
...~~~~...
Zilian mengintai para kelompok bandit dari salah satu tiang tinggi disana.
Tampak sekelompok bandit tengah mengelilingi seorang anak berusia 15 tahun dengan pakaian yang compang camping.
Anak itu sama sekali tidak takut, wajahnya nampak begitu tenang menghadapi para kawanan bandit itu.
Para bandit kekar itu mulai mendekati anak itu lalu menatapnya dengan wajah yang terkesan mereka buat buat agar dapat menakutinya tapi sangat disayangkan anak itu masih tetap tenang, sama sekali tidak merasa terintimindasi.
"Bagaimana, apakah kau mendapatkan petanya? "Tanya seorang pria yang berdiri paling dekat dengan anak itu.
".... "
Tidak ada jawaban yang mereka inginkan akhirnya salah satu dari mereka merasa emosi.
"Hey, kakak bertanya padamu! "Teriak orang yang berada dibalik pria yang pertama kali bicara tadi.
"Tampaknya kau semakin berani, nak" ujar pria pertama tadi sambil bertepuk tangan, pria itu berjalan mengelilingi anak itu dengan tepukan tangannya yang terdengar begitu keras.
Hingga pria itu menendang anak itu hingga terbentur tembok dibelakangnya, ia pun berjalan mendekatinya lalu menunduk.
"Berikan peta itu sekarang" ujarnya menatap tajam pada anak itu.
Anak itu dengan terpaksa memberikannya, ia merogoh saku bajunya setelah mendapatkan barang incaran yang di inginkan pria itu dengn susah payah, nyawanya bahkan hampir menjadi taruhan.
Pria itu menyeringai puas, ia berbalik memunggungi anak itu, tampak dia memberikan kode pada rekannya.
Mereka yang menerima kode dari pemimpin mereka langsung mengeluarkan senjata mereka dan berjalan mendekati anak itu sambil menyeringai.
Salah satu dari mereka mengangkat tongkat besinya yang mengarah pada anak itu tapi sebelum tongkat itu mengenainya pemiliknya yang langsung terkapar tak bernyawa.
Melihat rekannya tewas begitu saja salah satu dari mereka menatap penuh amarah pada anak itu, ia pun menghunuskan pedangnya keleher anak itu tapi lagi lagi bukannya leher anak itu yang terpisah dari badannya melainkan pelaku itu sendirilah yang menerima akibatnya.
Mereka mulai menatap sekelilingnya dengan pandangan yang dipenuhi amarah.
"Siapa itu? Keluar kau pengecut! "Teriak mereka yang hampir bersamaan.
Zilian melompat dari tiang, dengan sengaja ia mendaratkan kakinya di salah satu diantara mereka yang berkepala botak dan tanpa rasa bersalah tentunya.
Zilian berjalan mendekat kearah para bandit itu dengan meninggalkan kloningnya yang terbuat dari energinya untuk menjaga anak itu selagi Zilian menghadapi mereka.
Zilian tidak menggunakan bayangannya karena telah dia gunakan untuk menjaga Gailen di penginapan selama dia pergi, bayangannya bukanlah bagian dari sihir jadi itu tidak akan terdeteksi, meski Zilian menggunakan Zihirnya sekarang juga tidak masalah.
Zilian menarik pedangnya lalu tersenyum menatap setiap wajah para bandit kekar itu.
Entah kenapa aurah disekelilingnya berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya, dingin yang menusuk hingga ketulang tulang para bandit.
"Orang yang memanfaatkan orang lain demi keuntungan mereka sendiri untuk menerima pujian darinya seperti kalianlah yang pantas di sebut pengecut sejati" ujar Zilian mempertipis jaraknya dengan mereka.
"Lalu, dari sekian hukuman yang ada aku akan memilih ini untuk kalian" ujar Zilian mulai mengeratkan genggamannya dengan pedangnya.
Dengan santainya Zilian menebas mereka yang ada disana tanpa sisa, darah berada dimana-mana menodai salju putih disana.
Zilian bahkan terkena cipratan darah diwajahnya, tatapannya yang tajam menatap mayat mereka yang telah tergeletak di atas tumpukkan salju, ia yakin kalau mereka tidak lagi bernyawa dengan kepala yang berpisah dengan tubuh utamanya.
"Huh, tampaknya aku selesai tepat waktu" gumam Zilian melempar asal pedangnya lalu bersikap seolah olah tidak melakukan hal keji seperti tadi.
Ia berbalik menemui anak itu lalu memeluknya dengan hangat.
"Berhentilah melihatnya, wajahmu mungkin berbohong tapi tidak dengan hati dan perasaanmu" ujar Zilian menepuk-nepuk pundak anak itu pelan.
Apa yang Zilian lakukan berhasil meloloskan air mata anak itu, sudah lama - ralat, dia bahkan tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini selama ia hidup.
