
...~~~...
Kini Brant berada disebuah altar yang sudah ia persiapkan untuk mengembalikan kekuatan Zilian yang entah tersegel atau memang Zilian tidak memiliki kekuatan apapun, entahlah Brant sendiri masih penasaran.
Kini Brant mendudukkan Zilian ditengah altar, sebelum pergi keluar dari altar Brant sempat membisikkan sesuatu pada Zilian.
"Tetaplah tutup matamu jangan pernah membukanya jika tidak ada perintah dariku, ingat itu jika kau melanggar kekuatanmu tidak akan pernah bisa kembali " bisik Brant setelahnya berjalan berlalu saat Zilian menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.
Sebuah altar kini telah dipenuhi dengan ukiran ukiran rumit disekelilingnya, ditengah ukiran itu Zilian tengah terduduk sambil memejamkan matanya dan seorang pria yang berada di luar altar itu tengah sibuk dengan buku bersampul coklat tebal.
Manik matanya yamg keemasan terus menerus menatap kearah Zilian yang terkadang meringis menahan rasa sakit setiap kali Brant mengucapkan mantra rahasinya.
Brant menghela nafas sejenak, entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan ramalan yang ia terima beberapa tahun yang lalu, bisa dikatakan ribuan tahun sih karena ramalan itulah Brant harus pergi meninggalkan tanah yang ia cintai.
Energi milik Zilian dan kekuatan yang tertahan oleh energi gelap, itu semua hanya memiliki satu kesimpulan yaitu Zilian adalah keturunan kegelapan dan cahaya.
Bagaimana bisa? Brant sendiri belum yakin akan kesimpulan yang baru saja dia buat.
"Bagaimana bisa kekuatan gelap itu sampai begitu tertarik akan energimu? Padahal kau sama sekali bukanlah orang dari sini, apa yang kau rencanakan di duniaku ini, Zilian? "Gumam Brant menatap lekat wajah Zilian yang tampak begitu damai.
"Heh, mari kita lihat siapa kau sebenarnya di dunia ini dan siapa kau sebenarnya di duniamu, satu hal yang pasti kau tidak akan selamat jika kau berada di dunia ini" ujar Brant kembali membaca mantra sihirnya.
Tangannya terangkat mengayunkearah Zilian yang semakin lama semakin memucat, disela sela bibirnya mengeluarkan darah segar, semakin lama semakin banyak darah yang keluar dari bibirnya bahkan dari hidungnya pun ikut keluar.
"Ugh" desis Zilian mengigit bibir bawahnya, tangannya mengepal erat dengan alis yang berkerut.
Brant memasuki altar, senyuman sinis terukir diwajah tampannya.
"Heh, ternyata siluman yah? Aneh, kenapa darahnya bukan darah siluman melainkan darah murni seorang manusia? "Bingung Brant diiringi helaan nafas gusar.
"Siapa gadis ini? Apa benar dia orang yang selama ini kutunggu tunggu? "Brant menyentuh jidat Zilian lalu membaca sebuah mantra penenang dan pemulihan.
Sebuah cahaya emas muncul dari telapak tangan Brant yang mengarah masuk kedalam tubuh Zilian.
"Uhuk uhuk! "Zilian tidak tahan lagi, rasanya begitu menyiksa dirinya namun sesakit apapun itu Zilian tetap menutup matanya bagaimanapun Zilian tidak ingin mengambil resiko akan kegagalan ritualnya.
"Bukalah" ujar Brant menatap Zilian dengan senyuman manisnya.
"Ungh, Brant" ujar Zilian lemas.
"Ada apa? Apa kau masih belum merasakan aliran kekuatanmu? "Ujar Brant masih berada di dalam altar, ia sama sekali tidak ada niat membantu Zilian yang berada didalam altar.
Berbeda dengan perilakunya yang tampak begitu ramah dan lembut tapi tindakannya yang sekarang sepertinya bertolak belakang dengan tampilannya.
