Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 70


__ADS_3

...~~~...


Disebuah tempat jauh dari kehidupan mahluk hidup, disanalah sebuah istana berdiri kokoh meski minim akan penerangan.


Kerajaan itu terlihat begitu mengcekam, bayangkan saja sebuah istana yang tampak begitu suram itu terlihat semakin menakutkan saat petir menyambar memberikan kilatan cahaya singkat.


Di sekelilingnya ditumbuhi pepohonan lebat yang menjuntai tinggi, ada begitu banyak monster dan mahluk tingkat tinggi hidup disana seolah menjadi penjaga untuk istana itu agar tak membiarkan orang luar menyentuhnya meski seinci pun.


Sama seperti Baxeria, disana tidak ada secercah sinar matahari meski hanya sebesar sebiji pasir, awan hitam yang terus bergemuruh telah menjadi ciri khas tempat itu.


Disanalah Uxley berada, di dekat tuannya menunggu kedatangan seseorang di dalam sebuah ruangan kebanggaan milik tuannya.


"Dimana tetua ke-2 dan tetua ke-3? Apa yang mereka lakukan sekarang? "Tanyanya pada Uxley yang tampak berdiri tegak di sebelahnya.


Jika saja Uxley tidak memakai topeng mungkin ekspresi wajahnya dapat terbaca sekarang.


"Mereka sedang dalam perjalanan" ujar Uxley datar, seharusnya tetua pertama yang mengerjakan tugasnya saat ini tapi entah bagaimana caranya hingga Uxley yang harus mengerjakan pekerjaan merepotkan ini.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu beberapa hari yang lalu? " tanyanya lagi sambil menyesap cairan kental di gelas peraknya dengan anggun.


"Ya" jawab Uxley seadanya, jujur saja ia ingin mengakhiri ini dengan cepat agar kembali ke rumahnya yang nyaman.


"Sangat disayangkan, padahal aku sangat ingin melihat rupamu yang misterius itu" ujarnya tersenyum simpul, orang disebelahnya ini sungguh keras kepala.


"Maaf saja tapi aku tidak akan pernah peduli dengan keinginan konyolmu itu, ingat aku berada disini bukan sebagai bawahanmu jika saja tujuanmu melenceng sedikit denganku, aku pasti tidak akan berada disini, aku tidak perlu mengingatkanmu akan akibat jika kau merubahnya bukan? "Ujar Uxley kian bersikap dingin pada sosok gagah disampingnya.


"Kau menunggu seseorang bukan? Jujur saja aku tidak mengerti dengan tindakanmu ini, pertama kau mengutuk adikku lalu memutuskan untuk turun tangan dalam rencanaku padahal kau tidak pernah menemuiku selama bertahun-tahun ini, kau.... "


Krekkkk....


Seseorang masuk lalu menunduk hormat dihadapan Uxley dan sosok di sampingnya yang tiba-tiba terdiam dengan ekapresi tak tersentuhnya.


Atensi keduanya terarah ke sosok prajurit yang masih setia menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Katakan" ujarnya memberi izin, inilah sosok yang dikenal bawahannya.


"Tetua ke-2 dan tetua ke-3 telah datang sesuai dengan perintah anda yang mulia" ujarnya melapor.


"Persilahkan mereka masuk" kini Uxley yang berbicara dia tahu sifat orang di sebelahnya, ia terlalu irit bicara dengan orang lain selain dirinya dan adiknya walaupun hubungan keduanya terbilang tidak baik.


Tidak lama sosok dua pria rupawan memasuki aula ruangan, keduanya melakukan hal yang sama dengan prajurit tadi lakukan.


"Langsung saja" perintahnya seolah dirinya itu begitu sibuk sontak saja Uxley berdecih mendengar ucapannya.


"Jadi bagaimana keadaan diwilayah kalian, Helliv? Xander? "Tanya Uxley.

__ADS_1


"Dari hasil penyelidikan, kerajaan Ilyan dan kerajaan Calveria tidak memiliki masalah apapun hanya saja kerajaan Amerline sampai saat ini masih sulit untuk saya dekati" ujar Xander tertunduk lesu.


