Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 6


__ADS_3

Pemimpin itu pun keluar ia mengapung di udara tampak seperti seorang dewi dengan bola mata yang begitu jernih.


"Selamat datang di dunia ilusi ku wahai rival ku"sambutnya yang turun menyentuhkan kakinya ke tanah.


"Ratu anda seharusnya tidak menyentuh tanah"ujar salah satu pelayan yang panik.


"Rival kah? Jadi ini alasan mengapa kau menyerang kediaman kakek ku? "Ujar Zilian menatap tidak suka pada ratu Ily.


"Ilyan, geng ratu dari suku ku"ujarnya dengan senyumannya.


"Aku Zilian datang atas nama pemimpin kematian dan kehidupan memerintahkan mu untuk mundur dan berdamai dengan kami jika tidak maka aku akan memastikan masalah ini beres sampai ke akar akarnya"ujar Zilian yang berwibawa.


Ilyan tersenyum sinis "hahahaha..... Jika aku tidak ingin? Apa keputusan mu? "Tanya Ilyan dengan tatapan meremehkannya.


Zilian tidak menjawab pertanyaan Ilyan yang marah karena di abaikan oleh Zilian.


"Beraninya kau tidak sopan di dalam wilayah kekuasaan ku! "Marah Ilyan yang menyerang Zilian secara brutal.


Jika teman temannya tidak ada ia pasti sudah menghancurkan wilayahnya Ilyan.


Pasukan tengkorak dan arwah bermunculan dari balik tanah dengan jumlah yang tidak sedikit, Zilian mengulurkan tangannya pada Ilyan.


"Heh.... Aku tidak percaya akan kalah di dalam daerah kekuasaan ku sendiri"ujar Ilyan yang mulai membaca mantra penyerang dan mantra ilusi.


Zilian tersenyum "masih belum mengerti kah? Mau aku turun tangan baru mengerti? "Ujar Zilian menatap Ilyan yang kaget dengan aurah Zilian yang begitu kuat dan menekan.


Dengan berat hati Ilyan pun menghentikan mantrannya dan terbang menuju ke aulahnya.


"Ratu bilang kalian ikut aku ke aula utama"ujar pelayan itu.


Zilian mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam istana ilusi milik Ilyan yang sudah menunggu mereka bergabung dengannya.


Ukiran di sekitar jalan yang Zilian lalui begitu aneh, tampak familiar tapi juga asing baginya tidak tahu perasaan apa yang menyerangnya tapi itu membuat Zilian sulit bernafas.


Akhirnya Zilian sampai di aula utama dan bertemu dengan Ilyan yang asli yang duduk dengan anggun denhan tatapan kosongnya.


"Berhati hatilah"Hanabi berjalan ke dekat Zilian yang mengangguk mengerti.


"Mau berdamai kah? "Tanya Ilyan pada Zilian yang duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Pilihan ada di tangan mu, toh kau pasti sudah tahu aku siapa dari orang yang sudah menyogok mu"ujar Zilian.


"Kau datang dari jauh begini mungkin akan ku pertimbangkan untuk menerima tawaran mu, tinggalah beberapa hari di sini sebagai tamu ku selagi aku memikirkannya"tawar Ilyan.


"Baiklah, tapi ingat kesabaran ku ada batasnya jangan sampai kau melakukan hal yang merugikan ku jika tidak seluruh kekuasaan mu akan hancur"ancam Zilian.


"Dan lagi aki ada di sini, setidaknya kau memberi muka pada klan ular ku"ujar Mozai yang ikut membantu Zilian berbicara.


"Hihihihiii tentu saja pangeran ular Mozai"ujarnya sambil terkikik.


"Bagaimana pun aku tidak dapat melawan dua rubah mu itu nona Zilian jadi jangan khawatir aku tidak akan menyerang mu"ujar Ilyan yang berjalan ke arah Zilian yanh menatapnya dengan tajam.


"Masuk ke dalam wilayah ku? Heh... Kalian tidak akan selamat meski klan ku hancur sekali pun aku Ilyan tidak akan membiarkan kalian bebas sedikit pun"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sejak ia masuk ke dalam istana Ilyan ia sudah di serang dengan ilusi, meski begitu Zilian tetap berusaha menolak tapi semakin ia menolak ilusi itu semakin menjadi jadi.


