Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 56


__ADS_3

...~~~...


Zilian berada di rombongan pasukan ke 6 berbeda dengan Brant yang memilih mengikuti pasukan pertama, sepertinya ada sesutu yang membuatnya merasa ganjil hingga memilih untuk menyelidikinya cara terpencar dan Zilian tidak keberatan sama sekali.


Disinilah Zilian berakhir mengambil posisi tegak saat seeorang yang Zilian kira adalah pemimpin kelompoknya.


Mulai saat pria bertubuh kekar dan berwajah tegas itu memasuki dan memberikan perintah pada prajurit yang ikut bersama dengan Zilian.


"Bagaimana situasi di sekitar perbatasan? Apa ada tanda tanda kerajaan Baxeria akan menyatakan perang? "Tanya pria itu yang akhirnya selalu memyebarkan aurah mendominasinya.


"Tidak ada, menurut informasi yang kami dapatkan dari sana sepertinya kerajaan Baxeria masih sulit untuk kita ambil alih" ujar salah satu prajurit dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Kalau begitu kembali dan cobalah untuk memasang alat itu di sekitaran perbatasan" ujarnya.


"Tidak bisa jenderal! "Tolak salah satu prajurit yang berdiri tepat di samping kanan Zilian.


Apa yang dilakukannya membuatnya menjadi pusat perhatian terutama Zilian yang merasa tertarik dengan keberaniannya.


Raut wajah jenderal tiba tiba saja semakin menajam saat mendapat penolakan tegas dari salah satu bawahannya.


Tatapannya kian menajam dan itu berhasil membuat amarah prajurit itu semakin membesar.


"Kami telah berada di sini selama 7 bulan berturut turut, menjalani semua perintah gilamu! Kau pikir hidup seseorang itu sebuah mainan? Semua perintahmu pada timku sama sekali tidak membuahkan hasil" ujarnya dengan tegas.


"Bukankah kematian seorang prajurit dalam menjalankan tugasnya merupakan hal yang mulia? Kenapa kau begitu keberatan? "Ujar sang jenderal masih dengan tatapannya yang kian menajam.


"Ya itu memang hal yang mulia tapi apakah kau pernah melihat atau merasakan pengorbanan mereka? Sepertinya kau tampak santai lalu bagaimana dengan prajurit lainnya? "ujarnya semakin mengeratkan kepalan di tangannya.


"Uscar, jangan diteruskan lagi" ujar salah satu prajurit yang tampak sama marahnya dengan prajurit benama Uscar itu.


"Tenanglah, aku akan membalas siapapun yang telah menyiayiakan kematian rekan kita dan tentunya orang yang telah menghancurkan desa kita, percayalah padaku Fren" ujar Uscar menepuk pundak sahabatnya itu pelan.


"Tapi.... "Ujarnya sedikit ragu.


"Lalu apa yang kau inginkan? "Potong sang jenderl dengan tampang dinginnya, dia terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi.


Tanpa kata apapun Uscar meletakkan pedangnya ke tanah lalu melepas sirah yang dia gunakan bersama dengan lencananya tanpa ada rasa ragu disana.

__ADS_1


"Aku selesai disini" ujar Uscar yang berhasil membuat Fred tak mampu menahan tangisnya.


Dia tahu impian tertinggi Uscar adalah menjadi seorang prajurit bukan karena dia ingin mencaritahu siapa dalang dari hancurnya desa yang ia tinggali tapi karena rasa kepeduliannya terhadap rakyat yang memerlukan perlindungan serta kerajaanya tapi sekarang dia memilih untuk menyerah yang dimana ini pasti melukai hatinya.


"Apa yang kau katakan Uscar! "Teriak Fred marah.


"Tak apa, kau lanjutkan saja aku akan tetap menjalankan tugasku sebagai seorang prajurit tanpa indentitas, bertahanlah demi rekan kita" ujar Uscar tenang.


"Apa kau yakin? "Tanya Fred merasa tidak rela Uscar pergi.


Uscar mengangguk pelan, kini ia beralih menatap jenderalnya dengan tatapan yang kini lebih tenang.


Zilian terkekeh pelan melihat tekad Uscar yang begitu besar terhadap impiannya, meski begitu Zilian pastikan Uscar pasti tahu sesuatu yang lebih besar sampai mengorbankan impiannya, Zilian tahu itu dari pikiran sahabatnya Fred.


"Aku ikut" Ujar Zilian tersenyum tipis.


Uscar berbalik menatap Zilian yang tampak tidak peduli dengan raut keterkejutannya sebaliknya Zilian melakukan apa yang Uscar lakukan tadi.


Ia melepas seluruh sirahnya, membuang pedangnya ke tanah lalu melangkah maju mendekati jenderal kesayangannya.


Zilian menatap tatapan sang jenderal dengan seulas senyuman di wajahnya.


"Kematian rekanku mungkin tidak berdampak pada kehidupanmu dan tentu saja kau mengira itu adalah hal yang wajar tapi aku tidak jendral, mereka adalah keluargaku yang memilih memberikan nyawanya demi kepentingan kerajaan Ronalin dan isinya tapi sangat disayangkan jika pengorbanan mereka menjadi sia sia saja karena perintah sampah darimu" ujar Zilian kini berbalik memunggunginya.