"Apa karena, Erland? "Tebak Uxley yang malah mendapat anggukan dari Xander.


"Kau belum menemui 2 jendral Raja dan kau telah kesulitan? Sepertinya aku yang harus turun tangan" ujar Uxley yang membuat Dareen mendelik.


"Apa yang anak ini pikirkan? Jika saja dia tahu sosok Rajanya dia pasti akan terdiam, rumor akan dirinya bukanlah rumor belaka saja yah lagi pula hanya kerajaan miliknyalah yang terbebas" batin Dareen, sosok pemimpin dari kastil tanpa nama miliknya.


Uxley mendumel kesal saat tahu Dareen ternyata sedang membicarakannya jelas sekali dari wajahnya yang tidak dapat berbohong, "kau lebih baik diam, kau hanya duduk menunggu hasilnya sedangkan aku yang terus menerus membuat rencana hingga kepalaku hampir meledak! "Ujar Uxley melayangkan tatapan tajamnya pada Dareen.


"Aku dari tadi hanya diam saja dan jika kau mau aku bisa saja membantumu meledakkan kepalamu sekarang dengan begitu kau bisa menenangkan pikiranmu kan? "Ujar Dareen berbisik tentu dengan smiriknya.


"Jangan harap kau dapat menemuiku setelah urusan ini selesai" ujar Uxley, ia kembali mentap kedua orang yang ternyata menyaksikan pertengkaran kecil mereka.


"Aku yang akan mengatasi kerajaan itu, kau pergilah membantu tetua Azel, sepertinya dia mengalami kesulitan" perintah Uxley.


"Lalu bagaimana denganmu, Uxley? "Ujar Helliv setelah berdiam diri cukup lama.


"Aku dapat menyelesaikannya dengan cepat" ujar Uxley tenang.


"Cukup, kau fokuslah pada tugasmu Uxley, masalah kerajaan Amerline biarkan jenderal utama kerajaan yang mengurusnya dan kau Helliv temukan pangeran secepatnya jika gagal maka aku sendiri yang akam turun tangan, apa kalian mengerti? "Ujar Dareen menginterupsi.


"Ya, yang mulia" ujar Xander dan Helliv bersamaan.


"Pergilah" perintah Dareen.


"Pergi" dingin Dareen.


"Apa kau pikir aku tidak menyadarinya? "Pikir Uxley sinis.


"Kau meremehkanku, Uxley" batin Dareen menyeringai.


...~~~...


Tempat yang dipenuhi dengan para monster, disanalah Zilian berada dengan mengerahkan seluruh tenaganya hingga ia berhasil mencapai puncak dari gunung es tepat dimana Cecillia berada.


Zilian bisa tahu keberadaan Cecillia karena kekuatannya yang begitu menggelegar dan menyebar luas tak terkontrol.


Zilian berjalan mendekati Cecillia dengan pandangan tertutup, akan sangat merepotkan jika Zilian menatap mata Cecillia dan malah berubah menjadi batu kaku.


"Zilian, kau? "Ujarnya menatap Zilian yang tengah menghampirinya tanpa ada langkah keraguan disetiap langkahnya.


"Ya, ini aku" ujar Zilian terus berjalan lurus dimana Cecillia berada.


"Apa yang kau lakukan disini? Pergilah, menjauh dariku kumohon Zilian, tolong pergilah sebelum aku memusnahkanmu! "Teriak Cecillia di iringi erangan kesakitan yang terdengar tertahan.

__ADS_1


Zilian menyeringai mendengarnya, "apa kau yakin kau mampu melakukannya dengan hati yang begitu rapuh itu gadis rendah hati? "


"Diam! Kau hanya perlu pergi dari sini! "Bentak Cecillia.


"Berhentilah berkicau dan datanglah kemari, apa kau tahu berjalan tanpa melihat itu sulit sekali? "Kesal Zilian, tangannya terasa gatal untuk menonjok kepala Cecillia sekarang tapi kondisinya sama sekali tidak meguntungkan, salah sedikit mampus Zilian.