"Brant? "Ujar Zilian mengerutkan keningnya, sesaat setelahnya Zilian memasang wajah dingin tak tersentuhnya.
Brant tersenyum semakin lebar, ia berjalan memasuki altar lalu memasang perisai disana.
Zilian yang menatap tingkah Brant hanya diam, sepertinya Brant sedang ingin mencaritahu sesuatu padanya mengingat kelakuannya sekarang sangat berbeda dengan Brant yang ia temui sejak pertama kali.
"Siapa kau sebenarnya? "Ujar Brant dingin tapi masih dengan senyuman manisnya.
"Bukankah kau sudah tahu? "ujar Zilian dingin.
Tatapannya yang tajam menatap lekat manik keemasan milik Brant yang memasang wajah kecewanya.
"Dengan wujudku yang saat ini, apakah masih perlu ku jelaskan, Brant? "Ujar Zilian kembali.
Yah, Brant mengaktifkan darah keturunan milik Zilian dan tanpa sengaja menyentuh inti kristal perwujudannya sehingga menampilkan separuh wujud aslinya.
Zilian berubah menjadi setengah rubah, kuping yang menonjol diatas kepalanya, ekor yang melambai dibelakang pingganggnya, dan mata yang berubah menjadi mata siluman yang begitu indah.
"Kau.... "
"Apa?! Beraninya kau mencari siapa diriku yang sebenarnya padahal aku sendiri..... "Zilian menjeda kalimatnya.
Zilian menatap Brant tidak percaya, bisa bisanya dia melakukan hal yang begitu nekat pada dirinya, apa dia tidak tahu jika kristal perwujudannya disentuh maka itu bisa memicu ledakan energi dan bisa saja energi itu menyerang Brant.
"Bisakah kau bertanya terlebih dahulu padak, Brant? Kau bisa mati tadi jika aku tidak sadar untuk menekan efeknya kau bisa mati karena terkena racun ilusi" ujar Zilian menghela nafas.
"Maaf, aku tidak berniat melakukan itu Zilian" ujar Brant menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Apa saja yang telah kau ketahui tentang diriku sekarang? "Ujar Zilian menatap datar Brant yang kini menatapnya dengan pandangan yang rumit.
"Jawab atau kau ingin kekuatan yang bertindak? "Ujar Zilian menekan.
Brant menghela nafas berat, dia sudah menduga hak ini akan terjadi.
"Aku hanya tahu kau memiliki darah keturunan putri negara Es, darah murni kerajaan Baxeria "ujar Brant menatap Zilian yang masih dengan tampang datarnya.
"Selain itu, kekuatanmu yang sebenarnya sangat aneh kau dapat menguasai 7 element? Bagaimana bisa? "Ujar Brant tidak percaya.
__ADS_1
"Katakan semuanya, Brant" ujar Zilian.
"Kau bukan berasal dari dunia ini" ujar Brant dengan nada dinginnya.
Zilian menghela nafas, sepertinya Branr terlalu tahu banyak tentang dirinya jika terus seperti ini Brant bisa saja membeberkannya dan malah mempersulit pekerjaan Zilian.
"Kau terlalu banyak mengetahui indentitasku, apa sebaiknya aku memberimu sedikit kejutan? "Tanya Zilian berjalan mendekat kearah Brant yang tak bergeming dari tempatnya.
"Heh, apa yang ingin kau lakukan, yang mulia putri? "Ujar Brant tersenyum.
Zilian berubah kewujud manusianya dengan tampilan yang sedikik berubah yang dimana rambutnya yang awalnya berwarna putih berubah menjadi perak dan matanya yang awalnya sebiru langit berubah menjadi keperakan dan didalam bola mata itu terdapat ukiran pecahan es.
"Tidak buruk" senyum Zilian saat melihat wujud barunya.
"Sepertinya ada tiga wujud yang dapat kugunakan didunia ini, menarik" batin Zilian.
