Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 10 :PERTARUNGAN KEDUA


__ADS_3

Medeia menyelinap ke dalam bangunan melalui jendela yang terbuka, Medeia melompat masuk mengamati sekitarnya memasti kan penjagaan berganti baru ia akan masuk ke ruangan selanjutnya.


Chaiden memberi kode agar Medeia tidak bergerak, Medeia mengangguk merasa kan beberapa energi kehidupan setiap penjaga yang berjalan di sekirannya.


"Malam ini penjagaan harus di perketat organisasi tuan pasti akan menyerang markas"peringat penjaga A


"Benar, senjata juga harus di persiap kan sebelum malam tiba jika tidak kita akan mati"ujar penjaga B mengiakan.


"Cepat waktu berjaga kita sudah selesai"ujar penjaga A berjalan cepat meninggal kan tempat.


"Sesuai dugaan, hah kalau orang itu tidak melapor mungkin kita akan aman saja"ujar Medeia menyelinap masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana dengan orang itu? "Tanya Chaiden memasti kan keamanan.


"Dia ada di ruangan tengah bangunan ini ada beberapa hawa kuat yang sama lebih besar darinya, agak mengerik kan juga, lebih baik cari aman dulu"ujar Medeia mengambil kunci ruangan selanjutnya.


"Apa yang kau rencana kan? "Ujar Chaiden mengerut kan keningnya.


"Informasi yang ku ketahui juga belum tentu benar, harus di pasti kan dulu"ujar Medeia menyelinap keluar secepat mungkin di ikuti Chaiden di belakang.


"Terserah apa rencana mu, jika kau mati tidak ada sangkut pautnya dengan ku"dingin Chaiden.


"Benar, nyawaku ada di tangan ku kau lebih baik fokus dalam misi mu dan aku fokus pada tujuan ku"ujar Medeia mempercepat langkahnya.


Setelah mengerti denah bangunan, Medeia kembali menyelinap ke ruangan yang terkunci, setelah sampai Medeia dengan cepat menyebut pasword yang ia dapat kan di salah satu penjaga yang berjaga saat mereka menuju ruangan terkunci.


"Bagus, tidak sia sia usaha ku, cepatlah masuk"ujar Medeia menyurus Chaiden masuk.


Medeia mencari ke segala tempat, Chaiden yang melihat tinggkah laku Medeia hanya nenghela nafas panjang entah apa yang Medeia rencana kan sekarang.


"Ketemu"senang Medeia.


Medeia membuka buku itu dan membacanya, Medeia membelalak kan matanya mengetahui ledakannya akan di mulai tepat sore hari sekitaran jam enam sore.


"Gawat"panik Medeia.


Medeia dengan cepat mengaktif kan alat komunikasi anggota organisasi dengan cepat.


"Hallo, ini agen satu, melapor ledakan akan di mulai sekitaran nam enam sore, sebisa mungkin jangan memberi pergera kan terlalu mencolok agar pihak musuh tidak curiga"ujar Medeia panik.


"Apa? Baik saya akan memberi tahu ketua soal ini, jaga diri anda di sana"ujar seberang sana.


"Ck, tidak ada waktu lagi, Chaiden kembali ke markas perintah kan masing masing agen untuk pergi ke setiap negara mengawasi manusia peledak"perintah Medeia.


"Tidak perlu, jika kau panik seperti ini masalah tidak akan selesai pihak musuh pun akan di untung kan"ujar Chaiden santai.


"Bagaimana lagi sih? Tidak ada waktu untuk bersantai sekarang"bentak Medeia.


"Ku bilang tenang"datar Chaiden.


"Kau tidak memiliki hak untuk memerintah kan ku"bentak Medeia menyelinap keluar.


"Bodoh"ujar Chaiden mengikuti Medeia kelaur.


Medeia menempel kan tangannya ke dinding bangunan, medeia mengguna kan kekuatan jiwanya untuk mengetahui apa rencana mereka untuk selanjutnya, sayanhnya itu tidak berhasil.


Jika Medeia membuang buang waktu mungkin saja tudak ada kesempatan lain untuk menghenti kan rencana mereka.


