
...~~~...
Berita tentang pembunuhan telah menyebar luas hingga membuat semua warga kota geger ketakutan akan berita mengerikan ini.
Tidak sedikit dari mereka mulai berusaha meninggalkan kota, kepercayaan yang mereka bangun pada para faksi bangsawan dan kerajaan mulai menghilang, sesuai dengan keinginan Zilian.
Sepertinya para faksi itu tidak mudah menyerah buktinya mereka berhasil membangun kepercayaan rakyat yang sempat pupus, tentu saja Zilian tidak tinggal diam.
Pembunuhan kedua kembali terjadi ke-esokkan harinya tepat saat mentari menampakkan dirinya, tidak sampai disana saja, Zilian tak tanggung-tanggung dalam membunuh korbannya, jumlahnya mungkin sekitar puluhan?
Kejam memang, mau bagaimana lagi Zilian harus melakukannya untuk membangun reputasi barunya dengan sempurna tanpa celah, lagi pula orang yang Zilian bunuh adalah buronan dan orang suruhan mereka yang tidak mau sadar akan kelakuan mereka.
Tidak percaya? Tanyakan saja pada orang rekrutan barunya, mereka adalah mata-mata dari kediamana Marquess yang memilih mengikuti Zilian, mereka yang berniat buruk akan langsung mati di tangan Gailen sebelum memasuki organisasi yaitu kastil PERSEPHONEZILLA.
Sesuai dengan dugaan para faksi bangsawan itu mulai gelisah dan kini malah dengan bodohnya datang ke pelelangan untuk membicarakan masalah ini dengan beberapa faksi lainnya, Lilithya sendiri yang melapor.
Di kota nan besar ini mulai melahirkan banyak faksi entah itu dari orang terpandang, berbakat, cerdas maupun orang paling terpandang sekalipun telah berkumpul karena ulah Zilian tapi tidak masalah ini malah semakin membuat pekerjaan Zilian sedikit ringan.
"Tidak akan semudah itukan? Orang yang bermain di balik bayangan orang lain tidak akan sebodoh mereka, baginya ini hanyalah permainan catur yang dapat ia gerakan sesuai dengan keinginannya, percuma saja jika berurusan dengan para faksi ini" pikir Zilian mengetuk meja kerjanya dengan perasaan dongkol.
Zilian kini tengah berada di rumah kesayangannya, hanya sendiri karena Zilian tidak ingin di ganggu saat ini, otaknya sulit bekerja jika mengharuskan mereka berkumpul di depannya.
"Aku telah selesai dengan pengalihan opini publik para bangsawan itu tidak lagi berarti bagiku jadi sekarang hanya perlu mencaritahu pihak dalam kerajaan, memastikan keadaan dan para tetua kerajaan, aku merasa tidak yakin dengan mereka terutama pemimpin saat ini, ada kemungkinan mereka juga dikendalikan atau termakan hasutan" gumam Zilian menghela nafas, mengingat kondisinya yang juga harus di sembunyikan.
Tunggu!
"Sembunyi? Wah, aku dapat sedikit petunjuk" seringai Zilian saat sadar akan apa yang terjadi.
"Baiklah, tidak ada salahnya jika harus mengecek keadaan istana dulu bagaimanapun pasti ada informasi tentang si pengendali itu sayangnya aku sendiri tidak bebas bertindak saat ini, akan kacau jika mereka tahu aku ini keturunan kerajaan, ugh memikirkannya saja membuatku mual"
Zilian memijat kepalanya yang terasa agak pening, meski begitu ia tidak boleh menyerah begitu saja, Brant tengah berjuang disana sendiri tanpa dirinya.
"Bagaimana keadaanmu, Brant? Aku merindukanmu" batin Zilian menyendu.
"Cih, jangan pikirkan orang lain sekarang Zilian! Fokus dengan rencana sekarang! "Ujar Zilian menyadarkan dirinya sendiri meski hatinya tidak dapat berbohong akan rasa rindunya dengan sosok penyelamatnya itu sekaligus sahabatnya.
Zilian menatap tumpukkan buku di rak sebelahnya dengan pandangan rumit, entah kenapa ia membenci dirinya yang dapat merasakan berbagai emosi sialan ini, padahal dulu dirinya sangat menginginkannya dan ketika ia mendapatkannya ia merasa dirinya sendiri sekarang lemah, sangat.
