
Zilian duduk terdiam di terasnya memikirkan apa yang akan terjadi bersama dengan Hexilia yang tengah menatap Zilian dengan tatapan bosan.
"Nak, kau tidak menemani tuan mu? "Tanya Hexilia mencoba menyingkirkan Zilian agar dia bisa bersantai sejenak.
"Ada Aglia dan Yelly yang menemaninya toh dia sudah tahu aku itu siapa"ujar Zilian masa bodo.
"Lalu apa yang kau pikirkan? "Tanya Hexilia pasrah akan takdir dirinya sendiri.
"Memikirkan masa depan saja "Zilian menghela nafas panjang.
Hexilia pun ikut menghela nafas, entah kenapa Zilian tiba tiba kepikiran hal seperti biasanya dia paling tidak peduli.
"Heh.... Sepertinya Rafaela adalah separuh semangat mu yah? "Sinis Hexilia.
"Biar ku tebak, kau memikirkan masa depannya kan? "Tebak Hexilia yang menepuk pundak Zilian.
"Sebelumnya, jika dia mati apa yang akan terjadi pada ku? "Tanya Zilian memastikan dugaannya.
"Palingan kau akan di serang balik oleh mahkota ke hampaan dan energi tanpa batas mu akan mengalir secara berlawan itu pun jika kau dapat menahannya selain itu kau tidak akan menjadi abadi seperti kami"ujar Hexilia.
"Masih ada dampak terburuk selain itu kan!? "Ujar Zilian
"Pintar sekali, seperti yang di katakan Medeia tadi di ruang utama kau tidak akan merasakan apa itu semangat lalu mudah bosan dengan hal hal yang ada di sekitar mu, selain yang tadi ku katakan kau hanya akan seperti orang yang tidak memiliki tujuan"ujar Hexilia menarik nafas dalam dalam.
"Itu adalah hukuman jika aku tidak dapat melindungi Rafaela jika dipikir pikir sepertinya memang wajar"tawa Zilian.
"Sepertinya kau sudah mengerti, aku sebagai takdir pun sudah tahu aliran cerita kalian akan menuju kemana, jika saja aku bisa memberitahu mu mungkin tidak akan terlambat sih"ujar Hexilia menatap sendu ke arah bunga Anyelir yang tumbuh dengan suburnya.
"Intinya lindungilah selagi kau bisa, selalu berada di dekatnya di mana pun dan kapan pun, jangan pernah meninggalkannya "ujar Hexilia dengan senyumannya.
"Dan lagi, kau tidak boleh berhubungan dengan pria yang kau tolong waktu itu jika tidak akan berbahaya untuk ke depannya"peringat Hexilia yanh berubah drastis.
"Baiklah, terimakasih atas peringatannya aku akan menemani Rafaela dulu di rumah"ujar Zilian.
"Maksud mu di rumah mana? "Tanya Xilian.
"Di mana lagi kalai bukan rumah ini? Memangnya masih ada rumah yang lebih aman dari rumah utama kita? "Datar Zilian.
"Hah.... Mampus aku!"ujar Hexilia terduduk lemas.
Zilian membuat portal menuju tempat Rafaela yang tengah bermain rianh bersama dengan kawanan rubah biasa di taman belakang rumah kediaman Beliard.
"Serunya hahahaha.... Lucu sekali, kamu sini ayo makan"ujar Rafaela berlari larian karena di kejar beberapa rubah yang ingin memakan makanan yang di pegang oleh Rafaela.
"Kebahagiaannya seperti tersalur ke diri ku dan lagi dia begitu ceria meski hanya beberapa hal sederhana saja"batin Zilian.
"Eh? Zilian kemarilah, ayo ikut bermain bersama? "Ajak Rafaela yabg menyadari keberadaan Zilian.
"Tidak apa, kau bermainlah bersama Aglia dan Yelly"ujar Zilian yang duduk di bangku taman.
Mereka bermain dengan riang sedangkan Zilian duduk diam sambil bermain main dengan elemental entah mengapa itu terasa asik dari hal sebelumnya.
"Eh? KYAAAAAAAA"Teriak Rafaela yang memanjat ke pohon sambil melihat ke arah bawah pepohonan.
