
^^^'Jika kalian menyuruhku memilih antara kekasih atau tanggung jawab maka aku akan memilih untuk untuk melihat situasi'^^^
^^^By: Zilian^^^
...<πππ>...
Cahaya White and Black kini tengah mengelilingi tubuh Laurel yang terduduk letih di atas sebuah boneka yang berbaring di tanah.
Tatapan Laurel menghangat sejak kedatangan kedua sosok yang ia yakini adalah pasukan bantuan.
Bala bantuan telah datang nyawa kakak dan rekannya akhirnya terjamin aman tapi disisi lain pada waktu yang bersamaan Laurel juga cemas akan keselamatan kedua sosok itu.
"Ku harap kalian selamat, andai aku tidak kekurangan tenaga lagi mungkin aku masih bisa membantu kalian meski dari jarak jauh" batin Laurel, tatapannya sulit untuk di artikan.
Mata Laurel mulai berat dan akhirnya tubuhnya pun terjatuh.
Saat itu para iblis mulai ketakutan saat kedatangan kedua sosok wanita yang kini tengah mengeluarkan aurah yang tak kalah menakutkannya dengan aurah milik raja mereka.
"Mau kemana, hm? "Ujar Dedliona memiringkan kepalanya dengan senyum smiriknya.
Untuk Zilian dia menatap lekat kedua iblis itu seolah memberikan peringatan bahwa 'jika kau bergerak maka ku pastikan kau mati di tempat mu'.
Kedua iblis itu menunduk hormat tidak berani menatap kedua sosok di hadapan mereka.
"Aku pikir mereka tidak akan sekuat ini, raja benar benar licik! "Batin Rosyi kesal, Bisa bisanya rajanya mengirim mereka kemari padahal dia tahu kekuatan mereka terpampang jauh.
"Andai saja kekuatan ku tidak terkuras sudah ku pastikan bisa mengirim mereka ke aula istana raja meski nyawa ku tidak akan selamat, tapi jika melakukannya sekarang kekuatan ku tidak cukup" batin Lanyan terus memikirkan cara agar dapat menjalankan tugasnya dengan lancar.
Zilian masih terdiam tidak merespon apapun yang terjadi, berbeda dengan Dedliona yang tengah menahan emosinya sesuai janjinya dengan Zilian sebelum datang kemari.
"Oi brengsek sialan! Siapa yang menyuruh mu datang kemari mencari ribut ke dunia kekuasaan kami?! "Ujar Dedliona dengan tatapan tajamnya aurahnya semakin pekat, meminimkan oksigen ke titik dimana kedua iblis itu kesulitan untuk bernafas.
"K-kami di perintahkan untuk menjemput k-kalian b-berdua selebihnya k-kami tidak tahu lagi" ujar Rosyi gemetaran.
"Ho'o? Apa begini cara mu menjemput tamu mu? Merusak daerah kekuasaannya lalu ingin membawanya ke hadapan pemimpin kalian, bukanlah ini terlihat seperti membawa seorang budak dari daerahnya? "Ujar Dedliona tanpa berkedip.
"Kami tidak berani! "Ujar keduanya kompak, kepala mereka semakin merunduk dari sebelumnya.
Jelas sekali mereka meremehkan umat manusia bahkan mengira mereka sebagai pemimpin begitu lemah dari dirinya sendiri.
"Apa kau pikir karena kami tinggal di sini maka kami akan begitu lemah? Ck, pemikiran mu terlalu dangkal teman, Pemimpin mu mengirim mu kemari bukan untuk bertarung melainkan negosiasi" ujar Dedliona menghela nafas.
"Cukup, siksa dan musnahkan mereka berdua" ujar Zilian dingin. Ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kedepannya dia akan bertanggung jawab akan keputusannya.
"Sesuai keinginan mu, saudaraku" Dedliona menatap kedua iblis itu penuh semangat.
Iblis yang merasakan tatapan itu seketika bergidik ngeri, perasaan mereka tidak karuan, entah apa yang akan Dedliona lakukan tapi yang pasti itu adalah hal yang mengerikan.
"Hei Dedliona, jangan bermain main lagi, meremehkan musuh bukanlah hal yang baik apalagi jika mereka kaburkan? "Ujar Zilian menekan kata 'kabur'.
Dedliona yang tahu arti ucapan Zilian seketika melunturkan senyuman yang penuh semangat dan itu tergantikan dengan wajah lesuh nan menyedihkannya.