Zilian mengebrak meja dengan keras, ia membenci dirinya sendiri dan akan selalu begitu.
Ia berjalan menuju jendela ruangannya menatap pemandangan luar menampilkan hutan belantara yang begitu lebat, hutan yang sering ia kunjungi hanya sekedar untuk memburu para monster.
"Pangeran kerajaan ini sungguh menyebalkan entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang, apa mungkin otaknya kosong? "Bingung Zilian saat ingat tentang pertemuannya di hutan.
Zilian tersenyum sinis saat mengingatnya, kenangan yang sangat menakjubkan.
"Jika kau terus diam seperti itu maka kau sendiri akan terlupakan oleh rakyat kerajaanmu sendiri loh, tindakanku sudah sangat jelas bahwa aku berada di pihakmu yah jika bodoh sih pasti akan berfikir aku merepotkannya bahkan musuhku sudah pasti tahu tujuan mengapa aku melakukan ini semua" ujar Zilian memejamkan matanya saat angin menerpa wajahnya.
"Mengandalkan dia tanpa ada hubungan pasti hanya akan menghasilkan jawaban tidak pasti, sebaiknya aku saja yang bertindak" ujar Zilian memutuskan, ia kembali menuju sofa kebangaannya.
Bagaimanapun respon tubuh Zilian dalam menyelesaikan masalah sendiri memang tidak dapat di ragukan lagi.
Baru saja ia mendudukkan bokongnya suara pintu diketuk langsung menyapa indera pendengarannya.
"Apa lagi ini? "Batin Zilian dongkol.
"Masuk" ujar Zilian dari dalam.
Seseorang masuk lalu dengan santainya menghampiri Zilian.
"Duh, gawat! Kita telah membunuh puluhan pengikut mereka, dan sekarang mereka tengah merencanakan penyerangan entah kapan mereka akan bergerak, sudah ku bilangkan untuk diam sebentar dulu! "Omel Lilithya.
"Oh, untunglah kau datang kemari" ujar Zilian sama sekali tidak peduli dengan apa yang Lilithya katakan barusan.
Lilithya berdecih kesal melihat respon Zilian yan begitu santai.
"Apa kau mendengarkanku hah?! "Teriak Lilithya sambil mengebrak meja kesal, wajahnya tidak perlu di tanyakan lagi, sama sekali tak terkontrol.
"Mereka tidak akan berani menyerang jika aku terus membuat kehebohan di kalangan rakyat dan bangsawan bukan? Mungkin akan semakin repot jikaaku membuat kehebohan langsung ke istana" ujar Zilian yang membuat Lilithya menatap Zilian dengan mulut yang uh.
"Dari pada itu, sebaiknya kau atur ekspresimu itu jika tidak hahaha hubungan kejasama ini.... "
"TIDAK! "Teriak Lilithya tidak terima.
Zilian mengorek telingannya dengan tatapan datar, wanita di hadapannya ini sungguh diluar nalar perilakunya.
"Baik, aku ada tugas untukmu" ujar Zilian langsung ke intinya saja, ia malas berbasa basi sekarang.
"Apa? "Ujar Lilithya menaikkan sebelah alisnya.
"Ini hari kedua setelah kehebohan bukan? Sisa lima hari lagi jika dalam lima hari putra mahkota tidak melakukan tindakan maka kau harus mengurusnya, lebih cepat lebih baik" ujar Zilian.
Lilithya mengangguk mengerti, "aku bisa saja membicarakan ini pada Harold tapi apa kau yakin pangeran akan aman? "Ujar Lilithya mulai serius.
"Tentu saja, dari awal pangeran tidak akan pernah kalah jika rakyat kerajaannya mendukung dirinya karena ini adalah alasannya menerima kedudukannya saat ini, dibanding mengcemaskan keselamatannya sebaiknya kau cemaskan saja para rakyat sekarang" ujar Zilian.
__ADS_1
"Apa maksudmu? "Tanya Lilithya ia sedikit kurang paham, entah kenapa otaknya sedikit lemot sekarang.
"Apa kau pikir mereka mau membuang waktunya untuk melindungi para orang lemah tanpa kekuasaan itu? Ini hanya permainan bagi mereka, benar mereka hanya mengulur waktu saja hingga semuanya hancur" ujar Zilian mengertakkan giginya kesal.