Di dalam kamar Zilian membuat pola pelindung untuk berjaga jaga, seperti yang di katakan Medusa tempat ini di penuhi dengan ilusi yang akan menyerang pikiran mereka.


Seorang pelayan wanita masuk dengan membawa pakaian baru untuk Zilian yang sudah berkeringat dingin karena menahan hawa nafsunya.


"Maaf tuan, ratu menyuruh ku untuk melayani anda"hormat pelayan itu.


"Siapkan air hangat aku akan mandi"ujar Zilian mengatur nafasnya.


"Baik tuan"patuh pelayan itu.


Sembari menunggunya selesai menyiapkan air hangatnya Zilian memfokuskan dirinya untuk membuat penghalang dalam pikirannya agar tidak terganggu, ia tahu ini perbuatan Ilyan ratu Ily yang tidak suka akan kedatangannya.


Merasa perasaannya sudah lumayan membaik Zilian pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan badannya.


"Akan saya bantu nona"ujar pelayan itu.

__ADS_1


"Kau keluar saja aku bisa melakukannya"ujar Zilian menolak.


Baru saja pelayan itu ingin membalas perkataan Zilian tapi ia sudah mendahuluinya.


"KELUAR! "Bentak Zilian yang membuat pelayan itu menciut seketika, pelayan itu pun keluar dengan begitu terburu buru takut Zilian akan melukainya.


Tidak peduli ia di mana yang penting Zilian tetap fokus untuk menjalankan alasan utama mengapa ia datang ke tempat ini.


~HANABIVOV~


Aku merasa ada yang begitu aneh dengan tempat ini, bukan hanya dari ukiran yang tertera di dinding ketika aku masuk ke dalam istana ini.


Perasaan aneh pun muncul di benak ku, hati ku pun tidak karuan khawatir dengan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya.


"Tempat yang aneh, sepertinya ratu itu sama seperti ku tidak memiliki hati sama sama berusaha melupakan perasaan masing masin, sayang sekali tapi itu tidak berhasil"ujar ku terus menahan perasaan aneh yang terus menjadi jadi dari sebelumnya.


Tiba tiba di benak ku tergambar seorang anak yang berumur sekitaran tujuh tahun yang sedang mentap ku dengan senyuman cerianya.


Ia berlari ke arah ku dan menarik ku ke suatu tempat yang sama sekali tidak dapat ku lupakan bagaimana pun caranya. Tempat yang menjadi satu satunya tempat yang mampu membuat ku mengingat kejadian itu.


Anak kecil itu pun melepaskan genggamannya dan kini beralih ke seorang anak yang seumuran dengannya yang tersenyum ke arahnya.


"J-jangan mendekat Nian! "Teriak ku ketakutan.


"Kumohon jangan mendekat! Jangan! "Teriak ku.


"TIDAKKKKKKKKKK"


Tanpa ku sadari air mata ku pun mengalir deras, seketika tubuh ku melemah dan tersungkur ke lantai.


Apa yang tidak ingin ku ingat kini mala terulang kembali.


"Mengapa kakak melakukannya dengan Nian? Mengapa kakak begitu tega? "Tangis Nian pada gadis yang menusuk kan belati ke dada Nian yang tersungkur ke lantai tak berdaya.


"Kakak tidak dapat melanggar perintah, maaf Nian karena kakak tidak dapat melanggar! Jika kakak lebih kuat, ini tidak akan terjadi! "Tangis anak itu yang adalah aku.


"Entah mengapa N-nian tidak d-dapat membenci mu k-kak, jangan merasa bersalah kak N-nian tidak akan p-pernah membenci kakak mes-ki kakak y-ang membunuh k-ku"ujar Nian yang gementaran.


Sentuhan lembut dari Nian yang menyentuh kedua pipi ku dengan tatapan yang penuh kasih sayang itu sangat menyakitkan untuk ku!


Tanpa sadar aku pun terkurung dalam kurungan ilusi yang mampu menjebak ku dalam pikiran terdalam ku.


~HANABIVOV OFF~


Di sisi lainnya Mozai mengalami hal yang sama di mana dia pun terkena serangan ilusi yang membuatnya melihat hal yang paling ia takuti.


"Tuan muda! Nona Zilian di serang oleh pasukan Ily! "Ujar Velix yang mendobrak pintu kamar Mozai.