"Ruangan 26 di sana ada beberapa experimen, kau pergilah ke ruangan lain"perintah Medeia dengan wajah lesunya.


"Aku akan ikut, jika berpencar situasi akan memburuk"ujar Chaiden.


"Terserah kau mau apa"kesal Medeia.


Medeia memasuki ruangan mentap setiap benda yang ada di sana dengan seksama, terlihat ada bayangan yang melintas sekilas di hadapannya.


"Kami ketahuan yah? "Ujar Medeia tersenyum kecut.


"Sudah ku duga"ujar Chaiden menghela nafas.


"Ku beri kalian waktu, keluar dari ruangan ini"dinginnya.


"Jika aku tidak mau? "Ujar Medeia memancing emosi.


"Maka kalian akan mati di sini tanpa jenazah"ujarnya.


"Beri tahu aku apa tujuan yang sebenarnya" ujar Medeia tidak mau tau tujuannya harus selesai sekarang.


"Keluar"kesalnya.


"Ku bilang tidak"ujar Medeia dengan tatapan kosong.


"mengesal kan jika aku menemui mu lagi akan ku pasti kan kau mati"ujarnya menghilang.


"Huhf..... selamat"lega Medeia.


"Untuk apa kau lega kali ini kita di kepung, loh"ujar Chaiden mengambil pedangnya.


"Sialan, bertahan sebisa mungkin"ujar Medeia mengigat kan.


"Tentu" datar Chaiden.


Medeia menyerang penjaga yang ada di depannya, menwrobos keluar sedang kan Chaiden mengurus penjaga yang tersisa.


Berjam jam melaku kan pertarungan sekarang jam menunjuk kan jam 4 yang berarti dua jam lagi ledak kan akan di mulai tapi medeia tidak kunjung menemu kan ruangan utama.


"Kalau begini mungkin tidak akan ada waktu lagi, segel penguat ledak kannya juga sudah di aktif kan di sekitar bangunan, mau bagaimana ini?"kesal Medeia berfikir keras.

__ADS_1


"Tenang, sekarang dunia mengandal kan kita berdua"ujar Chaiden mengamati ruangan sekitarnya.


"Aku ingat tanda yang ku beri kan pada orang itu ada di ruangan tengah tapi setiap lorong memiliki jebakan dan juga pasword mereka masing masing"ujar Medei menepuk jidatnya.


"Coba saja dulu"ujar Chaiden.


"Baiklah"setuju Medeia.


Medeia menunjuk kan arah lorong menuju ruang utama, setelah sampai Medeia melihat tempat pasword, Chaiden mengamati pasword itu lalu menekan angka pintu pun terbuka.


"Bagaimana kau bisa tau paswornya dengan mengamatinya sebentar saja? "Bingung Medeia.


"Sidik jari mereka meninggal kan jejak di setiap tekanan angka dan huruf"ujar Chaiden menhelas kan.


"Tidak ada waktu lanjut ke lorong selanjutnya"ujar Medeia masuk duluan.


Semuanya berjalan dengan baik hingga mereka sampai di lorong terakhir, Chaiden ke sulitan untuk menemu kan jawaban.


"Sepertinya kita kena jebak kan, tidak mungkin mereka seceroboh tadi meninggal kan jawabannya kan? "Sadar Medeia.


"Sudah ku duga untung saja aku meniru sidik jari mereka jadi tidak ada masalah, bersiaplah untuk bertarung"peringat Chaiden.


Chaiden menempel kan sidik jari, pintu terbuka dengan sambutan serangan dari dua orang berjubah hitam yang menyerang mereka tanpa henti seperti di kendali kan.


"Selamat kalian berhasil memasuki sarang kami "ujar suara yang entah dari mana berasal.


Medeia mengamati sekitarnya aambil mengambil ancang ancang pertahanan diri untuk melindungi dirinya dari serangan mendadak.


Sedang kan Chaiden memasang segel pelindung di sekitar kawasan dan memperkuatnya dengan bantuan kekuatan Medeia.


"Santailah, kalian ini tamu kami meski tidak di undang tapi harus di perlaku kan dengan baik, benar kan nona ratu rubah? "Ujarnya dengan suara meremeh kan.