"Apa? "Bingung Lilithya.
"Tugasmu hanya perlu menjaga keamanan rakyat tidak lebih, sisanya serahkan padaku dan rekanku kau tidak perlu mencemaskannya jika kau menaruh kepercayaanmu padaku" ujar Zilian.
"Baiklah jika itu mau mu dan ini" Lilithya menyimpan sebuah buku tebal tepat di depan Zilian.
"Aku dan Alastor telah mengumpulkan daftar para bangsawan yang mungkin merupakan pengikutnya" ujar Lilithya.
"Awasi saja mereka, jangan membuat keributan apapun dia pasti akan tahu rencana kita jika itu sampai terjadi, dia bukanlah orang bodoh yang berbaur dengan kerumunan orang jenius" sinis Zilian dan Lilithya mengangguk saja.
Baginya para bangsawan hanyalah orang bodoh yang dapat ia kendalikan sesuka hatinya entah itu dari dekat maupun dari jauh sekalipun.
"Dari caramu bermain aku sudah tahu jelas bahwa kau sudah pasti tidak akan ada dalam kawasan bermainmu, jika kau berada disini kau pasti akan menghentikan pertemuan mereka ketika bertemu di pelelangan, heh akan ku lihat sampai mana kau akan bersembunyi" batin Zilian menyeringai.
"Dia bukanlah tipe orang yang mau mempersulit hidupnya sendiri jika di depan ada jalur mudah untukknya, memperalat orang bodoh akan lebih mudah ketimbang beradu kejeniusan yang dimana pastinya akan memperkecil skala keberhasilan rencananya, dan dia tidak akan mau melakukan hal bodoh seperti itu dan akupun sudah pasti akan melakukan hal yang sama dengannya makanya aku mengatakan hal ini" ujar Zilian terkekeh, sepertinya dia dan Zilian memiliki pemikiran yang sama.
"Tentu saja, jika begitu dia pasti akan ketahuan meski perkataanmu tadi itu sedikit menyinggung diri sendiri" kekeh Lilithya.
"Yah, aku memanglah bodoh tapi sangat di sayangkan orang bodoh ini merupakan duri di tengah kerumunan itu" ujar Zilian yang membuat Lilithya kagum.
"Sungguh keren! "Pekik Lilithya kesenangan sambil bertepuk tangan riang.
"Apa ada urusan lain? "Tanya Zilian menghela nafasnya lelah.
"Aku tidak akan menganggumu lagi, ini waktunya aku kembali melatih mereka lalu kembali ke kerajaan, selamat bekerja patnerku" ujar Lilithya mengepalkan tangannya di depan wajah Zilian yang hanya tersenyum tipis.
Zilian membalas dengan kepalan tangan juga dan bertos dengannya setelahnya Lilithya pun berjalan keluar dari ruangannya.
"ARGH! "Teriak Lilithya saat membuka pintu ruangan.
Zilin sontak menatap ke arah Lilithya, beberapa detik setelahnya Zilian menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan keras.
Tingkahnya sungguh membuat Zilian frustasi, lihat saja karena kaget akan kedatangan Alastor dan Gailen ia sampai membuat tembok ruangannya bertegur sapa dengan kamarnya yang berada di sebelah.
"Apa yang kalian lakukan disini?! "Teriak Lilithya sambil menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Alastor dan Gailen.
"Cih, minggir" sinis Gailen tidak suka.
Gailen sedikit kesal harus bertemu dengan Lilithya yang selalu saja membuatnya kerepotan di kastil.
Zilian menganggkat kepalanya lesu, padahal ia ingin menemui seseorang sekarang.
"Ada apa? "Tanya Zilian memaksa senyumannya, jangan tanya lagi wajahnya terutama ujung bibirnya yang berkedut menahan rasa kesal.
"Kau ada urusankan? "Tanya Gailen pada Alastor yang hanya diam meneliti Zilian.
Diam, tidak ada jawaban sama sekali beginilah kelakuan Alastor jika diajak bicara dengan Gailen, serasa berbicara dengan tembok.
Mungkin akan lebih asik berbicara dengan tembok dibanding dengan Alastor yang jelas dapat berbicara tapi malah diam jika diajak berbicara.
Jengan menunggu akhirnya Gailen yang membuka pembicaraan setelah keheningan yang sempat melanda cukup lama.