Zilian berdecih kesal, ini bukan keahliannya tapi tidak masalah dicoba dulu kalau berhasil yah syukur kalau kagak mah otak muter lagi dah jadinya.


"Hey, apa kau pikir aku datang kemari jalannya mulus layaknya pantat bayi? Ohohoho, tidak sama sekali, lihat kaki ku yang berdarah karena tergigit banteng, tenagaku habis gara-gara melawan mereka dan kau tahu aku melakukannya untukmu, apa kau tidak akan datang padaku setelah usahaku itu? Apa kau punya akal hah?! "Oceh Zilian kesal sungguh ia akan marah besar jika Cecillia tidak menghampirinya setelah ini.


"Kau tidak ingin menyakiti orang lainkan? Kalau begitu kemarilah akan aku bantu kau mewujudkannya" ujar Zilian teringat akan sesuatu mungkin saja akan berhasil.


"Kemari! "Teriak Zilian, Cecillia dengan ragu menghampiri Zilian, tubuhnya merespon begitu saja.


"Apa yang kau, eh? "Beo Cecillia kaget saat Zilian langsung mengayunkan kedua tanggannya pada Cecillia layaknya ingin melakukan tindakan kekerasan.


Sayangnya tidak sesuai dengan pemikiran Cecillia, Zilian malah memasangkan kalungnya. Yah kalung yang waktu itu Candy berika padanya pada saat ia masih berada di dunianya.


"Mungkin butuh waktu agar kutukanmu terangkat sepenuhnya untuk saat ini masih dalam proses lalu penyakitmu juga mungkin akan segera menghilang lebih cepat dari kutukanmu" ujar Zilian menepuk wajah Cecillia yang dari tadi terus mengerut karena menahan sakit.


Cecillia tak dapat menahan bendungan air matanya, baru kali ini ada seseorang yang mau mendekatinya dalam keadaan yang mengerikan meski Zilian tidak melihat wujudnya karena menutup mata tapi usahanya saat kemari berhasil meluluh lantahkan hati Cecillia


"Tidak, ambillah kembali"


Baru saja Cecillia ingin melepasnya Zilian langsung menahan pergerakan Cecillia.


"Bodoh! Aku tidak memberikannya padamu, hanya dipinjam! pokoknya kembalikan saat aku dapat menggunakan sihir nanti" ujar Zilian mendengus kesal.


Cecillia tersenyum manis, "Bukalah matamu" ujarnya.


Zilian menurut, ia membuka matanya. Sosok Cecillia berubah menjadi normal terutama kedua matanya.


"Jaga kalung itu baik-baik, itu milik sahabatku aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk membawanya kembali lalu memberikannya" ujar Zilian menunjuk kalungnya yang kini terpakai di leher jenjang Cecillia.


"Terimakasih, aku akan menjaganya untukmu" ujar Cecillia mengenggam kalung Zilian dengan pandangan melembut.


"Omong-omong, ini saatnya penjelasan bukankah begitu temanku? "Senyum Zilian sambil menepuk pundak Cecilia keras.


Cecillia tersenyum kikuk, ini salahnya karena pergi secara mendadak tanpa menjelaskan apapun pada Zilian.


"Maaf membuatmu kesulitan tapi sungguh jika aku tidak menjauh secepatnya aku takut jika saja aurahku yang penuh akan racun menyebar selain itu aku juga takut jika saja aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri karena diriku yang lain, aku kesulitan melawannya jika banyak orang disekitarku" ujar Cecilia tampak menyesal.


Zilian mengangguk mengerti, lebih baik sampai disini saja ia tidak ingin menanyakannya lebih lanjut lagi.


"Lain kali ajak aku menemuinya itu pun kalau kau mengizinkan, sekarang sebaiknya kita kembali saja, sebentar lagi akan malam" ujar Zilian yang di angguki Cecillian.

__ADS_1


"Iya, ayo kita kembali" ajaknya semangat.


Berlanjutttt....


__ADS_2