"Kalian mundur atau ku potong kalian! "Ancam Zilian pada ular ular hitam itu, ular itu pun mundur dengan cepat seolah ia mengerti maksud Zilian.
"Ini tidak lucu"dingin Zilian yang menjentikkan jarinya.
Mozai muncul ia membungkuk hormat pada Zilian meski begitu ia sedang menahan tawanya karena sikap Zilian yang tanpa ia sadari kalau dia bergetar hebat.
"Pewaris tahta terhebat kita takut pada ular? Kaki mu itu loh hehehe.... Kayak lagi nahan panggilan alam"ejek Mozai pada Zilian yang tidak mengerti maksud Mozai.
Mozai lalu menunjuk kaki Zilian yang dengan sendirinya bergetar entah karena apa.
"Eh? Kenapa begini? "Kaget Zilian yang langsung duduk terheran heran.
"Hahahahahaha...... Suara mu juga ikut bergetar loh? Hihihihiii...... Lucunya imut banget"gemas Mozai.
"D-diam! Arggghhhh"kesal Zilian.
Ia menatap Rafaela yang masih gemetaran karena takut dengan ular suruhan Mozai.
"Astaga! Ternyata itu gara gara kau yah Rafaela"hela Zilian.
"Kenapa bisa ke salur gini sih? "Marah Zilian.
"Kalau gitu ku mainin ajah ah... "Iseng Mozai.
"Berani kau mendekat ku bunuh kau! "Kesal Zilian yang kini mengangkat tangannya ke arah Mozai.
"Baik, aku duduk saja deh"ujar Mozai yang tidak jadi.
Zilian berfikir keras mengapa hal yang di rasakan Rafaela berdampak padanya? Padahal mereka di tubuh yang berbeda tapi mereka dapat merasakan satu sama lain.
__ADS_1
Setelah memikirkannya secara dalam dan teliti Zilian berdiri untuk mencoba sesuatu untuk di lakukan ia musukan pisau ke dadanya.
"Arrgggghhh"teriak Rafaela kesakitan.
"Ughhhh"Zilian menahan rasa sakit di tubuhnya.
Mozai yang melihat tinggkah Zilian yang menyakiti dirinya sediri dengan cepat mencabut belati yang tertancap di tubuh Zilian.
"Bodoh! Kau mau bunuh diri atau apa hah? "Marah Mozai.
"Ck, kau lupa yah kalau aku bisa regenerasi? "
Tubuh Zilian perlahan meregenerasi, lukanya pun tertutup rapat ia kembali merasa sehat sedangkan Rafaela? Dia pun mengalami regenerasi seperti yang terjadi pada Zilian.
Zilian tersenyum ke arah Rafaela yang duduk dengan tatapan bingung.
"Apa kau baik baik saja? "Tanya Zilian pada Rafaela yang masih menatap kosong ke arahnya.
"Ada apa ini? "Heran Rafaela.
"Tadi aku menyadari sesuatu, kau ketakutan dengan ular dan itu berdampak pada ku meski aku tidak takut tapi tubuh mu yang gemetar berdampak pada ku yang juga ikut bergetar, karena pemasaran aku pun menusuk kan belati di dada ku siapa yang menyangka kau juga akan berdampak"ujar Zilian memapah Rafaela duduk di bangku.
"Pantas saja! Rasanya mau mati saja dari pada kena hal seperti itu! Lain kali jangan lakukan"ujar Rafaela mengerutkan keningnya.
"Aku sih bisa jaga diri tapi kau sama sekali tidak bisa"khawatir Zilian.
"Yah mau bagaimana lagi? Pada dasarnya tubuh manusia lebih lemah dari pada kalian"sedih Rafaela.
"Kalau begitu bagaimana kalau ku ajari kau mengendalikan elemen? "Tawar Zilian.
"Memangnya manusia ada kekuatan begitu? "Tanya Rafaela.
"Ada, kau tidak tahu yah? Manusia juga memiliki elemen di dalam diri mereka tapi elemen ini tidak dapat di gunakan, kau pernah merasa tidak air di sekitar mu akan bergerak jika kamu di sekitarnya atau jika hujan kau merasa setiap tetesan air itu kadang lambat dan kadang cepat? "Tanya Zilian.