"Zilian, kau ini sebenarnya siapa? "Tanya Brant masih dengan rasa penasarannya.
Zilian tersenyum kearah Brant, "Siapa aku kau hanya perlu diam menutup tentang indentitasku, selebihnya jika kau membeberkannya maka kau akan tahu siapa diriku yang sebenarnya"
Brant terkekeh pelan, sepertinya Zilian tidak ingin bermain main dengannya sekarang.
"Menyuruhku untuk mengatakannya pada orang lain tapi aku tidaklah sebodoh itu, jika aku mengatakannya kau akan memperlihatkan siapa kau sebenarnya melalui caramu sendiri mungkin saja Zilian yang kukenal diawal akan berubah menjadi pribadi yang berbeda bukan? "Batin Brant tersenyum sinis.
Licik, itulah yang Brant tangkap dari sisi lain Zilian patnernya.
"Aku sangat mengerti maksud ucapanmu barusan Zilian" ujar Brant.
"Baguslah kalau kau tahu, setidaknya aku sedang bosan bermain sekarang terlalu banyak topeng uang kugunakan akhir akhir ini" ujar Zilian menepuk pundak Brant lalu berjalan agak menuju pintu keluar altar.
"Beruntung hanya aku yang tahu tentang bakat dan indentitasmu, jika penyihir lain tahu maka kau akan benar benar habis" Batin Branr menghela nafas lega.
"Ah, t-tunggu! "Pekik Brant saat Zilian mengenggam knop pintu.
Zilian menghentikan langkahnya, ia sama sekali tidak ingin berbalik menatap Brant.
Entahlah ia rasa ada yang aneh pada dirinya sendiri, sampai sekarang Zilian masih mempercayai Brant hanya saja dirinya tidak dapat menerima kelakuan Brant yang melebihi batas dan itu tidak dapat Zilian tolerir.
"Bukannya curiga hanya saja kau.... "Bingung Brant, ia ingin sekali mengetahui siapa Zilian sebenarnya masih ada sesuatu yang menganjal dipikiran Brant saat ingin mengetahui indentitas Zilian meski sekarang dia tahu bahwa Zilian adalah keturunan penguasa Es tapi entah mengapa ia kurang puas dengan informasi yang dia dapat.
Zilian mendengus kesal, apa Brant begitu ingin tahu tentang siapa dirinya? Apakah pria itu ingin Zilian membunuhnya sekarang?
"Brengsek, mengesalkan sekali" batin Zilian mengertakkan giginya.
"Akan kuceritakan jika waktunya telah tiba" ujar Zilian dengan nada datar, baru saja Zilian ingin melangkah keluar suara itu kembali membuat Zilian tertahan ditempatnya.
"Apa lagi ini? "Batin Zilian benar benar kesal sekarang.
"Apa kau masih tidak mempercayaiku, Zilian? "Ujar Brant menghentikan langkah Zilian.
"Aku mempercayaimu hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk kukatakan siapa diriku sebenarnya, kau hanya perlu diam sampai saat itu tiba dan jangan cemas aku tidak akan melakukan hal hal yang merugikan dunia ini juga dirimu" ujar Zilian setelahnya pergi menghilang dari balik pintu ruangan altar.
Brant menghela nafas gusar, "Yah, aku tahu ada beberapa hal janggal sejak pertama kali bertemu, pertarunganmu dengan siluman ilusi itu membuatku tahu seberapa kuatnya dirimu, aku menyaksikan semuanya" ujar Brant.
Kini Zilian terduduk di sebuah taman bunga, bau semerbak bunga tercium begitu harum membuat siapa saja yang ada disana dapat menenangkan pikirannya.
Sama halnya dengan apa yang Zilian rasakan sekarang, ia bahkan begitu senang sudah berapa lama Zilian tidak pernah merasa sebebas ini?
