
^^^"Lindungilah orang yang berharga bagimu selagi kau masih memiliki waktu"^^^
...- • -...
Sudah seminggu berlalu, Zilian masih menunggu Jadey dan Chaiden sadarkan diri, selama itu pula Dedlionaberusaha memecahkan sumpah terkutuk yang di derita Zilian.
Memang benar Zilianlah yang menginginkannya tapi tetap saja pilihan itu tidaklah baik untuknya. Dedliona tahu itu mustahil tapi ia akan berusaha sebisanya.
Di ruangan sihir Dedliona tengah berfokus dengan bola ramalannya, ia ingin tahu kondisiZilian sudah berkembang atau belum.
Dedliona mengarahkan kedua telapak tangannya tepat di atas bola biru yang tengah bersinar terang di ruangannya.
"Katakan pada ku bagaimana kondisi sahabat ku Zilian? "Ujar Dedliona berharap Zilian akan segera membaik.
'Wahai ratu ku, Zilian telah di takdirkan untuk seperti ini sampai utusan orang itu sampai dan mempertemukan Zilian dengan orang yang mampu memecahkan sumpahnya, hanya dia anda tidak akan bisa berbuta apa apa'
Dedliona mengertakan giginya, "apa makasud bola sialan ini? Berani beraninya mengatakan hal tidak baik terhadap Zilian! "Batin Dedliona kesal.
Dedliona menatap dingin ke arah bola itu dengan rasa amarah yang semakin lama membesar Dedliona menggertaknya.
"Jangan bercanda dengan ku atau kau mau roh mu kuhancurkan?! "Ancam Dedliona dengan mata melotot serta aurah mencekramnya.
'Itu adalah kenyataan ratu, Zilian harus menjalaninya hingga waktu dimana ia harus menguatkan dirinya untuk keluar dari sana dan menyelamatkan keluarganya'
"Katakan dengan jelas, siapa yang akan membawanya? Apa maksud mu si 'utusan' itu tidak lain adalah iblis dari dimensi lain? "Tanya Dedliona.
'Maaf ratu hamba tidak dapat mengatakannya lebih rinci ini melanggar hukum alam'
Lagi lagi Dedliona di buat kesal karenanya, jika bola ini terua memberinya penjelasan yang sulit di cerna Dedliona maka Dedliona mau tidak mau akan menghancurkannya.
"Jangan kira aku tidak berani menghancurkan mu hanya karena kau telah mengikuti ku sejak dulu" ujar Dedliona menekan aurahnya membuat bola itu mulai retak.
'Ratu beberapa tahun lagi Zilian akan dibawa pergi oleh utusannya, sebaiknya anda tetap waspada karena ini barulah permulaan. Hanya ini yang bisa saya katakan untuk selebihnya tolong ampuni hamba'
PRANGGGG
Pecahan kaca berserakan dilantai dengan seorang gadis munggil yang mencengkram keras leher sebuah roh seorang pria tampan yang tidak lain adalah roh yang menempati bola ramalan.
"Kesabaran ku sudah habis" ujar Dedliona melempar roh itu ke lantai dengan wajah dinginnya Dedliona menatap marah ke arah roh itu.
Roh itu segera bersujud di hadapan Dedliona dengan air mata yang mengalir deras, ia bahkan memeluk paha munggil Dedliona sambil terisak isak meminta ampunan Dedliona.
Tanpa perasaan iba sedikitpun Dedliona mengayunkan kakinya hingga roh pria itu terlepas dan tersungkur untuk kedua kalinya di lantai.
Dedliona berjalan ke arahnya lalu menginjak tangannya dengan keras membuat roh pria itu meringis kesakitan.
ctt: Pada dasarnya sebuah roh tidak dapat merasakan rasa sakit secara fisik ia hanya akan merasakannya jika sebuah mantra atau jimat yang mengandung ilmu sihir mengenai roh itu.
Disini Dedliona menggunakan sihirnya untuj menyiksa roh bawahannya sama dengan apa yang sekarang ia lakukan terhadap roh yang membangkan perintahnya sekarang.
Roh itu mulai menjadi jadi ia sampai beringus karenanya "kumohon lepaskan hamba, hamba tidak bisa menjelaskannya secara rinci pada yang mulia itu diluar kemampuan hamba" ujar roh pria itu dengan menyedihkan.
"Diluar memampuan apanya hah? Jelas jelas kau bisa meramal dan aku memerintahkanmi untuk berbicara dengan jelas apakah itu begitu sulit bagimu?! "Marah Dedliona yang terus mengoceh pada bawahannya hingga rasa kesalnya hilang.
Dengan keadaan menyedihkan roh pria itu bersujud dengan membenturkan kepalanya hingga enam kali berharap Dedliona akan mengasihani dirinya.
"Jangan harap! "Dedliona membentuk segel sihir gelap yang sering ia gunakan untuk memberikan pelajaran pada bawahannya yang tidak taat dengan perintahnya. Ia menahannya sejenak sebelum memasukan roh pria itu kedalam sihirnya.