"Itu yah? Ia sih waktu mau di siram sama mereka aku bisa ngehindar terus selain itu entah mengapa kalau aku duduk di taman dan terasa gerah atau panas angin bakal datang tapi kadang juga nggak hehehe... "Ujar Rafaela mengaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Benar, elemen yang ada di diri mu ada dua yaitu air dan angin kedua elemen ini saling membantu satu sama lain tapi perlu pengendalian, jarang ada manusia yang pekat akan dirinya sendiri seperti diri mu"senang Zilian.
"Mau ku lihatkan contoh sunami buatan? "Tanya Zilian.
"Kapan lagi bisa lihat? "Ujar Zilian bersemangat.
"Ikut aki ke kolam di dekat taman"ujar Zilian yang berjalan ke arah kolam dekat taman.
Setelah sampai Zilian mengajak Rafaela untuk mendekat dan memperhatikannya dengan baik.
BYUUURRRRRR
Rafaela membulatkan matanya takjub akan cara Zilian mengendalikan air dan angin, Zilian merentangkan tanggannya dan memunculkan Api di telapak tangannya ia memperbesarnya dengan menggunakan elemen Angin.
"Sudah lihat bukan? Kau cobalah dari mengerak kan tangan mu ke arah Air secara perlahan dan teteap fokus"ujar Zilian duduk di bangku yang ada di dekat kolam.
"Eh? Gimana caranya? "Bingung Rafaela.
"Seperti yang ku katakan tadi, yang penting kau berfokus pada satu hal dengan begitu ada kemungkinan kau bisa mengendalikannya"ujar Zilian tersenyum ke arah Rafaela.
Perlahan Rafaela yakin dan mulai memikirkan cara untuk mengendalikan air.
TIGA JAM KEMUDIAN
Rafaela berbaring ke kolam lelah begitu pula Zilian yang ikutan lelah karena duduk.
"Mati aku lama lama"keluh Zilian ia menyentuh kening Rafaela dan meninggalkan tanda bunga Helix.
CTT\=bunga Helix adalah gabungan dari bunga hingganbana dan anyelir yang memiliki kekuatan membangkitkan arwah dan menyembuhkan orang yang terluka di sekitarnya tergantung dari pemikiran Zilian ingin menyembuhkan siapa, selan dapat membangkitkan ia juga dapat menyerang lawan dengan mengandalkan darah dan energi dari sang pemilik untuk mengaktifkan mode serang.
Rafaela perlahan pulih dan merasa segar kembali ia kembali berdiri dan memulainya dengan serius.
"Kali ini tidak boleh gagal! "Semangat Rafaela.
"Kalau lelah beristirahatlah"ujar Zilian yang merasakan penderitaan tiada tara.
"Tidak akan ada kata istirahat kalau tidak bisa menguasai! "Tekad Rafaela.
"Apa aku sedang di hukum sekarang? "Datar Zilian.
Merasa tersiksa karena tekad Rafaela, Zilian memikirkan cara lain untuk membantu Rafaela dalam melatih kekuatannya.
"Hmmmm.... Bagaimana kalau kau mengerak kan tangan mu ke udara? "Ujar Zilian menyadari sesuatu.
"Okey"
Rafaela melakukan apa yang di katakan Zilian dan benar saja angin perlahan menghembus ke arah Zilian dan Rafaela.
__ADS_1
"Seperti sifat mu yang selalu ceria dan selali positif dengan hal apa pun, Angin menyukai mu"ujar Zilian bangga pada dirinya sendiri.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Air? "Tanya Rafaela yang menatap Air dengan sedih.
"Aku akan mencari tahu mengapa selama tiga jam ini aku tersiksa karenannya"ujar Zilian.
"Ku kira aku yang tersiksa? "Rafaela mengayunkan tangannya ke arah Zilian dengan cepat.
"Lain kali kalau mau menurunkan tangan sebaiknya perlahan lahan kalau begini rambut ku bisa terbang semua "ujar Zilian merapikan rambutnya.
"Maaf habis senang sih"tawa Rafaela.
"Iya deh, besok ajah yah kita lanjutin udah mau malem "ujar Zilian mencari cara agar Rafaela setuju untuk beristirahat.
"Nggak! Kan baru bisa ngendali in Angin belum Airnya"cemberut Rafaela.
