
...~~~...
Sejak kejadian dimana Zilian dan Brant bersama sama mengucapkan sumpah disaat itu sebuah cahaya biru muda menyelimuti mereka berdua.
Ajaibnya saat cahaya itu menghilang tubuh Zilian terasa begitu segar seolah olah ia tidak pernah bertarung sebelumnya dan entah sejak kapan sebuah benang perak di iringi cahaya keperakan tengah melingkar di pergelangan tangannya.
Sampailah saat ini dimana Zilian tengah berbaring diatas padang rumput menatap langit malam yang menurutnya sama saja dengan langit di dunianya, tidak ada yang berbeda sama sekali.
Sesekali Zilian menatap benang itu bingung harus senang atau sebaliknya, soalnya Brant menjelaskan benang perak ini biasanya akan muncul pada orang orang yang ditakdirkan dia juga berkata benang ini akan menjadi petunjuk untuknya mulai kedepannya.
Tetap saja Zilian masih kebingungan dibuatnya, takdir apa yang Brant maksud?
Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa semuanya tiba tiba berubah dengan begitu cepat dan malah membawa Zilian jauh dari asalnya kedunia antah berantah ini.
"Tugas apanya! Bagaimana aku bisa kembali saat aku bahkan tidak mengerti apa yang terjadi padaku? Bisakah kalian menjelaskan ini dimana, siapa aku didunia ini, apa saja yang ada didunia ini dan yang paling penting kembalikan kekuatanku!" gerutu Zilian, ia benar benar kesal sekarang.
Ingin rasanya Zilian menghilang dari muka bumi tapi entah kenapa saat Zilian berfikir untuk menyerah ia kembali di ingatkan dengan keluarganya jadi mau tidak mau harus mau.
"Argh, dimna kekuatanku? Berani beraninya dia membuangku kesini tanpa kekuatan? Bagaimana bisa hidup di dunia magic kalau aku sendiri tidak punya hal utamanya? Dia pikir ini lelucon?! "
"Awas saja kau cebol akan kubelah kau menjadi dua jika aku kembali nanti, lihat saja dasar pecundang pendek! "Teriak Zilian.
Zilian kesal sekarang, ia juga bingung dengan dirinya apa ini dirinya atau bukan soalnya tubuhnya benar benar Zilian yang ada di dunianya, itu berarti dia datang kesini membawa tubuhnya?
Ah, lalu indentitasnya siapa disini? Tidak mungkin nama aslinya disini juga Zilian bukan?
Cukup ini saja sudah membuat Zilian pusing masalahnya terlalu rumit terlebih Zilian paling tidak suka menebak teka teki seperti ini.
"Huft, tugasku apa yah disini? Sesaat jadi lupa tujuan kedatangan sendiri "Tanya Zilian bingung sendiri.
"Menghentikan ambisi Dedliona dikehidupan pertamanya untuk menghancurkan dunia ini" ujar Ayna muncul secara tiba tiba.
Zilian berbalik menatap orang yang berbicara disampingnya ternyata si cebol brengsek sialan itu rupanya.
"Berani beraninya kau membuangku kehutan kematian tanpa ada kekuatan untuk melawan, kau ingin aku mati sebelum memulai?! "Marah Zilian, sungguh emosinya semakin lama semakin memuncak dan penyebabnya adalah Ayna yang telah melakukan kesalahan.
"Ada kesalahan teknik salah baca koordinat pendaratan" ujar Ayna dengan entengnya.
"Ck, apa yang kau lakukan kemari? Bukankah kau hanya 'mengantar'? "Ujar Zilian tidak peduli lagi, ia tidak ingin memperpanjang masalah meski gara gara kesalahan yang dibuat Ayna hampir membuatnya kehilangan nyawa dan tentu saja berkat kejadian itu Zilian menjadi trauma.
Ayna melirik Zilian lalu tersenyum sumrigah jelas sekali dia ada niat lain datang kemari.
"Hanya menjelaskan tugasmu kurang lebihnya sih begitu" ujarnya.
"Jelaskan saja dengan cepat lalu pergilah sejauh mungkin dariku" ujar Zilian tidak suka dengan kehadiran Ayna yang menurutnya sumber masalah terbesarnya.
Bisa saja itu akan terjadi mengingat sikap Ayna yang mampu membuat Zilian mendadak naik darah.
__ADS_1
"Seperti yang kukatakan tadi kau.... "
"Tadinya yang mana bego! "Potong Zilian, sungguh bisakah dia menjelaskan saja dan tentunya langsung ke poin utama pembahasan.