"Katakan dengan jelas maksud ramalan itu jika kau masih menolak maka untuk selamanya kau akan menderita" ujar Dedliona mengintimindasi.
Roh pria itu gemetar hebat, apapun yang dikatakan Dedlikna akan ia wujudkan meski melanggar hukum alam ia akan melakukannya, karena itulah Dedliona kebal dengan hukum alam yang biasanya akan menghancurkan mahluk hidup yang mampu merusak kesejahteraan kehidupan.
__ADS_1
Berbeda dengan roh pria itu, rohnya masih belum seutuhnya pulih dan menyatu tapi ia sudah harus memilih dimusnahkan oleh Dedliona atau hukum alam.
"Huhuhu, bagaimana aku harus memilih jika jawabannya sama saja akan merugikan ku? Disisi lain permintaan ratuku mustahil kulakukan karena ujung ujungnya jugabakal sama saja perlahan disiksa lalu di musnahkan jika memilih mengatakannya hukum alam juga tidak akan membiarkan hidup ku begitu damai. Lalu apakah aku harus bunuh diri? Aku kan roh? "Batin roh itu benar benar tersiksa.
Melihat roh itu terdiam memaku Dedliona kembali bersuara membuat roh pria itu semakin ketakutan.
"Kukatan sekali lagi, katakan jika tidak kau akan benar benar musnah" ujar Dedliona memasang wajah sangarnya.
"Hua, ratu aku masih ingin hidup aku ingin reinkarnasi, kumohon jangan hukum aku, hiks jika aku memilih mengatakannya aku juga akan hancur, tolonglah aku ratu aku akan mengapdi pada mu jika anda melepaskan ku" mohon roh pria itu benar benar sengsara.
Dedliona mengerutkan keningnya tidak senang "itu urusan mu, mau kau hancur atau tidak itu tidak ada hubungannya dengan ku" ujar Dedliona tidak peduli.
"Sudah kuduga" batin roh pria itu menangis pedih.
Merasa waktunya terbuang sia sia Dedliona memutuskan untuk tidak memberikannya keringanan lagi, ia benar benar di buat kecewa padahal ia berharap dia akan menjawabnya tanpa ada rasa ragu.
Sebelum benar benar masuk ke dalan sihir Dedliona menatap kearah roh pria itu yang juga menatap sedih ke arahnya. Roh pria itu terkejut melihat tatapan sedih bercampur kekecewaan di wajah Dedliona.
"Aku kecewa padamu, padahal sejak aku menjadi ratu kau telah mengikutiku sayangnya kau masih belum memahami karakterku, andai kau menuruti perintah ku kau tidak akan menderita bahkan hukum alam tidak akan berani menyakitimu" lirih Dedliona.
Dengan wajah masamnya ia memasukkan roh itu dengan berat hati. Ia menyandarkan tubuh munggilnya di sofa panjang di ruangannya sambil memikirkan ramalan itu.
"Apa maksudnya sih? Siapa yang berani membawa Zilian? Dimana dia akan membawanya dan berapa tahun kejadian itu akan terjadi? Dasar deh bikin pusing mulu kerjaannya" oceh Dedliona tidak tahan dengan situasi menjengkelkan ini.
Dedliona menopang dagunnya dengan tangannya, ia melayangkan sebuah vas bunga lalu memecahkannya dengan melemparkannya kelantai lalu kembali menyatukan vas itu lalu kembali membantingnya, ia mengulanginya hingga ia merasa bosan.
"Zilian tidak akan meninggalkan ku, jika itu mustahil aku akan membuatnya menjadi kenyataan dengan menggunakan kekuatan ku" tekat Dedliona tak terbantahkan.
...πππ...
Disebuah ruangan Lab tempat dimana Jadey dan Chaiden di rawat, Zilian ada di sana menunggu mereka sadarkan diri bahkan ia tidak tidur demi melihat salah satu dari mereka bergerak.
Ia hanya ingin memastikan apakah mereka masih hidup atau sudah Death.
"Bagaimana? "Tanya Zilian melangkahkan kaki ramping nan mulusnya ke arah brangkar Jadey.
"Tubuhku terasa kaku, ini sangat aneh aku tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya" keluh Jadey tidak suka.
"Tunggulah, tubuh mu akan segera pulih" ujar Zilian kini beralih ke brangkar Chaide ayahnya.
"Bagaimana dengan mu? "Tanya Zilian menatap datar ke arahnya.
"Hahahaha, santai saja aku tidak apa apa, sehat bugar selerti biasanya "ujar Chaiden bersemangat meski tubuhnya tidak dapat digerakan.
"Dasar pembohong" batin Zilian.
Zilian berdecak pelan, ayahnya selalu seperti ini jika ia menanyakan kabarnya selalu berbohong agar ia tidak khawatir.
Pernah saat itu Chaiden menyembunyikan lukannya yang di akibatkan peperangan dialam baka yang membuatnya hampir kehilangan nyawa bahkan rohnya terluka parah, saat itu Zilian datang menjenguk dan menanyakan kabarnya, sama seperti yang dilakukan Chaiden sekarang ia memilih berpura pura baik baik saja padahal tulangnya sudah remuk.