"Kenapa kau begitu ingin menghancur kan dunia ini? "Tanya Medeia dingin.


"Sangat sayang tidak menjawab pertanyaan gadis cantik seperti mu, mungkin dengan melihat ku kau akan mengerti kokoshi"ujarnya dengan nada sedih.


"Dari mana kau bisa tau nama asli ku brengsek"kesal Medeia menahan diri untuk tidak melawan.


"Kepribadian mu masih sama seperti kokoshi ribuan tahun yang lalu"ujarnya tertawa.


"Siapa ku? Berhenti menyebut nama ku, menjijik kan"kesal Medeia.


"Sejak kapan kau begitu banyak bicara? "Tanyanya.


"Diam kau"kesal Medei kali ini Medeia berusaha menghancur kan penghalang yang di buat Chaiden tapi Chaiden memperkuatnya.


"Sialan kau ini, lepas kan penghalang mu, akan ku beri dia pelajaran"kesal Medeia.


"Apa kau gila, wujudnya saja tidak ada bagaimana kau akan membalasnya? Pikir kan dengan baik"kesal Chaiden.


"Apa kau mengenal ku? Kokoshi"ujarnya memperlihat kan diri.


"Kau....... "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aerthan mengerut kan keningnya ia tidak menyangka peledak kannya akan di mulai sore ini padahal anggota mereka yang lainnya sedang mengalami kesulitan saat menjalan kan misi lain.


"kirim agen penyegel di setiap negara minimal 2 orang dan satu agen penyelidik yang ku tugas kan bulan lalu "perintah aerthan.


"Baik"


Agen lainnya pun sibuk menganalisis setiap data yang terkirim dari markas lainnya, sedangkan aerthan sibuk memerintah ke sana kemari mencari beberapa info dari agen lainnya.


"Hallo, ini agen 2, lapor tidak ada pergera kan dari musuh AS saat ini"lapor Rika.


"Terimakasih atas infonya, tapi saat ini agen ke 2 sedang mengalami kesulitan tinggkat S mereka sekarang bertarung di markas pusat musuh"lapor agen markas.


"Apa? Kenapa tidak melapor dari awal sih? Memangnya ledak kannya akan meledak hari ini? "Bingung Rika sekaligus kesal.


"Nanti sore dunia akan hancur, hanya bisa mengandal kan senior saja"pasrahnya.


"Kirim beberapa agen ke daerah agen pertama aku akan ke sana membantu mereka"perintah Rika dari seberang sana.


"Percuma saja, mereka sudah membuat penghalau untuk masuk ke markas mereka jika memang bisa ketua pasti akan memberi perintah"ujar agen itu setengah kesal.


"Aku akan kembali ke markas, apa kalian sudah selesai mengirim agen ke sini? "Ujar Rika memasti kan.


"Tenang, ketua sudah memerintahkannya"ujar agen itu.

__ADS_1


"Baik, tunggu aku dalam beberapa menit aku akan memberi tahu Riko soal ini baru ke sana"ujar Rika menutup saluran secara sepihak.


"Ku harap senior bisa menyelesai kan misi dengan selamat"doa agen itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Medeia terdiam memaku melihat sosok yang ia benci selama beribu ribu tahun yang lalu, sosok yang paling ia benci dari manusia.


"Mengapa? Apa kau melupakan ku? "Tanya orang itu mendekat.


"..... "


Melihat Medeia syok Chaiden semakin merasa perasaan yang aneh di mana ia marah dan juga ingin melindungi Medeia dari orang itu meski harus mempertaruh kan nyawa sekali pun, itulah yang Chaiden rasa kan.


"Menjauh dari wanita ku"perintah orang itu.


"Siapa kau? "Dingin Chaiden.


"Siapa aku itu bukan urusan mu"balasnya dengan nada tak kalah dinginnya.


"Tidak akan ku biar kan kau menyakiti Medeia"ujar Chaiden memperkuat segel penghalang.


Orang itu tersenyum ia mengulur kan tangannya seketika penghalang yang Chaiden buat pecah "apa kau kira penghalang kecil seperti ini mampu menghalangi ku? Mimpi"serang orang itu.


