
"Itu bunda Zulfa, Ma ." Tia bersorak gembira. Bahkan spontan memeluk Redha. Lemes tubuh Redha. Baru saja bahagia, dapat putri jatuh dari kayangan, sekarang harus pulang. Tapi demi kebahagiaan si putri kecil, dia harus berlapang dada. Tapi .... barangkali nanti bisa dinego. Moga saja ....
"Sekarang, gaya yang paling cantik. Mama mau foto kamu." kata Redha menghibur diri.
Karena gembira, Mutia bergaya dengan sangat centilnya di depan kamera, bak peragawati.
"Kak Rohman, sini!" panggil Tia.
Rohman yang sedang memilih-milih baju bersama papanya, menengok. Dia senyum-senyum.
"Sini, Rohman!" ajak mama Redha juga.
Yes ....
Rohman segera berlari, mendampingi adik barunya bergaya di depan kamera. Beberapa kali ceklik-ceklik, dapatlah gambar Mutia dan Rahman.
Redha segera mengirimkan ke Zulfa. Tak berapa lama, sudah ada jawaban.
"Alhamdulillah, Jeng Redha. Memang dia putriku .... Yang satu bulan ini hilang."
"Kok, bisa?"
"Besok saja, akan aku ceritakan. Sekarang, aku mau kasih tahu ayahnya dulu."
"Tapi anakku mau dia di sini. Gimana?"
"Maksudnya?"
"Biar tinggal sama saya dulu. Gimana Bun?"
Zulfa tersenyum mendengar permintaan Redha. Yang jadi pikiran Zulfa, kok bisa Mutia sampai terdampar di sana. Teramat jauh dari tempatnya tinggalnya sekarang.
"Besok saja kita bicarakan. Saat kita ke rumah Jeng Redha."
"Baiklah, Bun. Aku tunggu kedatangannya."
"Assalamu'alaikum wr ..."
"Wa alaikum salam wr. wb. ..."
Baru saja dapat putri cantik, sudah harus dilepas. Agak sedih juga Redha menghadapi kenyataan kalau Mutia adalah putrinya Zulfa yang lama dicari. Tak jadi dech, dapat putri yang tidak usah melahirkan. Mana Rohman sudah terlanjur jatuh cinta pada adik barunya. Tak bisa membayangkan kalau Tia pergi tiba-tiba. Pasti sedih banget anak itu.
"Tia, Rohman. Sudah yuk, kita balik." ajak Redha dengan wajah agak-agak menyedihkan. Bikin papa Ridho tertegun.
"Ada apa, Ma?"
"Benar dugaan mama. Dia putrinya Zulfa, teman kita waktu umroh."
Ridho pun diam seribu bahasa, mendengar pernyataan istrinya. Lalu dia mengambil nafas panjang dan melepaskannya. Seakan habis melepas beban berat dari dadanya. Karena dirinyapun amat senang dengan putri pilihan anaknya ini. Selain cantik, kelihatannya pintar dan baik. Maksudnya sebagai adiknya Rahman. Tapi gimana lagi, bukan putrinya ....
"Sudah, ikhlaskan. Nanti kita bikin." kata papa Ridho merayu. Bikin wajah mama Redha berubah seketika. Bersemu merah menggoda ....
__ADS_1
"Idich, Papa. Bisa-bisanya ngomong gitu di tempat ramai seperti ini. Untungnya Tia sama Rochman nggak ada."
Tak lama Tia dan Rohman, telah kembali ke hadapan mereka dengan mainan masing-masing. Tia dengan bonekanya, Rohman dengan mobil-mobilannya.
"Sudah?"
"Sudah, Ma." jawab Rahman dan Tia hampir bersamaan. Keduanya mengiringi mama Redha yang sedang mendorong troli ke tempat kasir.
Malam ini mereka habiskan dengan sedikit bersenang-senang. Seterlah habis dari toko pakaian, mereka menuju warung lesehan untuk makan. Tak lupa juga pergi ke alon-alon kota, menikmati wahan permainan yang ada, hingga mereka lelah. Sampai-sampai Rahman dan Tia tertidur di mobil waktu mereka pulang.
Saat tiba di rumah pun, mereka masih tertidur pulas, sulit dibangunkan. Mau tak mau papa Ridho mengangkat mereka satu per satu ke kamar yang berbeda.
💎
Sementara itu di rumah Herman ....
Dia sibuk mengamati foto-foto yang dikirim oleh Zulfa melalui handpone mama Halimah. Tak terasa bulir-bulir bening menetes dari sudut matanya. Bahkan diapun secara spontan bertakbir dan bersujud di tempat itu juga. Meski tak tahu apa yang harus dibacanya. Hanya rasa syukur yang tak terhingga, ingin dia ungkapkan pada Sang Pengatur Hidup hambanya.