Zilian mendekati Uscar yang kini telah mengembalikan ketenangannya.


"Aku tidak akan tinggal lebih lama hanya untuk melihat kematian konyol selanjutnya jenderal" lanjut Zilian menepuk pundak Uscar yang mengangguk pelan.


"Dengarkan apa yang Uscar katakan padamu sebelumnya, Fred" ujar Zilian setelahnya pergi bersama dengan Uscar.


Fred yang melihat teman temannya pergi secara perlahan merasa sakit, dia mengenal Uscar dengan baik, dia pria yang cerdas tidak ada satupun tindakannya yang tidak berarti dan Fred tahu itu.


"Aku akan melakukan apapun yang kau pikirkan Uscar, aku yakin kau akan kembali membawa cahaya pada prajurit generasi berikutnya dan disaat itu terjadi kau pasti akan mencapai posisi yang kau impikan, benarkan jenderal tertinggi Ronalin, Uscar" batin Fred memandangi kepergian Uscar yang kian menjauh.


Zilian berhenti saat Uscar tiba tiba saja menghentikan langkahnya, jarak mereka juga sangatlah jauh dari daerah tempat dimana para prajurit berkumpul.


"Siapa kau? "Tanya Uscar menatap tajam kearah Zilian yang malah dengan santainya duduk di atas batang pohon tua yang telah tumbang.

__ADS_1


"Anak pintar" puji Zilian sambil bertepuk tangan riag disana.


"Katakan" dingin Uscar, dia tampak waspada dengan Zilian yang malah tekekeh melihat kelakuan Uscar.


"Aku tahu kau menyadari rencana jenderal jelek itu dan tujuanmu keluar dari sana" ujar Zilian santai.


"Lalu? "Ujar Uscar dingin, dia tidak dapat mempercayai Zilian begitu saja.


"Dia berniat melaporkan kematian prajurit kita sebagai alat pemicu peperangan dengan kerajaan Baxeria selain itu pembunuhnya juga adalah dia bersama dengan rekannya yang berada tidak jauh dari perbatasan, aku tahu itu dari pemilik tubuh ini dan rekanku yang baru saja melapor tadi" ujar Zilian menunjuk dirinya sendiri dan kepalanya.


"Kau memikirkan hal yang sama denganku? "Tanya Uscar yang mendapat anggukan dari Zilian.


"Apa yang kau inginkan? "Tanya Uscar langsung to the point.


Zilian bangkit dari sana lalu mendekati Uscar yang malah menjuhi Zilian melihat itu Zilian mengerti apa yang akan dia lakukan untuk kelanjutannya.


"Kau dapat memikirkannya aku tahu kau mengerti maksudku, rekanku akan datang menemuimu saat waktunya tiba" ujar Zilian.


"Apa tujunmu? "Tanya Uscar jujur saja Zilian terlalu misterius untuknya.


"Sama sepertimu, menyelidiki tujuan mereka sayangnya aku tidak dapat menyelidikinya di kerajaan Ronalin jadi aku memerlukanmu dan aku sendiri akan menyelidikinnya ditempat tujuan utamaku sebelum datang kemari, aku yakin kau tidak akan membiarkan peperangan antara kerajaan terjadikan? Kau tahu akibatnya jika salah satu elemen hilang bukan? "Ujar Zilian yang membuat Uscar terdiam dengan kepala yang menunduk.


"Aku akan mencari rekannya disana dan mencaritahu indentitas mereka disana selagi aku pergi rekanku akan datang menanyakan keputusanmu" ujar Zilian.


Dia tidak berbohong karena itu memang tujuan Zilian, jika peperangan antara elemen terjadi itu akan semakin membuat dunia tidak seimbang lagi pula Zilian berniat memberikan kedamaian dan juga dia ada urusan di kerajaan Baxeria jadi tidak ada masalah untuknya melakukan ini semua.


"Aku tidak memaksamu pikirkan saja secara perlahan, aku akan pergi sekarang dan soal kedua rekanmu dia ada di balik pohon disamping kananmu mereka telah dibunuh oleh jenderal dan dia mengendalikanya untuk membunuh beberapa rekan lainnya serta berniat menyatakan mereka sebagai mata mata kerajaan Baxeria, bersyukurlah aku menyadari ini lebih cepat" ujar Zilian tersenyum tipis.


"Akanku pikirkan" ujar Uscar berbalik menghampiri mayat rekannya.


Zilian menghela nafas sejenak setelahnya menyuruh Brant untuk keluar.


"Waktunya kembali" ujar Zilian menciptakan sebuah portal tepat di depannya.


"Ini adalah portal, kau dapat menggunakannya nanti" ujar Zilian menjawab kebingungan Brant.


"Bagaimana bisa kau tahu kekuatan seperti ini? "Tanya Brant mengernyit heran ini baru pertamakalinya dia melihat hal seperti ini.

__ADS_1


"Sudahlah ayo masuk" ujar Zilian menarik lengan Brant memasuki portal, seketika keduanya menghilang bersama dengan portalnya yang juga ikut menghilang.


Berlanjutttt....


__ADS_2