"Ungh"


Chaiden terlempar jauh dari Medeia, melihat orang itu semakin dekat dengan Medei Chaiden terpaksa membongkar indentitasnya dan melepas kekuatannya.


"Kau ini memang pantas mati, anak dari penghalang rencana ku"ujar orang itu.


CRASH....


tubuh Chaiden seketika terasa tercabik cabik oleh angin yang di keluar kan orang itu, meski pun seperti itu Chaiden tetap bersiker ingin melindungi Medeia.


"Bodoh"


Kali ini serangan yang orang itu keluar kan semakin membesar dengan ke adaan ini menghindar pun akan sulit bagi Chaiden.


Medeia seketika tersadar, ketika ia sadar ia mendapati Chaiden tersungkur keras di tembok dengan ke adaan sekarat.


"Sialan, apa yang kau lakukan? "Kesal Medeia.


"Memusnah kan penganggu, memangnya apa memannya apa yang salah? Kokoshi? "Ujarnya tanpa rasa bersalah.


"Ku bilang berhenti memanggil nama ku dengan mulut hina mu itu, dasar kau pengkhianat" marah Medeia.


Medeia menjauh dari orang itu menuju ke arah Chaiden berniat untuk menyembuh kan lukannya tapi di halangi.


"Apa kau ingin melawan ku? Kebetulan dendam dulu masih belum terbalas kan, aku kalah itu karena aku teracuni makannya hari ini aku akan membunuh mu kei"ujar Medeia menatap kei dengan tatapan menjijik kan.


"Apa kau tidak bisa menerima ku lagi? "Ujar kei dengan nada merendah.


"Menerima apanya? Jika kau tidak meracuni ku dulu mungkin aku bisa memenang kan perang dengan mudah raja dan ratu klan ku pun tidak akan menghilang sampai sekarang"marah Medeia menyerang kei secara tiba tiba.


"Raja ada di kolam teratai merah darah dia terkunci di sana, orang yang terluka parah saat pertarungan mu dulu dengan ketuan serigala perak aku membawa mereka ke sana untuk penyembuhan"jelas kei memperjelas.


Medeia sama sekali menganggap lalu omongan kei ia justru menyeranngnya dengan kekuatan aslinya.


"Ku mohon maaf kan aku, jika aku tidak meracuni mu ratu akan dalam masalah besar"ujar kei memohon.


"Sekarang ibu ku dalam masalah besar jika bukan karena kalung ini masih bersinar aku tidam mungkin akan berada di sini, dan masalah ini semua kaulah yang menyebab kannya. Brengsek"ketus Medeia.


"Sekarang kua juga melukai teman ku, apa kau pantas ku anggap orang yang seperti dulu? Sama sekali tidak"dingin Medeia.


"Sepertinya memang mustahil, bagaimana kalau kita bertaruh jika kau kalah kau akan ikut dengan ku dan bersama membangun dunia ini hanya kau dan aku yang akan memimpinnya sebaliknya jika aku yang kalah maka kau boleh melaku kan aoa yang kau ingin kan"ujar kei dengan nada lembut.


"Baik aku setuju, ku harap kemampuan mu masih sama memarikannya seperti dulu jika tidak jangan salah kan aku kejam"dingin Medeia.


"Sesuai keinginan mu"


Medeia meloncat ke udara meniup abu ilusi lalu berpindah posisi ke belakang kei dengan cepat Medeia mengepal kan tangannya dan memukul kei tapi kei tau arah serangan Medeia, ia menghindarinya tanpa ada yang terluka.


Pukulan yang di hasil kan Medeia membuat tembok itu hancur bahkan efeknya sampai ke tembok lainnya.


"Kekuatan mu masih sama seperti dulu mematikan, hampir saja aku mati"ujar kei santai.


"Bodoh, kau terlalu halus pada ku, ku harap kau bisa bertarung tanpa membawa perasaan sedikit pun jika bisa kau dan aku hanya harus memikir kan antara hidup atau mati.


Pertarungan di antara mereka berdua membuat ledakan yang memiliki skala hancur besar yang membuat rata satu ruangan itu menguntung kan karena ruangan itu memiliki pelindung khusu ledakan sehingga idak memengaruhi ruangan segel peledak.

__ADS_1


__ADS_2