Padahal begitu banyak ide yang masuk ke kepalanya tapi malah ketahuan oleh Zilian, dia bisa saja bersenang senang dengan saudaranya Candy di altar nanti tapi sepertinya pemikirannya harus di buang jauh jauh.
"Huh, baiklah aku akan menyelesaikannya sesempurna mungkin" ujar Dedliona cemberut.
__ADS_1
"Hah, kau sudah hidup ribuan tahun tapi sikap mu seperti bayi manusia yang baru berumur 5 tahunan" keluh Zilian.
"Baik, kali ini akan ku biarkan kau bermain tapi dengan syarat aku akan mengawasi mu bagaimana pun aku tidak dapat menganggap remeh apa yang terjadi sekarang" ujar Zilian final.
Dedliona melebarkan matanya senang ia memeluk tubuh Zilian yang hanya diam tak merespon.
"Huaaaa! Zilian kau yang terbaik, aku akan menyelesaikannya setelah puas bermain dengan Candy nanti" pekik Dedliona kesenangan.
Zilian hanya mengangguk sebagai jawaban meski ia tahu Dedliona tidak tahu kalau ia tengah mengangguk, tentu saja ia sedang memiki cara apa untuk 'bermain' nantinya.
"Apa yang terjadi? Mengapa masalah terus menerus datang tanpa henti seolah olah masalah tidak akan berakhir begitu mudah, Akankah ada akhir dari masalah ini? "Batin Zilian lesuh.
Di tengah altar Dedliona dan Candy tengah bersenang senang riang dengan mainan baru mereka di bawah pengawasan Zilian.
Teriakan kesakitan, geraman, suara benturan dan cahaya menjadi tontonan bagi Zilian.
"Mereka terlalu sadis, apa ini yang mereka maksud bermain? "Lirih Zilian meringis melihat kedua mahluk yang tengah tertawa riang.
Baginya ini bukanlah hal yang sebaiknya di lakukan tapi apa yang di lakukan Dedliona begitu efektif untuk membuat mereka buka mulut.
"Bagaimana saudara kecil ku, apakah kau sudah puas? "Tanya Dedliona menyeka keringatnya.
"Hahahaha, kakak kau membawa buruan yang hebat tentu saja aku puas hanya saja jika mereka tahan lama pasti akan lebih seru lagi" ujar Candy tersenyum lebar.
Dedliona mengeleng cepat, "tidak, mereka sudah cukup untuk kita jadikan lampiasan, aku akan mengakhirinya sekarang jadi tolong menjauhlah adik ku" ujar Dedliona.
Candy mengangguk pelan, ia mendekat ke arah Zilian yang menatap datar ke arah Dedliona yang tengah menyiapkan sebuah segel.
"Garis neraka cahaya ungu salah satu segel pemusnah mematikan kakak pertama, apa ini karena kau memintanya agar menyelesaikan semuanya tanpa sisa ketua Zilian? "Ujar Candy tanpa melirik sedikit pun pada Zilian.
"Ya, kali ini masalahnya memanglah tidak begitu serius tapi menurut analisa ku setelah kedatangan para iblis ini mereka pasti akan menyelesaikan keinginan rajanya dengan cara kasar" ujar Zilian.
"Sudah tahu begitu kau malah memilih untuk menyiksa mereka? "Bingung Candy.
"Aku tidak menyiksa mereka kalianlah yang melakukannya" ujar Zilian kembali mengingatkan siapa yang sebenarnya salah kali ini.
"Bukan aku yah, kakak pertamalah yang mengajak ku, mana tahu kalau ini yang dia maksud" sangkal Candy memayunkan bibirnya kedepan.
"Tidak masalah, aku akan mengatasinya. Mereka tidak akan dapat masuk ke dunia kita setelah ini, aku menjaminnya" ujar Zilian.
"Jangan berfikir untuk melakukannya sendiri lagi Zilia, ini untuk yang kedua kalinya aku menegaskan" ujar Dedliona yanh tiba tiba berada di samping Zilian.
".... "
Dedliona mengertakkan giginya kesal, sudah ia duga Zilian memikirkan hal bodoh ini lagi selama ia tidak berada di sisinya sedetik pun.
"Brengsek! Apa kau pikir aku ini lemah? Aku tidak membutuhkan perlindunga apapun dari mu, kita adalah ketua kita akan memikulnya bersama! "Teriak Dedliona.