"Nanti saja, tunggu aku mikir cara lain biar lebih gampang"ujat Zilian mengeleng dengan cepat.
"Ada maksud lain yah? "Cemberut Rafaela.
"Bukan, kalau gampang kan bisa langsung ke tahap gabung dan memperlancar"ujar Zilian dengan senyum paksanya.
"Kalau gampang kan nggak nantangin"bantah Rafaela.
"Intinya masuk dulu, yuk makan sama sama kalau kamu berlatih terus dan tersiksa gitu kan nggak enak kalau aku makan kamu ke siksa"alasan Zilian.
"Ya udah deh, nurut ajah tapi kalau pagi pagi aku lanjut yah? Temenin lagi"ujar Rafaela yang akhirnya menurut.
"Hah... Selamat aku"batin Zilian lega.
Mereka pun masuk ke dalan rumah dan menuju kamar Zilian untuk membersihkan tubuh mereka masing masing.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian mereka pun turun ke ruang santai yang di dalamnya terdapat Mozai yang bermain game.
"Kamu lagi?! "Teriak Rafaela.
"Kamu suka main game? Aku boleh coba nggak? "Tanya Rafaela pada Mozai yang mengangguk setuju.
"Aishhhh kalian ini kekanak kanakan banget deh"kesal Zilian.
"Oh kalian ada di sini? Mama bawakan buah buahan buat kalian di makan yah? "Ujar Medeia yang juga baru selesai mengerjakan dokumen kantornya.
"Papa kemana? "Tanya Zilian.
"Lagi ke dunia Yokai jenguk Yansha sekalian membantu Medusa yang lagi ada masalah"jawab Medeia yang tengah mengupas apel untuk Zilian.
"Bibi Eva kemana? "
"Lagi di kantor ngurus produk baru bentar lagi datang kok"ujar Medeia.
"Kenapa? "Tanya Evo datang tiba tiba dengan portal yang belum di tutup.
"Kau! Sudah ku bilang untuk menutup pintu kalau sampai di tempat tujuan"marah Medeia.
"Maaf"Eva kembali menutup portalnya.
"Kakek dan paman di sana nggak papa? Sebaiknya jenguk deh mah"ujar Zilian agak khawatir.
"Toh ada pasukan ularnya si Medusa pasti aman sih"ujar Medeia.
"Siapa yang tahu apa yang terjadi? "Ujar Zilian membuat portal.
"Rafaela mau ikut ke dunia Yokai nggak? "Tanya Zilian sebelum masuk.
"Mau! Kamu ikutan yuk Mozai"ajak Rafaela.
"Ngapain? "Heran Mozai.
"Hihihi jalan jalan ke sana lah"ujar Rafaela semangat.
"Lagian kamu tuh Bibi Medusa lagi perang kau malah enak enakan maen game di sini! Cepat bantu Bibi Medusa! "Gertak Zilian.
"Iya iya, lagian mama nutup portal khusus masuk ke istana ular jadi nggak bisa ngapa ngapain, ngehubungin juga nggak tau kenapa terputus gitu sama asisten mama"ujar Mozai panjang lebar.
"Kan bisa kasih tahu aku Mozai, gimana kalau Bibi dalam masalah!? "Zilian menarik Mozai masuk ke dalan portal dan di ikuti oleh Rafaela yang kebingungan.
"Kita ikutan! Biasanya kalau Zilian panik gitu pasti ada yang terjadi di sana"khawatir Medeia.
"Baik, saya lacak dulu mereka sampainya di lokasi mana"ujar Eva.
"Langsung ke kediaman klan ajah biar cepat"perintah Medeia yang tidak sabaran.
Mereka pun ikut ke sana menyusul Zilian yang entah di lokasi mana mereka sampai.
__ADS_1
Ketika Zilian sampai ia membelalakan matanya kaget akan kondisi tempat pamannya, ia tidak menyangka akan seperti ini.
*SAKSIKAN PART SELANJUTN**YA YAH TEMAN TEMAN, KIRA KIRA APA YANG TERJADI DENGAN TEMPAT MEREKA? APA KAH ITU HAL BURUK ATAU BUKAN? MARI TUNGGU KRLANJUTANNYA DENGAN SABAR 🙃🙃🙃🙃*