"Kau tidak mendengarkanku hah? Aish, kenapa harus kau yang dikirim sih?!" hela Ayna mula dengan keluhannya yang entah ia tunjukkan pada siapa.
"Kau pikir aku mau? Kalau kau tidak suka yah silahkan gantikan aku sekarang, taunya cuman mengomentari hidup orang sendirinya tidak pernah mengerti "oceh Zilian.
"Huh, jadi kau merem.... "
"Cepat jelaskan tugasku lalu pergi! "Emosi Zilian, ia tidak tahan lagi jika terus menerus bersama anak ini.
Ayna merengut tidak suka, ini sudah kedua kalinya Zilian menyela ucapannya.
"Tugas utamamu adalah menghentikan Dedliona dikehidupan pertamanya disini untuk tidak menghancurkan dunia ini, tugas keduamu adalah membangun dunia ini kearah perdamaian, saat kau telah selesai aku akan datang kemari untuk membawamu kembali"
"Sayangnya kau harus memilih tetap tinggal atau kembali, kusarankan jangan terlalu larut dalam peranmu didunia ini dan fokuslah dengan tujuanmu" ujar Ayna memperingati.
"Lalu apakah masih ada tugas tambahan? Mana mungkin orang sepertimu memberi keringanan" decih Zilian tidak percaya seorang Ayna yang begitu licik memberinya sedikit celah karena itu tidak mungkin.
"Suatu kehormatan untuk ku, tebakanmu benar ada dua tugas pertama jati dirimu atau indentitasmu dan kedua satukan ke- 6 calon penguasa element" ujar Ayna.
"Lalu? "Ujar Zilian, rasanya ada yang janggal dari ucapan Ayna hanya saja Zilian mencoba untuk tetap tenang semoga saja dia mendapat petunjuk tersembunyi misalnya.
"Tugas kali ini tidak terlalu penting, kau hanya perlu memahami apa yang ada di dunia ini dan semuanya sudah kau jelaskan" ujar Ayna di iringi helaan nafas setelahnya.
"Hampir lupa, kali ini kau dapat bonus! Kutukanmu telah di angkat sekarang kau dapat merasakan semua emosi yang ada hanya saja secara perlahan, ku ucapkan selamat untukmu" ujar Ayna antusias menampilkan deretan gigi putihnya.
Zilian terdiam dengan apa yang ia dengarkan, bagaimana bisa kutukannya tiba tiba diangkat tanpa ada efek apapun?
Ini terlalu aneh untuk dipercaya terlebih Ayna yang mengatakannya, mungkin tidak sesederhana itu.
"Hey, apa maksudmu tetap tinggal atau kembali? "Ujar Zilian mulai mengerti maksud dari yang Ayna ucapkan.
Dia kira Zilian bodoh sampai ingin memakan umpan liciknya? Dialah yang bodoh jika mengira Zilian tidak menyadari maksud ucapannya.
Kembali dengan senyumannya yang menjengkelkan, Zilian lagi lagi ingin memusnahkan Ayna sekarang jika saja dia bukanlah orang yang terhubung antara dunianya telah Zilian pastikan umurnya tidak akan bertambah mulai dari sekarang.
"Kau belum menjawabku brengsek! "Kesal Zilian.
"Wah waktuku sudah habis rupanya, aku pergi dulu dan selamat menjalankan tugasmu, By By" senyumnya sambil melambai lambaikan tugasnya.
"Kau sengajakan, jangan mengalihkan pembicaraan! "Teriak Zilian, kini ia berdiri ingin menahan Ayna tapi semuanya sia sia karena tampaknya ada sesuatu yang menghalangi.
"Hey, kau wanita menyebalkan" panggilnya kini wajahnya berubah 180° dari sebelumnya yang begitu serius.
Zilian diam menunggu apa yang ingin dia katakan, "Ada apa ini?" Batinnya.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi entah itu baik ataupun buruk semuanya memiliki pantangannya sendiri, tidak ada sesuatu yang mudah Zilian semuanya sulit dan tentunya memiliki akhir dan arti yang berbeda beda pula" ujarnya menjeda kalimatnya sejenak.
"Keputusan ada di tanganmu bukan pada orang lain, mau kau menjalin hubungan baru disini juga bukanlah urusanku melainkan urusanmu sendiri, meski begitu ini terakhir kalinya aku memberimu peringatan jadi dengarkan dan pikirkanlah baik baik" ujarnya, tatapannya menajam kearah Zilian yang menatapnya dengan pandangan rumit.
