di kampung."


"Tak apa, bisa nyusul." jawabnya.


"Siip."


"Kalau bisa kamu suruh kirim, supaya aku bisa promosiin kamu."


"Ya, aku usahakan."


"Habis ini ikut aku, ke bos."

__ADS_1


"Ini yang ku tunggu."


Setelah menyelesaikan minum kopi dan makan pisangnya, mereka berdua menuju truk yang terparkir.


"Ayo, kamu yang nyetir."


Herman menuju kemudi, duduk. Lalu menjalankan truk itu dengan tenang.


"Kita ke mana, Ziz."tanya nya kepada teman akrabnya yang bernama Aziz.


"Kita ke Bengkulu. Ngambil barang. Nanti balik lagi ke sini."


"Oke-oke."


Itulah kehidupan Herman yang sekarang harus dijalaninya.


🔷


Telah satu tahun lebih, Herman terdampar di tempat ini. Di perkampungan kumuh, yang ada di ibukota. Mengadu nasib, numpang tidur ke sana kemari. Dan bekerja serabutan hanya sekedar bisa bertahan.


Kadang berkumpul dengan para preman, sekedar untuk mengusir kejenuhan. Dan terkadang dari mereka, dia terima job-joban pekerjaan. Tentunya yang halal.


Beruntung dia punya ketrampilan mengemudi. Sehingga sering sekali dimintai teman untuk menggantikan pekerjaannya apabila berhalangan.


Namun itu sangat jarang. Sehingga hasilnya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan makan dan sekedar pakaian dan kontrakan.


Bayangan keluarga selalu di pelupuk matanya. Namun kini tidak ada lagi keberanian untuk pulang. Walau kebiasaan berjudi dan minum-minuman keras tak lagi dijalaninya.


Dengan keadaan yang demikian, rasanya dia malu untuk pulang. Bertemu Zulfa dan anak-anaknya. Apalagi mamanya dan adik-adiknya.


Sekarang Aziz menawarkan padanya untuk mendapatkan pekerjaan tetap dengan mengajukan lamaran secara resmi.


Dalam pikirannya, bagaimana dia akan meminta surat-surat penting yang ada di rumah mamanya. Sementara dia tak ingin diketahui keberadaannya oleh keluarganya.


Bingung juga, dia memikirkan. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi adiknya. Ketika sudah berada di pelabuhan Bakaheuni di Lampung.


Beberapa kali dia menghubungi, namun tidak terangkat-angkat. Mungkin karena dari nomor yang tak dikenal, sehingga mereka harus berfikir lama, untuk menjawabnya.


Tapi dia tidak putus asa, terus dicobanya. Akhirnya diangkat juga.


"Assalamu'alaikum ...." Dia mencoba berucap salam. Kata yang dulu tak pernah dia ucapkan untuk Zulfa.


Terdengar jawaban dari perempuan yang masih sangat dia kenal.


"Wa'alaikum salam ..., maaf ini siapa ya?" kata tanya yang terucap dari orang di ujung telpon sana.


Sejenak Herman ragu untuk melanjutkan perbincangan. Apakah mereka benar-benar melupakanku ....


Tapi demi suatu harapan, dilanjutkannya perbincangan itu.


"Aku kakakmu, Rahmi." kata Herman.


"Benarkah ini anda, kak Herman."


Jawaban yang membuat dia sedikit terperanjat, mengapa adiknya menyebutnya dengan kata 'Anda'. Sebegitu hinakan dia sehingga adiknya pun tak mau mengenalnya.


Untunglah masih ada kata yang tersisa. Yaitu kata-kata 'Kakak', sehingga dia punya keberanian untuk mengungkapkan keperluannya.


Meski tak berhubungan dengan adiknya. Tapi dengannya, dia bisa mengetahui keadaan Zulfa ....

__ADS_1


__ADS_2