Alhasil kesehatannya semakin memburuk dan hampir tidak dapat di sembuhkan. Bahkan kondisinya lebih buruk dari roh roh kalangan bawah saat itu
Anehnya semakin Zilian menjauh ayahnya yang gila mental dan batin ini selalu mencari cara agar bertemu dan dapat memanjakannya layaknya seorang anak berusia 5 tahunan dan ini membut Zilian muak.
"Hah..... Mengingat kenangan dulu membuat ku ingin merasakannya meski aku membencinya tapi sekarang sepertinya itu mustahil adanya" batin Zilian dingin.
"Maaf, aku masih ada pekerjaan kalian beristirahatlah dengan baik aku akan datang mengunjungi kalian jika ada waktu senggan" ujar Zilian berjalan keluar dari ruangan.
Zilian sengaja keluar jika ia memilih untuk tetap di sana bisa bisa Chaiden akan mati dengan senyuman menahan derita dan bisa di bilang ia akan mati konyol tentu saja rakyat hantunya akan menertawainnya dan itu adalah aib untuk Zilian dan Medeia.
CEKLEKKKK
__ADS_1
Ketika mendengar suara pintu tertutup Chaiden mulai berteriak kesakitan melampiaskan rasa sakit yang menimpa tubuhnya.
"Adududuh, siapa yang membuat ku jadi semenyedihkan ini?! "Kesal Chaiden.
Berani beraninya dia membuat raja ming sampai semenderita ini.
"Lihat saja akan ku masukkan namanya di daftar roh yang akan segera meninggal akan ku buat dia tidak mengenali dirinya sendiri" gumam Chaiden mode membunuh.
Jadey hanya mengeleng, sepertinya itu ide yang bagus pikirnya.
Tidak lama setelah Zilian pergi pintu kembali terbuka.
BRAKKKK
Sontak Jadey dan Chaiden menatap ke arah pintu yang telah rusak karena ulah Laurel yang terlalu bar bar.
"Kakak aku datang! "Pekik Laurel heboh.
Laurel berlari ke arahnya dengan tangan yang terlentang lebar sedangkan Leix berjalan dengan santai menuju brangkar Jadey.
Jadey membulatkan matanya saat melihat tubuh Laurel melayang tepat di atas perutnya.
Laurel mendarat tepat di atas perut Jadey yang langsung tidak sadarkan diri.
"Kakak? Apa yang terjadi? Hey, Leix cepat panggil Hanzel untuk memeriksa keadaan kakak! "Teriak Laurel memerintah.
Leix menatapnya datar tidak peduli dengan suruhan Laurel. Leix justru berjalan ke brangkar Chaiden yang tengah terbaring lemah dengan wajah menenggang.
"Tenanglah, aku tidak segila adik ku"ujar Leix mengerti maksud tatapan Chaiden.
"Hahaha" tawa Chaiden canggung.
"Sepertinya Hanzel tidak perlu di curig lagi, heh dia lolos ujian" senyum Leix mulai merasa lega.
Chaiden mengerutkan alisnya "siapa Hanzel? "Ujar Chaiden ingin tahu.
"Salah satu penyebab yang membuat tubuh kalian berserakan seperti daging busuk" jawab Leix.
"Sial, ternyata dia dalangnya! "Marah Chaiden.
"Salah satu bawahan wanita itu"lanjut Leix.
"Sepertinya terlalu banyak ha yang telah ku lewati selama koma yah? "Ujar Chaiden yang di angguki Leix.
Di saat mereka asik mengobrol di luar ruangan Zilian menyandarkan punggungunya di tembok untuk mendengarkan percakapan mereka.
Ia senang sebagian dari teman temannya mulai mempercayai bawahan Dedliona tapi di sisi lain ia justru takut dengan dimulainya kepercayaan yang mulai terjalin ini masalah yang baru akan tiba entah Zilian dapat mengatasinya atau tidak nanti.
"Teruslah seperti ini tanpa ada pihak ketiga yang mengacau" gumam Zilian.
Suara langkah yang begitu cepat terdengar di indara pendengaran Zilian yang langsung menggangkat kepalanya untuk melihat ke arah lorong samping kanan ruangan istirahat Chaiden dan Jadey.
Terlihatlah Devosliona yang tengah berlari ke arahnya dengan tergesa gesa, takut menganggu ketenangan dua orang yang tengah di rawat Zilian memberi kode pada Devosliona untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun.
"Ada apa? Kau bisa menggunakan portal untuk datang menemuiku" ujar Zilian heran dengan tinggkah Devosliona yang aneh.
"Lupakan saja, ada hal penting yang harus di bahas beberapa anggota penting sudah berkumpul tinggal kau dan kak Dedliona yang belum ke ruang rapat" ujar Devosliona mengatur nafasnya.
"Oh, kalau begitu kita temui Dedliona terlebih dahulu lalu ke sana" ujar Zilian segera membuat portal menuju ruangan sihir Dedliona.
Devosliona hanya mengangguk dia sudah tidak sanggup untuk berbicara lagi.
__ADS_1
Berlanjuttttt.......