"Apa kucoba saja? Mungkin Brant akan mengerti situasinya tapi jika dia tahu aku takut dia akan memanfaatkanku" ujar Zilian lesu mengingat kemungkinan apa saja yang bisa terjadi.
Pertama dia akan diserbu penduduk dunia ini, bisa saja dia akan dibakar, dipanggang bahkan bisa saja dimasak setelahnya tubuhnya pasti akan diberikan pada binatang buas.
Dipikirkan saja sudah begitu mengerikan semoga saja itu hanya angan angan jangan sampai menjadi nyata.
"Aku mempercayainya tapi tetap saja ini bukanlah tempat dimana aku berasal semuanya bisa saja terjadi meski aku memiliki kekuatanku sekarang tetap saja ini terlalu berbahaya, tidak akan ada yang dapat menjamin keselamatanku" ujar Zilian tampak tidak bersemangat.
"Aku yang akan menjaminnya, bukankah sekarang kita ini patner? "Ujar Brant tersenyum begitu manis, ia mendudukan bokongnya tepat disebelah Zilian yang menatapnya bingung.
"Apa aku benar benar dapat mempercayaimu? "Tanya Zilian ragu, alisnya mengerut saat menatap manik emas milik Brant.
Brant membaringkan tubuhnya diatas rerumputan, ia menatap dalam langit yang cerah sambil mengukir senyum.
"Aku tahu malam itu kau bertemu dengan seseorang tapi aku tidak tahu dia siapa, aurahnya pasti telah diketahui penyihir disini aku jamin itu" ujar Brant.
"Lalu apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Brant? "Ujar Zilian kesal, dia paling tidak suka berbasa basi disaat dia tengah serius.
"Orang itu aku pernah melihatnya disebuah ramalan tapi aku lupa diramalan mana entah kenapa aku jadi lupa dengan ramalan itu" kesal Brant saat ia berusaha mencari tahu ramalan itu berasal darimana tapi tak kunjung ketemu sampai sekarang.
"Mungkinkah kau orangnya? Tapi kenapa kau berada di hutan kematian bukankah seharusnya disalah satu kerajaan element? "Bingung Brant.
Brant menjentikkan jarinya lalu muncul lah sebuah buku yang melayang dihadapannya dan Zilian, lalu buk itu terbuka dengan sendirinya, pria berambut hitam panjang itu kembali sibuk dengan bukunya entah apa yang dia cari hingga seserius itu.
__ADS_1
Beberapa menit sejak kedua mahluk itu terdiam akhirnya Brant membuka suara.
"Benarkah itu kau? Argh, kenapa kau tidak bilang sejak awal? "Ujar Brant menatap Zilian tidak percaya.
Zilian mendengus kesal saat waktu tidurnya terganggu, yah dari tadi Zilian tertidur karena bosan menunggu Brant mengajaknya berbicara.
"Apa? "Tanya Zilian kesal masih dengan mata g tertutup rapat.
"Kau..... "Brant menatap Zilian dengan teliti setelahnya memasang wajah tertekan.
"Ungh! "Desis Brant.
Zilian menatap Brant yang tampak berfikir kelas disebelahnya.
"Ada apa? "Tanya Zilian menatap tajam kearah Brant.
"Bagaimana bisa kau berada dihutan kematian? Sepertinya akan ada banyak hal yang akan menahanmu mulai kedepannya" ujar Brant menghela nafas berat.
"Kau tahu aku siapa? "Ujar Zilian bingung, bukankah Brant tidak tahu apa apa sejak ia berada di altar waktu itu?
"Maaf, aku takut salah orang jadinya tidak tidak mengaku saat kau bertanya.
"Kalau kau sudah tahu berarti giliranku untuk tahu kau ini siapa" ujar Zilian mengga posisinya yang awalnya berbaring kini terduduk di samping Zilian.
"Aku Brant orang yang akan menuntunmu di dunia ini, semuanya berjalan terlalu cepat seharusnya kau datang kemari seribu tahun lagi tapi kau malah datang dan parahnya lagi kau muncul di tempat terlarang, bagaimana tidak kaget" ujar Brant.