"Jangan terlalu mendalami karaktermu di dunia ini karena hal ini akan sangat mempengaruhimu kedepannya, cukup sampai disini kuharap kau dapat kembali dengan selamat" ujarnya lalu samar samar menghilang dengan portalnya.
"Kau bahkan tidak memberikan petunjuk apapun soal diri Dedliona di dunia ini" batin Zilian kecewa.
Zilian mengerti sangat mengert, kecemasannya terhadap Zilian yang sekarang.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, hidupku didunia ini tidak boleh sampai terikat apapun bukan? agar kelak saat aku memutuskan untuk kembali aku tidak akan ragu meninggalkan mereka, itukan maksud ucapanmu? "Gumam Zilian lirih sangat lirih.
Kutukannya diangkat bukanlah sebuah berkah, memang inilah yang Zilian inginkan ia selalu menginginkan kutukannya terangkat tapi sekarang ia bingung dengan keadaannya sendiri.
Senang karena dapat merasakan emosinya lagi tapi ia juga takut jika saja tanpa sadar ia terjebak dengan orang orang disini dan berakhir dengan 'dilema'.
Dilema antara 'meninggalkan' demi menjalankan tugasnya atau 'menetap' untuk menjalani kehidupannya yang mungkin bisa saja lebih baik.
"Sial, muak sekali rasanya, bagaimana jika didunia ini banyak orang yang mendukungku? Apakah aku harus berpura pura tidak peduli lalu mengabaikannya? Yang benar saja"
"Benar, jika saat itu aku harus kembali memang ada baiknya bersikap seperti itu tapi tetap saja selain membohongi orang lain aku juga membohongi diriku sendiri" ujar Zilian lesuh.
Ia menunduk menatap kearah cahaya yang berkilauan karena terkena sinar rembulan.
Zilian menunduk lalu mengambilnya, ternyata sebuah cincin, tapi saat Zilian mengenakan cincin itu sebuah kertas keluar dari dalamnya.
Perlahan Zilian membukanya, ia sebenarnya malas karena ia tahu surat ini ditinggalkan oleh Ayna dan isinya pasti sama saja.
Sebuah peringatan!
'Aku tahu ini berat untukmu Zilian tapi cobalah untuk mengerti ini semua demi dirimu jangan sampai kau bimbang akan pilihanmu hanya karena sebuah perasaan tidak rela kau sampai lupa dengan tanggung jawabmu yang sebenarnya'
'Aku tidak menekanmu untuk memilih kembali karena aku sendiri tidak tahu kau akan kembali atau tidak tapi ingatlah baik baik apa yang ada didunia kita semuanya tergantung padamu, jadi kumohon dengarkan aku'
Zilian tersenyum kecut melihat isi surat yang Ayna tinggalkan untunya, luar biasa.
"Bukankah kalian hanya ingin memanfaatkanku? Kenapa bukan Dedliona saja yang kemari tapi kenapa malah aku? Inikan hidupnya bukan hidupku! Dan satu hal lagi kau jelas menekanku untuk menjauhi mereka kan? Lalu kenapa kau mengangkat kutukanku hah?! Jelas sekali kalian ingin mempersulit hidupku! "Teriak Zilian, kacau itulah satu kata yang dapat menggambarkan penampilan Zilian sekarang.
Ia meluapkan seluruh emosinya berharap semuanya berakhir begitu saja tapi ia sadar semuanya tidak akan pernah terjadi.
Zilian terduduk lemas, air matanya menetes ia menangis sekeras kerasnya meluapkan segala emosinya tidak peduli lagi dengan imagenya toh dia sudah pusing sekarang dengan alur hidupnya yang semakin lama semakin membuatnya merasa lelah untuk melanjutkan.
"Aku tidak tahu masalahmu apa, aku hanya ingin mengatakan aku akan ada dan selalu ada kapanpun kau butuh" suara lembutnya yang begitu menenangkan membuat Zilian merasa tenang tapi itu hanya bertahan sebentar saja karena sesaat setelahnya Zilian kembali menangis.
Zilian semakin menangis keras dalam pelukan Brant yang ikut meneteskan air matanya seolah olah dia bagian dari diri Zilian sekarang.
"Bagaimana aku bersikap seperti yang kalian inginkan sekarang? Sedangkan kalian tidak ada disini melainkan orang lain? Yah aku tidak lupa dengan apa yang kalian lakukan padaku, aku bersyukur kalian peduli padaku tapi tolonglah, tolong sekali ini saja aku ingin egois dan maaf jika aku mengambil keputusan yang salah" batin Zilian semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Berlanjutttt....