Emosinya tersulut keluar begitu saja. Yah, Dedliona akan kehilangan kendali jika itu telah menyangkut sahabatnya Zilian.
"..... "
Tidak ada respon apapun, Dedliona mengepalkan tangannya erat mencoba untuk tidak menghancurkan altarnya sendiri.
"Candy, keluarlah" perintah Dedliona.
__ADS_1
"Baik" patuh Candy segera berlari keluar dengan hewan peliharaannya.
Jika ia berlama lama di sana yang ada situasinya akan semakin buruk maka dari itulah Candy memutuskan untuk memberi mereka waktu meski ia sendiri enggan untuk pergi.
Setelah Candy benar benar menjauh Dedliona memasang perisai kedap suara.
"Katakan, kenapa kau selalu seperti ini Zilian? Kau tahu aku benar benar tulus membantu mu" sedih Dedliona.
".... "
"Kumohon jawab aku Zilian, sebagai ketua" pinta Dedliona.
"Tanggung jawab" jawab Zilian singkat.
Hati Dedliona semakin sakit mendengar kalimat yang Zilian ucapkan.
Terdengar singkat dan padat tapi di balik itu artinya begitu berat.
"Ku mohon padamu Zilian, bagilah beban itu dan bukalah hati mu pada orang sekitar mu. Kau tidaklah sendiri, rasa takut mu akan kehilangan dan kecemasan mu itu tidak akan berakhir cerah melainkan kekelaman akan menyelimutimu" ujar Dedliona.
"Karena itulah aku akan melakukannya sendiri meski tahu akhirnya akan membahayakan nyawa tapi itu lebih efektif dari pada membahayakan banyak nyawa" ujar Zilian, tatapannya tidak menyiratkan emosi apapun.
Melihat tatapan itu Dedliona semakin merasakan perasaan sakit tak berdarah itu untuk kesekian kalinya saat dimana ia memikirkan masalah yang sama.
"Tugas seorang pemimpin bukan hanya menjaga keseimbangan dan kedamaian orangnya tapi juga harus merelakan hidupnya jika itu benar benar di perlukan"
"Aku sebagai pemimpin utama akan melakukannya, jika kau ikut di saat yang bersamaan bukankah dunia ini tidak akan memiliki pemimpin lagi" ujar Zilian.
"Ya aku mengerti, selain kita tidak ada yang bisa menjaga dunia ini lebih baik dari pada kita, tapi tetap saja aku tidak setuju" ujar Dedliona bersikukuh akan pendapatnya sendiri.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku mati? "Tanya Zilian tiba tiba.
Dedliona melototi Zilian, ia mendekat ke arah Zilian dengan tatapa penuh amarah.
"Jangan pernah mengatakan ucapan tadi lagi di depan ku" geram Dedliona.
"Kau tidak ingin aku mati begitu pula dengan ku, setelah berfikir panjang aku memutuskan untuk memilih cara yang lebih baik untuk mengatasinya" ujar Zilian.
".... "
"Jika tidak membuat mu mengerti maka..... "
"Kaulah yang seharusnya mengerti Zilian bukan aku" ujar Dedliona membantah, mana bisa ia tidak membantah jika Zilian tidak ingin mengerti dirinya?.
"Maaf tapi inilah keputusan ku, jika bukan aku yang mati sebagai pelindung maka kau yang harus mati sebagai pemimpin" ujar Zilian yang akhirnya pergi entah kemana dengan teleportnya.
Dedliona terdiam, kepalanya hampir meledak karena penuh dengan emosi, tubuhnya bahkan lebih panas dari sebelumnya.
"Dasar deh, Zilian sampai kapan kau akan seperti ini? Entah kau atau aku yang akan menyerah itu tidaklah penting"
"Rasa takut akan kehilangan di antara kita begitu besar mungkin ini tidak akan pernah berakhir dengan sifat mu yang keras kepala ini, baiklah aku akan mencari jalan keluarnya" gumam Dedliona, matanya masih menatap sendu ke arah dimana Zilian pergi dengan portalnya.
Ia pun membuat portal dan memasukinya lalu menghilang begitu saja.
Entah mereka berdua berada dimana sekarang dengan rencana dan pemikiran mereka yang jelas situasi sekarang benar benar kacau selama mereka berjauhan.
__ADS_1
Berlanjutttt....