Zilian melepas pelukannya lalu menghapus air mata anak itu dengan lembut tidak lupa senyuman manis diwajahnya.
Anak itu tiba tiba saja mengusap kain yang Zilian gunakan untuk menutupi wajahnya lalu memperlihatkan tangannya pada Zilian yang mematung.
"Aku lupa menghapus bercak darah diwajahku" Batin Zilian tersenyum kikuk saat menyadari kecerobohannya.
__ADS_1
Anak itu merobek bajunya lalu menggunakan potongan kain itu untuk menghapus darah diwajah Zilian setelah melepas penutup wajahnya dengan pelan dan teliti, dia tampak begitu serius terlihat dari raut wajahnya dan tatapannya.
"Sudahlah, biar aku yang saja" ujar Zilian menahan lengan anak itu yang diam menatap Zilian datar.
"Siapa namamu? "Tanya Zilian disela-sela ia membersihkan wajahnya.
Anak itu tampaknya tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaan Zilian dan Zilian memakluminya pasti pertanyaannya terlalu sensitif.
"Apa kau tahu siapa namamu? "Tanya Zilian lagi, dia menatap anak itu yang membalas pertanyaannya dengan gelengan.
"Lalu apakah kau pernah melihat kedua orang tuamu selama ini? "Tanya Zilian hati hati ia juga memasang penutup wajahnya dengan kain cadangannya.
Anak itu mengeleng pelan membuat Zilian sedikit merasa kasihan, bagaimana bisa kedua orang tuanya tidak peduli?
Zilian berdecak pelan saat memikirkan pola pikir kedua orangtuanya, meski miskin atau anak mereka memiliki cacat atau kekurangan apapun itu mereka tidak memiliki hak untuk meninggalkan anaknya.
Meski marah Zilian tetap menahannya tidak akan ada gunanya Zilian mengoceh tidak jelas.
"Apa kau ingin tahu dimana kedua orang tuamu? "Tanya Zilian sedangkan anak itu diam lagi.
Zilian menghela nafas, tampaknya pertanyaannya lagi lagi terlalu sensitif untuknya.
Anak itu menundukkan kepalanya menatap salju yang ia pijak, sama seperti hatinya yang menjadi dingin sepenuhnya.
Zilian memeluk anak itu lalu mengelus kepalanya pelan, Zilian tersenyum lembut.
"Jika kau tidak keberatan maka anggaplah aku saudaramu sendiri katakan apapun yang menganggumu dan berhentilah menganggap bahwa hidupmu dipenuhi musuh disekelilingmu, jika kau ingin bertemu kedua orang tuamu maka aku siap membantumu" ujar Zilian melepas pelukannya.
Semoga saja anak itu mau menerimanya jujur saja Zilian tidak tega membiarkannya untuk hidup sendiri entah kenapa ia ingin sekali melindungi anak itu.
"Ikuti aku, kaulah yang akan memilih namamu nanti" ujar Zilian mengulurkan tangannya kearah anak itu yang memberikan tangannya dengan senang hati.
Tiba tiba saja Zilian mengangkatnya lalu membawanya berlari kencang menuju biro informasi.
Disisi lain di tempat tergelap disana, seseorang tengah memperhatikan gerak gerik Zilian dengan wajah datarnya.
...~~~~...
Pintu sebuah ruangan terbuka menampilkan Zilian dan seorang anak laki-laki yang tengah Zilian gandeng memasuki ruangan.
Zilian mendudukan anak itu tepat setelah ia sampai didekat sofa, ia duduk bersebelahan dengannya.
"Tampaknya obat itu ampuh juga" ujar Zilian tersenyum dibalik kain yang menutup separuh wajahnya.
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan? "Ujar Pria itu tidak sabaran.
"Sebelum itu, apa aku boleh meminta pil itu lagi? "Tanya Zilian yang mendapat kerutan kening dari lawan bicaranya.
"Kali ini tidak gratis" ujarnya mendengus kesal, bayangkan saja dia menunggu di ruangan ini hampir membuatnya mati karena bosan.
"Apa yang kau inginkan? "Tanya Zilian santai.
"Sebelum Lady pergi, Lady bilang Putri masih hidup bukan? Apa yang Lady katakan itu benar? "Tanyanya dengan wajah yang mendadak serius.
"Tidak tapi juga iya, keberadannya merupakan tanda tanya dan kepergiannya merupakan kenyataan untuk kerajaan Baxeria, aku telah menjawabnya sekarang tergantung kau yang mau mengartikannya bagaimana itu bukan urusanku" ujar Zilian dengan santainya.
Pria itu menghela nafas panjang, ia memberikan pilnya pada Zilian yang langsung saja memakannya.
Zilian membaca mantra lalu mengukir sebuah pola rumit miliknya setelah memakan waktu 7 menit akhirnya altarnya selesai juga.
"Teteskan darahmu" ujar Zilian melirik anak itu yang langsung menurutinya tanpa sepatah katapun.