[Terima kasih, Zulfa. Kamu telah mengirimkan kabar yang membahagiakan kami.] tulis Herman di Hp Halimah.
[Malam ini kami berangkat, Ma. Doakan bisa bawa Tia pulang] jawaban dari Zulfa
[Aku juga pingin ikut, bolehkah. Biar Herman yang antar] tulisan dari jari yang sama, jari Herman.
Lama tak ada jawaban. Setelah ditunggu berapa lama, akhirnya notif wa masuk.
[Ya, Ma] balasan terakhir yang bisa Herman baca.
"Alhamdulillah, Herman. Akhirnya Tia ketemu."
"Iya, Ma. Kita berangkat sekarang. Mama nggak capek, kan?"
"Nggak apa-apa, Herman."
"Aku pinjam mobil Ayyas dulu."
"Cepatlah, keburu ketinggalan Zulfa."
"Ya, Ma."
Herman segera pergi, mencari pinjaman mobil. Meninggalkan Halimah yang akan bersiap-siap.
Begitu Herman menghilang. Ternyata ada telepon dari Zulfa. Tak jadi malam ini ....
"Ya sudah, Zulfa. Nanti aku bilang ke Herman, kalau ditunda."
"Makasih, Ma. Assalamu'alaikum ...."
"Wa alaikum salam ....."
💎
__ADS_1
Di rumah Zulfa ...
"Bun, apa nggak sebaiknya nunggu pagi."
"Entahlah, Wan. Bunda nggak pingin nunda-nunda."
"Baiklah, Bun. Kalau itu kemauan Bunda. Tapi Irwan khawatir, nanti disangka maling bertamu malam-malam."
Zulfa diam sejenak. Benar apa yang dikatakan putranya. Meski sudah akrab, tapi nggak sopan juga bertamu malam-malam.
"Ya sudah, Nak. Bunda nurut kamu."
"Besok habis subuh, kita berangkatnya. Sekarang Bunda istirahat, Irwan juga mau istirahat."
"Baiklah."
Meski kecewa, tapi Zulfa bis memaklumi keputusan yang diambil putranya. Karena selama seharian penuh ini, Irwan sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan. Terutama pekerjaan kantornya yang menumpuk. Dan dirinya juga demikian. Dia baru pulang menjelang asyar, pulang dari mengunjungi pabriknya.
Zulfa menuju ke kamarnya, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar lelah. Ingin tidur, tapi matanya sulit sekali terpejam. Lalu diambilnya air wudhu, dan sholat beberapa rekaat hingga kantukpun datang. Dan dia baru dapat tertidur pulas menjelang jam 3.
Untunglah saat azan subuh, dia terbangun juga. Sehingga tidak sampai ketinggalan. Selesai sholat subuh berjamaah, segera dirinya menyiapkan keperluan perjalanan nanti, yang dibantu asistern rumah tangga, yang sudah bekerja beberapa hari ini.
Sedangkan Irwan sudah menuju garasi, memanasi mesin mobilnya, agar siap digunakan. Setelah semua siap, baru dia masuk lagi, untuk menyiapkan dirinya.
Tak berapa lama Zulfa sudah selesai dengan semuanya. Terrmasuk bekal dan juga dirinya yng sudah rapi meski dengan pakaian santai. Demikian juga dengan Irwan.
"Sudah, Bun?"
"Ayok."
"Lika, Bunda pergi dulu. Kamu persiapan semuanya sekarang. Bukankah besok kamu ke Surabaya."
"Beres, Bun. Bunda pergi aja." jawab Lika tenang.
"Bi, jaga rumah ya..."
"Ya, Bu ...." jawab bibi santai.
"Ayo, Bun. Katanya pagi-pagi, kok belum kelar-kelar pamitnya."
Beginilah bundaku kalau mau pergi. Selalu ada saja yang membuat jadwal pemberngkatan agak sedikit molor. Hemmm....
Akhirnya mobil dihidupkan, mereka meninggalkan rumah. Menuju jalanan yang sudah mulai ramai. Diantar Lika sampai menghilang dari pandangan.
Namun baru beberapa saat, mobil Irwan pergi, datang mobil lain yang akan parkir di halaman rumahnya.
Bukankah itu mobil paman Ayyas .... Oh ternyata ayah. Segera Lika mendekati.
"Lika, kakakmu sudah berangkat."
"Baru saja."
__ADS_1
"Ya sudah, ayah pergi dulu."