"Dia ingin menemui nona dengan alasan membicarakan sesuatu yang penting, menurut pengamatanku sepertinya dia hanya ingin memastikan keadaan nona" ujar Gailen sedikit jengkel.
Zilian tersenyum manis saat melihat keduanya, entah kenapa bebannya sedikit terasa ringan sekarang.
"Sepertinya kau sedikit berubah, Len? "Kekeh Zilian.
"Ugh, itu salahkan saja mereka berdua! Kepalaku terasa ingin pecah menghadapi mereka, satu mengoceh tiada henti yang satunya lagi jika diajak berbicara hanya diam, menjengkelkan sekali bukan nona? "Ujar Gailen menatap Zilian penuh harap.
"Tentu saja, aku pasti akan depresi jika ada di posisimu" ujar Zilian terkekeh miris saat membayangkan keseharian Gailen, sungguh anak yang malang.
Zilian bangkit menghampiri keduanya lalu merangkul pundak keduanya walaupun ada perbedaan jarak soalnya Alastor masih setinggi dadanya.
"Aku akan pergi menemui salah satu bangsawan terpercayaku saat ini, ada yang mau ikut? "Tawar Zilian mentap Gailen dan Alastor secara bergantian.
"Ak...."
"Ajak saja dia, apa nona tahu? Hampir setiap kali aku datang menemuinya dia pasti selalu menanyakan semua tentang nona hingga mulutnya berbusa sekalipun dia tidak peduli tapi jika aku yang bertanya dia diam seperti orang bisu" adu Gailen, sungguh jiwa dan batinnya tertekan jika berhadapan dengan Alastor.
Alastor mendelik tajam pada Gailen saat omongannya langsung di potong.
"Wah ada yang mencemaskanku ternyata~" ledek Zilian sambil membungkuk memeluk Alastor yang langsung buang muka karena malu, telinganya saja sudah memerah.
"Akui saja, nona telah tahu semuanya" ujar Gailen sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam Alastor.
"Diam kau! "Kesal Alastor ia sedikit membentak.
"Ayolah kalian berdua, sudahlah kita harus pergi sekarang" ujar Zilian melepas pelukannya pada Alastor dan Gailen.
"Selamat jalan nona, berhati-hatilah" ujar Gailen tersenyum lembut.
__ADS_1
"Jaga dirimu" ujar Zilian yang dibalas dengan anggukan.
"Aku? "Batin Alastor tidak suka, meski begitu ia tetap mengikuti Zilian dengan wajah cemberut.
Keduanya menaiki sebuah kereta kuda yang dikendarai langsung oleh anak buahnya Lilithya.
Sebenarnya kereta ini hadiah dari Lilithya untuk merayakan kerjasama mereka jadi tidak baik juga kalau hanya dianggurkan bukan?
Butuh waktu 25 menit agar Zilian dan Alastor sampai ke kediaman Viscount, ketika sampai Zilian langsung dihadang oleh penjaga gerbang.
Mau tidak mau Zilian harus turun menemui kedua penjaga gerbang.
"Tolong katakan pada Lady Cecillia kalau aku datang berkunjung" ujar Zilian yang membuat sepasang penjaga itu saling menatap satu sama lain.
"Maaf tapi Lady sedang tidak ada, beliau pergi menghadiri pesta teh temannya" ujarnya mengusir secara halus.
Zilian tahu kalau penjaga itu berbohong untung saja pelayan yang kemarin melihatnya sedang bertugas ditaman.
"Hey kau, katakan pada Lady aku disini! "Teriak Zilian.
Sontak pelayan wanita itu berbalik menatap Zilian lalu setelahnya berlari dengan kencangnya memasuki mansion.
"Lihat? Dia saja mengenaliku, kalian akan langsung habis jika nona kalian datang nanti" ujar Zilian mendengus kesal saat para penjaga itu hanya diam saja layaknya sebuah patung ketika ia menakut-nakutinya.
Tidak begitu lama akhirnya pelayan wanita itu kembali bersama dengan seorang gadis yang tidak lain adalah Cecillia.
Mereka bedua berlari menuju gerbang saat tahu Zilian yang datang.
"Buka! "Teriak Cecillia yang langsung dituruti oleh kedua penjaga itu.