"Memangnya kenapa? "Tanya Zilian.
"Masalahnya terlambat sedikit saja aku disana kau bisa menjadi salah satu dari pengikut mereka untung saja energi dan kekuatanmu tersegel waktu itu jadi saat aku membawamu kemari mereka tidak dapat merasakannya" ujar Brant mengingat waktu ia membawa Zilian waktu itu ia berpapasan dengan orang berjubah hitam.
Syukurlah waktu itu Brant berhasil berubah menjadi sehuah batu dan menyembunyikan Zilian.
Zilian hanya mengangguk baginya itu tidak terlalu penting.
"Apa kau tahu aku siapa diduniaku? "Tanya Zilian memastikan.
"Kaulah yang menguasainya bersama dengan orang yang ingin kau selamatkan hidupnya didunia ini"ujar Brant menampilkan wajahnya yang begitu lembut.
"Benar, jadi apa rencanamu mulai kedepannya? "Tanya Zilian mulai serius.
"Ini hanya pemikiran sementara saja masih dapat diubah, sekarang kuta hanya berdua kita memerlukan beberapa orang yang dapat dipercaya selain itu para penyihir bisa saja sudah mengetahui keberadaanmu dan tugas disini adalah untuk menjagamu tetap aman dari mereka" ujar Brant berfikir.
Brant menganggukan kepalanya cepat lalu menatap Zilian yang juga menatapnya.
"Bagaimana jika kita ke kerajaan Baxeria terlebih dahulu? "Tanya Brant yang terdengar seperti sebuah saran.
"Kenapa kau berfikir seperti itu? "Ujar Zilian menatap Brant dengan alis yang berkerut.
"Karena mereka bisa kita andalkan" senyum Brant.
"Hah, itu jika mereka tahu aku putrinya perlu bukti untuk itu, Brant" ujar Zilian menepuk wajahnya.
"Maka dari itu kita kesana saja lebuh duku untuk mrncari tahu beberapa informasi setelahnya kita bisa mulai untuk membuktikan dirimu sebagai putri pewaris kedua keturunan asli darah kerajaan" ujar Brant penuh keyakinan.
Zilian terkekeh pelan, "kau terlalu percaya diri, keluarga kerajaan mana mungkin langsung percaya bukan? "Pikir Zilian.
Brant menjentikkan tangannya ke dahi Zilian yang merengut tidak suka sambil memegangi dahinya yang terasa berdenyut.
"Bukankah sudah kukatakan untuk mencari informasi terlebih dahulu lalu mencari cara untuk membuktika dirimu? "Ujar Brant mendekatkan wajahnya kearah Zilian yang menatap tajam padanya.
"Hah, terserah kau saja" pasrah Zilian, lebih baik memperpendek masalah dari pada memperpanjangnya.
"Masuklah udara semakin dingin "ujar Brant berdiri setelahnya berbalik membantu Zilian untuk berdiri.
Zilian menerima uluran Brant dengan senang hati, "terimakasih Brant"
Brant mengangguk, "masuklah untuk beristirahat, besok kita harus pergi dari sini"
"Kenapa? "Ujar Zilian menyipitkan matanya.
"Firasatku mengatakan untuk segera pergi itu saja" ujar Brant.
"Baiklah, selamat malam" ujar Zilian.
"Selamat malam juga, Zilian. Semoga tidurmu nyenyak" ujar Brant di iringi senyuman manisnya.
Zilian berlalu meninggalkan Brant memasuki gubuk milik Brant dengan pikiran yang entah kemana.
"Padahal aku ingin dia tahu siapa aku sebernya agak lebih lama lagi tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, ya sudahlah dia juga bukanlah orang yang mengancam keberhasilan tugasku jadi tidak perlu diperhitungkan" batin Zilian.
Berlanjutttt....
__ADS_1