Zilian mulai fokus sesaat darah itu menyentuh altarnya yang seketika bercahaya memenuhi ruangan.
Seteguk darah keluar dari bibir Zilian tapi gadis itu masih tetap melanjutkannya hingga cahaya pada altar itu berkumpul pada anak itu dan mengelilinginya, Zilianpun bernafas lega.
"Pilihlah namamu melalui keempat cahaya itu "ujar Zilian lemas.
Dari keempat cahaya dengan warna putih, hitam, ungu, dan hijau dia memilih warna hitam dan itu membuat Zilian merasa tertarik dengan pilihannya.
__ADS_1
Zilian tersenyum tipis melihatnya, "kenapa kau memilihnya, Alastor? "
"Karna aku ingin" ujar Alastor datar.
"Apa karena energimu yang pekat? "Ujar Zilian menaikkan sebelah alisnya.
"Mungkin" balas Alastor acuh.
"Kau dapat menggunakan kekuatanmu sekarang, kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak akan menyuruhmu mengikutiku atau apapun yang dapat membatasi kebebasanmu meski begitu aku akan ada saat kau membutuhkanku, Alastor" ujar Zilian mengelus puncak kepala Alastor pelan.
"Terimakasih" ujarnya dengan mata yang melirik Zilian.
"Tentu, itu adalah tugasku sebagai kakakmu" ujar Zilian hangat.
Alastor diam saja mendengar ucapan Zilian yang dengan seenaknya mengklaim dirinya sebagi kakaknya.
Alastor menutup matanya lalu dengan perlahan ia mengendalikan angin untuk dijadikan perisai kedap suara dan Zilian menyadari itu.
"Kau hebat, padahal ini pertama kalinya kau menggunakan kekuatanmu" ujar Zilian takjub.
Alastor sama sekali tidak menjawab apapun dia hanya diam saja.
Zilian mengelengkan kepalanya menatap tingkah Alastor yang begitu dingin.
"Hey, apakah kau tahu ramuan untuk menyamarkan darah seseorang? Aku butuh ramuan itu agar temanku bisa masuk kemari" ujar Zilian menatap pria itu penuh harap.
"Tidak tapi jika itu energi aku bisa" ujar pria itu.
"Itu saja" balas Zilian cepat, apapun itu yang penting Brant bisa masuk kemari.
"Siapkan bahan yang ada di kertas itu" ujar pria itu tiba tiba memberikan kertasnya pada Zilian.
Zilian mengeluarkan semua bahan yang diperlukan setelah selesai diapun menatap pria itu lagi.
"Apa ada lagi yang ingin Lady tanyakan? "Ujar pria itu tiba tiba menjadi sopan.
"Buatkan aku ramuan peningkat stamina tubuh aku membutuhkannya untuk perjalananku kali ini" ujar Zilian sambil menyandarkan punggungnya mencari posisi ternyaman disana.
"Ada lagi? "Tanyanya.
"Mungkin kau bisa membantuku menjaga Alastor selama aku pergi" ujar Zilian dengan santainya memerintah.
"Semuanya tidak termasuk pekerjaanku, saya hanya menjawab pertanyaan bukan melakukan tugas seperti itu" balasnya dingin.
"Jawaban teka teki tadi" ujar Zilian mengulurkan tangannya tepat di depan pria itu.
"Setuju" ujarnya membalas uluran tangan Zilian.
"Ini untukmu, gunakan saja sepuasmu" ujar Zilian memberikan sekantong penuh kristal pada Alastor.
Tidak ada jawaban tapi dia menerimanya, Zilian bangkit dari sana dan mulai pamit, tubuhnya lumayan lelah sekarang dan juga terasa sakit karena membantu Alastor tadi.
Segel yang menutup aliran sihir Alastor begitu kuat dan ingatannya juga ikut terhalangi, saat Zilian ingin melihat ingatannya dia malah menerima serangan yang entah dari mana asalnya.
Zilian memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat, dia jadi tidak sempat mencari rumah impiannya meski sempat berkeliling bersama dengan Gailen.
Dari kejauhan sosok itu masih mengikuti Zilian bingung ingin menyerang atau tetap diam, bisa saja dia membunuh Zilian sekarang, situasi ini sangat menguntungkannya melihat Zilian tidak dapat menggunakan kekuatannya dan kondisi tubuhnya yang memburuk karena membantu Alastor tadi.
Tapi entah kenapa tubuhnya tidak ingin menuruti pikirannya.
Saat ia sibuk berfikir ingin bagaimana tiba tiba saja suara gadis itu memasuki pikirannya.
"Kau akan sibuk nanti"
Sosok itu tersenyum tipis menanggapi ucapan Zilian, dia menatap Zilian yang masih berjalan santai di jalan yang terbilang sepi.
"Dengan senang hati" balasnya lalu menghilang begitu saja.
Berlanjutttt....
__ADS_1