"Lama sekali" keluah Zilian yang tentunya hanya sekedar basa basi.
"Maaf, mereka pasti tidak tahu tentangmu" ujar Cecillia setelahnya ia pun membungkuk meminta maaf di ikuti dengan pelayan wanita tadi.
"Apa kau akan terus membungkuk seperti itu dan membiarkan tamu mu ini berdiri hingga kakinya lumpuh? "Ujar Zilian merasa risih dengan kelakuan Cecillia yang terlalu sopan dan begitu baik entah padanya maupun untuk orang lain yah meski tidak sepenuhnya juga sih.
Wajah dan cara berpakaiannya memang tidak mencerminkan perilakunya, lihat wajahnya yang sepucat warna rambutnya, wajah yang tanpa ekspresi, gaun hitam yang selalu menemani harinya, sungguh berbanding terbalik dengan sikap yang sedang di rumorkan.
"Ada apa, nona? "Ujar Cecillia merasa sedikit kikuk karena tatapan Zilian yang seolah sedang menilai dirinya.
"Kau ternyata sensitif yah? "Ujar Zilian baru sadar dengan tindakannya.
"Em, bisa dibilang begitu" ujarnya.
"Ayo masuk, ada yang ingin kukatakan padamu" ujar Zilian menarik Cecillia masuk kedalam mansion lalu membawanya menuju taman depan yang sempat Zilian lihat kemarin.
Dengan santainya dia duduk lalu menepuk bagian bangku yang kosong disebelahnya.
Cecillia tersenyum hangat, ia mengikuti apa yang Zilian inginkan, duduk disebelahnya dengan begitu anggun berbeda dengan Zilian yang asal duduk saja yang penting duduk dengan nyaman itulah yang Zilian pikirkan saat itu.
"Siapa dia? "Tanya Cecillia saat menyadari bahwa disana dia tidak hanya berdua tapi bertiga dengan bocah lelaki yang anehnya terlihat begitu tampan padahal masih seorang bocah.
"Adikku, tampankan? "Ujar Zilian terdengar sedikit sombong memang.
"Iya, sama sepertimu" puji Cecillia.
"Aih, dasar penjilat" ujar Zilian mendelik saat mendengar pujian Cecillia.
Anehnya ucapan Zilian yang jelas tedengar seperti menghina itu malah mendapat respon baik dari Cecillia, wanita itu terkekeh.
"Ah, maaf. J-jadi ada apa anda datang kemari? "Tanya Cecillia masih terkekeh.
"Tertawalah sepuasmu, aku tidak akan memakan manusia jika makanpun maka aku akan memilih" ujar Zilian jutek.
"Maaf" ujar Cecillia kali ini ia diam.
"Langsung saja, alamat yang kuperlihatkan itu sebenarnya berlaku jika aku tidak datang sekarang ini, jadi buang saja lagian sekarang aku datang menemuimu secara langsung begini" ujar Zilian menatap Cecillia yang masih mendengarkannya dalam diam.
"Kau tahu desa dekat ibu kota bukan? Aku ingin membantu desa itu lalu menyingkirkan para pejabat sialan itu tapi aku membutuhkanmu sebagai pihak dalam para bangsawan lagi pula kau lebih ahli karena menyandang gelar bangsawan" ujar Zilian tegas.
Cecillia dapat menangkap keyakinan dan kesungguhan Zilian meski Zilian tampak berbeda dengan mereka.
"Kita harus membantu desa terjauh dulu, desa yang kondisinya lebih parah lagi, aku menerima kalau kau ingin menjadi rekanku meskipun aku tahu kau memiliki niat utama hingga mengajakku seperti ini tapi aku yakin kau punya tujuan yang sama denganku" ujar Cecillia hangat.
"Baimana bisa kau yakin? "Ujar Zilian terkekeh miris.
"Aku memilikinya, kau tidak dapat berbohong padaku" ujar Cecillia dengan smiriknya.
"Hoh? Sepertinya kau telah tahu dari awal aku mendekatimu yah? "Seringai Zilian.
"Peran kita sekarang sama, orang yang dipandang dengan sudut pandang gelap" ujar Cecillia.
Zilian terkekeh, sepertinya ia menemukan teman yang cocok untuk di ajak beraksi lebih tepatnya teman sefrekuensi.
Berlanjutttt....
__ADS_1