Tidak lama ketika Velix melapor ia pun di tusuk tombak dari belakang, Ilyan pun masuk ke kamar Mozai dengan kepala Zilian yang sudah ia pisahkan dengan badannya.


"Apa yang kau lakukan pada Zilian! "Ujar Mozai tidak percaya pada dirinya sendiri.


Hal yang ia lihat terlihat begitu nyata jadi sulit bagi Mozai membedakan yang mana ilusi dan yang mana nyata.


"Tidak percaya kah? Perhatikan baik baik kepala kekasih mu ini! "


Ilyan melempar kepala Zilian ke arah Mozai yang membeku melihat kepala Zilian yang berguling ke arah kakinya.


"ARGGGHHHH!!!"


...DUNIA NYATA...


Ilyan tertawa puas menyaksikan teriakan kesakitan mereka yang berhasil ia provokasi, tidak di sangka mereka akan masuk ke dalam jebakannya begitu cepat, meski Zilian, Glouish dan Velix begitu sulit untuk di jebak tapi Ilyan memiliki banyak cara untuk menjatuhkan mereka ke dalam genggamannya.


Seseorang berjubah hitam datang mendekat ke arah Ilyan yang masih tertawa puas.


"Bagaimana? Apa gadis itu sudah kau kendalikan? "Tanyanya yang begitu tidak sabaran.


"Hihihihiii.... Tenanglah tuan sesuai janji aku akan memberikannya pada mu, sayang sekali dia lebih kuat di banding dengan dua bawahannya itu HAHAHAHAHAHA!!! "Tawa Ilyan.


"Jaga sikap mu! Lain kali aku tidak akan memberi mu kesempatan, lakukan dengan cepat"perintah pria berjubah itu.


"Baiklah, kau tunggu beberapa menit lagi akan ku pastikan anak itu akan berada pada genggaman ku"sinis Ilyan penuh dengan kesombongan.


Ilyan pun bergegas pergi menuju kamar Zilian yang masih terganggu oleh ilustrasi yang di buat Ilyan.


Zilian berusaha sadar dengan membenturkan kepalanya dan menyakiti tubuhnya berharap ia bangun dan kembali ke dunia nyata.


"Oh... Jangan menyakiti diri mu sendiri Zilian, kasihan kulit milus mu ini"ujar Ilyan yang mengelus tangan Zilian dengan raut wajah yang sedih.


"Kau! Beranknya kau menyerang ku! "Marah Zilian yang menyerang ke arah Ilyan yang tertawa terbahak bahak.


Tidak mengerti apa yang di rencanakan Ilyan padanya, sunggu Zilian ingin mencakar tubuh Ilyan dan mencincangnya tapi sayang ia masih berusaha untuk tidak terbawa ilusi.


"Serangan mu sepertinya melemah? Mengapa? Apakah kau melihat tuan mu itu? Hahahaha"


"Jika dulu kau tidak mengenal wanita itu, aku tidak akan menyerang klan rubah mu, yah bisa di bilang wanita itu adalah kelemahan mu dan akan menjadi"


"PENGHAMBAT MU"ujar Ilyan yang mendorong Zilian sampai membentur tembok denga keras.


"Kau ingat dengan dengan rubah yang dulu kau tolong itu? Itu adalah aku! "


"Sejak saat itu aku terua berusaha untuk lebih kuat dan lebih kuat agar dapat berdiri di dekat mu! Sangat di sayang ka dia lebih mendahului ku"


Ilyan tertawa sinis, ia menatap Zilian dengan raut wajah sedihnya seolah olah berharap Zilian mengingat dirinya.


"Apa kau sudah selesai mengoceh? "Ujar Zilian menatap tajam ke arah Ilyan yang sontak kaget dengan tatapan dari Zilian.


"Kau? Sudah ku sangka aku ini tidak akan bisa menyamai mu, maka dari itu tetaplah seperti ini! Dan pikirkanlah keputusan mu sebelum kau benar benar ku hancurkan! "

__ADS_1


Ilyan pun keluar dari kamar Zilian dengan mengebrak pintu, Zilian tersenyum kecut melihat tingkah laku Ilyan yang begitu ceroboh.


Malam telah tiba, orang berubah itu kembali mendatangi Ilyan yang dalam ke adaan kacau.


Suasana di ruangan Ilyan begitu berantakan bahkan penampilannya pun tidak layak.


"Tidak peduli kau ada masalah apa tapi ingatlah tugas mu"ujarnya memperingati Ilyan.


"Kau bisa berbicara seperti itu dengan mudah! Tidak peduli dengan ke adaan orang lain! Tujuan mu tidak akan tercapai! "Tegas Ilyan yang mencoba untuk tidak menyerangnya.


"Apa kau pikir kau layak mengatakannya sekarang? "Sinis orang itu.


"Layak atau tidak siapa yang peduli? Jika kau mampu maka lakukanlah sendiri "Ilyan meneguk gelas yang berisikan win.


"Heh.... Apa kau sanggup melihatnya mati di tangan ku? Jika bukan kau yang menanganinya maka aku yang akan turun tangan! Tapi jangan harap dia akan hidup"ujar Sosoj berjubah itu dengan penuh penekanan.


Ilyan mengerutkan keningnya berfikir, apa bedanya jika ia menangkap Zilian bukan kah dia akan berakhir dengan cara yang sama?


"Jangan mencoba untuk melawan ku"ujar sosok itu mengerti jalan pikir Ilyan.


"Sialan kau! Siapa yang mengizinkan mu membaca pikiran ku! "Marah Ilyan.


Sosok itu bangun dari tempat duduknya dan mencengkam leher Ilyan dengan sangat kuat dan melemparnya ke tembok dengan keras.


"Memangnya kau siapa? Berani berbicara seperti ini di depan ku!? "Emosi sosok itu.


"Dalam sejam ini, tidak peduli berhasil atau gagal itu adalah keputusan mu! "


Sosok itu pun pergi meninggalkan Ilyan yang menangis tidak tahu harus melakukan apa lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sejam telah berlalu, waktu yang di tentukan pun tiba. Sosok itu pun datang menemui Ilyan yang berusaha menguatkan dirinya.


Melihat apa yang ia ingin kan sudah selesai ia pun tersenyum pada Ilyan yang menatapnya dengan tajam.


"Kerja bagus, sesuai janji dia tidak akan ku bunuh"ujarnya senang.


"Jika terjadi apa apa pada Zilian maka aku dan sekutu ku akan menyerang mu"ancam Ilyan pada sosok berjubah itu.


"Akan ku tunggu jika kau memang memiliki kemampuan"remeh sosok itu yang terbang keluar dari ruangan Ilyan.


Ilyan tersenyum puas setelah kepergian sosok itu.


Setelah terbang begitu lama ia pun duduk sementara untuk mengirim pesan ke tempatnya.


Di saat ia membelakangi Zilian dan teman temannya serangan brutal dari belakangnya pun mengenai punggungnya yang meninggalkan luka berat.


Zilian berjalan ke arah sosok itu dengan senyum liciknya.


"Siapa yanh menyuruh mu? "Tanya Zilian.


Sosok itu berusaha untuk kabur tapi kedua rubah penjaga Zilian lebih cepat dan mengurungnya ke dalam segel hingga ia tidak dapat kemana mana.


"Katakan! "Ujar Zilian dengan tatapan tajamnya.


"Mati sekali pun tidak akan ku katakan"ujar sosok itu yang mengigit lidahnya sampai mati.


"Ck... Sepertinya aku tidak dapat informasi penting? "Ujar Zilian menghela nafas.


"Mati sekali pun masih tetap berguna"


Zilian membuka jubahnya dan menyentuh kening sosok berjubah itu yang ternyata seorang pria dengan tanda jiwa hitam.


Melihat tanda ini Zilian hanya dapat memikirkan neneknya yang bertanggung jawab atas para jiwa baik hidup mau pu mati.


Di dalam ingatan pria ini, hanya ada sesosok wanita yang berada di raboratorium bersama dengan sesosok pria yang mengerak kan laboratorium itu.


Meski telah melihat ke dalam pikirannya tetap saja Zilian tidak dapat melihat wajah kedua orang itu.


Zilian merekam ingatan pria itu ke dalam batu Nirvana dan akan menyerahkannya pada Medeia untuk di tindak lanjuti.


Dengan demikian Zilian kembali ke klannya dengan membawa Ilyan ikut dengannya.


Selamat membaca Temen temen 🤗

__ADS_1


__ADS_2